
Sekarang Naufal berada di ruang operasi. Ini adalah operasi yang kedua yang dialaminya selama hidupnya. Dirinya tidak pernah lepas dari yang namanya rumah sakit. Selama hidupnya dirinya selalu berurusan dengan namanya rumah sakit. Bahkan rumah sakit sudah menjadi teman hidupnya.
Sudah dua puluh menit Naufal berada di dalam ruang operasi. Dan selama dua puluh menit pula anggota keluarga, sahabat dan para kakak-kakak menunggunya dalam perasaan panik.
Setelah dua jam menunggu. Pintu ruang operasi pun dibuka. Terlihat seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Ya, dokter itu adalah Krishon.
"Krishon. Bagaimana?" tanya Albert pada adiknya.
Krishon tidak langsung menjawab pertanyaan sang kakak. Tapi dirinya dapat melihat bagaimana paniknya sang kakak memikirkan keadaan keponakannya?
"Operasi berjalan lancar. Semuanya baik-baik saja. Setelah ini bisa dipastikan Naufal tidak akan merasakan sakit itu lagi." Krishon menjawab pertanyaan dari Albert.
"Tapi..." ucapan Rayyan terhenti.
"Tapi apa, Rayyan?" tanya Krishon.
"Apa hal itu akan benar-benar terjadi? Apa Naufal akan benar-benar melupakan kita semua?" tanya Rayyan yang sudah berlinang air mata.
"Seperti yang paman katakan sebelumnya. Hal itu pasti akan terjadi. Tapi kita lihat dulu perkembangan Naufal saat dirinya sadar nanti," ucap Krishon.
Semua mengangguk tanda setuju.
***
Kendrik Alvaro berada di ruang kerjanya. Dia sedang merencanakan sesuatu. Dan kali ini sedikit Extrem. Lalu pria itu memanggil beberapa anak buahnya untuk menemuinya di ruang kerjanya.
TOK..
TOK..
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk!" teriak Kendrik dari dalam ruangannya.
Pintu tersebut dibuka dan masuklah beberapa anak buahnya.
"Anak itu sekarang dirawat di rumah sakit. Bawa beberapa orang dan culik dia." Kendrik memberikan perintah pada anak buahnya.
"Baik bos," jawab anak buahnya.
"Jangan sampai gagal," ucap Kendrik.
"Siap, Bos!" mereka pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dan kini tersisa 12 anak buahnya.
"Tugas kalian adalah culik keenam kakak-kakaknya yang sekaligus sahabat-sahabatnya. Bagi enam kelompok. Jadi setiap kelompok dua orang. Lakukan dengan baik dan jangan sampai gagal. Mengerti."
"Baik bos," jawab mereka.
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tinggallah Kendrik sendirian di ruang itu.
"Sebentar lagi kita akan bertemu Naufal," batin Kendrik tersenyum menyeringai.
***
Sekarang mereka semua sudah berada di ruang rawat Naufal. Mereka menatap Naufal dengan tatapan yang sulit diartikan. Lagi-lagi orang yang mereka sayangi harus masuk rumah sakit.
Helena menggenggam tangan Naufal. Sesekali tangannya yang satunya mengelus rambut coklat milik putra bungsunya.
"Naufal," lirih Helena.
Tak jauh bedanya dengan ketiga kakak-kakaknya. Mereka menangis melihat adik kesayangan mereka terbaring lemah di ranjang pesakitan.
"Hei, Jagoan kakak. Kakak ada disini. Apa Naufal tidak mau melihat kakak, hum?" Elvan berbicara berbisik di telinga adiknya yang air matanya masih setia mengalir lalu kemudian Elvan memberikan satu kecupan di kening adiknya.
Aditya melakukan hal yang sama seperti Elvan. Dirinya mengecup kening adik berulang kali. Dan mengelus lembut rambutnya.
"Naufal. Kakak sangat menyayangimu. Kakak janji kalau Naufal bangun nanti. Apapun yang ingin Naufal minta. Kakak akan kabulkan? Tidak masalah kalau semua uang kakak akan habis. Asal kamu bahagia dan tidak sakit lagi. Ayoo, bangunlah." Aditya berbicara sembari tangannya bermain-main di kepala adiknya.
Kini giliran Rayyan, kakak ketiga Naufal. "Naufal. Kamu bisa dengar kakak kan? Kakak akan selalu ada untukmu. Jadi sekarang, bangunlah dan buka mata kamu itu, Fal! Sudah sepuluh jam kamu tidur saat setelah operasi itu. Apa kamu tidak sayang lagi sama kakak?" Rayyan sudah tidak bisa menahan air matanya. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya.
Mereka semua hanya bisa diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi tatapan mereka tidak lepas dari sosok yang kini tengah terbaring di ranjang pesakitan. Lalu seketika mereka dikejutkan dengan suara igauan keluar dari bibir Naufal.
"Vanesha.. Vanesha!"
Semua yang ada di ruang rawat tersebut mendekati ranjang Naufal. Mereka berharap sipemilik mata bulat itu segera membuka mata dan memberikan senyuman kelinci miliknya pada mereka semua.
Harapan mereka pun terkabul. Kini mata bulat nan indah itu berlahan terbuka sempurna. Mereka yang melihat tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Mommy," itulah kata yang terucap dari dari bibir Naufal.
Helena yang mendengar putra bungsunya memanggil dirinya meneteskan air matanya. Kemudian Helena memberikan kecupan di kening putranya.
"Mommy bahagia sekali Naufal sudah bangun."
Naufal mengangkat tangannya dan menghapus air mata ibunya.
"Aku tidak mau melihat Mommy nangis. Mommy tidak boleh menangis karena aku."
Helena tersenyum dan memberikan kecupan di pipi putranya. "Mommy menangis karena bahagia sayang. Mommy menyayangimu."
"Ehem!" Albert berdehem dan itu berhasil mengganggu kebersamaan ibu dan anak.
"Daddy." Naufal mempoutkan bibirnya.
"Sayang. Kau mengganggu saja," protes Helena. Sedangkan yang lainnya tertawa.
Albert memperlihatkan wajah sedihnya untuk menggoda putra bungsunya.
"Jadi putra bungsu Daddy ini sudah tidak membutuhkan Daddy lagi, hum?"
Naufal menatap wajah Ayahnya yang tengah bersedih. "Daddy," lirih Naufal. Tanpa sadar air matanya pun jatuh membasahi wajahnya.
Albert yang melihat putranya menangis menjadi tidak tega lalu kemudian Albert menghapus air mata putranya dan tidak lupa memberikan kecupan sayang di kening dan di pipi putranya kesayangannya itu.
"Hei, Daddy cuma bercanda sayang. Maafkan Daddy yang sudah membuat kamu menangis. Apa ada yang sakit, hum?"
"Ada," jawab Naufal lirih.
Mereka menatap Naufal khawatir.
"Yang mana sakit sayang. Beritahu Mommy."
"Ini," jawab Naufal sambil memegang dada kirinya.
Sontak membuat mereka semua membelalakkan mata mereka saat mendengar jawaban dari Naufal.
"Bagaimana rasanya sayang? Apa dada Naufal terasa nyeri? Sesak? Sakit? Susah bernafas?" tanya Helena beruntun.
Mereka masih fokus memandangi Naufal dan menunggu dengan cemas jawaban darinya.
"Naufal. Jangan diam saja. Ayoo, jawab Naufal. Jangan buat kami khawatir." Elvan berbicara dengan wajah yang sangat khawatir.
"Aish. Kak Elvan. Apa yang harus aku jawab? Aku baik-baik saja. Tidak ada yang sakit. Jantungku juga baik-baik saja. Tidak ada masalah," saut Naufal.
"Kenapa saat Daddy bertanya apa ada yang sakit padamu? Kenapa kamu memegang dada kirimu?" tanya Rayyan.
"Kan memang benar kalau dadaku sakit, sesak. Tapi semua itu bukan masalah jantungku. Tapi sakit karena aku di tinggal pergi oleh kekasihku," ucap Naufal mempoutkan bibirnya.
Semua yang mendengar ucapan Naufal bernafas lega. Jantung mereka hampir copot saat Naufal memegang dadanya ketika ditanya apa ada yang sakit?
"Kau membuat kami khawatir, Naufal." Aditya berbicara dengan nada pura-pura kesal.
"Yak! Kenapa kak Aditya kesal padaku? Kalian saja yang terlalu overprotektif padaku. Terlalu khawatir padaku. Dan terlalu mencemaskanku. Seakan-akan aku akan pergi jauh meninggalkan kalian," jawab Naufal yang masih memperlihatkan wajah masamnya.
"Kami seperti ini karena kami benar-benar menyayangimu, Naufal!" seru Andhira selaku bibinya.
"Aku tahu. Maafkan aku," lirih Naufal.
"Sudah, sudah. Kalian ini apa-apaan sih? Naufal itu baru sadar. Tapi kalian sudah mengajak Naufal bicara," sela Felix.
"Terima kasih, Paman. Kau sangat pengertian," puji Naufal. Mereka semua tersenyum.
CKLEK..
Pintu ruang rawat Naufal dibuka. Dan masuk seorang Dokter yang tak lain adalah Krishon. Krishon mendekati ranjang Naufal.
"Hei, jagoan Paman. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa ada yang sakit?"
"Haah." Naufal membuang nafasnya kasar. "Pertanyaan itu lagi. Aku bosan Paman. Apa tidak ada pertanyaan yang lain?" Naufal melayangkan protes pada Krishon.
Krishon Alexander bingung lalu menatap sang kakak Albert Alexander. "Pertanyaanmu barusan sama dengan pertanyaanku, Krishon. Aku sudah mengajukannya terlebih dahulu. Dan keponakanmu itu sudah menjawabnya." Albert menjelaskannya pada Krishon dan disambut tawa dari penghuni yang ada di ruang tersebut.
"Hahahaha."
"Aku mengerti," ucap Krishon lalu menatap Naufal.
__ADS_1
"Naufal," panggil Krishon.
"Ya," Jawab Naufal singkat.
"Ini serius. Paman mau menanyakan satu hal padamu," ucap Krishon.
"Paman mau nanya apa padaku?" tanya Naufal.
"Apa yang Naufal rasakan setelah operasi?" tanya Krishon hati-hati.
"Aku tidak merasakan apa-apa? Semuanya baik-baik saja," jawab Naufal.
"Apa Naufal ingat dengan mereka semua?" tanya Krishon lalu menunjuk orang-orang yang ada di ruangan rawat tersebut.
"Aish, Paman. Pertanyaan Paman itu sangat-sangat tidak bermutu. Apa perlu aku menyebutkan nama mereka satu persatu?" tanya Naufal balik.
"Yang jelas sekarang ini. Paman adalah pamanku Krishon Alexander. Seorang dokter yang cerewet sekaligus sangat menyayangiku. Yang berdiri di samping kananku ini adalah ketiga kakak-kakakku yang paling menyebalkan. Kak Elvan, Kak Aditya dan Kak Rayyan. Lalu yang berdiri di samping paman itu adalah Daddy dan Mommy. Itu..." ucapan Naufal terhenti karena Krishon memotong ucapannya.
"Paman mengerti. Maafkan Paman, oke! Sekarang Naufal harus istirahat. Jangan banyak bicara dulu atau Naufal mau satu minggu di rawat disini," goda Krishon lalu mengusap lembut rambut Naufal.
"Aku tidak mau. Satu hari saja aku sudah merasa bosan. Apalagi kalau sampai satu minggu. Pasti akan lebih menyeramkan," saut Naufal.
"Kau pikir ini rumah hantu, Naufal. " Davian berucap menatap heran Naufal.
"Lebih menyeramkan dari pada rumah hantu, Kak Davian!" seru Naufal.
"Hahahahaha."
Semuanya tertawa mendengar penuturan Naufal.
"Ikut aku keluar. Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian!" seru Krishon.
Sekarang mereka sudah berada di luar. Tinggallah para anak-anak di dalam.
"Apa yang ingin kau sampaikan, Krishon?" tanya Albert.
"Soal perkembangan kesehatan Naufal setelah operasi. Seperti yang aku katakan sebelumnya. Naufal akan mengalami hilang ingatan setelah operasi. Tapi dari hasil yang aku lihat barusan. Ini diluar perkiraanku. Ternyata Naufal dalam kondisi baik-baik saja. Naufal sama sekali tidak mengalami hilang ingatan dan dia mengingat kita semua. Ini suatu keajaiban yang diberikan oleh Tuhan untuk Naufal." Krishon berbicara sembari tersenyum bahagia.
"Kami tidak menyadari hal itu karena kami terlalu sibuk dengan kebahagiaan kami disaat Naufal sadar," ucap Helena.
"Tapi syukurlah. Ini kabar yang sangat bahagia untuk kita semua!" seru Andhira
***
Keesokkan harinya suasana ruang rawat Naufal. Naufal yang sedang tertidur dan ditemani oleh tiga wanita cantik yaitu ibunya, kakak iparnya dan bibinya serta tiga kakak.
"Mommy, Bibi. Aku mau keluar membeli makanan. Mommy dan Bibi mau nitip apa?" tanya Liana.
"Apa saja sayang," jawab Helena.
"Biar Bibi temanin, ya!" seru Andhira. "Tapi Mommy..." ucapan Liana terhenti karena Helena sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Mommy tidak sendirian. Kan ada yang menemani di luar tiga orang satpam tampan. Hehehe." Helena berbicara sembari terkekeh.
"Iih. Mommy, " sela Liana yang ikut terkekeh.
"Ya, sudah. Kami pergi dulu."
Andhira dan Liana melangkahkan kaki menuju pintu keluar.
CKLEK..
Pintu dibuka. Terlihat tiga pemuda tampan yang sedang asyik mengobrol.
"Bibi, Kak Liana. Ada apa? Naufal baik-baik saja kan?" tanya Rayyan saat melihat mereka keluar dari kamar rawat adiknya
"Naufal baik-baik saja, Rayyan. Kami berdua mau pergi membeli sesuatu," jawab Andhira.
"Perlu aku temani, Bi?" tanya Rehan.
"Tidak perlu Rehan. Kalian tetap disini. Siapa tahu tenaga kalian dibutuhkan. Apalagi Bibi Helena sendirian di dalam," tutur Andhira.
"Kami pergi dulu," ucap Liana.
Akhirnya mereka pun pergi. Tanpa mereka sadari ada beberapa orang yang sedang mengawasi mereka. Tepatnya ruang rawat Naufal.
"Itu dia ruang rawatnya Naufal. Kalian urus tiga laki-laki yang ada di luar itu. Buat mereka meninggalkan tempat itu agar aku bisa masuk ke ruangan itu." salah satu dari anak buahnya Kendrik memberikan perintah
__ADS_1
"Baik."