Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Pembalasan Yang Setimpal


__ADS_3

Naufal bersama dengan kedua kakak sepupunya yaitu Tasya dan Arsya saat ini berada di depan sebuah Cafe yang terkenal di kota Jakarta. Ketiga datang ke Cafe itu menggunakan mobil mewah khusus keluarga.


...Ini tampak luar...



...Ini tampak dalam...



Naufal, Arsya dan Tasya langsung keluar dari dalam mobilnya setelah mobil terparkir di parkiran.


Setibanya mereka diluar dengan tatapan matanya menatap kearah pintu masuk cafe, kemudian mereka pun memutuskan untuk masuk ke dalam Cafe itu dengan Tasya yang menggandeng pergelangan tangan kedua adiknya.


^^^


Ketika Naufal, Tasya dan Arsya tiba di dalam Cafe, semua tatapan matanya menatap kearah ketiganya. Ada yang menatap kagum akan ketampanan dan kecantikan Naufal, Tasya dan Arsya. Dan ada juga menatap dengan tatapan menjijikan.


Orang-orang yang menatap jijik kearah Naufal, Tasya dan Arsya lebih tepatnya menatap kearah Tasya berpikir bahwa Tasya adalah perempuan murahan karena datang dengan menggandeng dua pemuda tampan yang usianya lebih muda dibawahnya.


Sementara untuk Naufal, Tasya dan Arsya yang melihat beberapa pengunjung yang menatapnya dengan tatapan tak suka hanya bersikap acuh. Mereka terus melangkahkan kakinya menuju meja paling pojokan.


Tanpa Tasya ketahui bahwa Mareta, sahabatnya yang tidak tahu diri tersebut berada di Cafe yang sama. Mareta bersama dengan beberapa teman-temannya. Baik laki-laki maupun perempuan. Ada sekitar sepuluh orang.


Mareta menatap tajam kearah Tasya yang saat ini tengah berbahagia bersama dengan dua pemuda yang usianya jauh lebih muda dari Tasya. Bahkan Mareta tidak melihat kesedihan di manik hitam Tasya. Justru Mareta melihat bahwa Tasya bersikap biasa saja.


Mareta tiba-tiba berdiri dengan tatapan matanya menatap jijik kearah Tasya. Setelah itu, Mareta mengucapkan sebuah kata yang membuat semua pengunjung terkejut.


"Wah! Gue nggak nyangka ya ternyata ini alasan dibalik seorang Tasya yang tiba-tiba membatalkan pernikahannya!" seru Mareta.


Mendengar seruan dan ucapan dari Mareta membuat semua pengunjung melihat kearah Mareta dan bergantian menatap kearah Tasya yang duduk bersama dua pemuda tampan.


"Tasya, siapa mereka? Apa mereka pacar baru kamu ya?!"


Sementara Tasya hanya diam. Dia berusaha untuk tidak terpancing akan ocehan murahan dari manusia hina di hadapannya itu. Begitu juga dengan Naufal dan Arsya.


"Benar-benar menjijikan! Kurang baik apa coba calon suaminya. Dibelikan rumah, diberikan saham oleh calon suaminya di perusahaannya dan disayang sama keluarga dari calon suaminya. Namun dibalas dengan sebuah pengkhianatan." salah satu teman perempuan Mareta berucap dengan tatapan hina dilayangkan kearah Tasya.


"Perempuan nggak ada moralnya sama sekali," ucap teman laki-laki Mareta.


"Ini namanya perempuan yang tidak tahu diri. Dikasih hati, malah minta jantung. Dan lihatlah sekarang, dia terlihat bahagia bersama dengan dua selingkuhannya tanpa ada rasa bersalah sama sekali," ucap Mareta.


Hinaan demi hinaan, hujatan demi hujatan yang dilontarkan oleh beberapa pengunjung laki-laki dan pengunjung perempuan dengan hinaan dari Mareta dan teman-temannya.


Sementara Naufal, Tasya dan Arsya masih diam di tempatnya. Mereka diam bukan karena takut, justru hanya untuk memberikan kesempatan Mareta serta para pengunjung Cafe yang terhasut akan perkataan Mareta dan teman-temannya.


"Sekali murahan tetaplah murahan!" seru dua teman perempuan Mareta.


"Iya, benar tuh!" seru tiga teman laki-laki Mareta.


Mareta, teman-temannya dan beberapa pengunjung menatap jijik kearah Tasya. Sementara Tasya masih bersikap santai dan acuh. Begitu juga Naufal dan Arsya.

__ADS_1


Dan detik kemudian...


Naufal berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya menatap tajam ke semua orang-orang yang ada di dalam Cafe dan berakhir menatap kearah Mareta.


"Apa kalian sudah selesai mengeluarkan semua kata-kata indah kalian untuk nona Tasya? Jika sudah selesai, boleh kita gantian berbicara. Saya juga ingin menyampaikan sesuatu di hadapan kalian semua!" Naufal menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya.


"Tapi jika masih ada yang ingin kalian sampaikan kepada nona Tasya. Silahkan! Jika tidak ada lagi, izinkan saya berbicara."


Hening...


Tidak ada satu pun orang-orang yang ada di dalam Cafe tersebut membuka mulutnya. Hanya tatapan mata mereka saja yang menatap jijik kearah Tasya.


"Baiklah. Dengan kalian diam. Itu tandanya kalian sudah selesai berbicara. Berarti sekarang ini adalah giliran saya. Jadi jangan ada diantara kalian yang berani buka mulut atau hanya sekedar protes. Jika kalian diantara kalian ada yang bersuara disaat saya sedang berbicara, maka saya akan melakukan sesuatu yang buruk kepada kalian."


Deg..


Semua pengunjung di cafe itu terkejut ketika mendengar ucapan dari Naufal. Begitu juga dengan Mareta dan teman-temannya.


"Kak Arsya, tolong ambilkan proyektor di dalam mobil. Bawa semuanya kesini."


"Siap!"


Arsya beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar untuk menuju parkiran.


"Untuk kalian para pelayan Cafe. Boleh aku minta tolong kepada kalian semua?!"


"Iya, tuan. Silahkan! Tuan mau minta tolong apa pada kami?"


Tak butuh lama, Arsya datang dengan membawa proyektor dan perlengkapannya.


"Tolong tutup pintu Cafenya untuk mencegah agar para tikus-tikus busuk dan amis yang ada di dalam cafe ini tidak kabur!" Naufal berucap dengan sangat kejamnya.


"Baik, tuan!"


Kemudian tiga pelayan Cafe langsung menutup pintu Cafe tersebut. Sementara orang-orang yang menghina Tasya menatap marah kearah Naufal.


Setelah alat tersebut selesai dipasang oleh Arsya. Naufal pun mulai melakukan tugasnya.


Berlahan Naufal menghidupkan proyektor tersebut. Kemudian Naufal menyambungkan ponselnya ke proyektor tersebut sehingga menghasilkan sebuah tangkapan layar besar di hadapan semua orang.


"Buka mata kalian lebar-lebar dan pasang telinga kalian agar kalian bisa mendengar dengan jelas apa yang ada di dalam adegan tersebut."


Semua mata menatap ke layar besar di hadapan mereka. Dan detik kemudian, terlihat adegan demi adegan yang ditayangkan di layar besar itu.


Seketika kedua mata Mareta membelalakkan sempurna ketika melihat adegan ranjang yang dia bersama Yosef di rumah mewah milik Tasya.


Sementara para pengunjung Cafe yang sejak awal menghina dan menghujat Tasya seketika bungkam dan ketakutan. Tubuh mereka bergetar hebat ketika menyaksikan adegan demi adegan yang terpampang di layar besar itu.


Apa yang mereka lihat di layar besar itu adalah semua bukti kebusukan seorang Mareta yang memang memiliki sifat iri, sifat dengki dan busuk hati terhadap Tasya yang berstatus sahabatnya.


Seketika lampu proyektor mati dikarenakan adegan tersebut selesai dipertontonkan di hadapan semua orang-orang yang di dalam Cafe tersebut.

__ADS_1


Naufal dan Arsya tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat semua orang yang ada di hadapannya tengah ketakutan. Begitu juga dengan Mareta dan teman-temannya.


"Bagaimana? Apa kalian sudah mengetahui siapa perempuan murahan yang sebenarnya? Kakakku atau perempuan menjijikan itu?!" bentak Arsya.


Deg..


Semua orang terkejut ketika mendengar ucapan dari Arsya yang mengatakan perempuan yang bersama dirinya itu adalah kakaknya.


"Kenapa? Kaget ketika aku mengatakan bahwa perempuan yang kalian hina dan kalian hujat itu adalah kakak perempuanku?!" bentak Arsya dengan menatap nyalang semua orang yang ada di hadapannya itu.


"Apa begini cara hidup kalian selama ini, menghina dan menghujat orang lain?? Apa tidak ada yang lebih bermanfaat selain menghina dan menghujat seseorang?! Apakah hidup kalian akan hancur jika sehari saja kalian tidak menghina dan menghujat orang?!" Arsya benar-benar marah akan kelakuan menjijikan orang-orang yang ada di hadapannya.


"Dan kau!" teriak Arsya dengan menunjuk kearah Mareta. "Kau adalah perempuan yang tidak tahu diri. Kau menyebut kakakku tidak tahu berterima kasih kepadamu. Apa kau tidak salah bicara, hah?! Memangnya kau punya apa?! Apa kau punya rumah mewah? Apa kau punya perusahaan besar? Apa kau berasal dari keluarga kaya raya? Kau hanya perempuan miskin yang dipungut oleh kakakku, lalu dibawa ke rumah besar dan mewah milik kakakku. Disana kau mendapatkan semuanya. Dengan kata lain, kau tidak lagi kesusahan. Begitu juga dengan kedua orang tuamu dan keluarga besar dari kedua orang tuamu!"


"Kakakku sudah banyak membantumu dan keluargamu. Kakakku juga yang membantu pengobatan ibumu sampai ibumu sembuh. Jika bukan karena kebaikan kakakku, ibumu sudah mati!"


"Setelah apa yang dilakukan oleh kakakku terhadapmu dan keluargamu selama ini. Kau membalas kebaikan kakakku dengan merebut Yosef Harisman yang berstatus kekasih, tunangan dan calon suami kakakku! Dan sekarang, hari ini, di cafe ini! Kau seenaknya mengatakan bahwa kakakku adalah perempuan yang tidak tahu berterima kasih." Arsya menatap penuh amarah kearah Mareta.


"Aarrgghhh!"


Plak..


Plak..


Arsya berteriak dengan bersamaan dengan memberikan dua tamparan keras di pipi Mareta. Dia tidak peduli jika di hadapannya ini adalah seorang perempuan.


"Kaulah yang perempuan murahan itu. Bukan kakakku!"


"Arsy, sudah cukup! Mundurlah. Biarkan Naufal menyelesaikan pekerjaannya agar kita bisa pergi dari sini dan mencari Cafe lain. Kakak udah nggak selera makan disini."


"Baiklah kak."


"Dikarenakan kalian semua sudah mengetahui kebenarannya seperti apa. Dikarenakan kalian juga sudah tahu siapa murahan disini, kakak sepupuku atau perempuan itu? Maka aku dengan berat hati mengatakan kepada kalian. Ucapkan selamat tinggal dengan kekayaan kalian. Dan ucapkan selamat datang kemiskinan."


Deg..


beberapa pengunjung yang menghina dan menghujat Arsya seketika terkejut dan ketakutan. Mereka tidak ingin kehilangan apa yang sudah mereka raih selama ini berkat kerja keras mereka/suami mereka.


"Tu-tuan. Ka-kami......"


"Dengan sangat menyesal aku dan kedua kakakku tidak mau berdamai dengan kalian. Jadi, persiapkan mental kalian untuk menuju kemiskinan."


"Kak."


Arsya yang mengerti langsung membawa kembali proyektor tersebut kembali ke mobil dengan diikuti oleh Naufal dan Tasya.


Tasya sempat melirik sekilas kearah Mareta dengan tersenyum di sudut bibirnya.


"Selamat datang kembali ke gubuk reyotmu, Mareta. Rumah yang aku beli untukmu sudah aku jual kepada orang lain. Begitu juga dengan rumah tempat kau dan Yosef bercinta."


Setelah mengatakan itu, Tasya pergi dengan raut wajah yang penuh kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2