
Alex Alvaro berada di ruang kerjanya. Dirinya saat ini tengah mengecek beberapa berkas yang belum dirinya periksa kemarin.
Disaat Alex sedang fokus dengan berkas-berkasnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk. Matanya langsung melihat kearah ponselnya dan tertera di layar ponselnya nama tangan kanannya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Alex mengambil ponselnya lalu menjawab panggilan dari tangan kanannya itu.
"Hallo."
"Hallo, Bos! Ada berita buruk mengenai ibunya nona Vanesha!"
"Kabar buruk?! Ada apa? Katakan!"
"Ada penculik di rumah sakit. Yang menjadi korban penculikan tersebut adalah ibunya nona Vanesha. Tersangka penculikan itu sekitar tiga orang dan beberapa anggotanya. Bahkan banyak yang terluka demi menyelamatkan ibunya nona Vanesha."
"Brengsek! Siapa yang sudah menculik ibunya Vanesha?" batin Alex.
"Apa kau sudah menyelidiki siapa dalang penculikan ibunya Vanesha?"
"Sudah, Bos! Tapi penculiknya benar-benar hebat dalam melakukan aksi penculikan tersebut. Mereka bermain bersih sehingga tidak meninggalkan jejak apapun."
"Aku tidak peduli. Pokoknya kau harus mencari tahu keberadaan ibunya Vanesha. Dan masalah ini jangan sampai diketahui oleh Vanesha dan Ayahnya. Jika mereka sampai tahu, maka adikku tidak akan jadi menikah dengan Vanesha."
"Baik, Bos!"
Setelah itu, Alex langsung mematikan panggilannya. Dirinya kini tengah memikirkan siapa orang yang sudah menculik ibunya Vanesha.
Alex juga berpikir, dari mana orang-orang itu tahu rumah sakit ibunya Vanesha. Selama ini dirinya dan orang-orangnya merahasiakan tentang rumah sakit tempat ibunya Vanesha dirawat.
"Apa ini kerjaannya keluarga Alexander? Tapi kalau memang benar. Mereka tahu dari mana? Yang tahu rumah sakit tempat ibunya Vanesha di rawat hanya aku, Derry, Vanesha, Ayahnya dan orang-orangku. Orang lain tidak ada yang tahu," ucap Alex.
"Aku harus cari tahu secepatnya. Aku tidak ingin pernikahan adikku sampai gagal. Satu minggu lagi adikku akan menikahi Vanesha."
Alex menyudahi pekerjaannya. Setelah itu, Alexander membereskan semua berkas-berkasnya dan meletakkan di sisi meja.
Selesai dengan semua itu, Alex beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang kerjanya untuk melakukan rencananya mencari tahu dalang penculikan ibunya Vanesha.
***
Naufal saat ini dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Dia saat ini benar-benar tidak sabar mendengar kabar apa yang akan disampaikan oleh ayahnya.
Flashback On
Naufal sedang sibuk berkutat dengan laptopnya. Dirinya tengah mengecek beberapa laporan pengeluaran dan juga laporan pemasukan perusahaannya.
Naufal juga tengah membuat dua proposal untuk kerjasama perusahaannya dengan dua perusahaan dari luar negeri. Kedua perusahaan dari luar negeri itu ingin sekali menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaannya.
Ketika Naufal tengah sibuk dengan tugas-tugasnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Mendengar bunyi ponselnya, Naufal langsung melihat kearah ponselnya itu. Dapat dilihat nama ayahnya di layar ponselnya itu.
Tanpa membuang-buang waktu lama, Naufal pun langsung menjawab panggilan dari ayahnya itu.
"Hallo, Dad!"
"Hallo, sayang! Kamu lagi ngapain sekarang? Apa Daddy ganggu kamu?"
"Aku sedang membuat sebuah laporan sama mengecek beberapa berkas. Tidak, Dad! Aku tidak merasa terganggu sama sekali. Ada apa, Dad?"
"Masih lama pulangnya?"
Mendengar pertanyaan dari ayahny, seketika Naufal melihat kearah jam. Setelah itu, Naufal menjawab pertanyaan dari ayahnya.
"Satu setengah jam lagi selesai, Dad!"
"Ya, sudah! Daddy tunggu kamu di rumah. Ada kabar baik untukmu."
__ADS_1
mendengar kata 'Kabar Baik' dari mulut ayahnya membuat Naufal menjadi penasaran. Dirinya ingin tahu hari ini.
"Kejutan apa, Dad? Kasih tahu aku sekarang!"
Albert tersenyum di seberang telepon ketika mendengar ucapan dari putra bungsunya itu, namun dirinya tetap pada pendiriannya tidak akan memberitahu putranya itu sebelum putranya itu pulang.
"Seperti yang Daddy katakan barusan. Pulang kamu ke rumah. Baru Daddy kasih tahu kamu."
"Aish! Daddy nggak seru. Baiklah kalau begitu. Aku akan segera pulang."
"Oke! Daddy tunggu. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut."
"Baik, Dad!"
Flashback Off
"Aku makin tidak sabar untuk mengetahui kabar tersebut dari Daddy." monolog Naufal.
Ketika Naufal fokus mengendarai mobilnya dengan tatapan matanya menatap ke depan, seketika Naufal melihat sosok gadis yang sudah membuat hatinya selama ini terluka akan kepergiannya.
"Vanesha," ucap Naufal.
Yah! Gadis yang dilihat oleh Naufal tersebut adalah Vanesha sang kekasihnya.
Naufal memberhentikan laju mobilnya. Setelah itu, Naufal kemudian keluar dari dalam mobilnya. Setelah tiba di luar, Naufal langsung melangkah mendekati Vanesha. Dirinya benar-benar ingin memeluk kekasihnya itu.
^^^
Grep..
Naufal memeluk tubuh Vanesha dari belakang sehingga membuat Vanesha terkejut dan ketakutan.
"Si-siapa kamu! Lepaskan aku!" Vanesha berusaha melepaskan pelukan seseorang di tubuhnya.
Vanesha terus memberontak dikala dirinya merasakan pelukan seseorang itu makin erat memeluk tubuhnya.
Naufal merasa bersalah karena sudah membuat kekasihnya ketakutan. Berlahan Naufal melepaskan pelukannya. Setelah itu, Naufal membalikkan tubuh Vanesha agar dirinya bisa melihat dengan jelas wajah kekasihnya itu.
Naufal seketika tersenyum ketika melihat wajah cantik kekasihnya, walau saat ini kekasihnya itu tengah menutup matanya karena takut.
"Vanesh," panggil Naufal.
Deg..
Seketika Vanesha terkejut ketika mendengar suara itu. Dan juga panggilan tersebut. Detik kemudian, air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Ka-kakak Naufal," batin Vanesha.
Naufal menghapus air mata Vanesha dengan lembut. Setelah itu, Naufal mengecup bergantian kelopak matanya.
"Ini aku, Vanesh! Bukalah matamu. Lihat dan tatap wajahku!"
Berlahan Vanesha membuka matanya. Ketika matanya terbuka sempurna. Seketika air matanya kembali jatuh membasahi pipinya ketika melihat laki-laki yang begitu dia cintai.
"Ka-kakak Naufal," lirih Vanesha.
Naufal tersenyum ketika mendengar nada lirih Vanesha ketika menyapa dirinya. Tangannya kembali terangkat untuk menghapus air mata kekasihnya.
"Ini aku Naufal Alexander, laki-laki yang begitu mencintaimu."
"Ka-kakak!"
Grep..
__ADS_1
Vanesha langsung menerjang tubuh tegap Naufal dan memeluknya erat. Dirinya benar-benar merindukan kekasihnya ini.
"Hiks... kak, aku merindukanmu. Maafkan aku... maafkan aku yang mengkhianatimu, kak!"
Naufal memeluk erat tubuh kekasihnya ini. Hatinya benar-benar sakit ketika mendengar ucapan maaf yang keluar dari mulut kekasihnya.
"Aku sudah tahu semuanya. Aku juga sudah tahu dibalik kamu mau menikah dengan laki-laki brengsek itu. Justru aku yang harusnya meminta maaf padamu karena pada saat aku mengetahui bahwa kamu masih hidup dan memiliki kekasih lain. Aku sempat menyebutmu perempuan murahan. Bahkan aku menuduhmu tidak benar-benar mencintaiku."
"Maafkan aku, sayang!"
"Hiks... kakak Naufal tidak salah. Saat itu kakak Naufal tidak tahu yang sebenarnya. Jika kakak Naufal mengetahui kejadian yang sebenarnya. Kakak Naufal tidak akan berkata seperti itu untukku."
Naufal tersenyum mendengar perkataan dari Vanesha. Dirinya benar-benar bahagia bahwa Vanesha memahami keadaannya dan tidak menyalahkan dirinya balik.
Berlahan Naufal melepaskan pelukannya. Tatapan matanya menatap wajah cantik Vanesha. Naufal berlahan mendekatkan wajah ke wajah Vanesha dengan tatapan matanya menatap ke bibir merah Vanesha.
Cup..
Naufal seketika mencium bibir Vanesha dengan lembut. Naufal sudah sangat merindukan bibir kekasihnya itu. Sedangkan Vanesha yang mendapatkan ciuman untuk pertama kalinya setelah satu tahun enam bulan berpisah dengan kekasihnya merasakan kebahagiaan luar biasa. Dirinya tidak menolak ketika kekasihnya itu mencium bibirnya. Justru Vanesha membalas setiap apa yang dilakukan oleh kekasihnya terhadap bibirnya.
Naufal melepaskan ciumannya sebentar. Matanya menatap wajah cantik Vanesha.
"Aku mencintaimu, Vanesha!"
"Aku juga mencintaimu, kak Naufal!"
Setelah itu, Naufal kembali mencium bibir Vanesha. Kali ini ciumannya makin lama dan makin dalam.
Setelah beberapa detik berciuman dengan kekasihnya. Naufal pun memutuskan untuk mengakhirinya. Dan dapat dia lihat, Vanesha yang meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Naufal tersenyum sembari mengacak-acak rambutnya.
Naufal memegang kedua bahu Vanesha dengan tatapan matanya menatap lekat manis hitam Vanesha.
"Dengarkan aku. Sebentar lagi kamu akan terbebas dari bajingan itu. Kamu akan kembali padaku. Dan aku tidak akan membiarkan kamu menikah dengan laki-laki itu."
"Tapi... Tapi bagaimana dengan Bunda? Bunda ada di rumah sakit sekarang. Selama ini dia yang membiayai pengobatan Bunda. Aku mau kesana tidak boleh sendirian. Setiap aku mau kesana selalu dikawal atau sesekali pergi bersama dia. Bagaimana kalau dia menyakiti Bunda?"
"Kamu tidak perlu khawatir sama dia. Aku janji akan bawa Bunda kamu keluar dari rumah sakit itu."
"Benarkah?"
"Hm!"
"Lalu bagaimana dengan kakak Daniel? Kakak Daniel sekarang di penjara."
Naufal tersenyum. "Kakak Daniel sudah bebas dari penjara. Sekarang kakak Daniel ada di rumahku."
Mendengar perkataan dari Naufal membuat Vanesha menatap lekat wajah Naufal. Dia ingin meyakinkan pendengarannya barusan.
"Kak...," lirih Vanesha.
"Aku tidak bohong. Kakak Daniel sudah bebas dari penjara. Dia sekarang berada di rumahku."
"Kak, boleh aku....."
"Tidak, Vanesha! Untuk saat ini kamu belum bisa bertemu dengan kakak kamu. Sabar, oke! Ini juga untuk kamu. Kakak kamu saja rela pulang ke rumahku dari pada bertemu denganmu adik perempuannya. Itu semua dilakukan agar semua rencana yang dibuat oleh keluargaku berjalan lancar. Terutama rencana untuk membawa pergi Bunda kamu dari rumah sakit itu."
Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Naufal membuat Vanesha dengan ikhlas menerimanya. Dirinya juga tidak ingin hanya gara-gara perbuatannya, menghancurkan rencana yang telah disusun oleh keluarga dari kekasihnya ini.
"Baik, kak!"
"Ingat! Bersikap seperti biasa saja. Jangan buat bajingan itu curiga. Rahasiakan tentang kebebasan kakak kamu dari siapa pun, termasuk ayah kamu."
"Baik, kak!"
__ADS_1
"Ya, sudah. Lebih baik kamu pulang sekarang. Hari sudah sore."
Setelah itu, baik Naufal maupun Vanesha keluar dari tempat itu secara bergantian. Naufal meminta Vanesha yang terlebih dahulu keluar. Setelah beberapa menit, barulah Naufal keluar.