Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Traktiran Dari Arsya


__ADS_3

Di kediaman Eknath terlihat seorang gadis cantik sedang duduk santai di ruang tengah. Gadis itu adalah Alona Divia Eknath.


Saat ini Divia sedang duduk di sofa ruang tengah sembari memikirkan Naufal laki-laki yang begitu dia cintai. Dia kini tengah memikirkan cara merebut Naufal kembali dan membuat Naufal bertekuk lutut di hadapannya.


"Naufal, aku bersumpah akan membuat kamu bertekuk lutut di hadapanku. Dan aku bersumpah membuat kamu lebih memilih aku dan meninggalkan kekasih kamu itu," ucap Divia sembari tersenyum di sudut bibirnya.


Ketika Divia sedang memikirkan rencana untuk merebut Naufal dari kekasihnya, tiba-tiba dia dikejutkan dengan kedatangan anggota keluarganya. Mereka adalah kedua orang tuanya dan kedua kakak perempuannya. Mereka semua duduk di sofa bersama Divia.


"Lagi mikirin apa?" tanya kakak perempuan sulung Divia.


"Naufal," jawab Divia dengan senyuman manisnya.


"Naufal?" tanya kakak perempuan sulung lagi.


"Iya, kenapa?" tanya Divia.


"Bukannya kamu sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan Naufal? Kenapa sekarang kamu justru mengatakan bahwa kamu sedang memikirkan Naufal?" tanya kakak perempuan sulungnya.


Baik kedua orang tuanya maupun kedua kakak perempuannya menatap intens kearah Divia. Mereka menatap bingung sekaligus curiga terhadap Divia.


"Aku sama Naufal memang sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, tapi bukan berarti aku benar-benar melupakan Naufal kan?"


"Jangan bilang kalau kamu berniat untuk mendapatkan Naufal kembali?" tanya kakak perempuan keduanya.


"Memang itu rencanaku. Aku ingin menjalin hubungan lagi dengan Naufal," sahut Divia.


"Apa kamu sudah gila," ucap kakak keduanya itu dengan ketus.


"Memangnya kenapa?" tanya Divia dengan wajah menantangnya.


"Kamu pikir saja sendiri pakai otak kamu. Dulu kamu yang khianati dia demi laki-laki lain. Dulu kamu putusin dia saat dia terpuruk dan sedang dalam keadaan sakit. Kamu ninggalin dia disaat dia butuh kamu. Sekarang ketika dia sudah bahagia dengan kekasihnya, kamu mau menghancurkan hubungan dia dengan kekasihnya. Jangan jadi wanita murahan kamu Divia!"

__ADS_1


Mendengar ucapan demi ucapan dari kakak perempuan keduanya membuat Divia terkejut. Begitu juga dengan kedua orang tuanya dan kakak sulungnya.


"Jangan coba-coba melakukan hal buruk selama diluar rumah Divia. Sudah cukup kamu berbuat ulah dengan menjadi perempuan murahan dengan menjalin hubungan dengan banyak laki-laki. Kamu pacaran dengan Naufal, tapi kamu juga menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Kamu memutuskan Naufal ketika Naufal dalam keadaan tak baik-baik saja." gadis itu berbicara dengan menatap tajam kearah adik perempuannya.


Gadis itu menatap wajah kedua orang tuanya. "Dan untuk Papa sama Mama. Tolong didik putri bungsu kalian ini dengan baik. Jangan biarkan dia melakukan sesuka hatinya. Katakan padanya untuk berhenti dengan rencananya. Dan suruh dia menjauh dari kehidupan Naufal. Jangan ganggu Naufal lagi."


Gadis itu kembali menatap wajah Divia. Kali ini tatapan matanya menatap tajam kearah Divia. Dia benar-benar membenci sifat dan kelakuan buruk Divia.


"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Tapi ingat satu hal! Jika apa yang kamu lakukan itu berakibat fatal sehingga berimbas kepada keluarga kita terutama terhadap hubungan kakak dengan Farhan, maka kakak orang pertama yang akan membalas kamu."


"Untuk keluarga Naufal. Kakak sudah tahu seperti apa keluarganya Naufal. Keluarga Naufal tidak akan tinggal diam jika ada orang yang mengusik mereka. Mereka akan membalas orang-orang yang mengusiknya dengan hal yang sama."


"Jika sampai hubungan kakak dengan Farhan hancur akan perbuatan kamu. Awas saja kamu. Kakak akan benar-benar balas kamu."


Setelah mengatakan itu, gadis itu pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya di lantai dua. Dia ingin bersiap-siap untuk ke kantor.


Sementara kedua orang tuanya dan kakak sulungnya Divia termasuk Divia sendiri terkejut dan syok akan apa yang dikatakan oleh putri keduanya/kakak keduanya/adik pertamanya tersebut.


Naufal bersama dengan keenam sahabatnya sekaligus kakak-kakaknya dan keempat sahabatnya yang membantunya di perusahaan dan Studio musiknya.


Naufal bersama dengan semua sahabat-sahabatnya tengah berada di sebuah cafe langganan dan di sebuah ruangan VVIP.


Naufal sudah menceritakan tentang Divia kepada Barra , Dhafin, Ardian, Davian, Reza, Theo, Nathan, Ricky dan Henry. Begitu juga sebaliknya dengan Arsya.


Ketika mendengar cerita dari Naufal dan Arsya membuat Barra , Dhafin, Ardian, Davian, Reza, Theo, Nathan, Ricky dan Henry terkejut.


Namun setelah itu, mereka semua memberikan ketenangan dan kesabaran kepada Naufal. Mereka semua tahu dan yakin bahwa ini sangat berat untuk Naufal.


"Apa yang akan kamu lakukan terhadap perempuan itu, Fal?" tanya Dhafin.


"Aku tidak akan melakukan apa-apa. Yang akan aku lakukan adalah aku akan menjalani kehidupanku bersama Vanesha seperti biasanya. Masalah perempuan murahan itu, biarkan saja dia melakukan apa yang dia ingin lakukan. Aku sangat yakin kalau apa yang dia lakukan hanya sebentar karena keluargaku tidak akan membiarkan dia melakukan hal menjijikan terhadap hubunganku dengan Vanesha."

__ADS_1


Mendengar ucapan dari Naufal membuat mereka semua menganggukkan kepalanya. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Naufal tentang keluarganya. Anggota keluarganya tidak akan diam saja melihat Naufal disakiti atau diusik hidupnya. Anggota keluarganya akan membalas hal yang sama yang dirasakan oleh Naufal.


"Ya, sudah. Kalau memang seperti itu, kamu tidak perlu memikirkan masalah perempuan itu lagi. Cukup kamu fokus sama kehidupan pribadi kamu, pekerjaan kamu dan Vanesha. Masalah perempuan itu, seperti yang kamu katakan. Biarkan saja apa yang ingin dia lakukan!" Ardian berbicara sembari tangannya mengusap lembut punggung Naufal.


"Ntar dia juga bakal nangis-nangis di hadapan kamu sembari menggumam kata maaf," ucap Reza.


"Hm!" Theo, Nathan, Ricky dan Henry berdehem sembari menganggukkan kepalanya tanda setuju atas ucapan Reza.


"Mending kita bersenang-senang hari ini. Mumpung kita ada disini. Lupakan masalah perempuan menjijikan itu," ucap Barra dengan kejamnya.


"Iya, benar tuh!" seru Nathan, Ricky dan Henry bersamaan sembari mengacungkan jempolnya ke hadapan Naufal.


"Dikarenakan kita sudah berkumpul disini. Semua makanan dan minuman di atas meja ini, biarkan kakak yang bayar. Jika kalian ingin menambah menu makanan dan minuman lain, diperselisihkan!" seru Arsya dengan tersenyum manis menatap satu persatu adik-adiknya yang duduk di sekitarnya.


Mendengar ucapan dari Arsya membuat mereka semua tersenyum lebar, begitu juga dengan Naufal. Mereka semua bahagia karena hari ini mereka bisa makan dan minum sepuasnya tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.


"Wah! Benarkah kakak Arsya?" tanya Davian dan Reza bersamaan.


"Iya, benar!" jawab Arsya.


"Ini nggak mimpi kan?" tanya Dhafin dan Ardian bersamaan.


"Boleh dicoba," jawab Arsya.


"Jika ingin benaran. Kita bisa makan dan minum sepuasnya. Dan bahkan kita bisa pesan ini dan itu sepuas kita!" sertu Nathan dan Ricky.


"Silahkan. Untuk hari ini kalian semua diperbolehkan makan sepuasnya, termasuk untuk adik kesayangan kakak ini." Arsya berucap sembari tangannya mengusap lembut kepala belakang Naufal.


Naufal seketika tersenyum ketika mendengar ucapan dari kakak sepupunya itu. Ditambah lagi ketika merasakan sentuhan di kepala belakangnya.


Setelah itu, mereka semua pun memulai makan dan minum sepuasnya tanpa mengeluarkan biaya sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2