
Davian dan Reza sudah diperbolehkan pulang ke rumah setelah tiga hari di rumah sakit. Sedangkan Naufal sudah tiga hari ini sering melamun. Dirinya sekarang berada di ruang tengah.
"Apa motif orang itu melakukan semua ini padaku dan ada hubungan apa orang itu dengan Daddy? Lalu siapakah orang yang sudah memberikan informasi ini padaku? Apa benar dia?" batin Naufal.
"Kak Elvan. Coba kakak lihat Naufal. Tiga hari ini Naufal sering melamun. Apa yang harus kita lakukan untuk Naufal, kak?" tanya Rayyan.
"Elvan, Rayyan. Kenapa hanya berdiri disini? Temani Naufal. Ajak Naufal bicara. Apa kalian mau Naufal seperti ini selamanya?" tanya Felix saat melihat kedua keponakannya yang berdiri sambil memperhatikan Naufal.
Akhirnya Elvan, Rayyan dan Felix menghampiri Naufal dan duduk disana bersama.
"Naufal." panggil Elvan dan langsung menduduki dirinya di samping Naufal.
Naufal yang merasa dipanggil langsung melihat ke samping. "Kak Elvan," ucap Naufal.
"Dari tadi kakak perhatikan kamu melamun terus? Memangnya Naufal lagi mikirin apa sih?" ucap Elvan sembari tangannya bermain-main di kepala belakang adiknya.
"Banyak yang aku pikirkan kak. Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana untuk menceritakannya. Semua masalah yang aku hadapi ini benar-benar membuatku bingung," jawab Naufal.
"Aku akan bercerita pada kalian. Tapi sebelum aku bercerita, aku ingin paman Felix mengatakan semua tentang pria yang bernama Kendrik Alvaro padaku dan juga kakak-kakakku karena kami bertujuh adalah target pria gila itu. Aku, kak Davian dan kak Reza sudah menjadi korbanya. Sekarang yang tersisa kak Dhafin, kak Barra, kak Ardian dan kak Arsya putra paman. Mungkin mereka akan menjadi target berikutnya. Apa paman akan diam saja? Jadi aku minta pada paman dan juga kak Elvan kumpulkan semua anggota keluarga. Termasuk keluarga Sheehan, Keluarga dari pihak Mommy. Kita berkumpul disini, di mansion ku!" Naufal berucap penuh penekanan.
Setelah mengatakan hal itu, Naufal pun pergi menuju kamarnya meninggalkan mereka di ruang tengah.
***
Di sebuah ruangan yang begitu luas dengan interior yang begitu indah dan mewah terdapat seorang pria paruh baya yang masih terlihat awet muda. Dia adalah Kendrik Alvaro pria yang selalu meneror Naufal dan sudah berulang kali mencelakakannya.
Sekarang ini Kendrik Alvaro sudah memiliki satu rencana bagus untuk menjebak Naufal. Kalau rencananya berhasil, Kendrik akan melakukan sesuatu yang kejam terhadap Naufal. Bahkan rencana kali ini, dirinya sendiri yang akan turun tangan dan tidak melibatkan anak buahnya.
"Albert Alexander. Tunggu pembalasanku. Kau akan kehilangan putra bungsumu. Aku akan membuatmu bersimpuh di kakiku dan memohon padaku agar aku melepaskan putramu dan kau Naufal Alexander, tunggu kedatanganku!"
***
Setelah mendengar permintaan Naufal. Felix langsung membicarakannya pada Albert dan sahabat-sahabatnya. Dan sekarang mereka tengah berada di ruang kerjanya Felix. Mereka tengah membahas tentang putra-putra mereka.
"Jadi putraku Naufal mengatakan hal itu padamu, Felix?" tanya Albert.
"Iya. Albert," jawab Felix.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Kita tidak akan membiarkan putra-putra kita dalam bahayakan, Albert?" tanya Radeon.
"Itu tidak akan pernah terjadi Radeon. Aku tidak akan membiarkan brengsek itu menyentuh putraku. Kalau sampai dia berani menyentuh putraku lagi. Aku sendiri yang akan membunuhnya," ucap Albert.
"Baiklah. Kalau memang itu yang diminta oleh putraku. Kita semua berkumpul di mansionnya. Dan membicarakan masalah ini!" ucap Albert.
"Baik. Kami semua akan kesana. Masalah ini harus segera diselesaikan," saut Adelard dan diangguki oleh yang lain.
***
Ricky, Theo, Henry dan Nathan sedang berada di ruang Studio. Mereka tengah beristirahat setelah satu jam lalu menyelesaikan Rekaman.
"Aku lelah sekali hari ini. Aku ingin makan banyak hari ini!" seru Henry.
"Memangnya kau saja yang lelah Mingtem. Kami juga lelah tahun," ujar Nathan.
"Yak! Apa yang kau katakan barusan, hah?! Kau mau cari mati," ucap Henry sembari memberikan pelototan pada Nathan.
"Diam! Jangan ribut. Kami mau tidur sejenak!!" teriak Theo dan Ricky bersamaan.
Dan itu berhasil membuat Nathan dan Henry mengatub mulut mereka masing-masing. Ricky woo dan Theo melirik kearah kedua sahabatnya itu lalu tersenyum puas dan mereka pun melanjutkan tidur indah mereka dengan tenang. Disaat suasana hening, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar.
TOK..
TOK..
__ADS_1
Nathan yang sedikit lelah dengan terpaksa berdiri untuk membukakan pintu. Pintu pun terbuka.
CKLEK..
"Ada apa?" tanya Nathan.
"Ada keributan diluar Bos," jawab pegawai itu.
"Theo, Ricky, Henry. Hei kalian. Ayo, kita keluar. Ada keributan diluar!" teriak Nathan.
Dan mereka pun berlari keluar. Sampai mereka diluar. Mereka melihat seorang pria memakai masker, topi dan berpakaian hitam.
"Siapa kau dan mengapa membuat keributan disini?!" bentak Theo.
"Theo, Nathan, Ricky, Henry," ucap pria misterius itu sambil menunjuk diri mereka satu persatu.
Sontak membuat mereka kaget dengan apa yang dilakukan oleh pria misterius itu.
"Siapa kau sebenarnya dan dari mana kau mengetahui nama kami?" tanya Ricky penasaran.
"Jadi kalian benar-benar melupakanku ya. Kalian sama sekali tidak mengingatku? Tega sekali kalian padaku, " ucap pria itu sambil menahan tawanya.
"Kami benar-benar tidak tahu siapa kau? Jadi jangan permainkan kami!" ujar Henry.
"Baiklah. Kalau kalian penasaran denganku. Aku akan tunjukkan wajahku kepada kalian." tutur pria itu dan berlahan pria itu membuka maskernya dan topinya. Dan terlihat wajah pria itu.
DEG..
"K-kak Da-mian!" ucap mereka terbata dan dengan suara bergetar.
"Ti-tidak mungkin. Ini pasti mimpi. Kak Damian sudah meninggal. Jadi mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali," tutur Nathan.
Damian hanya tersenyum melihat mereka yang ketakutan. "Ini kakak. Kak Damian. Kakak masih hidup."
"Tapi.. Tapi!" ucap mereka.
"Jadi benaran ini kau, kak?" ucap Ricky lalu menyentuh wajah Damian dan tanpa sadar air matanya pun mengalir.
"Kak Damian!" Ricky langsung memeluk Damian dan disusul oleh Theo, Henry dan Nathan. Mereka pun berpelukan.
"Kalau Naufal mengetahui hal ini, pasti dia sangat bahagia karena dia yang paling terpukul saat mendengar tentang kematianmu kak," tutur Nathan.
"Kalau begitu kita Ke mansion Naufal sekarang?" ajak Damian.
"Itu ide yang bagus. Naufal pasti kaget saat melihat kak Damian!" seru Theo.
"Ayo, tunggu apa lagi!" seru Theo.
Dan akhirnya mereka pun pergi meninggalkan Studio menuju Apartemen Naufal.
***
"Ada masalah apa sebenarnya ini? Kenapa Naufal menyuruh kita semua berkumpul disini?" tanya Krisna Sheehan.
"Kita akan membahas masalah Kendrik Alvaro, Krisna!" jawab Albert.
"A-apa? Si brengsek itu lagi? Mau apa lagi dia? Apa belum puas dia menghancurkan keluarga kita dulu? Dan sekarang dia melakukannya lagi. Bahkan dia berani melibatkan dua keponakanku Naufal dan Arsya," ucap Krisna.
Terdengar suara Bell Apartemen..
TING..
TONG..
__ADS_1
"Biar aku yang membuka pintunya!" seru Liana lalu beranjak dari duduknya menuju pintu utama.
CKLEK..
Pintu tersebut dibuka dan terlihat beberapa orang yang sudah berdiri didepan pintu Mansion tersebut.
"Silahkan masuk Paman, Bibi!" ucap Liana lembut. Lalu mereka semua pun memasuki mansion Naufal.
^^^
Sekarang semua anggota keluarga dan para sahabat telah berkumpul di ruang tengah mansion Naufal. Tinggal menunggu Naufal yang belum keluar dari kamarnya.
"Nah, itu Naufal!" seru Amrita.
Mereka semua menatap Naufal dengan tatapan khawatir. Secara wajah Naufal sedikit pucat. Helena berdiri lalu menghampiri putra bungsunya.
"Naufal. Kamu kenapa sayang? Kenapa wajahnya pucat? Apa kamu sakit, hum?
"Mommy. Bisa tidak kalau bertanya itu satu-satu. Aku bingung harus menjawab yang mana?" protes Naufal yang sedikit kesal dan bibir yang dimanyunkan ke depan.
Sedangkan Helena hanya memperlihatkan senyuman manisnya pada Naufal.
Sedangkan anggota keluarga yang lain juga ikut tersenyum melihat interaksi antara ibu dan anak itu.
"Naufal sayang. Kamu, oke ?" tanya Albert.
"Aku baik, Dad. Tidak perlu khawatir," jawab Naufal.
"Tapi wajah kamu pucat Naufal!" ucap Andhira khawatir.
Helena membawa putra bungsunya untuk duduk di sofa. "Tadi di kamar sakit itu datang lagi menyerangku. Tapi cuma sebentar. Sekarang sudah tidak apa-apa? Kalian tidak perlu khawatir. Sekarang jelaskan padaku, Siapa itu Kendrik Alvaro? Kenapa dia mengetahui semua tentang kalian? Dan dia juga mengetahui tentangku dan kakak-kakakku?" tanya Naufal.
"Baiklah. Sudah saat kalian mengetahui semua ini. Kendrik Alvaro dan mendiang Ayahnya adalah musuh keluarga kita. Lebih tepatnya mereka selalu mencari masalah dengan keluarga kita. Ayahnya adalah musuh dari kakek kalian. Mereka saling bersaing didunia bisnis. Karena ayahnya merasa tersaingi dan selalu berada dibawah, ayahnya melakukan segala cara untuk menghancurkan bisnis kakek kalian. Akhirnya ayahnya berhasil menghancurkan perusahaan kakek kalian. Satu perusahaan yang tidak bisa dia sentuh." Albert berbicara sembari menatap wajah putra-putra dan wajah para sahabat putra bungsunya.
"Perusahaan siapa, Daddy?" tanya Aditya.
"Perusahaan kakek Alexander, kakek kalian. Hanya perusahaan itu yang gagal disentuhnya. Karena kakek kalian sudah mengamankan dan melindungi semua aset-asetnya. Berkat bantuan kakek Alexander, semua perusahaan milik keluarga Ravindra, keluarga Abhitama, keluarga Krishon, keluarga Pratista kembali lagi pada pemiliknya. Hanya satu perusahaan yang tidak bisa kembali. Dikarenakan perusahaan itu telah hangus terbakar. Perusahaan itu adalah perusahaan milik keluarga Carney. Dan kakek Alexander memberikan satu perusahaannya untuk keluarga Carney," ucap Albert.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya, Dad?" tanya Naufal.
"Kakek-kakek kalian mendapatkan bukti tentang kejahatan yang dilakukan oleh ayahnya Kendrik Alvaro dengan bukti itu, pihak kepolisian berhasil mengincarnya dan menjadi buronan. Hanya butuh satu minggu pihak kepolisian berhasil menemukan keberadaan ayahnya. Saat penangkapan ayahnya, terjadilah baku tembak dan mengakibatkan ayahnya tewas dengan luka sepuluh tembakan. Mendengar kabar kematian ayahnya, Kendrik Alvaro murka dan akan membalaskan dendam atas kematian ayahnya. Aksi balas dendam Kendrik Alvaro dimulai lewat Mommy kalian. Kendrik Alvaro menyukai Mommy kalian dan ingin memilikinya. Padahal saat itu Mommy kalian sudah bertunangan dengan Daddy. Usaha Kendrik Alvaro gagal. Ia gagal mendapatkan cinta Mommy kalian dan dia beralih pada bibi kalian, Andhira. Dia mengejar cintanya bibi kalian yang saat itu juga sudah punya calon suami. Karena takdir berpihak pada yang benar. Kami berhasil mendapatkan bukti kejahatannya. Kejahatan yang dilakukannya tidak jauh beda dengan kejahatan yang dilakukan oleh ayahnya. Kami melaporkan Kendrik Alvaro kepolisi dan pihak kepolisian berhasil menangkapnya dan memasukkan kedalam penjara. Dia divonis hukuman penjara selama dua puluh tahun." Albert menatap putra bungsunya.
"Jadi itu alasannya. Kenapa selama ini dia selalu menggangguku dan berulang kali mencelakakanku?" batin Naufal dengan wajah dinginnya.
Terlihat jelas dari raut wajahnya yang ingin sekali membunuh pria itu. Anggota keluarga yang melihat raut wajah Naufal sedikit takut. Mereka takut kalau Naufal nekat melakukan hal yang tidak diinginkan.
"Naufal," panggil Albert.
Tidak ada jawaban dari Naufal. Karena pikirannya sekarang melayang jauh.
"Naufal," panggil Elvan sambil menepuk pelan bahu Naufal dan itu berhasil membuat Naufal tersadar dari lamunannya.
"Ka-kakak!" ucap Naufal terkejut.
"Yak, Naufal. Kenapa akhir-akhir ini kau hobi sekali melamun?" tanya Rayyan.
"Aku tidak melamun, melamunkan Rayyan. Tapi aku sedang memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa menghabisi nyawa pria brengsek itu?" ucap Naufal dingin.
"Naufal. Dengarkan Daddy sayang. Kamu jangan melakukan apapun yang bisa membahayakan nyawamu. Biarkan ini menjadi masalah kami orang dewasa. Kamu tidak perlu melakukan apapun." Albert berusaha meyakinkan putra bungsunya.
"Dengan membiarkan nyawa Daddy sebagai taruhannya. Tidak! Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti Daddy. Aku tidak bisa diam saja disaat Daddy dalam masalah. Dia mengincarku, dia menginginkanku. Jadi aku yang harus menyelesaikannya. Tubuhku ini sudah kebal dengan rasa sakit yang dia berikan padaku selama ini. Berulang kali dia mencelakakanku dan berulang kali pula Tuhan menyelamatkan nyawaku. Kalau memang aku ditakdirkan mati ditangannya, aku pasti akan mati. Tapi kalau aku ditakdirkan mati dengan cara lain, pasti aku akan selamat darinya. Jadi kalian tidak perlu khawatir. Aku sudah lelah dengan semua ini. Daddy, aku ingin hidup tenang. Kalau memang aku ditakdirkan untuk mati, aku sudah siap dan aku ikhlas." Naufal berbicara dengan tatapan matanya yang terlihat begitu lelah.
"Naufal. Jaga bicaramu. Jangan bicara yang tidak-tidak, sayang!" Helena berbicara sedikit meninggikan suaranya lalu kemudian langsung memeluk putra bungsunya dengan air mata yang sudah mengalir.
__ADS_1
Sedangkan Naufal tidak membalas sama sekali pelukan ibunya.
Semua menatap Naufal dengan tatapan khawatir dan takut. Mereka tidak menginginkan hal yang buruk menimpa Naufal. Mereka berharap Tuhan selalu melindunginya.