Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Menghubungi Musuh Via Telepon


__ADS_3

Naufal duduk di kursi kebesarannya di perusahaan NFL CORP miliknya. Dia tampak bahagia karena semua pembalasan berjalan sangat sempurna.


"Tinggal yang terakhir. Dan yang terakhir ini aku akan menghubungi salah satu kakak beradik Alvaro itu dengan langsung memperkenalkan namaku." Naufal berbicara sembari tersenyum di sudut bibirnya.


Ketika Naufal sedang menikmati kebahagiaannya sembari memikirkan pembalasan terakhir, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Naufal melirik kearah ponselnya dan terlihat nama tangan kanannya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Naufal mengambil ponselnya itu dan langsung menjawabnya.


"Hallo."


"...."


"Wah, benarkah?"


"...."


"Ini berita yang bagus. Aku sudah tidak sabar untuk menemui Alex Alvaro dan Derry Alvaro. Semoga adiknya juga ada disana."


"...."


"Benarkah?"


"...."


"Wah! Ini benar-benar menarik. Aku suka ini. Sekarang dengarkan aku. Kau kerahkan sekitar 100 anggota untuk mengawasi setiap pergerakan di rumah bajingan itu. Hanya kau dan empat anggota saja yang ikut masuk ke dalam rumah itu bersamaku."


"...."


"Kita lihat dulu rencana pertama kita. Jika gagal, baru kita gunakan rencana cadangan. Untuk saat ini biarkan saja dulu Alex Alvaro dan Derry Alvaro mengira bahwa aku datang dengan membawa pasukan empat orang. Sedangkan mereka memiliki banyak pasukan."


"...."


"Oke, lakukan!"


Setelah mengatakan itu, Naufal pun langsung mematikan panggilannya. Dan seketika terukir senyuman manis di bibirnya.


***


Riana Arley :


Semoga kau diterima di seleksimu, sayang! Kau sudah berangkat sekarang?


Senyum Dira mengembang ketika melihat sebuah pesan dari sahabatnya muncul di layar ponselnya.


Riana Arley, sahabat Dira sejak lama sekaligus anak perempuan tunggal perusahaan kaya, Arley Fashion. Dira bahkan bingung mengapa wanita kaya dan glamor seperti Riana masih mau berbaur dengannya sampai sekarang.


Dira Kayana :


I'm on my way. Tolong doakan aku.


Dira menekan tombol warna hijau, tanda mengirim di whatsappnya lalu menunggu balasan dari Riana. Dan tidak lama, balasan itu datang.

__ADS_1


Riana Arley :


Tentu saja, anytime Dear. Make sure to call me if you have time tonight. Aku ingin membuat kue pandan dan aku ingin kau yang mencobanya paling pertama.


P.s: kusangka kau sedang baik hati hari ini ternyata aku salah. Tetap galak saja hahaha.


Dira tersenyum semakin lebar. Dia kembali mengetik balasannya.


Dira Kayana :


Semoga berhasil.


Setelah berbalas pesan dengan sahabatnya. Dira kembali menaruh ponsel di sampingnya, di jok taksi. Dia kembali menatap ke arah jendela sembari perlahan demi perlahan muncul dari balik kaca mobil itu, bayangan gedung perusahaan Ry'Yn Corp yang menjulang tinggi. Perusahaan itu sama-sama tingginya dengan perusahaan El'Vn Corp, perusahaan NFL Corp dan perusahaan ADi'Tya Corp.


Senyumannya yang tadi sudah sedikit mengembang, kembali mengerut. Jantungnya kembali berdegup sangat kencang, menunjukkan seberapa cemasnya Dira merasa sekarang.


Semuanya terjadi 2 minggu yang lalu. Perusahaan raksasa semacam Ry'Yn Corp dengan ajaibnya mengeluarkan sebuah kompetisi mini untuk para fotografer di seluruh penjuru benua Asia di mana mereka bisa mengunggah foto hasil jepretan mereka di instagram dengan hashtag #HestonPhotoContest dan berpartisipasi dalam perekrutan fotografer profesional Ry'Yn Corp yang nantinya akan digaji dengan jumlah uang yang sangat-sangat banyak.


Dan bagi Dira, tidak ada dan tidak akan pernah ada kesempatan lebih baik yang bisa didapatkannya untuk menjadi fotografer profesional selain ini.


Dan benar saja, Dira menang. Bersama dengan mantan pacarnya dan 8 orang terpilih lainnya. Dira benar-benar tidak percaya ketika instagramnya dimention dalam salah satu instagram story milik Ry'Yn Corp. Bahkan hingga kini, semuanya masih terasa terlalu ajaib.


Disinilah sekarang Dira akhirnya datang ke Ry'Yn Corp Skyscraper untuk mengikuti seleksi terakhirnya. Seleksi final dari 10 fotografer berbakat untuk menentukan siapa yang pada akhirnya berhak untuk bekerja di perusahaan ini.


Dira rasa dia tidak pernah merasa sekhawatir ini seumur hidupnya. Khawatir akan dikecewakan oleh dirinya sendiri nanti.


Dira turun dari taksi sesaat kendaraan tumpangannya sampai di lobby utama Ry'Yn Corp. Dan tanpa basa basi, Dira langsung berjalan ke arah resepsionis sembari membawa tas kameranya yang hari ini terasa sangat berat tanpa sebab.


Resepsionis itu mengerutkan keningnya bingung sembari menelaah layar komputernya. "Dira? Maaf, kami tidak mendapatkan laporan ada pemenang kompetisi bernama itu, Nona."


Dira meringis pelan menanggapi kebodohannya sendiri. Dia bahkan lupa untuk menyebutkan nama aslinya karena degupan keras di jantungnya yang sangat mengganggu. "Nama Dira Kayana. Itu saya."


"Oh, nona Kayana," kata perempuan itu sembari tersenyum lebar.


Kemudian wanita itu mengambil sebuah name tag dari dalam lacinya lalu memberikan kepada Dira.


"Tempat seleksi ada di lantai 21 tepat di ujung lorong kanan dari lift. Silakan masuk ke dalam dan tunjukan name tag ini untuk tanda pengenalan. Dan juga name tag ini bisa berguna jika anda ingin keluar masuk dari Gedung Ry'Yn Skyscraper tanpa harus mengkonfirmasi kepada sekuriti di depan. Kalau ada pertanyaan lebih lanjut silakan hubungi setiap meja administrasi di setiap lantai."


Dira mengangguk mengerti lalu mengambil name tag itu dan mengalungkannya di lehernya.


"Terima kasih," ucap Dira sembari tersenyum lebar kepada wanita cantik di hadapannya.


Wanita itu membalas senyuman dari Dira dan akhirnya membiarkan Dira pergi menuju ke lift yang dengan sangat kebetulan sedang terbuka. Hanya tersisa tempat untuk satu orang lagi masuk ke dalamnya.


Dengan sigap Dira langsung memasukkan diri ke dalam lift penuh laki-laki itu sembari memeluk tas kameranya yang berat, erat-erat di depan dadanya.


Dira berharap jangka waktu menaiki 21 lantai bisa memenangkan jantungnya sedikit saja. Sedikit saja, itu sudah lebih dari cukup.


***


Naufal dalam perjalanan menuju pulang ke rumahnya. Dirinya sangat lelah hari ini dan segera ingin istirahat. Naufal mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Di dalam perjalanan menuju pulang ke rumah, tiba-tiba terlintas ide di pikirannya. Ide itu adalah Naufal berniat untuk menghubungi Alex Alvaro. Dirinya sudah tidak bisa menunggu besok untuk menjalankan rencana terakhir.


Naufal mengambil ponselnya dan sebelum Naufal memasang earphone di telinganya agar memudahkan dirinya berbicara sambil menyetir.


Darel menekan nomor kotak milik Alex Alvaro yang sudah dia simpan ketika mendapatkan pesan itu.


erdengar suara nada dering di seberang telepon yang menandakan panggilan tersebut tersambung.


"Hallo."


"Hallo, tuan Alex Alvaro. Apa kabar?"


"Siapa kau?!"


"Hahahaha. Secepat itukah anda melupakan mantan calon rekan bisnismu, hum?"


Mendengar jawaban dari Naufal membuat Alex seketika mengingat maksud perkataan dari Naufal itu.


Beberapa detik kemudian..


"Kau!"


"Iya, ini aku! Perkenalkan aku Naufal Alexander!"


"Mau apa kau menghubungiku, hah?!"


"Mau menawarkan kerja sama. Aku dengar-dengar dari internet, majalah dan juga dari media sosial terpampang disana katanya perusahaan seorang Alex Alvaro dan Derry Alvaro hangus terbakar. Lebih tepatnya ada orang yang dengan keji meledak perusahaan anda dan adik anda. Wah! Jahat sekali orang itu."


Mendengar ucapan sekaligus sindiran dari Naufal membuat Alex mengepal kuat tangannya. Dia benar-benar marah mendengar ucapan dari Naufal.


"Itu bukan urusanmu. Katakan padaku, mau apa kau?!"


"Kan sudah aku bilang kalau aku ingin menjalin hubungan kerjasama dengan anda."


"Aku tidak butuh!"


"Yakin tidak butuh! Bagaimana jika aku bisa membuatmu dan adikmu mendapatkan perusahaan baru! Hitung-hitung hadiah join dengan perusahaanku."


Hening..


Tidak ada jawaban apapun dari Alex sehingga membuat Naufal tersenyum.


"Bagaimana kalau kita ketemuan agar bisa membahas kerjasama ini? Atau kau ingin aku datang berkunjung ke kediaman milikku? Kalau iya, dengan senang hati aku akan datang kesana."


Tidak mendapatkan jawaban dari Alex membuat Naufal mendengus kesal. Tapi dia berusaha untuk bersikap tenang.


"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Aku akan berikan kau waktu untuk berpikir. Segera hubungi aku jika kau berubah pikiran."


Pip..


Setelah mengatakan itu, Naufal pun mematikan sambungan telponnya.

__ADS_1


__ADS_2