
Suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman Vanesha Naladhipa meninggal karena menyelamatkan sang kekasih dengan luka tembak di perutnya.
Vanesha di makam National Cemetery karena permintaan dari Naufal. Dan anggota keluarga Vanesha mengabulkan keinginannya.
Suasana haru pun menyelimuti sepanjang proses pemakaman. Naufal yang didampingi oleh ketiga kakak-kakaknya berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya, walau hatinya ingin sekali berteriak.
Sejak awal ayahnya Vanesha didampingi oleh Ayahnya Naufal terus memegang peti jenazah yang berada di atas liang kubur.
Sementara Ibunya Vanesha juga didampingi oleh Ibunya Naufal terus menahan tangis tak jauh dari peti jenazah. Bahkan sanak saudara, para sahabat baik dari pihak Vanesha maupun pihak Naufal tidak bisa membendung kesedihan mereka. Mereka semua menangis.
Tangis haru pun pecah saat peti jenazah mulai dimasukkan ke lubang kubur sekira pukul 11.00 WIB. Naufal yang sedari tadi berusaha untuk tidak menangis.
Namun tanpa diminta air matanya jatuh dengan deras membasahi pipinya. Bahkan Naufal nyaris pingsan karena tak kuasa menahan kesedihannya harus kehilangan orang yang sangat dicintainya.
Prosesi pemakaman pun usai setelah membacakan doa yang diiringi dengan dikuburkannya tanah ke atas peti jenazah Vanesha. Suasana yang sempat hening pun langsung kembali gaduh dengan suara tangisan seiring dengan tertutupnya lubang kubur.
"Vaneshaaaaa!" teriak Naufal dan tubuhnya jatuh seketika dengan air matanya yang mengalir deras.
Akhirnya tangis Naufal pecah. Naufal tidak bisa lagi menahan kesedihannya atas kepergian orang yang sangat dicintainya.
Elvan dan Aditya langsung memberikan pelukan kepada Naufal dan memberikan ketenangan pada adik mereka.
"Maafkan aku, Vanesha. Maafkan aku," lirih Naufal yang air matanya masih mengalir.
Lalu terdengar suara yang begitu lembut. Suara itu adalah suara ibunya Vanesha lalu kemudian ibunya Vanesha berlahan mendekati Naufal.
"Ini bukan kesalahanmu, nak! Ini sudah takdir dari Tuhan. Kau adalah pria yang sangat baik dan bertanggung jawab untuk putriku. Bibi sudah mengetahui semua tentangmu. Bagaimana cara kau mencintainya dan memperlakukannya dengan baik? Hiduplah dengan baik. Tetaplah tersenyum. Seperti keinginan terakhir putriku. Keinginan putriku adalah ia hanya ingin melihatmu tetap tersenyum. Putriku tidak ingin senyuman itu menghilang dari raut wajahmu," lirih ibunya Vanesha.
"Mama. Aku sangat mencintai, kak Naufal! Sangat mencintainya. Aku ingin membuatnya selalu tersenyum karena senyumannya itu begitu manis, Ma! Aku tidak mau kalau senyumannya itu sampai hilang dan pudar. Aku harus selalu membuatnya tersenyum."
"Apa kau mau melakukan semua itu demi Vanesha?" tanya Ibunya Vanesha.
Naufal hanya bisa diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa?
"Ya, sudah. Kau tidak perlu menjawabnya. Lakukan secara perlahan. Bibi hanya ingin kau hidup dengan baik. Bibi tidak mau kau larut dalam kesedihan dan sampai menyakiti dirimu sendiri. Walaupun kau tidak menjadi menantu bibi. Tapi kau sudah bibi anggap sebagai putra bibi sendiri. Bibi kehilangan Vanesha. Tapi bibi mendapatkan dirimu. Kau dan Vanesha memiliki sifat yang sama. Memiliki sifat penyayang dan juga manja pada keluarga." ibunya Vanesha pun langsung memeluk Naufal. Dan lagi-lagi Naufal menangis.
Semua orang yang masih ada di pemakaman itu menangis terharu melihat interaksi ibunya Vanesha dan Naufal. Tak terkecuali kedua orang tua Naufal.
__ADS_1
"Lebih baik kita pulang sekarang. Cuacanya sedikit mendung. Vanesha sudah bahagia di atas sana. Vanesha akan sedih melihat kita di sini terus menangisinya." Ayahnya Vanesha berbicara sembari matanya menatap nanar kuburan putrinya.
Akhirnya mereka pun beranjak pergi meninggalkan pemakaman itu. Walaupun hati mereka enggan untuk meninggalkan tempat itu.
"Naufal. Mari kita pulang." Elvan membujuk adiknya untuk pulang sambil membantu adiknya untuk berdiri.
"Aku masih mau disini," lirih Naufal yang enggan untuk meninggalkan makam Vanesha.
"Naufal, kakak mohon. Jangan seperti ini. Kita pulang ya." Elvan terus membujuk Naufal.
"Lepaskan aku!" teriak Naufal lalu mendorong kuat tubuh Elvan. "Aku masih ingin disini. Kalau kalian mau pulang. Pulang saja!" bentak Naufal.
Semua orang kaget mendengar teriakan Naufal. Helena menangis melihat Naufal yang berteriak.
"Naufal.. hiks." Helena menangis.
"Mommy pulang dan kalian semua pulang. Tinggalkan aku sendirian!" teriak Naufal lagi.
"Naufal, jangan seperti ini. Vanesha akan sedih di atas sana. Sebentar lagi hujan akan turun. Kita harus segera pulang." Aditya ikut membujuk adiknya.
Albert sudah tidak tahan melihat sikap putra bungsunya lalu kemudian dirinya mendekati putra bungsunya.
"Naufal. Daddy mohon, nak! Jangan seperti ini sayang. Ikhlaskan dia. Relakan kepergian Vanesha. Vanesha sudah bahagia di atas sana sayang." Albert menangis melihat keadaan kacau putra bungsunya.
"Aku tetap disini. Aku akan tetap disini," lirih Naufal.
"Naufal Alexander!" bentak Albert di depan wajah Naufal sambil mengguncang tubuh putranya itu.
"Sadarlah sayang. Sadar, nak! Vanesha sudah pergi. Vanesha sudah meninggal. Vanesha sudah bahagia di sana. Kau harus bisa menerimanya." Albert berbicara dengan nada yang sedikit tinggi. Albert ingin putra bungsunya sadar dan menerima semuanya.
Naufal tiba-tiba tersenyum kecut.
"Daddy bicara apa? Vanessa belum meninggal, Dad. Vanesha hanya tidur. Dan aku yakin. Sebentar lagi Vanesha akan bangun. Kenapa kalian semua mengatakan Vaneshaku sudah meninggal?" Naufal berbicara sembari menatap satu persatu wajah orang-orang yang masih ada disekitarnya.
Tiba-tiba rasa sakit itu kembali menyerang Naufal. Naufal tanpa sadar mengerang kesakitan.
"Aarrgghh!" teriak Naufal kesakitan dan menarik rambutnya.
__ADS_1
"Naufal!" teriak mereka semua.
"Naufal, sayang." Albert terlihat panik.
Sedangkan yang dipanggil sama sekali tidak menghiraukannya. Naufal terus berteriak kesakitan dan terus menarik rambutnya.
Semuanya terlihat panik dan khawatir melihat Naufal yang berteriak. Dan pada akhirnya Naufal jatuh tak sadarkan diri tepat di hadapan Ayahnya.
"Lebih baik kita bawa Naufal ke rumah sakit. Melihat dari kondisinya, Naufal butuh perawatan medis. Aku takut sakit yang dirasakan Naufal makin parah," tutur Krishon.
Akhirnya mereka semua sepakat membawa Naufal ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan untuk Naufal.
***
Sekarang mereka sudah berada di rumah sakit di depan ruang UGD menunggu dengan wajah panik dan sedih.
CKLEK..
"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya Albert.
"Apa pasien pernah mengalami kecelakaan?" tanya Dokter tersebut.
"Pernah." yang menjawab pertanyaan dokter tersebut adalah Krishon. "Apa kondisinya makin memburuk?" tanya Krishon yang sudah mengerti akan pertanyaan Dokter tersebut.
"Ya, Kondisi kesehatan makin menurun. Pasien harus segera di operasi. Kondisinya akan makin memburuk kalau tidak segera di operasi," tutur Dokter itu.
"Lakukan. Lakukan yang terbaik untuk putraku, Dok!" seru Albert.
"Baiklah," jawab Dokter itu.
"Izinkan saya ikut dalam operasi itu, Dokter. Saya juga seorang Dokter dan sekaligus Paman dari pasien tersebut," ujar Krishon.
"Oke. Kalau begitu ikut saya. Kita harus segera melakukan operasi itu!" seru Dokter itu.
"Krishon. Aku serahkan padamu. Selamatkan putra bungsuku," lirih Albert.
"Doakan aku, Kak! " ucap Krishon.
__ADS_1