Naufal Alexander

Naufal Alexander
Kecurigaan


__ADS_3

Keesokkan paginya di ruang rawat Naufal. Kondisi Naufal sudah membaik.


"Mommy," panggil Naufal.


"Ada apa, sayang?" jawab Helena yang duduk di samping ranjang putra bungsunya.


"Aku mau pulang, Mom. Aku sudah tidak apa-apa."


"Kamu belum sembuh Fal. Belum ada sehari kamu itu dirawat sudah minta pulang." Aditya mengomeli adiknya.


"Aku tidak bertanya padamu, kak! Aku bertanya sama Mommy."


"Yak, kau ini!" Aditya kesal terhadap adiknya, lalu langsung menjitak kening adiknya itu.


TAK!


"Aww.. sakit kak." Naufal mengelus-elus keningnya dengan wajah kesal lalu kembali menatap ibunya.


"Mommy. Boleh ya?"


Helena berpikir sejenak dan menatap putranya satu persatu. Ketiga putranya itu menggelengkan kepala tanda tidak setuju, lalu tatapannya beralih ke putra bungsunya.


"Semua keputusan ada ditangan ketiga kakakmu sayang. Jadi Mommy tidak bisa berbuat apa-apa."


Naufal mempoutkan bibirnya. Sedangkan ketiga kakaknya tersenyum puas.


"Jangan ditekuk begitu wajahnya, tambah jelek tahu." Elvan menggoda adik bungsunya sambil mengacak-acak rambut adiknya.


"Apalagi tuh bibir jangan dimanyun-manyunkan begitu. Apa mau dicium itu bibir, hum?" Aditya juga ikut menggoda adiknya sembari terkekeh.


"Terus saja membullyku. Dasar kakak-kakak menyebalkan."


Pintu ruang rawat Naufal terbuka. Dan terlihatlah orang-orang yang  memasuki ruangan itu. Mereka adalah keluarga besar Naufal. Keluarga dari Daddy dan Mommynya. Beserta kakak dan juga para sahabatnya.


Kemudian Amrita mendekati ranjang keponakan manisnya.


"Naufal. Keponakan bibi yang paling tampan, paling manis, paling imut dan paling menggemaskan. Bagaimana keadaanmu, sayang?"


"Aishh! Aku dalam keadaan tidak baik-baik. Bibi datang malah menambahkan keadaanku makin tidak baik dengan kata-kata menyebalkan bibi itu," ucap Naufal dengan memperlihatkan wajah sedihnya.


Amrita mentautkan alisnya. "Eoh. Kasihan sekali," ucap Amrita dengan memperlihatkan wajah sedihnya. "Emangnya apa yang membuat kamu merasa tidak baik? Apa Ada yang sakit, hum?" tanya Amrita lembut.


"Sakitnya disini Bibi." Naufal menjawabnya sambil menunjuk dada kirinya.


"Bibi tahu tidak? Ada tiga orang jelek yang sudah membuat hatiku ini sakit Bibi. Mereka itu benar-benar tega padaku. Mereka menyakitiku dengan sangat dalam," ucap Naufal masih dalam mode pura-pura sedih.


Mendengar penuturan sang keponakan, Amrita menjadi sedih. Padahal semua itu hanya akting dari seorang Naufal Alexander agar bisa keluar dari rumah sakit.


"Siapa yang sudah membuatmu seperti ini? Katakan pada bibi?"


"Mereka putra dari Albert Alexander dan Helena Sheehan. Mereka saat ini sedang menatapku seakan-akan ingin memangsaku. Tuh mereka!" saut Naufal sambil menunjuk kearah ketiga kakaknya yang kini menatapnya.


Amrita mengalihkan pandangannya kearah yang ditunjuk oleh sang keponakan. Dan benar, ketiga keponakannya sedang menatap keponakan kelinci kesayangannya.


"Memangnya apa yang sudah dilakukan oleh ketiga putra dari Albert Alexander itu padamu?" tanya Amrita yang tersenyum gemas.


"Mereka memenjarakan aku disini dan melarangku pulang. Aku benar-benar bosan disini Bibi!" seru Naufal mengadu pada bibinya.


Amrita tersenyum gemas sambil mengacak-acak rambut coklat Naufal. "Jadi hanya gara-gara itu kau bertingkah seperti ini. Wah! Kau Lucu sekali sayang."


"Ternyata ceritanya si kelinci bongsor sedang merajuk nih! Kekeke." Davian mengejek Naufal yang disertai kekehannya.

__ADS_1


"Aaiisshh! Apaan sih Davian bantet." Naufal balik mengejek Davian.


"Yak! Kau berani mengataiku, hah?!" Davian tidak terima dibilang bantet oleh sikelinci nakal itu. Tapi Davian tidak benar-benar marah. Malah justru dia bahagia karena Naufal sudah kembali seperti dulu yang sering mengejeknya.


"Kau salah Naufal. Davian itu bukannya bantet, tapi kurang tinggi saja." Ardian menambahkan.


"Hahahahaha. Itu sama saja kak Ardian. Hahahaha." tawa Naufal pecah.


Semua orang yang ada di ruangan itu pun ikut tertawa. "Hahahaha."


Lalu tiba-tiba terdengar suara ponsel yang berdering.


DRTT..


DRTT..


Itu suara ponsel milik Naufal lalu Naufal meraih  ponselnya dan melihat nomor yang tidak dikenal di layar ponselnya.


"Siapa yang menelponku," batin Naufal.


Karena rasa penasarannya. Naufal pun mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo." Naufal menjawabnya dengan lembut.


"Hallo, Naufal Alexander. Bagaimana keadaanmu saat ini? Biar kutebak? Saat ini kau pasti sedang di rumah sakit. Benarkan? Oh ya! Aku mau memberikan sedikit informasi padamu. Mengenai kepemilikan AVANA GYM sepenuhnya sudah menjadi milikku. Dan sebentar lagi STUDIO milikmu itu akan menyusul. Bersiap-siaplah, Naufal Alexander. Hahahaha."


TUTT..


TUTT..


Panggilan berakhir. Dan Naufal benar-benar syok mendengar apa yang disampaikan oleh orang tersebut. Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja di pipi mulusnya.


Elvan mendekati adik bungsunya. Dirinya benar-benar mengkhawatirkan adiknya itu.


"Naufal."


Hening dan tidak ada reaksi dari Naufal sama sekali.


"Naufal." Elvan memanggil adiknya lagi dengan menepuk pelan bahu adiknya. Dan itu berhasil menyadarkan Naufal.


"Ka-kakak."


"Ada apa, hum?" tanya Elvan lembut yang tangannya sudah membelai rambutnya. Elvan menggelengkan kepalanya.


"Siapa dia? Kenapa dia mengetahui bahwa aku ada di rumah sakit?" batin Naufal.


"Yak! Melamun lagi!" seru Aditya yang melihat adiknya kembali melamun.


Ponsel milik Naufal kembali berbunyi. Sedangkan Naufal masih dalam pikiran yang melayang ntah kemana.


DRTT..


DRTT..


"Naufal." Elvan memanggil adiknya sambil menepuk bahu adiknya.


Naufal menatap kakak tertuanya. "Iya, kak!"


"Ponsel kamu bunyi lagi. Ada panggilan barusan," jawab Elvan.


Naufal melirik ponselnya dan dilihat panggilan tak terjawab dari 'Kak Damian'. Detik kemudian Naufal pun menelepon balik.

__ADS_1


"Hallo, kak. Tadi kakak menelponku ya. Ada hal apa, kak?"


"Begini, Fal. Masalah orang yang kita kurung di gudang itu. Orang itu berhasil kabur."


"Apa? Kok bisa? Apa tidak ada yang menjaganya? Bukannya kakak bilang padaku kalau semuanya akan baik-baik saja. Ada beberapa orang yang berjaga disana?" ucap dan tanya Naufal kecewa.


"Kakak tahu kakak salah. Maafkan kakak. Anak buah kakak sedikit teledor saat menjaga gudang itu. Makanya orang itu berhasil kabur."


"Aku sama sekali belum pergi kesana untuk melihatnya. Tapi orang itu sudah kabur duluan. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, kak?"


"Kau tenang saja Naufal. Kakak akan terus memantaunya dari sini. Kakak sudah memasang alat pelacak di tubuh orang itu."


"Baiklah. Aku tunggu kabar darimu, kak."


TUTT..


TUTT..


Semua orang yang ada di ruangan itu menatap Naufal. Mereka semua berpikiran kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh Naufal, terutama sang ayah. Tatapan matanya menatap manik coklat milik putra bungsunya itu.


"Apa yang kau sembunyikan dari Daddy, Naufal?" batin Albert.


Aditya sedari tadi memperhatikan Naufal. Kakaknya yang satu ini mencurigai dirinya.


"Ada apa denganmu, Naufal? Apa yang kau sembunyikan dari kami?" batin Aditya.


Merasa dirinya lelah. Naufal memutuskan membaringkan tubuhnya dan berusaha memejamkan kedua matanya. Tak butuh waktu lama. Naufal pun terlelap. Sedangkan yang lainnya masih memperhatikannya.


"Kak. Aku rasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Naufal," ucap Aditya.


"Kakak juga berpikiran seperti itu Aditya. Saat Naufal menerima panggilan dari seseorang, tiba-tiba Naufal menangis." Elvan berbicara sembari menatap wajah Naufal yang tertidur.


"Kemungkinan Naufal punya masalah, kak! Kita harus bicara dan bertanya padanya. Kita tidak bisa membiarkan Naufal menanggung masalahnya sendiri," tutur Rayyan. Elvan dan Aditya mengangguk tanda setuju.


"Kalau adik kalian tidak mau bercerita. Kalian jangan sampai memaksanya!" seru Albert.


"Baik, Daddy. " mereka bertiga menjawab dengan kompak.


Tidak jauh beda dengan ketiga kakak-kakaknya Naufal. Keempat sahabat-sahabatnya Naufal juga memikirkan hal yang sama.


"Apa ini ada hubungannya dengan Avana Gym milik Naufal yang sedang bermasalah." batin Henry.


"Apa ini juga ada hubungannya dengan orang-orang yang saat itu mengeroyok Naufal. Kalau itu benar. Berarti King Studio dalam masalah juga." batin Ricky.


Lalu dengan segera Ricky melirik kearah tiga sahabatnya yaitu Henry, Theo dan Nathan. Mereka yang merasa dilirik mengerti. Lalu mereka berbicara berbisik-bisik.


Melihat mereka yang berbisik-bisik. Hal itu sukses mengundang tatapan kecurigaan dari orang-orang yang berada di ruang rawat Naufal, terutama tatapan ketiga kakak-kakaknya Naufal.


"Kita harus pergi sekarang. Dan kita harus berada di Studio saat ini juga. Aku punya perasaan yang tidak enak. Akan ada masalah yang akan menimpa King Studio," ucap Ricky.


Henry, Theo dan Nathan mengangguk tanda mengerti. Dan mereka pun berpamitan dengan anggota keluarga Naufal.


"Paman, Bibi, Kak. Kami pamit mau ke Studio dulu," ucap Nathan mewakili yang lainnya.


"Kalau begitu kami pamit dulu Paman, Bibi, Kak!" ucap Theo.


"Kalian hati-hati ya di jalan. Jangan ngebut saat mengendarai mobil," kata Helena.


"Baik Bibi." mereka menjawab bersamaan.


Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan ruang rawat Naufal untuk menuju Studio.

__ADS_1


__ADS_2