
"Apa? Ini.. inikan Video saat Vanesha dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal oleh pihak rumah sakit," ucap Naufal dengan suara kerasnya.
Mendengar ucapan dari Naufal membuat mereka semuanya langsung mengerubungi Naufal untuk melihat apa yang dilihat oleh Naufal.
Naufal memindahkan laptopnya diatas meja. Dan mereka semua pun melihat video itu.
[ISI VIDEO 1]
Jenazah Vanesha dibawa keluar oleh dua orang perawat dari ruang operasi. Saat melihat jenazah Vanesha yang di dorong keluar dari ruang operasi, mereka semua menangis. Kedua orang tua Vanesha dan kakak laki-lakinya Vanesha sudah histeris saat melihat jenazah anak gadis dan adik perempuannya.
Naufal!! Bagaimana keadaannya? Jangan ditanya lagi. Dialah yang paling shock dan terpukul.
Naufal berlahan membuka kain putih yang menutup tubuh kekasihnya. Air matanya lagi-lagi jatuh. Naufal memandangi wajah damai Vanesha.
"Kenapa kau melakukan ini, Vanesha? Apa yang ada di pikiranmu saat itu sampai kau rela memberikan nyawamu untukku? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Apa kau tidak mau menikah denganku? Dua hari yang lalu kau menemuiku dan menceritakan pertemuanmu dengan wanita murahan itu. Setelah itu kau memintaku untuk tidak meninggalkanmu. Tapi ini apa? Justru kau yang pergi meninggalkanku, Vanesha! Kau pergi tanpa mengajakku bersamamu. Aku tidak tahu, Apakah aku bisa hidup tanpamu, Vanesha?" rintihan Naufal.
Jenazah Vanesha didorong menuju ruang jenazah. Dan disaat itulah tangis Naufal pecah.
"Vanesha! Aaaaaaaaaa!" teriak Naufal yang sudah jatuh lemah di lantai.
"Itukan saat Naufal histeris," ucap Reza saat melihat video tersebut.
"Lihat. Jenazah Vanesha sudah berada di kamar jenazah," kata Arsya.
Mereka terus memperhatikan video itu secara fokus dan seksama.
"Bu-bunda!" tiba-tiba Vanesha membuka kedua matanya dan memanggil Ibunya.
"Vanesha!" teriak mereka semua saat melihat Vanesha yang masih hidup
[Vanesha. K-kau hidup lagi, nak! Terima kasih Tuhan. Kau telah kembalikan putriku," ucap Ibunya Vanesha]
[Vanesha, putri Ayah. CUP!]
Ayahnya Vanesha mencium kening putrinya.
[Ka-kakak Naufal,"lirih Vanesha]
[Kakak akan panggil Naufal kesini. Dia pasti bahagia mendengar berita kalau kamu masih hidup," ucap Daniel]
Lalu Daniel berbalik menuju pintu untuk untuk menemui Naufal.
Namun sebelum mencapai pintu, pintu itu sudah dibuka seseorang terlebih dahulu.
CKLEK!!
Orang tersebut masuk ke dalam ruang jenazah tersebut.
[Jangan ada satu pun dari kalian yang memberitahu tentang Vanesha pada keluarga Naufal. Apalagi pada Naufal. Biarkan mereka tetap beranggapan Vanesha sudah meninggal," kata pria tersebut]
"Brengsek," umpat Naufal marah.
"Hei! Diakan orang yang......" ucapan Nathan terpotong.
Naufal menatap Nathan. "Nat. Kau kenal?"
"Dia orang yang ingin kerja sama dengan KING STUDIO & NFL CORP, Fal!" jawab Nathan.
"Kalian juga sudah lihat foto dan berkas-berkasnya saat itu," ucap Nathan lagi. Mereka kembali melihat kearah laptop
[Daniel menarik tangan pria itu keluar dari ruangan. "Apa hakmu melarangku untuk memberitahu keluarga Naufal. Naufal itu kekasihnya Vanesha. Dan sebentar lagi mereka akan menikah!" bentak Daniel]
[Aku tidak peduli. Kalau kau berani untuk membocorkan masalah ini pada keluarga Alexander. Terima saja akibatnya," ancam pria itu]
[Apa maumu, hah?!" teriak Daniel]
[Mauku adalah kalian pergi ke Amerika dan tinggal disana. Aku tahu saat ini Vanesha butuh perawatan medis. Ditambah lagi luka tembak di bagian dadanya. Itu membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk penyembuhan," kata Pria itu]
"Kami keluarganya. Dan kami masih sanggup untuk membiayai pengobatan Vanesha. Jadi kami tidak akan pernah sudi menuruti kemauanmu," jawab Daniel]
[Ooh begitu. Baiklah! Tunggu apa yang akan terjadi pada kalian. Dan setelah itu, aku sangat yakin kalian akan menuruti kemauanku," ucap pria itu dan pria itu pun pergi]
"Fal. Itu Video yang kedua," kata Theo. Naufal langsung mengklik Video kedua
[ISI VIDEO 2]
__ADS_1
Video terbuka dimana di dalam video itu Vanesha sedang dirawat. Wajahnya Vanesha tertutup masker oksigen dan tangannya diinfus. Di ruang tersebut hanya ada Ibunya. Naufal yang sedari menyaksikan video tersebut tidak hentinya menangis.
CKLEK!!
Pintu dibuka oleh seseorang. Dan orang itu adalah ayahnya Vanesha.
[Sayang. Kau kenapa? Ada apa?" tanya Ibunya Vanesha]
[Perusahaan kita," lirih Ayah Vanesha]
[Apa yang terjadi pada Perusahaan kita?]
[Perubahan kita diambang kehancuran, sayang. Semua pemegang saham memutuskan hubungan kerja sama dengan Perusahaan kita. Dan ditambah lagi aku juga habis ditipu oleh sahabatku sendiri. Bajingan itu membawa semua uang Perusahaan sehingga tidak tersisa sedikit pun]
[Dan bukan itu saja, sayang. Semua tabunganku terblokir. Aku tidak tahu siapa yang sudah berani melakukan hal ini. Aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa semua tabunganku terblokir seperti ini? Padahal itu adalah harapan kita satu-satunya]
[Ya, Tuhan. Kenapa musibah bertubi-tubi menghampiri kita? Terus apa yang akan kita lakukan sekarang?]
[Lalu ponsel Ayahnya Vanesha berbunyi. "Sayang. Angkat dulu ponselmu. Siapa tahu penting]
Ayahnya Vanesha pun menjawab panggilan tersebut.
[Halloo]
[Hallo, apa ini Ayahnya dari saudara Daniel]
[Ya. Saya ayah dari Daniel. Apa yang terjadi pada putraku?]
[Putra anda sekarang berada di kantor polisi]
[Apa? Di kantor polisi? Bagaimana bisa?]
[Putra anda terbukti telah menyelundupkan beberapa senjata]
[Apa? Itu tidak mungkin. Putraku tidak mungkin melakukan hal itu]
[Lebih baik anda datang saja kekantor polisi untuk dimintai keterangan]
[Baiklah. Saya akan kesana]
[Ada apa, sayang? Kenapa dengan Daniel]
[Daniel ditangkap polisi. Dia dituduh menyelundupkan beberapa senjata]
[Apa? Tidak mungkin. Daniel tidak mungkin melakukan hal itu. Aku tahu siapa putraku itu." tangis Ibunya Vanesha pecah]
[Ya, Tuhan! Kenapa kau memberikan cobaan yang bertubi-tubi pada kami? Kami pikir dengan hidupnya putri kami kembali, kebahagiaan kami akan kembali. Tapi ini apa. Kau justru memberikan penderitaan pada kami. Putriku masih belum sepenuhnya sembuh dan masih butuh perawatan. Dan sekarang putraku ditangkap polisi." tangis Ibunya Vanesha]
[Kita harus sabar dan kuat. Kita bisa melalui semua," ucap Ayahnya Vanesha, lalu mengusap air mata Ibunya Vanesha. "Ya, sudah. Aku pergi ke kantor polisi dulu. Kau baik-baiklah disini dan jaga Vanesha]
"Vanesha.. hiks," isak Naufal.
GREP..
Elvan langsung memeluk tubuh adik bungsunya. "Hiks.. Hiks.. Hiks.. Ka-kakak." tangis Naufal pecah saat Elvan memeluknya.
Mereka semua yang mendengar isakan Naufal menjadi tidak tega. Hati mereka sakit dan juga sesak saat mendengar isakan tersebut. Mereka semua juga ikut menangis.
Elvan melepaskan pelukannya. Dan menatap wajah tampan adiknya itu. Tangannya bergerak untuk menghapus air matanya.
"Kamu harus kuat. Kamu tidak boleh lemah seperti ini. Kita semua sudah tahu kebenarannya. Kenapa keluarga Vanesha merahasiakan semua ini dari kita. Kamu harus berjuang untuk mendapatkan cinta kamu lagi."
"Dan kamu tidak perlu khawatir. Daddy akan membantu keluarga Vanesha agar mereka lepas dari genggaman para bajingan itu. Kamu hanya fokus pada Vanesha saja."
Naufal hanya mengangguk sebagai jawabannya. Lalu detik kemudian, ponselnya berbunyi. Dan Naufal melihat nama 'Kakak Damian' di layar ponselnya. Naufal pun langsung menjawabnya.
"Hallo." Naufal menjawab dengan nada lirihnya.
"Apa kau sudah melihat isi Flashdisk itu?"
"Sudah."
"Apa rencanamu sekarang?"
"Tidak tahu. Otakku Blank," jawab Naufal asal.
__ADS_1
Mereka yang mendengar jawaban Naufal hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya. Begitu juga dengan Damian yang berada di seberang telepon.
"Naufal."
"Apa?"
"Ada satu hal lagi yang harus kau ketahui."
"Rahasia apa lagi saudara Damian Prayana? Berapa banyak rahasia yang tidak aku ketahui. Apa jangan-jangan kakak itu memang hobinya menguntit kehidupan orang ya?"
"Yak! Berani sekali kau bicara seperti itu pada kakakmu ini, hah?!" teriak Damian.
Lagi-lagi semuanya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala mendengar penuturan Naufal yang seenaknya udelnya.
"Ya, jelaslah aku berani. Buktinya aku barusan mengatakannya padamu."
"Huuuffff!" Damian menghembuskan nafasnya. "Sudahlah. Kita hentikan perdebatan ini. Kalau kita terus berdebat, sampai besok gak akan selesai-selesainya." Damian memilih mengalah.
"Sekarang katakan padaku apa yang belum aku ketahui, kak?"
"Kau yakin ingin tahu. Dan apa kau siap?"
"Aku sangat-sangat yakin dan sangat-sangat siap."
"Baiklah. Pria yang kau lihat di video itu adalah pria yang sama yang berusaha untuk menjalin kerja sama denganmu. Pria itu adalah kakak kandung dari pria yang sudah menjadi tunangan Vanesha. Daaannnn......."
"Dan apa kakak Damian?"
"Kedua kakak adik itu adalah putra kandung dari Kendrik Alvaro."
"Apa?" Naufal berteriak sambil langsung berdiri.
Dan hal itu sukses membuat mereka semua menatap khawatir padanya. "Ka-kakak Damian tidak lagi bercandakan?" Naufal benar-benar syok.
"Tidak ada kata bercanda dalam hidup kakak, Naufal. Waktunya serius, kakak akan serius. Dan waktu kakak bercanda, barulah kakak akan bercanda. Ya, sudah kalau begitu! Kakak tutup dulu teleponnya. Kalau ada informasi lagi, kakak akan mengabarimu. Jagalah kesehatanmu."
TUTT!!
TUTT!!
"Ternyata dugaanku benar beberapa hari ini. CIH! Tidak Ayah tidak anak. Sama saja. Sama-sama menyusahkan hidup orang lain," gumam Naufal.
PUK!!
Elvan menepuk pelan bahu Naufal. "Ka-kakak." Naufal merengut.
"Ada apa? Kenapa tadi berteriak?" tanya Elvan.
Naufal menatap wajah sang Ayah. Sedangkan Albert yang ditatap oleh putra bungsunya tersenyum.
"Ada apa, sayang. Ada yang ingin kamu sampaikan pada Daddy?"
"Apa Daddy yakin kalau brengsek Kendrik Alvaro itu belum menikah?" tanya Naufal.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Memangnya ada apa?"
"Kakak Damian bilang padaku. Pria yang kita lihat di Video tadi adalah putra dari Kendrik Alvaro," jawab Naufal.
"Apa?" Albert dan Felix terkejut.
"Tuh kan. Kalian saja terkejut. Apalagi aku. Pria yang menjadi tunangannya Vanesha adalah adik dari pria itu," kata Naufal lagi.
"Jadi maksud kamu kedua pria itu putra dari Kendrik Alvaro?" tanya Nirvan.
"Hmm," jawab Naufal.
"Tapi kita selama ini tidak pernah mendengar kabar tentang pernikahan bajingan itu," kata Krisna.
"Atau mungkin bajingan itu menikah secara tertutup. Dan tidak ingin pernikahannya dipublikasikan pada dunia luar," ujar Nirvan.
"Benar juga apa yang dikatakan Nirvan. Kitakan memang tidak tahu otak jahatnya seperti apa. Selama ini bajingan itu selalu memiliki beribu cara untuk menghancurkan kita," kata Felix.
"Sekarang giliran putra-putranya yang mencari masala dengan kita," kata Aditya.
"Aish! Benar-benar tuh keluarga Alvaro. Mulai dari ayahnya, sampai keputranya. Dan sekarang cucu-cucunya. Mau jadi apa keturunan mereka," ujar Albert geleng-geleng kepala.
__ADS_1