Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Sumpah Seorang Tasya


__ADS_3

Saat ini pukul sepuluh pagi di Taman Bluberi.


Tasya membuka pintu dan melangkah memasuki rumah. Ketika Tasya menyalakan lampu, cahaya dari lampu kristal di ruang tamu memantulkan bayangannya di kusen jendela.


Rumah ini akan menjadi rumah yang akan Tasya tinggali bersama suaminya kelak. Tunangannya, Yosef Harisman adalah seorang manajer departemen di sebuah perusahaan. Tak hanya tampan, pria itu pun sangat perhatian padanya.


Oleh karena itu, Tasya benar- benar merasa bersyukur menikah seorang pria yang sangat mencintainya.


Menurut adat, baik Tasya maupun Yosef tidak diperbolehkan untuk tinggal bersama pada malam sebelum pernikahan. Dengan demikian, Yosef menghabiskan malam di rumah baru mereka. Sementara aku menginap di rumah sahabatku, Nathania Samudra.


Sebelum tidur, Tasya memeriksa untuk memastikan bahwa Tasya telah memiliki semuanya yang dia perlukan besok. Lalu, Tasya baru sadar bahwa Tasya telah melupakan selendang pengantinnya.


Tasya kembali ke rumah barunya bersama Yosef diam-diam tanpa menghubungi Yosef sebelumnya untuk memberinya kejutan.


Ketika Tasya membayangkannya, Tasya akan bahagia selamanya. Bersamanya mulai besok dan dia mengguratkan senyum bahagia.


Lantas, Tasya mengganti alas kaki dengan sandal tidur. Ketika Tasya tiba di ruang tamu, suara ******* nikmat seorang wanita terdengar dari kamar tidur utama.


Sontak, hati Tasya tergerak. Pintu kamar utama sedikit terbuka, serta suara wanita yang menggoda dan menawan itu berasal dari dalam kamar.


Seketika, api besar mulai membara di dalam diri Tasya. Kakiku seakan lumpuh, namun mereka tanpa sengaja memberinya celah.


Saat Tasya berdiri di pintu kamar tidur, teriakan kegembiraan dari dalam terdengar semakin jelas. Setiap suara itu menghujamku tepat di dadanya.


Aku medorong pintu terbuka dan suara derik terdengar.


Sepasang sepatu hak tinggi berwarna krem serta berbagai barang-barang wanita lainnya berserakan di lantai. Tak bisa Tasya pungkiri, benaknya saat ini begitu kacau melihat pemandangan itu.


Sembari menahan amarah serta ketakutan dalam diriya. Tasya mengalihkan tatapannya pada ranjang.


Namun pada sekali lirikan, rasanya hatinya seketika tersayat oleh sebilah pisau. Rasa sakit ini luar biasa hingga Tasya tak dapat bernapas.


Sahabat sekaligus teman sekamarku selama empat tahun di kampus sekarang sedang berada di ranjang bersama Yosef yang akan dia nikahi besok.


Pada saat Mareta melihat keberadaan Tasya di depan pintu. Sorot matanya memancing amarah dan desahannya menjadi semakin tak senonoh.


Napas Tasya bahkan terasa sakit ketika dia melihat semuanya di kamar.

__ADS_1


"Ya Tuhan, ada seorang wanita lain dalam pelukan tunanganku. Mereka akan melakukannya dengan penuh asa!" batin Tasya.


Sontak, aku dihantam kemurkaan serta rasa hina. Tasya mengepalkan tangannya dengan kuat demi menahan dorongan untuk menerjang dan menghantam mereka tanpa ampun.


Tatapan Mareta menggoda saat tangannya membelai sekujur tubuh Yosef dengan jemarinya yang panjang dan ramping, suaranya pun sangat melenakan.


"Sayang, tidakkah kau merasa bersalah melakukan ini denganku saat kau akan menikahi Tasya besok?" tanya Mareta.


"Kenapa aku harus bersalah? Adakah perbedaan antara melakukan ini pada hari pernikahanku atau hari biasanya? Lagi pula, wanita itu tidak akan pernah tahu tentang kita." Yosef menjawab dengan lantangnya.


Suara Yosef dalam dan berat. "Namun bagaimana jika ... Maksudku, bagaimana jika wanita itu tiba-tiba datang dan memergoki kita? Menurutmu, apa yang akan dia lakukan? Akankah dia menggagalkan pernikahanmu?" Mareta menatapku dengan mengejek sembari menyeringai.


"Itu bisa dibicarakan karena dia tak akan datang. Lalu, bagaimana kalau dia mengetahuinya? Paling-paling, kami akan menggagalkan pernikahannya. Toh, aku tidak berencana untuk menikah begitu awal."


Yosef masih berhubungan intim dengan Mareta sembari tertawa santai.


"Lantas, kenapa kau akan menikah kalau kau enggan melakukannya? Kau tahu, kita tidak akan bisa sering bertemu setelah kau menikah."


"Jika bukan karena pemaksaannya, aku tidak akan menikahinya," Yosef mengutarakan terang-terangan tanpa ragu sedikit pun.


Yosef sangat bahagia dan menindih Mareta di bawahnya.


Mareta meletakkan tangannya pada dada Yosef sembari menunjuk ke arah pintu kamar tidur.


"Tidak mungkin! Baru saja aku melihatnya pergi, lalu ... bagaimana mungkin wanita ini."


Yosef tak dapat mengalihkan pandangannya di pintu setelah berkata demikian.


"Tasya? Kenapa kau di sini?"


Saat Yosef melihat kedatangannya, Tasya langsung mematung dengan tatapan matanya menatap tajam kearah dua manusia hina itu.


Yosef segera menghempas tubuh Mareta, tatapannya dipenuhi dengan ketakutan ketika dia melihat kearah Tasya.


Pada waktu itu pula, keinginannya telah lama menghliang tanpa jejak. Takut, Yosef bahkan tak sempat untuk berpakaian dengan kemeja hadiah ulang tahunnya.


Sementara Mareta menarik selimut di dekatnya dan menatap kearah Tasya dengan bibirnya yang memasang seringai mengejek.

__ADS_1


Ketika itu, wajah Tasya telah bersimbah air mata. Kemarahan dan kebencian meluapnya dari tatapan matanya itu.


"Tasya, aku... aku bisa jelaskan. Aku...."


Plak..


Plak..


Tasya memberikan dua tamparan keras di pipi Yosef sehingga membuat sudut bibirnya berdarah.


Tasya menatap secara bergantian wajah Yosef dan Mareta dengan tatapan penuh dendam. Sementara Yosef tidak menyangka jika Tasya akan langsung memberikan dua tamparan di pipinya.


"Dengarkan aku baik-baik, saudara Yosef. Pertama, rumah ini aku beli dengan menggunakan uangku. Aku minta kau pergi dari rumah ini tanpa membawa apapun dari rumah ini. Jika aku sampai mengetahui ada barang-barang di rumah ini hilang, maka aku akan membawa masalah ini kejalur hukum. Aku juga akan membawa keluargamu. Kedua, apa yang aku rasakan hari ini itu juga yang akan kau dan keluargamu rasakan. Bukankah kau memiliki satu kakak perempuan dan satu adik perempuan. Aku bersumpah apa yang aku alami hari ini dimana aku menyaksikan calon suamiku tidur dengan seekor hewan liar, itu juga yang akan dirasakan oleh kedua saudara perempuanmu itu. Bahkan lebih parah. Ketiga, aku akan menjual 60 sahamku yang ada di perusahaanmu dan perusahaan ayahmu dengan harga murah kepada orang lain agar kau dan ayahmu tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dan yang ketiga, kau dan keluargamu akan hancur di tangan keluargaku. Selama ini kau tidak tahu seperti apa keluargaku jika sudah marah terhadap orang-orang yang menyakiti anggota keluarganya. Rencananya aku ingin memperkenalkan sosok keluargaku yang sebenarnya di hari pernikahan kita."


Deg..


Yosef seketika terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Tasya. Dia tidak menyangka jika Tasya akan mengatakan semua itu.


Tasya menatap kearah Mareta yang juga menatap dirinya dengan tersenyum mengejek. Dia tahu bahwa Mareta saat ini bahagia melihat dirinya hancur.


"Dan untuk kau saudari Mareta! Jangan tersenyum seperti itu melihatku. Takutnya senyuman itu berganti dengan tangisan. Dengar Mareta! Kau tidak tahu siapa aku! Kau juga tidak tahu siapa keluargaku yang sebenarnya. Satu hal yang harus kau ingat saudari Mareta! Selam 5 tanun kita berteman, aku sudah banyak mengeluarkan uang untukmu dan untuk keluargamu. Namun kau membalasnya dengan cara seperti ini. Tunggulah kejutan dariku. Aku akan menghancurkanmu dan seluruh anggota keluargamu. Aku akan mengambil kembali apa yang pernah aku berikan padamu dan juga pada keluargamu, salah satunya adalah aku yang sudah membantu perusahaan ayahmu ketika diambang kebangkrutan. Aku akan buat perusahaan ayahmu kembali seperti sedia kala. Bangkrut tanpa sisa!"


Deg..


Seketika Mareta terkejut dengan kedua matanya membelalakkan sempurna. Mareta menatap kearah Tasya yang dapat diketahui oleh Mareta bahwa Tasya menatap dirinya dengan tatapan penuh amarah.


"Silahkan kau bersenang-senang. Aku memberikan waktu padamu selama 4 hari. Jadi, selama waktu 4 hari kau bisa merayakan kebahagiaanmu dengan pria menjijikan ini karena sudah berhasil menendangku."


Tasya menatap dengan tatapan sinis dan tatapan penuh dendam. "Setelah waktu 4 hari ini habis, nikmatilah penderitaan kalian bersama keluarga kalian. Aku akan merebut semua yang telah aku berikan kepada kalian."


Setelah mengatakan itu, Tasya pergi meninggalkan rumah masa depannya itu. Dalam perjalanan, Tasya menghubungi seseorang dan meminta orang itu untuk datang ke rumahnya dan menjaga rumahnya.


ingin mengutarakan kekejaman kenyataan namun aku hanya berbalik pergi.


Yosef langsung mengejarku dengan handuk yang melingkari pinggangnya, tatapannya memancarkan rasa bersalah. "Anna, aku bisa jelaskan ... "


Naufal saat ini di perusahaan NFL Corp. Dia tampak sibuk dengan semua berkas-berkas diatas meja. Semua berkas-berkas itu harus dia selesaikan untuk dicek dan ditandatangani.

__ADS_1


Naufal mengecek satu persatu


__ADS_2