Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Membuat Rencana


__ADS_3

[Mansion Naufal]


Suasana pagi hari di meja makan tampak hening. Tidak ada yang bersuara. Mereka ingin sekali bersenda gurau seperti biasanya, namun mereka mengurungkan niatnya dikarenakan kesayangan mereka sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Sesekali kali mereka melirik kearahnya. Mereka benar-benar khawatir saat ini.


Helena yang kebetulan duduk di samping putra bungsunya itu pun akhirnya berusaha untuk mencairkan suasana dengan mengajak putra bungsunya berbicara sambil membelai kepala belakang putra bungsunya itu.


Setelah itu, Helena mengambil satu potong ayam goreng dan juga mie goreng kesukaan lalu meletakkannya di piring putranya.


Sementara Naufal tidak keberatan sama sekali. Dan detik kemudian, terukir sedikit senyuman di bibirnya.


Dan senyuman itu dapat dilihat oleh sang Ayah Albert, ketiga kakaknya Elvan, Aditya dan Rayyan serta kakak iparnya Liana. Begitu juga dengan Felix, Andhira, Pasya, Arsya dan Renata.


"Kamu harus makan yang banyak ya. Kamu sudah melewatkan makan malam. Jadi Mommy tidak ingin kamu hanya sedikit sarapannya. Apalagi Mommy sudah memasak beberapa makanan kesukaan kamu," ucap Helena.


Naufal menolehkan wajahnya untuk melihat wajah cantik Ibunya. Dia tersenyum melihat wajah sang Ibu.


Helena yang melihat senyuman tulus dari putra bungsunya itu dan tanpa ada keterpaksaan sama sekali merasakan kehangatan dalam dirinya.


"Terima kasih Mom," ucap Naufal.


"Sama-sama, sayang. Sekarang makanlah. Jangan ada yang tersisa."


"Hm!" jawab Naufal.


Setelah itu, mereka semua pun memulai sarapan pagi mereka tanpa ada lelucon menemani mereka.


Setelah sarapan pagi selesai, Naufal langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya menuju ruang tengah. Naufal duduk di ruang tengah sambil memikirkan masalah kemarin.


Tanpa Naufal sadari, anggota keluarganya datang menghampirinya. Mereka semua pun duduk disana.


"Naufal," panggil Rayyan.


Namun yang dipanggil tidak mendengarnya.


Helena yang duduk di samping putra bungsunya itu mengelus lembut rambut belakang sang putra, namun hasilnya tetap sama Naufal sama sekali tak meresponnya. 


Naufal memang bersama mereka, tapi pikirannya melayang jauh. Mereka menjadi makin khawatir saat melihat Naufal yang sama sekali tidak merespon usapan lembut di kepalanya.


Flasback On


"Derry. Kau tidak bisa melakukan hal ini padaku," ucap Vanesha yang berusaha menolak ciuman tersebut.


"Memangnya kenapa? Bukankah sebentar lagi kita akan menikah. Jadi tidak ada salahnya kan aku mencium bibir calon istriku sendiri."


"Aku tahu. Tapi ini ditempat umum."


"Aku tidak peduli."


Derry tetap terus memaksakan kehendaknya untuk mencium bibir Vanesha. Tapi dengan keberanian yang tinggi. Vanesha pun berhasil mendorong tubuh Derry.


"Kau berani menolak ciuman dariku dan sekarang kau juga berani melawanku!" bentaknya.


PLAAKK!!


"Aakkkhhhh."


Derry menampar keras wajah Vanesha. Setelah itu, Derry menarik kasar tangan Vanesha untuk masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu pun melaju sangat kencang.


Flasback Off


Naufal mengingat kejadian dimana kekasih hatinya yang selama ini dirindukannya telah disakiti oleh orang lain. Hati-hatinya benar-benar sakit setiap mengingat kejadian itu.


Naufal memejamkan kedua matanya dan detik kemudian, air matanya pun lolos begitu saja membasahi wajah tampannya.


Melihat Naufal yang tiba-tiba menangis membuat mereka semua makin tambah khawatir, terutama kedua orang tuanya dan ketiga kakaknya.


Helena yang duduk di samping putranya langsung menarik tubuh putranya itu ke dalam pelukannya. Dirinya benar-benar tidak tega melihat putranya menangis.


"Sayang. Kamu kenapa, nak? Ceritakan pada Mommy," lirih Helena.


Naufal yang merasakan pelukan hangat dari Ibunya membuat tangisnya seketika pecah. Hal itu sukses membuat anggota keluarganya merasakan sesak di dada masing-masing.


"Hiks.. hiks.. Mommy.. hiks."


"Ada apa, hum? Katakan pada Mommy. Jangan seperti ini sayang. Jangan buat Mommy khawatir."


"Mommy.. hiks." Naufal makin terisak.


Albert yang melihat putra bungsunya makin terisak akhirnya turun tangan. Dirinya berpindah duduk di samping putra bungsunya itu.


Dan kini posisi mereka adalah Naufal ditengah-tengah, Helena sebelah kiri dan Albert sebelah kanan.


Albert mengambil alih tubuh putra bungsunya dari pelukan istrinya, lalu membawanya ke dalam pelukannya.


"Sayang. Ini Daddy, nak! Jika kamu ada masalah. Katakan pada Daddy. Jangan dipendam sendiri. Daddy tidak sanggup melihat kamu seperti ini."


"Da-daddy."


"Katakan pada Daddy. Apa yang terjadi? Jangan rahasiakan apapun dari Daddy sayang. Daddy benar-benar khawatir dan takut saat melihat kamu pulang tadi malam."


Naufal melingkarkan tangannya di pinggang Ayahnya lalu memeluknya erat. Albert yang merasakan putra bungsunya memeluknya sangat erat memberikan sedikit waktu padanya.

__ADS_1


Setelah sepuluh menit merasakan putranya merasa nyaman dan tidak terdengar lagi suara isakan putranya, Albert pun melepaskan pelukannya.


Namun sayangnya, Naufal makin mengeratkan pelukannya. Dirinya merasakan kehangatan di dalam pelukan Ayahnya.


Albert yang melihat tingkah manja putranya kambuh hanya tersenyum gemas. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua tersenyum saat melihat Naufal yang tidak ingin melepaskan pelukannya.


"Naufal," panggil Albert.


"Hm," jawab Naufal.


Mendengar jawaban dari Naufal membuat Albert hanya bisa pasrah dan geleng-geleng kepala.


"Sayang. Ayolah, lihat Daddy."


Naufal tidak mempedulikan ucapan Ayahnya. Justru Naufal menyaman tubuhnya di pelukan Ayahnya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang Ayah lalu mendusel-dusel disana sehingga membuat Albert tersenyum geli.


"Daddy."


"Ada apa, hum?"


"Lakukan sekarang."


Baik Albert maupun anggota keluarganya dibuat bingung akan pernyataan dari Naufal. Mereka benar-benar tidak mengerti atas apa yang diucapkan oleh Naufal.


"Naufal. Apa maksud kamu? Lakukan sekarang. Maksudnya apa?" tanya Aditya.


"Iya, Fal. Jangan buat kami bingung," sela Elvan.


Mendengar pertanyaan dari Elvan dan Aditya membuat Naufal langsung melepaskan pelukannya.


Naufal menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Setelah itu Naufal menatap lekat mata Ayahnya.


"Bebaskan keluarga Vanesha dari kedua kakak adik itu lalu kemudian habisi keduanya. Masalah Vanesha aku yang akan urus," sahut Naufal.


Setelah mengatakan hal itu, Naufal langsung pergi begitu saja meninggalkan anggota keluarganya.


Saat Naufal berada diatas, Naufal pun berteriak.


"Aku mengandalkanmu, Dad! Dan juga Paman Felix. Setelah semuanya beres, aku akan menikahi Vanesha."


Setelah mengatakan hal itu, Naufal langsung masuk ke dalam kamarnya.


Mendengar ucapan dari Naufal membuat mereka syok dan pada akhirnya mereka semua tersenyum bahagia.


Akhirnya mereka semua mengetahui permasalahan yang dialami oleh Naufal. Dan mereka semua pun sepakat untuk memenuhi apa yang diinginkan oleh simanis.


"Apa yang akan kita lakukan, Albert?" tanya Felix.


"Aku setuju dengan, Daddy. Kita harus cari tahu hal itu terlebih dahulu," sela Aditya.


"Setelah kita tahu, kita langsung membebaskan keluarga Vanesha dan menjauhkan dari kedua kakak adik itu," ujar Rayyan.


"Untuk rencana pertama Daddy dan Paman kalian akan ke kantor polisi untuk menemui Daniel, kakak laki-laki Vanesha. Kita akan membebaskannya dari penjara dengan memberikan jaminan. Daddy akan membicarakan masalah ini kepada kepala kepolisian tentang masalah ini," ucap Albert.


Mendengar penuturan dari Albert, mereka semua mengangguk.


Keluarga Alexander maupun keluarga dari sahabat-sahabatnya sangat dekat dengan kepala kepolisian. Pihak kepolisian sangat percaya dengan mereka. Secara pihak kepolisian sudah mengetahui latar belakang keluarga Alexander dan para sahabatnya. Mereka berasal dari keluarga kaya, keluarga terpandang, keluarga terhormat dan juga keluarga baik-baik. Serta mereka adalah keluarga yang bersih dan juga jauh dari kata kejahatan.


"Daddy," panggil Elvan.


"Iya, sayang."


"Hubungi saja Damian sekarang. Minta tolong padanya untuk mencari tahu tentang keluarga Vanesha."


"Ya, Albert. Benar apa yang dikatakan Elvan. Bukankah kita tahu masalah Vanesha juga dari Damian," sela Albert.


"Baiklah," Jawab Albert.


Albert langsung mengambil ponselnya dan langsung menekan nama Damian. Lalu kemudian menekan tombol hijau. Beberapa detik terdengar suara seseorang di seberang telepon.


"Hallo, Paman."


"Hallo, Damian. Apa kau sibuk, nak?"


"Tidak, Paman. Ada apa, Paman? Apa Paman butuh sesuatu?"


"Begini, nak! Paman ingin kau mencari tahu apa yang sudah dilakukan oleh kedua putra bajingan itu pada keluarga Vanesha."


"Ach. Kebetulan sekali, Paman. Aku baru saja ingin memberitahu Naufal, namun ponselnya tidak aktif. Naufal baik-baik saja kan, Paman."


"Naufal baik-baik saja. Memang semalam Naufal sempat demam. Semalam pulang dari kantornya, Naufal pulang dalam keadaan kacau dan juga mabuk."


"Apa Naufal memberitahu Paman kenapa dia pulang dalam keadaan seperti itu?"


"Tidak. Dan kami juga sudah bertanya padanya. Dan kau tahu sendiri seperti apa Naufal. Namun barusan Naufal meminta sesuatu dari Paman."


"Apa itu, Paman?"


"Untuk membebaskan keluarga Vanesha dari kakak adik itu lalu kemudian menghabisi keduanya."


"Kalau sudah seperti ini, berarti Naufal sudah mengetahui bahwa Derry Alvaro sudah berbuat hal yang buruk pada Vanesha."

__ADS_1


"Ya. Kau benar, nak! Naufal pasti sudah mengetahuinya, makanya kenapa Naufal meminta Paman untuk menyelesaikan masalah ini."


"Paman tidak perlu khawatir. Aku sudah mendapatkan semua informasi mengenai kedua bajingan itu. Dan alasan kenapa Vanesha mau bertunangan dengan Derry Alvaro. Derry Alvaro telah membuat Ibunya celaka saat pulang dari acara wisuda Vanesha sehingga berakhir koma di rumah sakit."


"Apa? Koma? Wisuda?" Albert terkejut mendengarnya.


"Ibunya Vanesha koma. Masalah wisudanya Vanesha. Begini, Paman. Setelah Vanesha sembuh dari pasca kejadian menembakkan itu, Vanesha mengikuti tes ujian paket C. Saat Vanesha dinyatakan berhasil dalam ujian itu. Vanesha dan keluarganya kembali ke Jakarta. Di Jakarta lah Vanesha akan di wisuda. Rencana awalnya, Vanesha akan memberikan kejutan pada Naufal. Bahkan Vanesha juga tidak mengetahui apa yang sudah terjadi pada keluarganya, terutama pada kakak kesayangannya."


"Apa yang dilakukan bajingan itu pada ibunya Vanesha?"


"Bajingan itu membayar seseorang untuk menabrak Ibunya Vanesha saat hendak menyebrang jalan. Dan saat kejadian itu, Derry Alvaro datang sebagai pahlawan dan membawa Ibunya Vanesha ke rumah sakit. Derry Alvaro adalah teman satu sekolah Vanesha. Derry Alvaro ternyata sudah menaruh hati pada Vanesha saat mereka masih sama-sama sekolah. Namun cintanya ditolak oleh Vanesha karena Vanesha belum berniat untuk pacaran, apalagi Vanesha juga tidak memiliki perasaan apapun padanya. Namun saat Vanesha kuliah, Tuhan mempertemukan Vanesha dengan Naufal. Dari sanalah timbul benih-benih cinta antara keduanya."


"Lalu bajingan itu kembali dan ingin menghancurkan hubungan putraku dan Vanesha."


"Ya, benar Paman. Mereka bermain cantik untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan."


"Bagaimana dengan Ayahnya Vanesha?"


"Mendengar kabar istrinya koma akibat kecelakaan itu membuat Ayahnya Vanesha syok. Dirinya benar-benar hancur sehingga Ayahnya Vanesha menjadi terpuruk dalam kesedihan tak berkesudahan. Bekerja tak focus hingga merugikan perusahaan hingga ratusan juta rupiah, belum lagi biaya pengobatan ibunya Vanesha yang sangat besar, menguras banyak uang. Ditambah lagi dengan penghianatan yang berasal dari dalam perusahaan dan berakibat kebangkrutan mendadak, dari salah satu perusahaan keramik terbesar yang ada di Jakarta Selatan. Ayahnya Vanesha sudah tidak memiliki apa-apa lagi, Paman. Seperti yang Paman lihat di video yang ada di flashdisk yang aku kirim saat itu pada Naufal. Semua tabungan yang dimiliki Ayahnya Vanesha diblokir."


"Jangan bilang kalau Derry Alvaro kakak dari Alex Alvaro yang melakukannya."


"Itu benar, Paman. Mereka benar-benar menekan kedua orang tua Vanesha. Dan saat ini hanya Ayahnya Vanesha yang selalu ada disamping Vanesha. Mereka berdua saling menguatkan, walau dihati kecilnya, Ayahnya Vanesha tidak ingin Vanesha bertunangan dan menikah dengan pemuda yang tidak dicintai oleh putrinya. Ayahnya Vanesha tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Bulan depan mereka akan menikah."


"Brengsek. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!"


"Sekarang apa yang akan Paman lakukan?"


"Besok Paman dan Felix akan ke kantor polisi untuk membebaskan Daniel, kakak laki-lakinya Vanesha. Paman akan membicarakan masalah ini langsung pada kepala kepolisian."


"Rencana bagus, Paman. Tapi ada baiknya Paman menyuruh seorang pengacara yang langsung mendatangi kantor polisi untuk membebaskan Daniel. Kalau perlu pengacaranya harus pengacara yang kuat dan tidak bisa disentuh atau diusik oleh siapapun. Sementara Paman cukup temui saja kepala kepolisian itu dan tidak perlu kekantor polisi. Jadi dengan begitu kedua bajingan itu tidak mengetahui gerak-gerik kita. Sekali pun ketahuan, kedua bajingan itu tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk menyentuh atau mengusik pengacara itu mereka tidak akan berani."


"Hm. Baiklah. Paman akan ikuti rencanamu itu."


"Untuk ibunya Vanesha. Aku sudah memikirkan rencananya."


"Apa itu? Apa Paman boleh tahu apa yang akan kau lakukan?"


"Aku dan ketujuh sahabat-sahabatku beserta dua puluh lima orang-orang kami akan membawa Ibunya Vanesha keluar dari rumah sakit tersebut. Dan setelah itu kami akan membawanya ke sebuah desa terpencil yang tidak pernah dikunjungi oleh siapapun. Di tempat itu juga tidak bisa dilacak. Disana hanya ada tiga puluh kepala keluarga dan kehidupan disana sangat sejuk, damai dan tenang. Setidaknya ini bisa membantu proses kesembuhan Ibunya Vanesha. Kami juga akan membawa beberapa macam obat, 3 orang Dokter dan 4 orang perawat untuk membantu dan juga memantau kondisi Ibunya Vanesha. Dokter dan perawat tersebut semuanya perempuan."


"Ach, syukurlah kalau begitu. Paman lega mendengarnya."


"Jika nanti kami semua berhasil membawa Ibunya Vanesha keluar dari rumah sakit, dan dalam perjalanan menuju desa terpencil itu. Aku akan menghubungi Paman."


"Baiklah, nak Damian! Semoga semua rencana nak Damian berjalan lancar."


"Terima kasih, Paman. Kalau begitu aku tutup teleponnya. Aku harus segera membahas masalah ini dengan sahabat-sahabatku."


"Baiklah."


Setelah mengatakan hal itu, keduanya langsung mematikan panggilan tersebut.


Seketika Albert tersenyum bahagia. Dirinya benar-benar bersyukur saat ini. Tuhan telah mengirim seorang pemuda yang begitu baik seperti Damian untuk putra bungsunya. Damian begitu sangat menyayangi putra bungsunya.


"Daddy," panggil Aditya.


"Ach, iya sayang."


"Bagaimana? Apa yang dikatakan kak Damian?"


"Semuanya sudah diatur oleh Damian dan sahabat-sahabatnya."


"Maksud, Daddy?" tanya Rayyan.


"Damian sudah mendapatkan informasi mengenai alasan Vanesha mau bertunangan dengan Derry Alvaro."


"Apa itu, Albert?" tanya Felix.


"Kakak adik itu menekan Ayahnya Vanesha. Daniel, kakak laki-laki Vanesha di penjara. Ibunya Vanesha koma di rumah sakit. Perusahaan Ayahnya Vanesha bangkrut. Tidak ada satu pun yang tersisa. Tabungan pribadi milik Ayahnya Vanesha diblokir. Itu semua ulah dari Alex Alvaro, kakaknya. Derry Alvaro adalah teman satu sekolah Vanesha. Vanesha adalah cinta pertamanya. Karena Vanesha pernah menolak cintanya, Derry Alvaro kembali untuk mendapatkan Vanesha dengan cara licik. Kakaknya bermain di belakang layar, sementara dirinya menjadi pahlawan buat Vanesha dan keluarganya," tutur Albert.


"Dasar menjijikkan," umpat Aditya.


"Cara mereka benar-benar kotor dan menjijikkan untuk mendapatkan sesuatu. Dasar sampah," ucap Rayyan.


"Felix. Aku mau kau mencari pengacara yang hebat, berpengalaman dan juga berkuasa. Pengacara yang tidak bisa disentuh atau diusik oleh siapapun."


"Untuk apa, Albert?"


"Untuk membebaskan Daniel."


"Bukankah......" ucapan Felix terpotong.


"Kita akan menemui kepala kepolisian itu langsung ke rumahnya. Dan menceritakan semuanya padanya. Dan kita akan memintanya untuk menghubungi bawahan yang bertugas menjaga di kantor polisi. Jadi saat pengacara itu datang ke kantor polisi, pengacara itu akan bisa langsung membawa Daniel keluar dari kantor polisi tersebut. Jadi jika kedua bajingan itu tahu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa."


"Hm. Rencana yang bagus sekali, Albert."


"Ini bukan rencanaku. Tapi ini rencananya Damian. Dialah yang menyarankan seperti itu. Dan hari ini Damian dan sahabat-sahabatnya sedang merencanakan untuk membawa pergi Ibunya Vanesha dari rumah sakit. Dan setelah semuanya berjalan lancar. Barulah Naufal yang akan turun tangan."


"Jadi dengan kata lain Vanesha bisa menolak pernikahan ini," sela Aditya.


"Dan mereka tidak bisa menekan atau mengancam Ayahnya Vanesha jika Vanesha menolak untuk menikahi Derry Alvaro," ucap Elvan.

__ADS_1


"Hm." mereka semua mengangguk.


__ADS_2