
Naufal saat ini berada di dalam kamarnya. Sejak kepulangan jalan-jalan bersama Arsya, Barra, Dhafin, Ardian, Davian, Reza plus dengan pacarnya masing-masing. Sejak itulah Naufal tidak keluar kamar. Dirinya saat ini tengah memikirkan Alice, perempuan yang dulu begitu dekat dengan salah satu kakak kesayangannya.
Tes..
"Kakak Alice, aku tetap berharap kakak Alice menjadi kakak ipar aku. Aku tidak ingin perempuan lain."
^^^
Albert, Helena, ketiga putranya Elvan, Aditya dan Rayyan, menantunya Liana serta Felix, Andhira, Pasya, Arsya dan menantunya Renata berada di ruang tengah. Mereka saat ini tengah mengobrol kecil sembari membahas kesibukan mereka masing-masing.
"Bibi," panggil Arsya tiba-tiba.
"Iya, sayang!" Helena langsung melihat kearah Arsya.
"Kalau aku boleh tahu, apa benar jika kak Aditya dan perempuan yang bernama Alice dulu punya hubungan dan mereka sempat mau menikah?"
Mendengar pertanyaan dari Arsya seketika membuat Aditya tersentak. Dan tiba-tiba tangannya mengepal kuat. Sedangkan untuk Albert, Helena, Elvan dan Rayyan terdiam ketika mendengar pertanyaan dari Arsya.
"Untuk apa kamu menanyakan perempuan sialan itu? Dan dari mana kamu tahu namanya?" tanya Aditya.
"Jadi benar?" tanya Arsya.
Arsya sengaja menanyakan masalah Aditya dan Alice untuk sekedar ingin tahu langsung dari Aditya sendiri dan juga dari Paman serta bibinya.
"Iya, sayang! Dulu Aditya dan Alice saling mencintai. Dan mereka akan segera menikah. Tapi....." Helena seketika menghentikan perkataannya sembari menatap wajah putra keduanya yang tampak tak baik-baik saja.
"Kak Alice menghilang begitu saja disaat di hari pernikahan itu. Apa itu yang akan bibi katakan," sahut Arsya tiba-tiba.
Deg..
Albert, Helena dan yang terkejut ketika mendengar ucapan dari Arsya. Begitu juga dengan Aditya.
"Kamu tahu dari mana? Siapa yang kasih tahu kamu masalah itu?" tanya Helena terkejut.
"Apa....?"
Arsya langsung menjawab pertanyaan dari Helena sehingga Aditya tidak sempat melanjutkan perkataannya itu.
"Aku sudah bertemu dengan kak Alice serta ibunya. Termasuk Naufal dan yang lainnya."
"Apa?!"
Albert, Helena, Elvan, Aditya dan Rayyan terkejut ketika mendengar ucapan dari Arsya yang mengatakan bahwa dia serta yang lainnya sudah bertemu dengan Alice.
Arsya menatap lekat wajah Aditya. Arsya dapat melihat dari tatapan matanya Aditya, ada kerinduan disana untuk Alice.
"Kak Aditya, kita sudah tahu alasan dibalik menghilangnya kak Alice saat di hari pernikahan kalian itu. Kita semua sudah dengar ceritanya langsung dari ibunya kak Alice."
Mendengar perkataan dari Arsya membuat Aditya menatap wajah Arsya. Begitu juga dengan Albert, Helena, Elvan dan Rayyan.
"Jika kalian ingin tahu kebenarannya. Kalian tanyakan langsung kepada Naufal. Ditambah lagi Naufal memegang satu bukti kuat alasan kak Alice sampai menghilang di hari pernikahannya dengan kak Aditya."
"Apa ini alasan Naufal mengurung diri di kamarnya?" tanya Elvan.
"Iya," jawab Arsya. "Naufal begitu syok ketika mendengar kebenaran tentang kak Alice yang menghilangkan dihari pernikahannya."
__ADS_1
Mendengar ucapan dari Arsya membuat Aditya terdiam. Sedangkan Albert, Helena, Elvan dan Rayyan menatap Aditya dengan tatapan sedih.
Tap..
Tap..
Tap..
Tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara langkah kaki seseorang menuruni anak tangga. Dan dengan kompak mereka semua melihat keasal suara.
Mereka semua melihat Naufal yang menuruni anak tangga dengan wajah sedihnya dengan langkah kakinya menuju pintu keluar.
"Eh, itu Naufal mau kemana?" tanya Liana.
"Naufal!" mereka semua memanggil Naufal.
Sedangkan Naufal sama sekali tidak mengindahkan panggilan dari anggota keluarganya itu.
"Naufal!"
Aditya seketika berdiri dari duduknya dan berlari menyusul adiknya itu.
Sreekk..
Aditya berhasil mencekal pergelangan tangan kanan adiknya. Setelah itu, Aditya langsung membalikkan tubuh adiknya itu secara berlahan agar dia bisa melihat wajah adiknya.
"Mau kemana?" tanya Aditya.
Naufal tidak langsung menjawab pertanyaan dari kakak keduanya itu. Justru Naufal menatap sendu wajah kakaknya itu.
Berlahan Aditya menarik tangan adiknya itu untuk dibawa ke ruang tengah dan berkumpul dengan yang lainnya.
"Naufal, lihat kakak." Aditya mengusap-usap lembut punggung tangan adiknya.
Seketika Naufal langsung melihat kearah kakaknya. Dan detik kemudian, air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Katakan pada kakak. Apa kamu, Arsya dan yang lainnya bertemu dengan Alice?" tanya Aditya.
"Iya. Aku bertemu dengan kak Alice di Mall. Kak Alice bersama dengan ibunya."
"Sekarang ceritakan sama kakak. Apa yang kamu ketahui tentang Alice?"
"Kak Alice saat itu sedang parah. Itulah alasan kenapa kak Alice dan keluarganya tidak datang ke acara pernikahannya."
Deg..
Mereka semua terkejut ketika mendengar ucapan dari Naufal yang mengatakan bahwa Alice sedang sakit parah saat itu.
"Sayang, katakan pada Mommy. Kak Alice sakit apa, nak?" tanya Helena.
"Kanker rahim."
Deg..
Lagi-lagi ucapan Naufal membuat semua anggota keluarganya, kecuali Arsya terkejut bahkan syok.
__ADS_1
"Kakak masih ingat tidak ketika kak Alice mengatakan kalau dia direkomendasikan ke Amerika saat itu?"
"Iya. Bahkan Alice melarang kakak untuk ikut."
"Sebenarnya kakak Alice kesana tengah berobat. Rasa sakit yang dirasakan oleh kakak Alice selama ini di perutnya ternyata penyebabnya adalah kalau kakak Alice mengidap penyakit kanker rahim. Selama ini kakak Alice dan keluarganya tidak tahu karena kak Alice berpikir itu hanya sakit biasa sehingga lima bulan berikutnya baru ketahuan."
"Pengobatan di Amerika itu sebenarnya hanya untuk mengurangi rasa sakit dan memperlambat penyebarannya saja. Tidak lebih. Bagaimana pun kak Alice harus segera di operasi. Jika tidak...."
Air mata Naufal makin deras mengalir membasahi pipinya ketika mengingat cerita dari ibunya Alice.
"Jika tidak apa, Naufal?!"
"Kematian akan menghampiri kak Alice."
"Apa?!"
Aditya seketika meneteskan air matanya ketika mendengar cerita dari Naufal mengenai Alice perempuan yang begitu dia cintai.
"Lalu sekarang bagaimana kondisinya, sayang?" tanya Albert.
"Sudah sehat, tapi sedikit kurus. Dia sekarang ada di Jakarta."
Naufal menatap wajah kakak keduanya itu dengan berlinang air mata. "Hilangnya kakak Alice dihari pernikahannya dengan kakak karena saat itu kondisi kakak Alice tiba-tiba memburuk. Kak Alice jatuh tak sadarkan diri sehingga keluarganya membawa ke rumah sakit lalu dirujuk ke rumah sakit di Amerika. Pesan WhatsApp yang kakak terima itu, Ibunya kak Alice yang kirim. Sementara kata-katanya itu kak Alice yang tulis di kertas."
"Kakak Alice melakukan semua itu untuk kebahagiaan kakak. Kak Alice ingin kakak bahagia dengan perempuan lain yang bisa membuat kakak bahagia seutuhnya. Jika kakak tetap bersama kak Alice, maka kakak tidak akan pernah bahagia. Begitu juga dengan keluarga kita."
Semuanya kembali terkejut ketika mendengar ucapan dari Naufal tentang alasan Alice melepaskan Aditya.
"Kenapa Alice bisa berpikir seperti itu?" tanya Andhira sedih.
"Karena kak Alice berada dengan perempuan-perempuan diluar sana."
Naufal menatap wajah kakak keduanya itu dengan air matanya masih mengalir.
"Apa kakak masih mencintai kak Alice sekali pun dengan kondisi kak Alice yang sekarang?"
"Apa yang terjadi terhadap Alice setelah operasi itu?" tanya Aditya yang tak kalah menangis.
"Kak Alice tidak akan pernah bisa memberikan anak kepada kakak dan tidak akan bisa memberikan cucu untuk Mommy dan Daddy. Rahim kak Alice sudah diangkat saat operasi itu guna menyelamatkan nyawa kak Alice."
Aditya seketika syok dengan membelalakkan matanya ketika mendengar pengakuan dari Naufal.
"Sekarang kakak sudah tahu kan kondisi kak Alice seperti apa? Tapi kalau aku boleh jujur, aku hanya ingin kak Alice yang menjadi kakak ipar aku. Aku nggak peduli kak Alice tidak bisa memberikan aku keponakan. Rasa sayang aku begitu besar terhadap kak Alice, kemungkinan besar aku tidak akan bisa memberikannya untuk orang lain, karena aku sudah terlanjur sayang sama kak Alice."
"Kalau masalah anak! Anak itu tidak harus lahir dari rahim seorang wanita yang sudah menikah. Seorang suami yang menginginkan seorang anak tidak harus dari istrinya. Keduanya bisa mengadopsi seorang anak dari Panti Asuhan dan menjadikan anak tersebut bagian dari hidup mereka."
"Aku sayang kakak dan aku juga sayang kak Alice. Semua keputusan ada ditangan kakak. Baik kakak maupun kak Alice, kalian masih saling mencintai."
Setelah mengatakan itu, Naufal berdiri dari duduknya. Dirinya sejak awal memang hendak keluar ingin membeli sesuatu.
"Kamu mau kemana?" tanya Elvan.
"Keluar sebentar. Aku ingin membeli sesuatu."
"Kakak temani ya," ucap Arsya.
__ADS_1
"Hm!" Naufal langsung menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, Naufal dan Arsya pun pergi meninggalkan keluarganya untuk pergi membeli sesuatu.