Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Kakak Alice!


__ADS_3

Naufal bersama yang lain sudah berada di luar Mall. Mereka semua memutuskan untuk pergi ke tempat lain ke tempat yang sudah mereka janjikan, terutama tempat yang diinginkan oleh Naufal dan Vanesha.


Disaat mereka akan melangkah menuju parkiran, tiba-tiba tatapan mata Naufal melihat sosok wanita cantik yang dia kenal.


"Itu... Itukan kakak Alice," ucap Naufal.


Arsya serta yang lainnya mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Naufal. Bahkan tatapan mata Naufal masih fokus menatap kearah wanita yang disebut Alice itu.


"Naufal," panggil Arsya serta yang lainnya.


Namun Naufal tidak mendengarnya. Pikiran Naufal masih terfokus terhadap wanita cantik tersebut.


"Aku yakin itu kakak Alice. Aku masih ingat wajahnya walau tidak bertemu dengannya selama 5 tahun," ucap Naufal.


Setelah memastikan pandangannya terhadap wanita yang dia lihat. Naufal kemudian langsung berlari menghampiri wanita itu yang saat ini bersama sang ibu.


Melihat Naufal yang tiba-tiba berlari membuat Arsya serta yang lainnya memutuskan untuk menyusul Naufal.


"Kakak Naufal/Naufal!" panggil mereka bersamaan.


^^^


Alice dan ibunya saat ini tengah memasukkan barang-barang belanjaannya ke dalam bagasi mobil. Begitu banyak barang-barang belanjaan yang mereka beli sehingga bagasi mobil tersebut penuh.


Disaat mereka tengah memasukkan barang-barang belanjaannya ke dalam bagasi mobil, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara panggilan seseorang, terutama Alice.


"Kakak Alice!"


Baik Alice maupun ibunya langsung membalikkan badannya untuk melihat orang yang memanggil dirinya/putrinya.


"Kan benar. Kakak adalah kakak Alice," ucap Naufal.


Alice menatap kearah ibunya. Begitu juga dengan ibunya. Mereka saling memberikan tatapan satu sama lainnya. Kemudian mereka kembali menatap pemuda yang ada di hadapannya.


"Kakak Alice, kakak ingat aku kan? Kakak nggak melupakan aku kan?" tanya Naufal dengan disertai air matanya yang jatuh membasahi pipinya.


"Kamu Naufal adiknya Aditya."


Air mata Naufal makin deras keluar ketika telinganya mendengar jawaban dari wanita cantik di hadapannya.


"Fal, siapa kakak ini?" tanya Arsya.


Naufal melihat sekilas kearah Arsya yang lainnya. Setelah itu, Naufal kembali menatap wajah Alice dan ibunya.


^^^


Disinilah mereka sekarang, di sebuah Cafe di depan Mall. Mereka duduk di satu kursi panjang berhadapan dengan Alice dan ibunya.


"Sekarang ceritakan padaku kemana kakak selama 5 tahun ini? Kenapa... Kenapa kakak menghilang disaat hari pernikahan kakak dengan kakak Aditya?" tanya Naufal dengan berurai air mata.

__ADS_1


Deg..


Vanesha, Arsya serta yang lainnya terkejut ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Naufal kepada wanita yang ada di hadapannya.


Sekarang akhirnya mereka tahu siapa wanita yang bernama Alice ini. Ternyata Alice adalah mantan calon istri dari Aditya, kakak keduanya Naufal.


"Kenapa kakak mengkhianati kak Aditya? Jika kakak tidak mencintai kakakku. Kenapa kakak mau jadi kekasihnya? Dan kakak juga tidak menolak saat kakakku melamar kakak," ucap dan tanya Naufal.


"Fal," ucap Arsya sembari mengusap-usap lembut punggung Naufal.


Sementara Vanesha menggenggam tangan Naufal untuk sekedar memberikan kekuatan kepada kekasihnya.


Mendengar ucapan dan pertanyaan dari Naufal serta melihat Naufal yang sudah menangis membuat Alice merasakan sesak di dadanya. Alice juga sama seperti Naufal. Dia juga sudah menangis sejak tadi.


"Jawab aku, kak! Kenapa kakak Alice tega terhadap kakakku? Apa kesalahan kakakku sehingga kak Alice menghilang disaat hari pernikahan kalian?"


"Kakak tahu tidak bagaimana hancurnya kakakku ketika mengetahui kabar kakak menghilang di hari pernikahan kalian? Kakak tahu tidak bagaimana malunya keluarga kami atas perbuatan kakak!"


"Kenapa kakak melakukan itu pada kakakku?Kenapa kak?!" teriak Naufal.


"Kakak melakukan semua itu bukan karena kakak tidak mencintai Aditya. Justru kakak sangat mencintai Aditya, makanya kakak melakukan hal ini," sahut Alice dengan deraian air mata.


"Dengan cara kakak menghilang diacara pernikahan kalian, hah?!"


"Iya."


"Karena kakak tidak pantas untuk Aditya. Kakak tidak mau egois dengan mempertahankan Aditya disisi kakak. Aditya berhak untuk bahagia."


"Kebahagiaan kak Aditya adalah kak Alice."


"Tapi kakak tidak bisa bersama dengan Aditya?!"


"Kenapa tidak bisa?! Dan kenapa kakak perginya disaat acara pernikahan kalian? Kenapa nggak dari awal kak Alice ninggalin kakakku? Apa harus ya seperti itu?"


Air mata Alice semakin deras mengalir membasahi pipinya. Begitu juga dengan Naufal. Keduanya sama-sama terluka, sedih dan sama-sama rindu.


Sejak bertemu dengan Naufal, Alice langsung menyayangi Naufal seperti adiknya sendiri. Begitu juga dengan Naufal. Naufal begitu menyayangi calon kakak iparnya itu. Kasih sayangnya terhadap Alice sama besar dengan kakak ipar tertuanya yaitu Liana.


Melihat perang mulut antara Naufal dan putrinya membuat wanita paruh baya itu akhirnya memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya. Ditambah lagi, wanita itu sangat tahu bahwa putrinya tidak akan pernah mengatakan apapun kepada Naufal.


"Nak Naufal! Biarkan Bibi yang menjelaskan semuanya kepada kamu."


Naufal langsung melihat kearah wanita paruh baya itu. Begitu juga dengan Vanesha, Arsya dan yang lainnya.


"Ma, jangan!"


"Tidak sayang. Sudah waktunya Naufal tahu apa yang sebenarnya yang terjadi padamu. Sudah cukup kamu menderita selama ini. Baik kamu maupun Aditya berhak untuk bahagia. Kebahagiaan kamu dan juga kebahagiaan Aditya adalah kalian harus bersatu kembali."


"Putri Bibi, Alice. Baru sembuh dari penyakitnya. Selama ini Alice sedang sakit. Dan sakitnya Alice bukan sakit biasa. Apa kamu mau tahu penyakit apa yang ditanggung selama ini sama Alice?"

__ADS_1


"Apa?"


"Kanker rahim." wanita ini seketika menangis ketika mengatakan nama penyakit putrinya.


Deg..


Seketika Naufal terkejut ketika mendengar pengakuan dari ibunya Alice tentang penyakit yang diderita oleh Alice.


Sementara Alice sudah tidak bisa membendung kesedihannya Ketika mantan calon adik iparnya mengetahui penyakitnya.


Naufal dengan berlinang air matanya menatap kearah Alice yang saat ini juga menangis.


"Alice sudah lama merasakan sakit di perutnya, namun kami berpikir itu hanya sakit biasa. Bahkan ketika dibawa ke rumah sakit kondisi Alice baik-baik saja. Bahkan dokter tidak menemukan kejanggalan apapun di perut Alice."


"Singkat cerita, sakit yang dirasakan oleh Alice di perutnya makin parah. Bahkan Alice harus dirawat di rumah sakit untuk dicek lebih lanjut. Pada saat itu hubungan Alice dengan kakak kamu sangat-sangat romantis dan bahagia, namun dirusak dengan Alice yang kesakitan. Ketika Alice dirawat di rumah sakit, Alice meminta pada Bibi untuk tidak memberitahu Aditya. Alice tidak ingin merepotkan Aditya, apalagi sampai menyusahkan. Jadi terpaksa Bibi dan keluarga besar berbohong dengan mengatakan bahwa Alice tiba-tiba mendapatkan rekomendasi study banding di Amerika selama 4 bulan. Padahal sebenarnya Alice pergi berobat kesana."


"Lalu bagaimana hasilnya?" tanya Naufal.


"Dari hasil pemeriksaan selama berobat di Amerika. Alice dinyatakan menderita kanker rahim stadium akhir. Dan jalan satu-satunya harus dioperasi pengangkatan rahim. Jika itu tidak dilakukan, maka nyawa Alice sebagai taruhannya. Waktu yang dibutuhkan Alice hanya 5 bulan saja."


Deg..


Naufal terkejut dan juga syok ketika mendengar ucapan terakhir dari ibunya Alice. Air matanya berlomba-lomba keluar membasahi pipinya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua menangis terisak.


"Di hari pernikahan itu dimana semua sudah bersiap-siap untuk pergi ke gedung pernikahan. Alice... Alice jatuh tak sadarkan diri dan dokter yang memang ikut hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa kondisi Alice memburuk. Alice harus segera dioperasi. Kami membawa Alice ke Amerika. Dan disana Alice melakukan operasi."


"Pesan yang diterima oleh Aditya itu adalah pesan dari Bibi dengan menggunakan ponsel milik Alice. Dengan kata lain, bibi hanya tinggal mengirimkannya saja. Sementara untuk kata-katanya sudah Alice tulis terlebih dahulu."


Naufal menatap kearah Alice yang saat ini dalam keadaan tak baik-baik saja. Hati Naufal terasa sakit sekarang ketika mengetahui kebenarannya.


"Ka-kakak... Hiks," ucap Naufal.


"Sekarang kamu sudah tahukan kenapa kakak dan keluarga kakak tidak datang ke gedung pernikahan itu? Kakak melakukan hal itu demi Aditya."


"Apa kakak masih mencintai kakakku?"


"Kalau ditanya apakah kakak masih mencintai Aditya. Jujur! Sampai detik ini dan sampai kapan pun kakak tidak akan pernah berhenti mencintai Aditya. Kakak sangat mencintai Aditya."


Naufal berdiri dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Alice. Dirinya ingin sekali memeluk mantan calon kakak iparnya itu.


Grep..


Naufal langsung memeluk tubuh Alice ketika sudah berada di dekat Alice. Seketika isak tangis Darel kembali pecah.


"Sampai kapan pun kakak adalah kakakku sekali pun kakak tidak menjadi istrinya kak Aditya. Tapi aku berharap sekali kakak benar-benar menjadi kakak iparku. Aku tidak ingin kakak ipar yang lain."


Mendengar ucapan tulus dari Naufal membuat Alice tersenyum bahagia. Begitu juga dengan ibunya. Ibunya Alice tahu bagaimana kedekatan Alice dengan Naufal.


"Kamu akan selalu menjadi adiknya kakak, walau kakak tidak menjadi istri kakak kamu." Alice berucap sembari memeluk erat tubuh Naufal.

__ADS_1


__ADS_2