
Naufal sudah berada di rumah. Saat ini Naufal berada di kamarnya sedang mengerjakan sesuatu. Setelah selesai membalaskan dendam terhadap Alex dan Derry atas perbuatan buruknya terhadap Vanesha dan keluarganya membuat Naufal merasakan kebahagiaan luar biasa.
Vanesha sudah terbebas dari kedua manusia iblis itu. Dirinya sebagai seorang kekasih dari Vanesha sudah bebas jika ingin bertemu dengan kekasihnya itu. Daniel sang kakak laki-lakinya Vanesha juga sudah kembali pulang ke rumah.
Sementara untuk sang ibu masih harus dirawat di rumah sakit. Kondisi ibunya Vanesha sudah membaik. Hanya tinggal pemulihan saja beberapa hari di rumah sakit.
"Ach, selesai juga!" Naufal merentangkan kedua tangannya keatas ketika pekerjaan telah selesai.
Setelah Naufal menyelesaikan pekerjaan kantornya. Naufal memutuskan untuk turun ke bawah menemui anggota keluarganya.
^^^
Di lantai bawah dimana kedua orang tuanya, ketiga kakak laki-lakinya, kakak iparnya, Paman dan Bibinya, kedua kakak sepupunya tengah bersantai di ruang tengah.
"Mommy!"
Semua yang ada di ruang tengah langsung melihat keasal suara. Dan dapat dilihat kesayangannya tengah melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.
"Apa sayang?"
"Mommy masak apa?"
"Kenapa? Udah lapar perutnya?"
"Bukan lapar lagi. Ini perut aku mau minta diisi langsung."
Helena tersenyum ketika mendengar jawaban dari putra bungsunya itu. Begitu juga dengan sang ayah, ketiga kakaknya dan yang lainnya.
"Kebetulan Mommy buat makanan kesukaan kamu."
"Spaghetti ya?"
"Hm! Mau?"
"Boleh. Tapi aku mau makannya disini."
"Baiklah. Mommy akan ambilkan untuk kamu."
Setelah itu, Helena pun pergi menuju dapur untuk mengambil spaghetti kesukaan putra bungsunya. Sementara Naufal langsung menduduki pantatnya di sofa di sebelah kakak tertuanya.
"Bagaimana semua pekerjaannya? Sudah selesai?" tanya Albert kepada putra bungsunya.
"Sudah Dad. Semuanya sudah selesai. Maka dari itulah kenapa aku saat itu sangat lapar karena semua tenagaku terkuras habis," jawab Naufal.
Semuanya tersenyum ketika mendengar jawaban yang menurut mereka teramat panjang dari Naufal. Ditambah lagi wajah yang tampak bahagia ketika menjelaskannya.
"Daddy senang mendengarnya."
Beberapa detik kemudian, Helena datang dengan membawa makanan kesukaan putra bungsunya plus susu pisang.
"Ini sayang." Helena meletakkan makanan tersebut di atas meja. Setelah itu, Helena menduduki pantatnya di sofa samping putra bungsunya.
__ADS_1
Mata Naufal seketika berbinar ketika melihat makanan dan minuman kesukaannya di hadapannya. Ibunya benar-benar memahami keinginannya saat ini.
Cup..
Naufal memberikan satu kecupan di pipi ibunya itu karena ibunya sudah membuat hatinya bahagia.
"Terima kasih, Mom!"
"Sama-sama, sayang."
Setelah itu, Naufal pun mulai menikmati spaghetti buatan ibunya itu dengan sangat lahap sehingga membuat Helena, Albert serta yang lainnya tersenyum.
Drrtt.. Drrtt..
Ponsel milik Arsya berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk dari seseorang.
Mendengar suara dering ponselnya membuat Arsya langsung menjawab panggilan tersebut dikarenakan sudah tahu nama si penelepon.
"Hallo, Bar!"
"Hallo, kak. Kakak ada dimana sekarang?"
"Dimana lagi kalau bukan di rumah Naufal. Kamu bagaimana sih?" kesal Naufal.
"Kalau itu aku tahu. Maksud aku itu kakak itu di rumah atau di luar. Kan siapa tahu saja kakak sedang ada diluar."
"Iya, iya! Kakak di rumah dan tidak kemana-mana. Naufal juga di rumah."
"Kebetulan kenapa?"
"Reza dan Davian ngajak kita jalan-jalan bareng pacar kita masing-masing. Tujuannya untuk merayakan bersatunya Naufal dan Vanesha. Dan merayakan keberhasilan aksi balas dendam Naufal untuk Vanesha dan keluarganya."
Mendengar ucapan Barra sekaligus ide dari Davian dan Reza membuat Arsya seketika tersenyum sembari menatap kearah Naufal yang sedang menikmati spaghetti kesukaannya.
"Eemmm... ide yang sangat bagus. Kakak suka."
"Jadi kak Arsya setuju?"
"Sangat setuju. Ini perlu dirayakan."
"Oh iya! Dananya kita yang nanggung. Jangan sampai Naufal keluar uang. Kita kan buat acara untuk Naufal dan Vanesha. Berarti kita yang menyiapkan semuanya."
"Baiklah. Kakak setuju. Memang harus seperti itu. Kapan?"
"Besok. Kebetulan kan besok kita pada waktu santai. Besok adalah waktu yang sangat bagus."
"Oke. Kamu sama yang lainnya atur saja dulu. Nanti kekurangannya biar kakak yang tutupi."
"Baiklah.
Tutt.. Tutt..
__ADS_1
Setelah berbicara dengan Barra. Arsya kembali meletakkan ponselnya ke dalam saku kemejanya.
Naufal sudah selesai menghabiskan Spaghetti buatan ibunya plus susu pisang. Kini Naufal tengah bersandar di punggung sofa dengan bermain ponsel.
"Naufal," panggil Arsya.
"Iya," jawab Naufal tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya itu.
"Barra sama yang lainnya ngajak kita jalan-jalan bareng pacar masing-masing. Kamu mau ikut nggak?"
"Atur aja. Kalau kakak Arsya sama kak Ishana ikut. Aku bakal itu sama Vanesha."
"Ya jelaslah kakak ikut!"
"Ya, sudah kalau begitu. Aku sama Vanesha juga ikut. Kapan?"
"Besok. Kamu nggak ada kegiatan besokkan?"
"Nggak ada. Semua pekerjaan aku udah kelar semua karena aku memang merencanakan untuk mengajak Vanesha jalan-jalan."
"Baguslah kalau begitu. Kita akan pergi jalan-jalan bersama dengan yang lainnya."
"Menyenangkan."
Mendengar obrolan antara Naufal dan Arsya membuat anggota keluarganya tersenyum bahagia. Mereka semua bahagia melihat anak-anaknya yang begitu kompak ketika membahas sesuatu.
***
Di rumah sakit dimana Vanesha bersama dengan kakak laki-lakinya dan kedua orang tuanya. Baik kakak laki-lakinya maupun ayahnya tak henti-hentinya memberikan pelukan dan ciuman kepada Vanesha. Ciuman tersebut menandakan ciuman kasih sayang dan kerinduan seorang kakak kepada adiknya.
Sementara ciuman dan pelukan dari sang ayah merupakan sebuah kebahagiaan dimana putrinya akhirnya terlepas dari laki-laki tak bertanggung jawab tersebut.
Bukan hanya Vanesha. Daniel juga mendapatkan begitu banyak ciuman dan pelukan dari ayahnya. Pelukan dan ciuman kerinduan selama ini yang dipendam oleh dirinya dan juga ayahnya.
Bagaimana dengan sang ibu? Justru ketiganya memberikan ciuman dan pelukan secara bergantian kepada perempuan yang begitu mereka cintai dan mereka sayangi terutama Daniel.
Daniel begitu merindukan ibunya sehingga dirinya tidak ingin melepaskan pelukannya. Bahkan Daniel berulang kali memberikan kecupan sayang di kedua pipi ibunya penuh sayang.
"Aku sayang Bunda. Aku berharap ini adalah pertama dan terakhir Bunda masuk rumah sakit," ucap Daniel.
"Aamiin."
"Bunda bahagia melihat kamu kembali, nak!"
"Aku yang paling bahagia disini Bunda."
"Ini semua tak lepas dari bantuan Naufal dan keluarganya. Mereka yang sudah membantu kita keluar dari permasalahan ini terutama Naufal. Naufal yang sudah membalas rasa sakit kita terhadap kedua bajingan itu. Apa yang mereka lakukan kepada kita. Hal itu juga yang dilakukan oleh Naufal terhadap mereka." Daniel berucap sembari mengingat bagaimana perjuangan Naufal dan keluarga besar Alexander membantu dirinya, ibunya dan adik perempuannya agar bisa bebas dari Alex dan Derry.
"Sudah jangan diingat lagi. Masalah sudah selesai. Sekarang waktunya kita menikmati kebahagiaan kita yang sempat menghilang dari kita," ucap sang ayah.
Pria itu kembali memeluk kedua anaknya dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya merangkul bahu istrinya yang masih terbaring di tempat tidur.
__ADS_1