Naufal Alexander

Naufal Alexander
Kecelakaan Maut


__ADS_3

Kini Albert berada di kamarnya. Albert mengambil ponselnya, lalu Albert menghubungi kaki tangannya untuk membereskan sesuatu yang berkaitan dengan putra bungsunya.


"Hallo, tuan. Ada hal apa sampai tuan menghubungi saya?"


"Tolong kau amankan semua aset-aset kepemilikan usaha atas nama putraku yaitu Naufal Alexander. Jangan sampai semua usaha yang dimiliki oleh putraku diambil alih oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Satu lagi, tolong rebut kembali usaha Gym putraku yang bernama Avana Gym. Ada yang sudah berani merebutnya dari tangan putraku." Albert memberikan perintah pada tangan kanannya Chiko.


"Baik, Tuan. Akan saya kerjakan dengan baik."


PIP..


"Awas saja kau Kendrik. Kalau ternyata benar dugaanku kalau kau yang sudah menyakiti putraku. Aku akan pastikan kali ini kau akan mendekam di balik jeruji besi untuk yang kedua kalinya. Bahkan seumur hidupmu. Kau sudah berani mengganggu keluargaku. Bahkan sudah berani menyentuh putraku." gumam Albert.


***


Setelah mendengar cerita dari putra bungsunya. Albert mengabari para sahabatnya. Dan disinilah mereka sekarang sedang berkumpul di ruang kerja Albert. Mereka adalah Felix Ravindra, Radeon Adhitama, Andreaz Pratista, Adelard Krishon, Daksa Carney dan Nevian Carney.


Mereka sedang membahas masalah yang menimpa putra-putra mereka. Salah satu Naufal Alexander.


"Jadi benar? Apa yang diceritakan oleh Felix kepadaku tentang masalah yang menimpa putra bungsumu Naufal?" tanya Daksa.


"Ya, Daksa! Itupun Naufal baru bercerita kemarin. Coba saja dia bercerita dari awal. Dia tidak akan kehilangan Avana Gym miliknya," tutur Albert.


"Kalau menurut kalian. Apa dia lagi yang melakukannya?" ucap dan tanya Radeon.


"Saat Naufal bercerita. Saat itu juga aku sudah yakin pasti dia pelakunya karena tidak ada orang lain selain dia yang tahu tentang persahabatan kita," ucap Felix.


"Bagaimana denganmu, Albert? Apa sama pemikiranmu dengan Felix?" tanya Adelard.


"Ya. Aku sepemikiran dengan Felix. Pelakunya memang Kendrik," jawab Albert singkat.


"Oh ya! Apa kalian sudah mengamankan semua aset-aset kekayaan milik putra-putra kalian? Terutama para putra bungsu kalian?" tanya Albert.


"Sudah Albert. Saat Felix mengabari tentang masalah yang menimpa putra bungsumu. Kami langsung mengambil tindakan saat itu juga," jawab Adelard dan diangguki oleh yang lainnya.


"Baguslah kalau begitu," saut Albert lega.


"Kalau memang benar dia orangnya.


Mau apa lagi dia mengganggu kita? Apa dia tidak jera setelah keluar dari penjara? Bahkan dia berani menyentuh salah satu putra kita," ucap Nevian.


"Lalu apa yang harus kita lakukan Albert? Kita tidak mungkin diam sajakan dan membiarkan putra-putra kita dalam masalah," ucap Andreaz.


"Kumpulkan semua anak buah kalian masing-masing lalu perintahkan pada mereka untuk mengawasi dan memata-matai kemanapun putra kalian pergi. Pasang pelacak di semua kendaraan yang mereka miliki baik itu motor atau mobil. Lalu minta bantuan pada orang-orang yang kerja sama dengan kita. Suruh mereka untuk melacak keberadaannya." perintah Albert.


"Baiklah Albert," jawab mereka serempak.


***


Terdengar suara ketukan dari luar


TOK..


TOK..


"Masuk," jawab pria paru baya yang berada di dalam ruangannya.


"Ada apa, Tuan memanggil kami?" ucap salah satu anak buahnya.


"Apa kalian sudah mendapatkan perempuan untuk mendekati Naufal?" tanya pria paru baya itu.


"Sudah, Tuan. Bahkan perempuan itu juga sudah saya berikan foto Naufal."


"Ini ambil." pria paruh baya itu memberikan sebuah foto kepada salah satu anak buahnya. Foto Naufal dan keenam sahabat-sahabatnya.


"Apa yang akan kami lakukan, Tuan?"


"Kalian awasi dan mata-matai mereka. Kalau ada cela lakukan apa yang bisa kalian lakukan. Kalau perlu sedikit melukai mereka."


"Oh Ya! Hari ini kalian harus ke Bandung. Di Bandung itu ada dua usaha yang dikelola oleh Naufal. Aku mau kalian mengambil alih usahanya itu. MENGERTI!" perintah pria paruh baya itu.


"Baik Tuan."


"Tunggu kejutan berikutnya Naufal," batin pria itu.


***


Naufal ingin menemui sang pujaan hatinya yang kini berada di kampus. Sekalian menjemputnya dan mengantarkannya pulang.


Tepat lima belas menit Naufal menunggu, sang pujaan hatinya pun keluar bersama keenam sahabatnya.


"Hei!" sapa Naufal dengan senyuman manis.


"Kak Naufal. Kau ada disini?" tanya Vanesha.


"Kenapa? Tidak bolehkah aku kesini untuk menemui kekasihku?" tanya Naufal menggoda.


Wajah Vanesha merona saat mendengar ucapan Naufal. Sedang keenam sahabatnya tersenyum gemas melihat wajah merona Vanesha.


"Oh iya. Dapat salam dari keenam kakak-kakakku untuk kalian," ucap Naufal.


"Sampaikan juga salam kami kepada kakak-kakak!" seru Ishana mewakili yang lain.


"Baiklah."


"Vanesha. Sepertinya kita tidak bisa pulang bersama dikarenakan kau sudah dijemput oleh pangeranmu," goda Zora.


"Kalau begitu kami duluan Vanesha!" seru Enzi.


"Kami titip tuan putri kami padamu. Jaga dia dan jangan sampai lecet," ucap Syafira.


"Kalian tenang saja. Aku akan menjaga tuan putri kalian dengan baik tanpa lecet sedikit pun," sahut Naufal.


Sekarang tinggallah Vanesha dan Naufal berdua.


"Sebelum pulang. Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu?" tanya Naufal.


"Baiklah. Tapi jangan lama-lama ya. Aku tidak mau membuat Bunda cemas," jawab Vanesha.


"Oke!" jawab Naufal kemudian membukakan pintu mobil untuk Vanesha gadis yang sudah resmi jadi kekasihnya dua minggu yang lalu.


***


Sekarang mereka sudah berada dalam mobil. Naufal mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


Dua puluh menit kemudian mereka telah sampai di sebuah Mall. Mall terbesar dan terkenal di Jakarta.


Naufal turun lebih dulu. Dan setelah itu dirinya membukakan pintu untuk Vanesha.


"Aish, kak! Aku bisa sendiri."

__ADS_1


"Ya, aku tahu kau bisa sendiri. Kau kan kekasihku. Wajar dong aku memanjakanmu," ucap Naufal.


"Kakak," ucap Vanesha menahan malu.


"Ayoo, kita masuk ke dalam." Naufal langsung menggandeng tangan Vanesha.


"Kita mau ngapain kesini kak?" tanya Vanesha.


"Nanti kau tahu sendiri," jawab Naufal.


Sampailah mereka di toko perhiasan. Keduanya disambut ramah oleh pemilik toko perhiasan tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu, tuan?"


"Saya ingin cincin berlian couple untukku dan kekasihku," ucap Naufal.


"Ini tuan. Ini cocok sekali untuk tuan dan kekasih tuan. Ini barang baru." penjaga tokoh perhiasan tersebut memperlihatkan cincin couple pada Naufal.


Naufal mengambil cincin tersebut. Dengan penuh semangat dan keyakinan, Naufal memasangkan cincin itu kejari Vanesha.


"Cantik." Naufal tersenyum saat melihat cincin yang terpasang dijari manis Vanesha.


Dan Vanesha juga memasangkan cincin yang satunya lagi kejari manis Naufal.


"Vanesha. Aku membelikan cincin ini sebagai tanda cintaku kepadamu dan dengan aku memasangkan cincin ini kejari manismu ini. Kau sepenuhnya milikku. Aku sudah mengikatmu. Selamanya kau hanya milikku. Hanya keluargamu dan aku yang kau miliki. Tidak ada yang boleh mengambilmu dariku. Jangan pernah kau melepaskan cincin ini, apapun yang terjadi." Naufal berbicara sambil memberikan kecupan sayang di kening Vanesha.


"Aku mencintaimu, kak! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu bersamamu. Apapun yang terjadi," jawab Vanesha tulus.


Setelah selesai melakukan pembayaran. Mereka pun memutuskan untuk meninggalkan toko perhiasan tersebut.


"Kak," panggil Vanesha


"Ya. Ada apa, hum?"


"Kita langsung pulang saja ya. Pasti Bunda sudah menungguku di rumah."


"Baiklah."


Naufal dan Vanesha melangkahkan kaki menuju mobil.


***


Mereka telah sampai di depan rumah Vanesha. Vanesha pun langsung menekan bell rumah mewahnya itu.


TING..


TONG..


Seorang pelayan berlari untuk membukakan pintu.


CKLEK.


"Eeh, Nona Vanesha sudah pulang," sapa pelayan tersebut.


"Ayo, kak masuk!" Vanesha menggandeng tangan Naufal.


Naufal melangkah memasuki rumah mewah milik kekasihnya itu. Dan sampailah mereka di ruang tengah.


"Vanesha. Kau sudah pulang sayang!" tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang datang menghampiri mereka berdua.


"Maaf Bunda aku pulang telat."


Wanita paruh baya itu hanya tersenyum mendengar penuturan Naufal. "Tidak apa, Nak! Bibi juga pernah muda dulu."


"Oh ya! Siapa namamu sayang?" tanya ibunya Vanesha.


"Namaku Naufal. Naufal Alexander," jawab Naufal.


"Alexander? Apakah pemuda ini cucu dari tuan Alexander yang baik hati itu?" batin ibunya Vanesha.


"Oh ya, Nak! Bibi boleh bertanya?"


"Silahkan, Bibi."


"Apa kau kenal dengan Richard Alexander?" tanya ibunya Vanesha.


"Ya. Aku kenal karena dia adalah kakekku," jawab Naufal.


"Akhirnya bibi bisa bertemu denganmu, Nak!"


"Bibi kenal dengan kakekku dimana?"


"Siapa yang tidak kenal dengan Richard Alexander. Seorang pengusaha terkenal dan juga baik hati. Suka menolong. Salah satunya pada suami bibi. Saat itu suami bibi alias Ayahnya Vanesha difitnah. Suami bibi dituduh telah melakukan korupsi dan menyelundupkan obat-obatan terlarang. Bahkan suami bibi dipenjara. Berkat kakekmu, suami bibi dibebaskan dari penjara dan pihak kepolisian meminta maaf pada suami bibi lalu namanya pun bersih dimata semua orang. Bibi dan suami bibi selama ini mencari kakekmu. Tapi kami tidak berhasil. Kami ingin berterima kasih pada kakekmu. Mumpung kau ada disini. Bibi bisakah bertemu dengan kakekmu, Nak?"


Raut wajah Naufal berubah menjadi sedih. "Maaf, Bibi!"


"Kenapa Nak? Apa bibi tidak boleh bertemu dengan kakekmu?" raut wajah ibunya Vanesha menjadi sedih.


"Bu-bukan begitu, Bi!"


"Lalu apa, Nak?"


"Kakek.. kakek." setetes air matanya jatuh membasahi wajah tampannya. "Kakek sudah lama meninggal, Bi! Kakek meninggal saat aku duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah atas."


"Maafkan bibi, Nak!"


"Tidak apa-apa, Bi!"


"Oh iya, Bi! Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Aku pamit dulu karena aku harus kembali ke Studio," ucap Naufal.


"Hati-hati ya, Nak!"


"Iya, Bi!"


"Kak Naufal hati-hati ya. Jangan bawa mobilnya ngebut-ngebut."


"Siap tuan putri."


Naufal pun pergi meninggalkan Vanesha dan ibunya yang masih berdiri di depan rumah mewah mereka.


***


Naufal sudah berada di ruang kerjanya. Dan langsung berkutat dengan laptopnya.


"Naufal, Kenapa kau disini?" tanya Henry.


"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh datang ke Studioku sendiri?" tanya Naufal yang mengerucutkan bibirnya.


"Aaiisshh! Bukan begitu. Aku dapat kabar dari kak Ardian katanya kalau kau itu sakit. Makanya aku kaget kau ada disini," jawab Henry.

__ADS_1


"Berarti kakakmu itu yang berlebihan," saut Naufal.


"Walaupun kakakku itu berlebihan. Tapi dia itu tulus sayang sama kamu Fal," ucap Henry.


"Iya ya. Aku tahu."


Tiba-tiba Nathan, Theo dan Ricky datang. "Naufal!" teriak mereka.


Naufal menutup kedua telinganya mendengar teriakan dari ketiga sahabatnya.


"Kau disini. Bukannya kau sakit, Fal!" seru Nathan.


"Iya, Fal! Kenapa kau ada disini?" tanya Theo.


"Hah." Naufal menghela nafas.


"Pertanyaan kalian itu sama dengan pertanyaan si hitam barusan. Memangnya kenapa kalau aku ada disini? Tidak boleh?" tanya Naufal sembari mengejek Henry.


"Bukan begitu Naufal. Kan kamu la..." ucapan Ricky terpotong.


"Sakit, maksudmu." Naufal langsung menjawab perkataan Ricky sahabatnya.


"Fal." panggil Nathan.


"Eemmm." jawab Naufal.


"Sekarang apa rencanamu? Sebelum kita mengetahui siapa orang yang ingin merebut Studio ini hidup kita belum bisa tenang," ucap Nathan.


"Aku juga tidak tahu Nathan. Tapi aku sudah ceritakan masalah ini sama Daddy. Daddy akan menyelesaikan masalah ini," tutur Naufal.


"Jadi kau sudah menceritakan masalah ini pada Daddymu?" tanya Theo.


"Ya," jawab Naufal.


"Coba dari awal aku ceritakan masalah ini pada Daddy. Pasti kak Damian masih hidup." Naufal seketika menangis saat mengingat Damian.


"Sudahlah Naufal. Ini sudah terjadi. Dan aku yakin kalau kak Damian masih hidup dia pasti tidak akan marah padamu dan dia akan mengerti." Henry berusaha menghibur Naufal.


"Ya, Fal. Apa yang dikatakan Henry benar," ujar Nathan.


"Apa kau juga menceritakan soal kejadian waktu kau diserang itu?" tanya Ricky.


"Ya, Ricky."


"Tunggu.. Tunggu. Penyerangan? Apa maksudmu Ricky?" tanya Henry yang tidak mengerti.


"Naufal, Ricky. Katakan pada kami. Apa yang tidak kami ketahui?" pinta Theo.


"Saat aku pulang dari Studio. Aku dihadang oleh enam orang yang tidak dikenal. Aku lengah dan saat itulah aku terkena pukulan tepat di dadaku. Untung saja saat itu Ricky datang tepat waktu. Kalau tidak aku sudah tidak ada disini bersama kalian," jawab Naufal.


"Sudahlah. Jangan dibahas lagi. Kasihan Naufal," sela Ricky.


"Gimana kalau kita pergi makan siang?" ajak Theo.


"Ide bagus. Ayoo!" seru Nathan.


"Ayooo!" seru mereka bersamaan.


Dan mereka pun pergi menuju sebuah Cafe untuk makan siang.


***


Reza sedang berada di ruang kerjanya. Jari-jarinya tak henti-henti menari-nari di atas keyboard laptopnya. Dikarena banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.


Saat Reza tengah fokus sama laptopnya, tiba-tiba ponselnya berdering.


DRRTT..


Reza melihat ke arah ponselnya. Dan tertera nama 'kak Barra' di layar ponselnya. Reza pun segera menjawab panggilan tersebut.


"Hallo kak Barra. Ada apa menelponku?"


"Kau ada dimana Reza?"


"Yaelah. Dimana lagi kalau bukan di kantor? Pertanyaan macam apa itu?"


"Ya iya. Oh ya. Jadi tidak kita ke mansion Naufal. Sudah dua hari kita tidak dapat kabar dari dia."


"Aaiisshh! Tuh anak memang keterlaluan sekali. Bisa-bisanya sudah dua hari ini dia tidak ngabari kita. Awas saja kalau ketemu nanti, akan aku jitak kepalanya."


"Ya, sudah. Kalau begitu kakak tutup teleponnya."


Setelah mengatakan hal itu, Barra pun langsung mematikan teleponnya.


Tutt..


***


Naufal, Theo, Nathan, Ricky dan Henry sudah kembali ke Studio. Hari ini jadwal kerja mereka sangat padat. Mereka harus menyelesaikan pembuatan Rekaman Album baru untuk dua artis yang bernaung di Studio mereka.


"Akhirnya. Kelar juga kerjaan kita!" seru Henry.


"Ya, kau benar Henry," saut Ricky.


"Dikarenakan kerjaan kita sudah kelar. Kalau begitu aku langsung pulang ya," ucap Naufal.


"Ya sudah. Kau hati-hati ya." Nathan bersuara.


"Oke, Bye!" Naufal pun langsung pergi meninggalkan keempat sahabatnya sambil melambaikan tangannya.


Naufal pergi meninggalkan Studionya dan menuju mobilnya di parkiran.


***


"Tubuhku lelah sekali. Aku tidak sabaran ingin cepat-cepat sampai di rumah. Biar bisa tidur." monolog Naufal.


"Mobil yang di belakangku itu sepertinya dari tadi mengikuti ku terus." Naufal melihat kearah kaca spion mobilnya. "Aish. Mungkin hanya perasaanku saja." Naufal pun kembali fokus menyetir.


Tapi lama kelamaan mobil itu terus mengikuti mobil Naufal.


"Tuh kan benar. Mobil itu mengikutiku terus. Apa maunya orang itu?" ucap Naufal pada dirinya sendiri.


Naufal langsung menancapkan gas. Dan dia membawa mobil itu dengan sangat kencang. Tanpa dia sadari ada mobil yang melaju sangat kencang tepat di depannya.


Naufal kaget dan membanting stirnya ke pinggiran dan menabrak sebuah tiang listrik.


BRUUAAKKK...


Mobil Naufal bagian depannya hancur dan mengeluarkan asap. Sedangkan Naufal tidak sadarkan diri di dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2