
Di markas Glodys terlihat beberapa pemuda tampan sedang mempersiapkan sebuah rencana. Mereka adalah Damian dan keenam sahabatnya.
Damian dan keenam sahabatnya sudah mendapatkan 3 dokter hebat, beberapa macam obat yang dibutuhkan dan 4 orang perawat. Semuanya sudah bersiap untuk pergi ke lokasi yang sudah mereka rencanakan.
Damian dan keenam sahabatnya saat tengah bersiap-siap untuk ke rumah sakit untuk membawa pergi ibunya Vanesha.
"Kalian siap?" tanya Damian.
"Kami siap!" jawab Remon, Ardy, Arkan, Salman, Damar dan Armand bersamaan.
"Ardy, Armand! Kalian langsung ke bandara. Tunggu disana bersama 3 dokter dan 4 perawat itu," ucap Damian.
"Baik!" Ardy dan Armand langsung menjawab dengan anggukkan kepalanya.
"Dan untuk Arkan, Salman dan Damar. Kalian bertugas sebagai penculik untuk menculik ibunya Vanesha. Dengan begitu kedua kakak adik itu tidak curiga. Aku sudah mempersiapkan semua. Aku sudah meminta pihak rumah sakit untuk membiarkan kalian masuk. Jadi seolah-olah pihak rumah sakit tidak mengetahuinya. Dan nanti ada beberapa petugas yang pura-pura menyerang kalian. Orang-orang itu adalah orang-orang bayaranku yang menyamar sebagai petugas medis."
"Baik, kami mengerti!"
"Sementara aku dan Remon akan menunggu di tengah jalan dengan menggunakan mobil yang besar sehingga bisa menampung kita semua. Dari sana kita akan langsung ke Bandara."
"Baik!"
"Ya, sudah kalau begitu! Kita berangkat sekarang!"
Setelah mengatakan itu, Damian dan keenam sahabatnya langsung pergi meninggalkan markas untuk menuju lokasi masing-masing.
***
Di kediaman Naufal terlihat ramai dimana anggota keluarga dari pihak Albert dan dari pihak Helena sedang berkumpul di ruang tengah. Mereka tengah membahas dan membuat rencana untuk membebaskan Vanesha dari cengkraman kakak adik Alvaro.
Albert dan Felix sudah berhasil membebaskan Daniel, kakak laki-lakinya Vanesha dari dalam penjara. Semua itu berkat rencana dari Damian yang memintanya untuk mencari pengacara yang hebat dan tidak bisa disentuh oleh siapa pun sekali pun penjahat besar.
Dan untuk saat ini Daniel sang kakak tinggal di kediaman Naufal. Dia juga dilarang untuk keluar rumah demi menjalankan sebuah rencana. Daniel boleh keluar itu pun bersama dengan Naufal ketika menghadiri pernikahan Vanesha dengan Derry. Dengan kata lain, kedatangan Naufal dan Daniel akan menggagalkan pernikahan tersebut.
Itu pun jika pernikahan itu terjadi. Bisa saja sebelum pernikahan itu dilangsungkan, Naufal dan keluarganya sudah terlebih dulu menyelamatkan Vanesha dan Ayahnya.
"Apa rencana selanjutnya, Daddy?" tanya tanya Aryan.
__ADS_1
"Kita tunggu kabar dari Damian. Apa rencananya berhasil," jawab Albert.
Mendengar jawaban dari ayahnya Naufal membuat Daniel penasaran dengan orang yang bernama Damian.
"Ach, maaf Paman!" sela Daniel.
"Iya, nak! Ada apa?"
"Kalau saya boleh tahu. Siapa itu Damian?" tanya Daniel.
Albert tersenyum mendengar pertanyaan dari Daniel. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Damian itulah adalah orang yang sudah membuat kamu bebas dalam penjara. Dan dia juga yang sudah membongkar semuanya tentang kehidupan kalian selama ini. Tentang apa yang dilakukan oleh kedua kakak adik itu kepada kamu dan keluarga kamu. Terutama Vanesha calon menantu perempuanku."
"Jika bukan berkat Damian. Kita semua tidak akan tahu kejadian yang sebenarnya," ucap Felix.
Seketika air mata Daniel meluncur membasahi pipinya. Dirinya benar-benar tidak mengira bahwa keluarga besar Naufal begitu peduli dengan keluarganya. Mereka rela melakukan semuanya demi menyelamatkan adik perempuannya dan kedua orang tuanya. Bahkan dirinya yang saat ini sudah bebas dari penjara.
Melihat Daniel yang tiba-tiba menangis membuat Albert dan keluarganya paham. Saat ini Daniel bersedih karena rasa syukur dan bahagia karena ada yang menolong keluarganya. Dan orang itu adalah keluarga dari laki-laki yang begitu dicintai oleh adik perempuannya.
Albert tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya. "Damian dan keenam sahabatnya saat ini merencanakan untuk membawa pergi ibu kamu dari rumah sakit itu," sahut Albert.
"Cuma cara Damian dan keenam sahabatnya itu membawa ibu kamu dari rumah sakit dengan cara menculiknya. Jadi dengan begitu kakak adik Alvaro itu tidak curiga," ucap Kishan menambahkan.
Seketika Daniel terkejut tak percaya atas apa yang dia dengar. Ibunya akan dibawa pergi oleh Damian dan keenam sahabatnya itu. Jadi dengan kata lain, ibunya akan terlepas dari kedua laki-laki brengsek itu.
"Benarkah, Paman?" tanya Daniel.
"Benar, nak!"
"Dengan hilangnya ibu kamu di rumah sakit, ini satu peluang buat ayah kamu untuk melawan. Ayah kamu bisa melawan kedua kakak adik Alvaro itu dengan tuduhan tidak becus menjaga dan melindungi ibu kamu. Begitu juga dengan Vanesha." Albert berbicara dengan menatap wajah Daniel.
"Tuhan. Aku mohon, lancarkan rencana yang sedang dijalankan oleh laki-laki yang bernama Damian bersama keenam sahabatnya," batin Daniel.
Ketika mereka semua tengah membahas rencana selanjutnya sembari menceritakan tentang Damian kepada Daniel. Mereka semua tiba-tiba dikejutkan dengan suara dering ponsel milik Albert.
Albert yang mendengar dering ponselnya langsung mengambil ponselnya yang kebetulan ada di atas meja. Tatapan matanya menatap ke layar ponselnya. Dan dapat Albert lihat tertera nama 'Damian' disana.
__ADS_1
Seketika Albert tersenyum. Setelah itu, Albert menjawab panggilan dari Damian.
"Hallo, Damian!"
"Jika Paman dan yang lainnya ingin memulai permainan, silahkan! Ibunya Vanesha sudah aman sekarang. Saat ini kami di dalam pesawat sedang menuju ke lokasi yang sudah kami siapkan!"
Mendengar penuturan dari Damian membuat Albert tersenyum bahagia.
"Baiklah, nak!"
Tutt.. Tutt..
Damian langsung mematikan panggilannya setelah selesai memberikan tentang rencananya yang telah berhasil kepada Albert.
"Damian bicara apa, Dad?" tanya Elvan.
"Damian dan keenam sahabatnya sudah berhasil membawa ibunya Daniel dan Vanesha keluar dari rumah sakit itu."
Mendengar penuturan dari Albert membuat mereka semua tersenyum bahagia, tak terkecuali Daniel.
"Pa-paman, apa itu benar?" tanya Daniel.
"Iya, nak! Seperti itulah yang dikatakan oleh Damian."
Daniel tak kuasa membendung kesedihannya. Dirinya benar-benar bahagia saat ini. Ibunya terbebas. Dan sebentar lagi adik perempuannya akan terbebas dari kedua bajingan itu.
^^^"Kita harus secepatnya memberitahu Naufal agar Naufal bisa langsung bergerak," usul Ammar.^^^
"Itu sudah pasti Ammar. Ini yang ditunggu oleh Naufal sejak kemarin. Dia ingin bertindak, namun takut kedua bajingan itu akan lebih menyakiti Vanesha," ucap Albert.
"Semoga Naufal berhasil membebaskan Vanesha," ucap Athaya.
"Semoga Naufal bisa kembali merebut miliknya," sahut Tamara.
Semua anggota keluarga, baik anggota keluarga Alexander maupun keluarga Sheehan berharap kesayangannya berhasil membawa Vanesha ke dalam pelukannya. Mereka semua berharap Naufal berhasil memberikan pelajaran untuk kedua kakak adik Alvaro itu atas apa yang telah dilakukan keduanya.
Dan mereka semua juga berharap masalah selesai dengan kedua kakak beradik Alvaro itu masuk penjara atau mati. Hanya dua itu pilihan yang saat ini tersedia untuk kedua kakak adik Alvaro tersebut. Tidak ada pilihan lain.
__ADS_1