Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Kekesalan Naufal


__ADS_3

Anggota keluarganya dan keenam kakak-kakaknya hanya bisa pasrah dan diam. Mereka semua bingung dan tidak tahu harus bicara apa. Mereka juga tidak ingin memaksa Naufal, karena yang menjalani ini semua adalah Naufal.


"Baiklah sayang. Asalkan kamu bahagia, Daddy menghargai keputusan kamu. Daddy juga tidak ingin kamu bersedih sehingga membuat kamu jatuh sakit lagi."


"Terima kasih, Dad." Naufal berbicara sembari tersenyum. "Ya, sudah. Kalau begitu aku ke kamar dulu. Aku mau istirahat," ucap Naufal. Lalu matanya menatap keenam kakak.


"Kak, besok kan hari sabtu? Jadi kalian besok jangan ada yang masuk kantor ya? Pukul sepuluh pagi kalian semua sudah harus ada disini. Anggap saja untuk menggantikan acara ngumpul kita di taman tadi yang gagal. Aku juga akan menghubungi Henry, Nathan, Theo dan Ricky."


"Baiklah, Fal. Kami akan datang," jawab para kakaknya, kecuali Arsya.


Setelah mengatakan hal itu, Naufal pun langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya dan para kakak-kakaknya untuk menuju kamarnya di lantai dua.


^^^


Keesokkan paginya di rumah mewah milik Naufal telah berkumpul seluruh anggota keluarganya. Baik dari anggota keluarga dari pihak Ayahnya maupun anggota keluarga dari pihak Ibunya. Dua keluarga ini memang sudah menjadwalkan setiap Sabtu dan Minggu, mereka akan berkumpul bersama. Ntah itu di rumah Naufal atau di rumah anggota keluarga yang lainnya. Diwajibkan bagi mereka semua.


Para ayah beserta anak atau menantu lelaki tengah berkumpul di ruang tengah. Sedangkan para ibu beserta anak atau menantu perempuan berada di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


"Bagaimana keadaan Naufal saat ini kak Albert?" tanya Ammar.


"Keadaan Naufal saat ini baik-baik saja, Ammar. Dua hari yang lalu kondisinya sempat kembali drop dan kemarin pulang dari kantor keadaan sedikit berantakan. Wajahnya yang pucat dan sudut bibirnya terluka," jawab Albert.


"Apa?!" teriak Ammar, Kishan, Krisna dan Nirvan bersamaan.


"Memang apa yang terjadi, kak?" tanya Nirvan.


"Masalahnya adalah Vanesha," jawab Albert.


"Vanesha," ucap Krisna.


"Jadi maksud kakak Albert, Naufal masih memikirkan gadis itu?" tanya Krisna.


"Kenapa juga Naufal masih memikirkan gadis itu? Gadis itukan sudah meninggalkan Naufal dan memilih bertunangan dengan laki-laki lain," kesal Kishan.


"Tidak Paman! Naufal sama sekali tidak memikirkan gadis itu lagi. Bahkan Naufal sudah tidak pernah lagi mengingat nama gadis itu," sela Aditya.


"Lalu?" tanya Ammar, Krisna, Nirvan dan Kishan bersamaan.


"Dari apa yang Naufal katakan pada kami. Naufal berusaha mati-matian ingin melupakan Vanesha. Tapi bayangan-bayangan Vanesha selalu saja menghantui pikirannya. Bahkan bayangan Vanesha pernah datang dan berdiri tepat di hadapan Naufal saat Naufal berada di dapur hendak mengambil minuman kesukaannya. Bayangan Vanesha itu mengatakan pada Naufal agar Naufal harus selalu mencintainya dan menunggunya kembali. Dan hal itulah yang membuat Naufal drop dua hari yang lalu," sahut Elvan.


"Tidak ada cara lain. Kita harus mencarikan jodoh untuk Naufal. Atau paling tidak kita perkenalkan Naufal dengan gadis lain. Kalau seperti ini terus bisa-bisa kesehatan Naufal akan terganggu," usul Kishan.


"Kami sudah membahas masalah itu pada Naufal, Kishan! Tapi yang kami terima adalah penolakan dari Naufal. Bahkan Naufal sudah membuat keputusan kalau dirinya tidak akan mau mengenal gadis manapun," pungkas Albert.


"Kan kita belum mencobanya, Paman!" sela Zivan.


"Apa yang dikatakan Zivan benar, Paman Albert? Tidak ada salahnya kita mencobanya. Lagian kita melakukan hal ini untuk kebaikan Naufal juga agar Naufal tidak terus teringat dengan masalahnya dengan Vanesh," ucap Valen.


"Baiklah. Kita akan mencobanya. Tapi kalau seandainya Naufal tetap menolaknya. Kita harus berhenti," jawab Albert.


"Hm," jawab mereka bersamaan.


Saat mereka sedang membahas masalah sikelinci kesayangan mereka. Tiba-tiba orang yang menjadi topik pembicaraan berteriak di lantai dua dengan sangat kerasnya.


"Mommyyy!" teriak Naufal.


DEG!!


Mereka yang ada di bawah. Tepatnya di ruang tengah terlonjak kaget. Lalu mereka menolehkan wajah melihat keatas.


"Yak, Naufal! Kenapa teriak-teriak sih?" kesal Aditya.


"Kenapa juga kakak Aditya yang marah? Ini kan rumahku. Jadi suka-sukaku dong. Wleee!" Naufal menjawab perkataan dari kakak keduanya itu dengan enteng sembari menjulurkan lidahnya.


Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala mendengar penuturan Naufal.


"Skakmat, Aditya." Pasya berucap sembari mengejek.


"Aish," kesal Aditya.


"Mommyyy!" teriak Naufal lagi.


Akhirnya orang yang diteriaki datang dan menatap putra bungsunya yang berada di lantai dua.


"Ada apa sih sayang? Kenapa kamu berteriak di atas sana? Kan kamu bisa turun ke bawah," jawab Helena lembut dan juga geleng-geleng kepala melihat kelakuan putra kesayangannya itu.


"Aku lagi malas turun ke bawah," jawab Naufal asal.


Mereka semua yang mendengar jawaban dari Naufal hanya bisa menghela nafas pasrah.


"Ada apa? Kamu butuh apa, hum?" tanya Helena lembut.


"Aku lapar. Apa ada yang bisa aku makan? Perutku sudah berdendang ria dari tadi," jawab Naufal dengan mempoutkan bibirnya.


"Ooooo! Ternyata sikelinci nakal kita sudah lapar ya. Kasihaaaannn," ejek Zifana.


"Apaan sih kak Zifa. Tidak lucu tahu," kesal Naufal dengan menggembung kedua pipinya.


"Hahahaha." para kakak sepupunya tertawa puas melihat wajah kesalnya.


"Tapi Mommy dan yang lainnya belum selesai masak sayang. Mungkin lima belas menit lagi baru selesai," jawab Helena.


"Bagaimana kalau kamua makan yang lainnya saja dulu sembari menunggu sarapan paginya selesai dimasak," usul Rayyan.

__ADS_1


"Apa? Aku harus makan apa?" tanya Naufal.


"Wortel," jawab Rayyan.


"Wortel?" tanya Naufal balik dengan mentautkan kedua alisnya.


"Iya. Untuk sementara kamu makan wortel aja dulu. Biar laparnya hilang," ucap Rayyan menjahili adiknya.


Rayyan berusaha untuk tidak tertawa. Begitu juga dengan yang lainnya.


Detik kemudian, Naufal membelalakkan kedua matanya dengan mulutnya terbuka lebar saat sudah mengerti akan ucapan dari kakak ketiganya itu.


"Apa?" teriak Naufal yang sangat kencang. "Kakak Rayyan. Kakak sadar tidak apa yang barusan kakak katakan? Kakak menyuruhku untuk makan wortel. Yang benar saja. Wortel itukan makanannya kelinci. Aku ini manusia kak. Bukan kelinci!" sahut Naufal sembari berteriak.


"Karena kamu itu kembarannya kelinci!" seru Aditya dan Rayyan bersamaan.


"Ya, benar tuh!" seru para kakak sepupunya kompak.


"Kalian benar-benar menyebalkan," kesal Naufal


"Mommy. Kalau masakannya udah selesai. Bisakan bawa ke kamarku? Aku mau makan di kamar saja. Kalau aku makan dibawa dan bergabung dengan yang lainnya, bisa-bisa nafsu makanku hilang. Ditambah lagi aku malas melihat dua manusia lucifer itu," ucap Naufal sambil menunjuk kearah Aditya dan Rayyan.


"Hahaha." anggota keluarganya tertawa mendengar ucapan Naufal.


"Naufa turun dong ke bawah," ucap Ammar memelas.


"Malas," jawab Naufal.


"Apa kamu tidak kangen dengan kami Paman-pamanmu yang tampan ini!" teriak Nirvan dan diangguki oleh Krisna Ammar dan Kishan.


Naufal yang mendengar penuturan dari sang Paman membulatkan matanya yang sudah bulat itu. Tak jauh beda dengan yang lainnya. Mereka hanya tersenyum gemas mendengar ucapan Nirvan.


"Aish." Naufal mempoutkan bibirnya dan mau tidak mau Naufal pun mengabulkan keinginan Pamannya itu. Naufal akhirnya turun ke bawah menemui anggota keluarganya.


^^^


Kini Naufal sudah bergabung dengan anggota keluarganya. Seperti biasa, dirinya menjadi korban pelukan dan ciuman dari para Pamannya dan juga dari para saudara sepupunya.


Saat para saudara sepupunya ingin memberikan kecupan dan ciuman di seluruh wajah tampannya, Naufal telah siap siaga memberikan gerakan seakan ingin bertarung.


"No.. No.. No! Berani kalian maju, wajah kalian semua babak belur olehku," ucap Naufal dengan menatap horor satu persatu wajah para saudara sepupunya itu.


Sedangkan para Ayah tersenyum gemas melihat aksi para putra-putra mereka. Tak terkecuali Elvan, Aditya dan Rayyan. Mereka terlihat bahagia melihat raut kebahagiaan dan keceriaan yang terpampang di wajah tampan adik bungsu mereka.


"Yah, Fal! Itu namanya nggak adil. Masa kita-kita tidak diizinkan untuk mencium kedua pipi gembulmu itu. Sedangkan para Ayah kami malah kau izinkan," protes Athaya.


"Ya, itu benar. Ini benar-benar tidak adil," sela Rehan.


"Bodo amat. Emang aku pikirin," jawab Naufal dan langsung menduduki pantatnya di sofa, tepat disamping kakak kesayangannya yaitu Elvan.


"Lagi ngerjain beberapa berkas kantor. Membuat empat lagu dan membuat beberapa brosur formulir pendaftaran karyawan baru," jawab Naufal.


"Formulir pendaftaran karyawan baru!" seru mereka bersamaan.


"Iya. Kenapa?" tanya Naufal menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.


"Untuk apa sayang? Apa ada masalah dengan NFL Corp?" tanya Albert.


"Tidak. NFL Corp baik-baik saja. Tidak ada masalah," jawab Naufal.


"Lalu untuk apa brosur formulir pendaftaran karyawan baru itu?" tanya Elvan.


"Untuk Avana Gym," jawab Naufal santai.


"Loh. Kan baru satu bulan yang lalu kamu memasukkan karyawan baru di Avana Gym. Memangnya apa yang terjadi?" tanya Elvan.


"Aish, kakak Elvan. Kau ini cerewet sekali sih. Persis kayak Mommy," kesal Naufal.


Elvam membelalakkan matanya saat mendengar ucapan adiknya itu. Tapi Elvan tidak marah, justru dirinya bahagia. Elvan tidak akan tega untuk memarahi adik-adiknya, terutama Naufal. Dia sangat teramat menyayangi ketiga adiknya itu. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan sibungsu kesayangan keluarga.


Sedangkan anggota keluarganya yang lainnya hanya tersenyum gemas mendengar ucapannya itu.


"Oke.. Oke! Maafkan kakak kalau kakak ini cerewet. Kakak seperti ini, karena kakak mengkhawatirkanmu." Elvan menjawab perkataan adik bungsunya itu sembari mengacak-acak rambut adiknya.


"Ya, aku tahu hal itu. Maafkan aku," lirih Naufal menyesal.


"Kalau begitu katakan pada kakak dan yang lainnya untuk apa brosur formulir pendaftaran karyawan baru itu?" tanya Elvan lembut.


Naufal sengaja tidak langsung menjawab pertanyaan dari kakak kesayangannya itu. Naufal menatap satu persatu wajah anggota keluarganya yang juga saat ini menatap dirinya. Naufal menunjukkan wajah sedihnya dan hal itu sukses membuat mereka semua tampak panik, khawatir dan gelisah.


"Semoga tidak terjadi sesuatu pada Salah satu usahamu sayang," batin Albert.


"Semoga semuanya baik-baik saja," batin para Pamannya dan para saudara sepupunya.


Detik kemudian Naufal pun bersuara. "Kenapa wajah-wajah kalian semuanya tegang begitu? Seperti sedang menunggu pembacaan hasil perlombaan saja," ejek Naufal.


"Huuuufff." Mereka semua menghembuskan nafas kasar mereka.


"Aku tahu apa yang saat ini kalian pikirkan? Terima kasih kalian semua sudah mengkhawatirkan aku, menyayangiku dan peduli padaku. Aku bersyukur memiliki kalian dalam hidupku. Tapi kalian tidak perlu khawatir. Semuanya baik-baik saja sampai saat ini. Ada Henry di NFL CORP. Dia yang menangani semuanya disana. Ada Nathan, Theo dan Ricky di KING STUDIO. Dan aku bisa sedikit fokus di AVANA GYM," tutur Naufal.


"Soal brosur formulir pendaftaran karyawan baru itu. Aku ingin menambah karyawan lagi untuk Avana Gym ku yang baru," kata Naufal.


"Jadi maksud kamu, buka cabang gitu?" tanya Fatih.

__ADS_1


"Begitulah," jawab Naufal.


"Dimana lokasi untuk cabang Avana Gym kamu yang baru itu?" tanya Aditya.


Naufal menatap wajah tampan kakak keduanya itu. "Mau tahu? Apa mau tahu banget?" tanya Naufal sembari menaik turunkan kedua alisnya. Lalu Naufal kembali fokus ke depan.


Sedangkan sang Kakaknya sudah mengumpat untuk dirinya. "Dasar adik sialan."


Yang lainnya jangan ditanya. Mereka hanya bisa tersenyum gemas melihatnya.


Saat Rayyan ingin bertanya. Tiba-tiba ponsel milik Naufal berbunyi.


DRTT!!


DRTT!!


Naufal maupun Elvan melihat nama 'Kakak Damian' di layar ponsel milik Naufal.


"Hehehe. Kakak kesayanganku yang nomor dua menghubungiku," ucap Naufal semangat sembari matanya melirik kearah Aditya dan dapat dilihat olehnya, wajah kakak keduanya itu sudah kusut dan jelek.


Naufal sangat puas melihatnya. Naufal pun langsung menjawab panggilan dari Damian.


"Hallo, kakak Damian."


"Hallo, kelinci manis."


"Ya, kak Damian. Bisa tidak kalau menjawab panggilan dariku itu yang sopan dan dengan kata-kata yang baik!" teriak Naufal.


"Loh. Kan kakak sudah berbicara dengan kata-kata yang manis. Dan tidak ada tu kata-kata yang kasar." Damian berusaha untuk tidak tertawa.


"Aku tutup nih."


"Oke.. Oke! Hah!" terdengar helaan nafas.


"Bagaimana kabarmu? Kau baikan?"


"Iya. Aku baik-baik saja. Tumben nanya tentang keadaanku. Biasanya setiap menghubungiku selalu ngajak ribut," ejek Naufal


"Anggap saja pemanasan. Kalau tidak mendengar suara teriakan darimu, sehari saja. Perasaan kurang afdol."


"Sialan kau kak."


"Kakak menyayangimu, Fal."


Lalu terlintas di pikirannya ide jahil untuk menjahili kedua kakaknya yaitu Aditya dan Rayyan. Naufal masih kesal saat kedua kakaknya yang menganggap dirinya sebagai kembaran dari seekor kelinci. Dan menyuruh dirinya untuk memakan wortel tersebut.


"Aku juga menyayangimu, kakak Damian. Di dunia ini hanya kakak Elvan dan kau, kakak kesayanganku. Tak ada yang lainnya. Aku hanya memiliki dua kakak saja di dunia ini," ucap Naufal yang melirik kearah dua kakaknya itu.


"UUHHUUUKKK!!


Aditya dan Rayyan tersendat saat mendengar penuturan dari adik bungsunya itu.


"Dasar adik laknat," batin Aditya.


"Dasar adik kurang aja," batin Rayyan.


Mereka melemparkan tatapan mautnya pada adik bungsu mereka sembari bibir mereka bergerak-gerak mengeluarkan sumpah serapah untuk sang adik.


Naufal sedari tadi berusaha menahan tawanya melihat wajah kesal kedua kakaknya itu.


"Oh, iya. Ada hal apa kakka menghubungiku?"


"Astaga, kakak hampir lupa. Begini Fal. Saat itu kau pernah meminta pada kakak untuk menyelidiki orang yang akan bekerja sama denganmu. Orang yang kau anggap ada kemiripan dengan si brengsek Kendrik Alvaro?"


"Lalu bagaimana hasilnya kak? Apa kau sudah mengetahui jati diri pemuda itu?"


"Sudah."


"Katakan padaku, kak. Buruan!"


"Yak! Santai, Man. Ngebet banget. Kayak orang mau nikahan aja gak sabaran," ejek Damian


"Aish!"


"Kakak mengirimkan sebuah paket untukmu. Anggap saja hadiah dari kakak. Kalau begitu kakak tutup dulu telepon nya. Bye!!"


TUTT!!


TUTT!!!


"Yak, kakak! Halloo!" teriak Naufal kesal. "Kebiasaan. Dasar Damian sialan."


Sedangkan anggota keluarganya yang mendengar ucapannya hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka sudah terbiasa mendengar umpatan-umpatan yang keluar dari mulut Naufal. Sudah menjadi makanan sehari-hari mereka semua.


Detik kemudian mereka semua dikejutkan dengan suara bell yang berbunyi secara bertubi-tubi.


TING!! TONG!!


TONG!! TONG!!


TING!! TONG!!


"Siapa sih yang menekan bell seperti itu?" tanya kesal Naufal.

__ADS_1


Saat Naufal ingin bangkit. Arsya sudah terlebih dahulu bangkit. "Biarkan kakak yang membukakan pintunya."


Arsya langsung pergi meninggalkan ruang tengah dan menuju ruang tamu.


__ADS_2