Naufal Alexander

Naufal Alexander
Tertangkapnya Sipengkhianat


__ADS_3

Hari ini Naufal sudah diperbolehkan pulang. Dirinya sangat bahagia sekali. Terlihat dari raut wajahnya. Tanpa disadari olehnya, salah satu kakaknya sedang memperhatikannya.


"Hai, Naufal. Dari tadi kakak perhatikan kamu senyam senyum sendiri. Kamu sehatkan?" tanya Aditya sambil menempelkan telapak tangannya ke kening adiknya.


"Apaan sih Kak. Mengganggu saja," saut Naufal kesal.


"Kakak tahu nih. Jangan-jangan kamu lagi mikirin seseorang kan? Ayooo, ngakuu saja. Kamu sudah punya kekasih ya." Rayyan menggoda adiknya.


"Sudah. Jangan dipikirin terus orangnya. Nanti juga ketemu!" seru Liana menggoda adik iparnya.


"Apaan sih. Kakak sama saja seperti mereka," ucap Naufal memanyunkan bibirnya.


Naufal memang sedang memikirkan seorang wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya. Wanita yang pernah ditolongnya. Apakah Naufal sudah mulai jatuh hati pada wanita itu?


Mereka semua hanya terkekeh melihat kelakuan Naufal.


"Naufal." Arsya memanggil.


Naufal menolehkan wajahnya melihat Arsya. "Ya, kak. Ada apa?"


"Jadi benar kau sudah punya kekasih? Tapi kenapa dia tidak pernah datang menjengukmu di rumah sakit?" tanya Arsya dan diangguki oleh yang lain.


"Wah! Pertanyaan yang bagus kak Arsya. Aku baru mau menanyakan hal itu, sudah keduluan," ucap Ardian.


Semua menatap Naufal. Menatap dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Yaaak! Kenapa kalian pada menatapku? Apa wajahku ini terlalu tampan sehingga kalian menatapku seperti Itu?" ucap Naufal dengan rasa percaya dirinya. "Bukan kekasih. Lebih tepatnya calon kekasih," jawab Naufal tersenyum.


"Jadi maksudnya kalian belum jadian?" tanya Arsya.


"Belum," jawab Naufal.


"Kok bisa? Bagaimana ceritanya?" tanya Davian.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya. Saat itu dia sedang digangguin oleh beberapa preman. Lalu aku menolongnya," jawab Naufal.


"Pasti kau sudah tahu namanya!" seru Reza.


Naufal menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Sontak membuat mereka nepuk jidat.


"Kenapa?" tanya Naufal bingung.


"Kau ini bodoh, polos atau apa sih, Fal? Kenapa kau tidak sekalian menanyakan namanya?" celetuk Dhafin


"Yeeeey! Aku ini bukan kau, kak. Kalau kau itu selalu tebar pesona didepan para wanita. Setiap melihat wanita cantik, kau yang paling agresif. Sedangkan aku, saat itu diotakku memang benar-benar ingin menolong wanita itu tanpa ada niat yang lain," tutur Naufal menatap kesal Dhafin.


"Hahahaha." mereka semua tertawa saat mendengar ucapan Naufal.


"Skak Mat, Dhafin." Arsya berbicara sembari mengejek Dhafin.


"Apa dia cantik, Fal?" tanya Barra.


"Eeemm." Naufal hanya tersenyum membayangkan wajah wanita idamannya itu. Dan bayangan pertemuannya dengan wanita itu terlintas di pikirannya.


FLASHBACK ON


"Kau tidak apa-apa?" tanya Naufal.


"Aku tidak apa-apa? Terima kasih sudah menolongku," jawab wanita itu.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Semoga kita bertemu lagi," saut wanita itu lagi.


FLASHBACK OFF


"Hei, lihat. Ada yang lagi kasmaran, nih." Ardian menggoda Naufal.


Mereka menatap manik mata Naufal yang memancarkan binar kebahagiaan. Jujur mereka juga turut bahagia menyaksikannya. Tak terkecuali ketiga kakaknya. Mereka sangat-sangat bahagia melihat adik mereka bahagia.


"Dari cara sikelinci ini tersenyum. Pasti wanita yang sudah berhasil mencuri hati kelinci nakal kita ini adalah wanita yang sangat cantik," ucap Davian.


"Ya, pastinya. Kalau tidak cantik mana mungkin kelinci nakal ini akan kepincut sama wanita itu," ucap Dhafin.


Elvan yang sedari tadi gemas memperhatikan wajah imut dan wajah tampan adiknya lalu mendekatinya. Tanpa seizin dari sang adik, Elvan mencubit hidung mancungnya.


"Jangan dipikirkan terus. Kalau berjodoh pasti akan bertemu," ucap Elvan menggoda adiknya.


"Aish. Apaan sih kak? Siapa juga yang sedang memikirkannya?" elak Naufal.


"Kau tidak bisa membohongi kakak. Kelihatan dari matamu itu," sahut Elvan sambil menunjuk kedua manik mata bulatnya.


"Iyain aja deh." Naufal hanya memutar kedua bola matanya malas.


Sedangkan Elvan hanya tersenyum melihat kelakuan adik bungsunya.


"Naufal." panggil Aditya. Naufal menolehkan wajahnya melihat Aditya.

__ADS_1


"Iya, kak."


"Kamu berhutang penjelasan pada kakak dan kita semua," sahut Aditya yang diangguki oleh Elvan dan Rayyan.


"Soal apa? Aku tidak mengerti," ucap Naufal.


"Masalah sakitmu. Dokter mengatakan pada kami kalau otot dadamu cidera dan mengalami luka lebam. Cidera itu disebabkan karena benturan atau pukulan," jawab Elvan.


"Sekarang katakan pada kakak."


"Apa yang terjadi padamu Naufal Alexander?" tanya Elvan dengan suara sedikit membentak.


Naufal diam membeku. Dirinya sangat terkejut saat kakak kesayangannya membentaknya. Dirinya bingung harus bagaimana? Disatu sisi, dia ingin menceritakan semuanya. Di sisi lain, dia tidak ingin membuat keluarganya sedih dan khawatir.


"Maafkan aku, kak." lirih Naufal dengan suara yang bergetar dan sudah menangis.


Melihat Naufal yang sudah menangis membuat hati Elvan sesak dan sakit. Dirinya paling tidak suka dan tidak tega melihat adik bungsunya itu menangis. Apalagi sampai dibentak, dirinya pasti akan ketakutan.


"Maafkan kakak, Fal. Kakak tidak bermaksud membentakmu tadi. Kakak hanya khawatir padamu," ucap Elvan dan langsung membawa adiknya ke pelukannya.


Helena yang melihat kedua putranya berpelukan, tersenyum bahagia lalu berjalan mendekati mereka.


"Apa acara menangisnya sudah selesai sayang? Bisa kita pulang sekarang?"


Elvan melepaskan pelukannya pada Naufal. Lalu mereka menatap sang Ibu.


"Ya, Mom!" keduanya menjawabnya secara bersamaan.


"Ya, sudah. Ayooo, kita pulang!" seru Albert, sang Ayah.


Kemudian mereka semua pun melangkahkan kaki pergi meninggalkan rumah sakit menuju parkiran.


Setelah sampai di parkiran, mereka masuk ke dalam mobil. Mereka semua termasuk anggota keluarga yang lainnya akan pulang ke mansion milik Naufal.


***


Saat di dalam perjalanan, Naufal tidak sengaja melihat sosok orang yang diincarnya. Atau lebih tepat orang yang sudah mengkhianatinya.


"Hentikan mobilnya!" teriak Naufal tiba-tiba pada Aditya.


Aditya pun reflek menginjak rem mobilnya atas teriakan sang adik. Sontak membuat mereka terkejut dan kepala mereka membentur kepala jok kursi.


"Ada apa, Naufal?" tanya Elvan.


Naufal langsung membuka pintu mobilnya dan langsung keluar begitu saja dan menghiraukan panggilan ketiga kakaknya.


"Naufal!" teriak ketiga kakaknya.


"Elvan, ada apa?" tanya Albert ketika menghampiri putranya.


"Aku tidak tahu Daddy," jawab Elvan.


Naufal masih mengejar orang itu. Tapi beruntungnya, dewi fortuna memihak padanya. Orang yang dikejar tersebut tidak menyadarinya.


PUK!


Naufal menepuk kuat bahu orang itu. Dan sukses membuat orang itu terkejut. Bahkan orang itu tidak mengetahui siapa yang sudah memukulnya.


"Akhirnya aku mendapatkanmu, brengsek!" Naufal berbicara dengan nada dingin.


DEG!


Orang itu benar-benar kaget. Bahkan mengetahui suara Naufal tanpa melihat sekalipun. Orang itu berniat untuk kabur. Tapi dengan cepat Naufal mengunci pergerakannya dengan cara mencekiknya lehernya dari belakang dengan sangat kuat.


"Mau kabur, hah?!" bentak Naufal. "Coba saja kalau kau berani. Atau aku akan mengabisi seluruh anggota keluargamu. Aku akan membuat ayah dan ibumu kehilangan pekerjaannya. Dan aku akan membuat adik perempuan kehilangan masa depannya," ucap Naufal dengan penuh ancaman.


DEG..


Pemuda tersebut ketakutan mendengar ucapan dari Naufal. Pemuda itu sangat mengenal tripikal seorang Naufal. Naufal tidak akan main-main dengan ucapannya itu.


Elvan, Aditya, Rayyan dan Ayahnya datang menghampirinya.


"Naufal. Siapa pemuda ini?" tanya Elvan.


Naufal hanya melirik kakaknya itu dan anggota keluarganya yang lainnya, tanpa ada niat memberitahu mereka apa yang terjadi.


Setelah itu dirinya kembali dengan urusannya dengan pemuda yang kini sedang berada dalam genggamannya. Bisa kita bayangkan bagaimana kondisi pemuda itu saat ini. Dengan leher yang dicekik kuat oleh Naufal dengan tangan kanannya.


Sedangkan tangan kirinya memegang pisau lipat dan pisau itu berada tepat di pinggang kiri pemuda tersebut. Kalau pemuda itu bergerak sedikit pun, pisau itu akan menembus pinggangnya.


"Katakan padaku. Siapa yang menyuruhmu?" tanya Naufal.


Sedangkan pemuda itu hanya diam dan tidak menjawab sama sekali.


"Sekali lagi aku bertanya padamu. Siapa yang menyuruhmu?!"bentak Naufal.

__ADS_1


"Sekali pun aku memberitahumu. Semuanya sudah terlambat. Kau sudah kalah, Naufal Alexander! Kau tidak akan bisa merebutnya kembali. Apa yang sudah hilang darimu tidak akan kembali lagi padamu? Hahahahaha!" pemuda berbicara sembari tertawa mengejek.


Naufal menggeram. Matanya memerah tersirat akan emosi dan tangan bergerak kuat di leher pemuda itu. Naufal mencekik pemuda itu dengan brutal.


"Aaakkkhhh!" teriak kesakitan pemuda tersebut.


Wajah pemuda tersebut memerah. Pemuda tersebut kesulitan untuk bernafas. Naufal tidak peduli. Justru Naufal makin memperkuat cekikannya di leher pemuda itu.


"Naufal. Apa yang kau lakukan? Kau bisa membunuhnya!" bentak Aditya.


"Aku tidak peduli. Bajingan ini harus mati di tanganku," jawab Naufal.


"Naufal sadarlah!" kali ini Elvan yang membentaknya.


"Jangan ikut campur urusanku, kak. Biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku," saut Naufal dingin.


"Naufal, hentikan sayang. Lepaskan dia, Nak!" teriak Helena yang datang menghampirinya bersama keenam kakaknya.


Naufal langsung melonggarkan cekikannya di leher pemuda itu. Dan dapat dilihat pemuda tersebut berusaha mati-matian meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Ketiga kakaknya dan kedua orang tuanya bernafas lega melihat Naufal melonggarkan cekikannya.


"Oke. Kau menang dan aku kalah. Dan kau benar? Apa yang sudah hilang dariku tidak akan kembali lagi padaku? Tapi sebagai gantinya, kali ini aku yang akan merebut sesuatu darimu. Bahkan lebih besar dari apa yang telah kau rebut dariku," ucap Naufal tepat di telinga pemuda itu.


Naufal menatap kakak tertuanya. "Kak. Tolong ambilkan ponselku di saku celanaku."


Elvan pun merogoh ponsel adiknya di saku celananya. Lalu menyerahkannya pada adiknya. 


"Ini."


"Kak. Tolong cari nama kontak kak Damian. Lalu hubungi dia," pinta Naufal lagi.


Mendengar permintaan adiknya, Elvan pun mengangguk. Saat panggilan tersambung, Elvan meletakkan ponsel tersebut di telinga adiknya itu.


"Hallo, Naufal. Ada apa?"


"Hallo, kak. Aku sudah berhasil menangkap bajingan sialan ini. Sekarang dia ada padaku. Kalau bukan karena Mommy mungkin dia sudah mati di tanganku saat ini juga."


"Lalu bantuan apa yang kau butuhkan dari, kakak?"


"Kau tahukah tentang keluarganya? Pekerjaan ayah dan ibunya? Bahkan adik perempuannya?"


"Ya. Kakak tahu. Apa yang kau inginkan?"


"Hancurkan mereka semua. Buat ayahnya kehilangan perusahaannya dan ibunya kehilangan kepemilikan salon dan juga hotel. Dan buat adiknya dikeluarkan dari kampus dengan tuduhan mencuri uang dengan jumlah fantastis! Buat mereka kehilangan rumah mewah mereka."


"Baik. Dengan senang hati kakak akan melakukannya. Hanya butuh satu jam pekerjaan itu selesai."


"Satu lagi kak. Telepon polisi sekarang juga. Suruh polisi itu datang ke alamat jalan Farmasi. Aku akan meninggalkan bajingan ini disini. Dan aku pastikan kali ini dia tidak akan bisa kabur lagi sampai polisi datang."


"Baiklah."


"Kalau begitu aku tutup teleponnya, kak."


PIP!


"Apa yang kau lakukan pada keluargaku? Jangan pernah merebut apapun dari mereka!" bentak pemuda itu.


"Kenapa? Takut? Kan sudah aku katakan tadi. Apa yang sudah kau lakukan padaku. Aku juga akan melakukan hal sama padamu?" ucap Naufal dengan senyuman menyeringainya.


"Tapi tidak keluargaku. Kau bisa melakukannya padaku!" bentak pemuda itu lagi.


"Kalau aku melakukannya padamu. Kau itu punya apa? Kau tidak punya apa-apa? Kau itu miskin. Yang kaya itu adalah orang tuamu. Jadi aku bermain dengan keluargamu saja. Kau tahu dengan jelaskan? Berapa banyak uang yang aku habiskan untuk membangun Avana Gym? Dan kau juga tahukan berapa jumlah uang yang aku simpan selama ini di brangkas. Dan brangkas itu memang sengaja aku simpan di Avana Gym? Semua itu belum cukup untuk menggantikan semua kerugianku. Kau mengerti!" bentak Naufal.


Pemuda itu terdiam. Dia membenarkan semua ucapan dari mantan bosnya ini. Mantan bosnya ini memang kaya. Lebih kaya dibandingkan keluarganya.


Sekali pun keluarganya jatuh miskin, itu belum bisa membayar apa yang sudah dia lakukan pada mantan bosnya ini.


"Sekarang kau diam disini sampai polisi datang, oke!"


Naufal menyeret dengan kasar tubuh mantan asistennya itu kesebuah tiang listrik. Lalu mengikatnya dengan sangat sangat kuat.


Setelah dipastikan ikatannya kuat. Naufal dan keluarganya pergi meninggalkan pemuda tersebut.


Lalu terlintas satu ide dipikirannya.


"Hei, kalian berdua." panggil Naufal pada dua pemuda yang lewat.


Dua pemuda itu berhenti lalu mendekati Naufal. "Ada apa?"


"Kalian mau uang. Tapi kalian harus melakukan satu hal. Kalian lihat orang yang diikat disana," ucap Naufal sambil tangannya menunjuk kearah pemuda yang diikat.


"Ya. Kami lihat. Apa yang harus kami lakukan?" tanyanya.


"Kalian tidak perlu melakukan apa-apa. Cukup awasi saja sampai polisi datang. Polisi itu akan membawanya ke rumah sakit jiwa. Jadi kalian jangan dekat-dekat dengannya. Kalau ada orang yang berusaha membuka ikatannya. Kalian harus mencegahnya. Karena itu sangat berbahaya.


"Ini uang untuk kalian berdua," ucap Naufal sambil mengeluarkan sejumlah uang lalu memberikan pada kedua pemuda itu.

__ADS_1


Setelah itu Naufal pun pergi meninggalkan kedua pemuda itu.


__ADS_2