Naufal Alexander

Naufal Alexander
Kesedihan Dan Kekhawatiran


__ADS_3

Sekarang mereka sudah berada di rumah sakit. Sebuah brankar dengan pemuda yang terbaring tidak sadarkan diri didorong menuju UGD. Pemuda itu adalah Naufal Alexander.


Keenam kakaknya dan keempat sahabatnya hanya mampu menunggu dengan perasaan panik dan khawatir diluar UGD.


Arsya mengambil ponsel yang ada di saku celananya lalu menekan nomor yang akan di tuju. Panggilan TERSAMBUNG.


"Hallo Arsya. Ada apa kamu menelepon Mami?"


"Mami, Naufal pingsan. Wajahnya pucat. Aku takut Mami."


"Sekarang kamu ada dimana sayang?"


"Aku di rumah sakit Mami. Tepatnya di depan UGD. Aku dan yang lainnya membawa Naufal Ke Rumah Sakit Medistra."


"Baiklah sayang. Mami dan Papi akan segera kesana. Kau tidak usah khawatir. Naufal pasti akan baik-baik saja."


"Ya, sudah Mami aku tutup teleponnya."


Setelah selesai berbicara dengan ibunya, Arsya pun mengakhiri panggilannya tersebut.


Tidak jauh beda dengan yang lainnya. Mereka melakukan hal yang sama seperti Arsya. Reza, Davian, Dhafin, Barra, Ardian dan keempat sahabatnya. Dengan wajah panik dan khawatir, mereka semua mengabari keluarga masing-masing.


Setelah 20 menit menunggu, akhirnya pintu UGD terbuka.


CKLEK!


Seorang dokter muda dan juga tampan keluar dari ruangan tersebut.


"Apa kalian keluarganya?"


"Ya. Dia adik saya, dok. Apa yang terjadi padanya, Dok?" tanya Arsya.


"Apakah adik anda dulu pernah melakukan transplantasi jantung" tanya Dokter itu lagi.


"Apa?" Arsya terkejut.


Sesaat kemudian, seseorang bersuara. "Ya. Itu benar, Dok? Adik kami pernah melakukan Operasi Transplantasi Jantung dikarenakan jantungnya bermasalah?" Dhafin yang menjawab pertanyaan Dokter tersebut.


Semuanya menatap Dhafin, menatap dengan tatapan penuh tanya? mereka kaget mendengar penuturan yang keluar dari mulut Dhafin mengenai Naufal.


"Lalu bagaimana dengan kondisinya sekarang ini, Dokter?" tanya Ardian.


"Untuk sekarang ini, kondisinya masih lemah. Apalagi ada masalah di jantungnya? Tapi itu baru dugaan saya. Untuk mengetahui lebih pastinya tentang kondisi jantungnya, kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kalian bisa menemuinya. Saat ini dia sudah dipindahkan ke ruang rawat. Kalau begitu saya permisi dulu." ucap Dokter itu.

__ADS_1


Mereka membungkuk hormat bersama-sama.."Terima kasih Dokter," jawab Reza.


^^^


Disinilah mereka sekarang. Di ruangan dimana adik dan sahabat mereka dirawat. Terbaring lemah dengan masker oksigen yang bertengger di hidungnya dan infus di tangan kirinya. Lagi-lagi mereka bertemu dengan Naufal dalam keadaan yang kurang baik.


Arsya duduk di samping ranjang Naufal dan menggenggam erat tangannya. Mereka semua sedih melihat Naufal yang terbaring lemah di ranjangnya.


Barra menatap sendu wajah Naufal dan mengusap rambut coklat milik nya.


"Naufal. Kakak disini untukmu. Jadi kakak mohon bukalah matamu, Fal?"


Ardian mendekati ranjang Naufal dan menatap wajahnya. "Naufal, bangunlah. Apa kau tidak mau bertemu dengan kami, hum? Atau kau sengaja menakut-nakuti kami." air mata nya sudah jatuh membasahi wajahnya.


"Naufal. Kami semua disini untukmu," ucap Davian.


"Apakah ini kejutan darimu untuk kami saat kami datang mengunjungimu," ucap Reza.


"Naufal? Kami tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Selama kami mengenalmu, selama kita bersahabat, kau tidak pernah bercerita apa-apapun kepada kami. Kau orangnya tertutup, Fal." Nathan berbicara sembari melihat wajah Naufal.


"Kami semua menyayangimu, Fal." lirih Henry.


Tiba-tiba suara pintu dibuka dengan kasar dan menampakkan beberapa orang yang datang dengan wajah yang panik, khawatir dan sedih.


"Naufal!" teriak ketiga kakak-kakaknya saat memasuki ruangan Naufal dan berhamburan mendekati ranjang Naufal.


"Naufal." rintih Aditya saat melihat adiknya dengan tatapan sendu. Sesekali membelai rambut coklat milik adiknya lalu mengecup keningnya.


Tak kalah dengan kedua kakaknya, Rayyan tak henti-hentinya menangis saat melihat kondisi adiknya seperti ini. "Naufal." batin Rayyan.


Seseorang perempuan paruh baya, mendekati ranjang Naufal. "Naufal, ini bibi Dhira. Kau pasti dengar suara bibikan, sayang? Bibi memang belum mengenalmu dan memahamimu lebih jauh, tapi Bibi yakin kau adalah anak yang kuat. Jadi bibi mohon, bangunlah sayang. Kita semua ada disini dan sebentar lagi Mommy dan Daddymu juga akan datang," ucap Andhira pada keponakan dan mengecup keningnya.


"Arsya." panggil Elvan.


"Ya, kak." Arsya menjawab panggilan dari Elvan.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Naufal? Kenapa dia bisa seperti ini?" tanya Elvan.


"Aku juga tidak tahu, kak. Kami datang untuk mengunjungi Naufal di mansionnya. Saat kami tiba disana  yang ada hanya pembantunya. Pembantunya mengatakan pada kami bahwa Naufal selesai sarapan pagi langsung pergi buru-buru ke kantor. Dan saat Naufal pulang, itu pun dirinya sudah dalam keadaan lemah yang dipapah oleh Henry dan Theo," jawab Arsya.


"Nathan, Henry." panggil Aditya untuk minta penjelasan.


"Saat aku datang ke kantornya. Yang aku lihat Naufal sedang berkutat dengan komputernya. Aku bertanya padanya, apakah dia sudah makan siang, dia hanya menjawab 'belum'. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang saat itu. Aku berusaha membujuknya bahkan berulang kali dan akhirnya dia mau menghentikan aktivitasnya itu lalu aku mengajak nya makan diluar. Dan setelah itu, kami ke STUDIO karena memang saat itu kami sedang sibuk melakukan Pembuatan Rekaman Album baru untuk para musisi yang bernaung di atas nama STUDIO kami. Kegiatan itu selesai pukul 4.30 sore. Kami istirahat sejenak dan berencana mau makan diluar. Tapi saat Naufal hendak berdiri, tubuhnya langsung oleng dan dengan cepat Henry dan Theo menahannya. wajahnya juga pucat," jawab Nathan panjang lebar.

__ADS_1


"Saat kami mau membawanya ke rumah sakit, Naufal menolaknya. Dia meminta kami untuk membawanya pulang ke mansionnya. Kami hanya bisa menuruti kemauannya saja," ucap Henry.


"Lalu apa kata Dokter saat memeriksa Naufal?" tanya Aditya.


"Dokter itu mengatakan kalau ada masalah terhadap jantungnya Naufal, kak!" Arsya yang menjawabnya.


"Apa?" Elvan, Aditya dan Rayyan kaget ketika mendengar jawaban dari Arsya.


"Apa lagi ini? Ini tidak mungkin," ucap Rayyan tak percaya mendengar ucapan Arsya.


"Tidak. Hiks.. ini tidak mungkin. Naufal baik-baik saja. Hiks.. adik kita sudah sembuh, kak." isakan Aditya terdengar.


Elvan hanya diam membeku saat mendengar apa yang dikatakan oleh Arsya. Elvan sudah tidak bisa menahan kesedihannya. Air matanya sudah jatuh membasahi wajahnya.


"Tapi Dokter itu belum yakin dengan apa yang dikatakan nya. Sebelum ada pemeriksaan lebih lanjut terhadap Naufal!" Davian tiba-tiba berbicara.


"Jadi masih ada kemungkinan, jantungnya Naufal baik-baik saja, kak." Reza ikut berbicara.


"Sudahlah. Kalian jangan khawatir. Paman yakin semuanya akan baik-baik saja. Sedangkan Naufal, dia anak yang kuat. Kalian harus percaya itu. Dan untuk kalian, seperti kalian kelelahan. Lebih baik kalian pulang dan istirahat. Nanti kalian bisa kesini lagi," ucap Felix menghibur.


Nathan, Theo, Ricky dan Henry mendekati ranjang Naufal. "Fal. Kami pulang dulu ya. Nanti kami kesini lagi. Tapi saat kami datang lagi kesini, kami harap kau sudah bangun, Fal."


"Paman, Bibi, Kak. Kami pulang dulu. Nanti kami akan kesini lagi," ucap Nathan dan diangguki oleh Theo, Ricky dan Henry.


Semuanya pun mengangguk.


Suara ponsel Elvan berdering. Elvan mengambil ponsel di saku celananya dan melihat siapa yang menghubungi nya.


"Mommy." batinnya.


"Hallo, Mommy.?


"Kamu dimana Elvan?"


"Aku di rumah sakit, Mom."


"Jadi benar kalau adikmu masuk rumah sakit lagi?" isak tangis ibunya terdengar oleh Elvan di seberang telepon.


"Iya, Mommy."


"Ya, sudah. Sebentar lagi Mom dan Dad akan sampai. Bye!"


Setelah mengatakan hal itu, ibunya pun langsung mematikan panggilannya.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan Mommy, kak?" tanya Rayyan.


"Mommy dan Daddy akan sampai sebentar lagi," jawab Elvan.


__ADS_2