
Saat mereka sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Mereka dikejutkan oleh seseorang.
"Maaf mengganggu," sapa seorang pemuda pada mereka.
"Ya. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Rayyan.
"Begini saya mendapatkan telepon dari keluarga saya dan mengatakan kalau adik saya dirawat disini. Tapi saya tidak tahu letak kamarnya. Keluarga saya bilang kalau adik saya di rawat kamar 313. Bisa bantu saya?" mohon pemuda itu.
"Ooh, tentu. Mari ikut saya," ucap Rayyan.
Kemudian Rayyan dan pemuda itu pun berlalu pergi meninggalkan ruang rawat Naufal. Tinggallah Rehan Sheehan dan Daffa Alexander.
"Maafkan saya Tuan kalau saya sudah merepotkan Tuan," ucap pemuda itu.
"Tidak apa. Santai saja," jawab Rayyan tanpa menaruh curiga sama sekali.
Ketika Rayyan sedikit lengah. Pemuda tersebut langsung melancarkan rencananya.
BUGH..
BRUUKK..
Pemuda itu memukul Rayyan dari belakang dan mengakibatkan Rayyan jatuh terkapar tak sadarkan diri lalu kemudian pemuda itu menyeret Rayyan ke dalam salah satu ruangan yang ada di sekitar mereka.
Setelah itu, pemuda itu mengambil ponsel Rayyan dan mencari nama kontak Daffa.
"Ketemu!" seru pemuda itu lalu pemuda mengirimkan sebuah pesan kepada Rehan.
Di depan ruang rawat Naufal. Daffa sibuk dengan ponselnya lalu terdengar suara pesan masuk.
From : Kak Rayyan
Daffa. Pergilah ke parkiran sekarang. Papamu menyuruhmu ke sana. Seperti dia butuh bantuan.
Setelah mendapatkan pesan dari Rayyan. Daffa langsung pergi. "Rehan. Kakak pergi ke parkiran sebentar ya. Barusan Kak Rayyan mengirim pesan padaku katanya Papa ada di parkiran dan butuh bantuanku." Daffa meminta izin pada Rehan.
"Baiklah. Jangan lama-lama, Kak." Rehan menjawab sembari mengangguk.
Setelah mendapatkan izin dari Rehan. Daffa pun pergi meninggalkan Rehan sendirian. Dan kini tinggallah sendirian.
"Tersisa satu orang. Lakukan dengan baik!"
"Baik!"
Rehan sendirian sekarang. Kemudian datanglah seseorang yang berpakaian Dokter menghampirinya.
"Maaf. Apa anda salah satu keluarga dari pasien Naufal?" tanya orang itu.
"Ya. Benar," jawab Rehan.
"Bisa ikut ke ruangan saya sebentar. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan," ucap orang itu.
Tanpa menaruh curiga sama sekali. Rehan pun mematuhinya. Lalu mereka pun pergi meninggalkan tempat dimana Naufal dirawat.
"Sekarang giliranku," ucap pria itu.
Pria itu melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Naufal. Saat ini pria tersebut sudah berada di depan ruang rawat Naufal.
CKLEK.
Pria tersebut membuka pintu lalu memasuki ruangan dimana Naufal di rawat.
"Hei, Siapa anda? Kenapa berada disini?" tanya Helena yang kaget melihat seorang pria berpakaian hitam masuk ke ruangan putranya.
"Sialan. Ternyata masih ada orang yang menjaganya. Sudah terlanjur. Lebih baik aku urus wanita ini terlebih dahulu," batin pria itu dan menghampiri wanita tersebut.
"Mau apa anda? Lebih baik anda pergi dari sini!" bentak Helena dengan suara yang sedikit keras.
Mendengar teriakan dari Helena membuat Naufal terbangun. Naufal membelalakkan matanya saat melihat ibunya sedang terpojok di sebuah dinding dengan seorang pria.
Naufal seketika melepaskan infus yang tertancap di tangannya dengan paksa lalu kemudian menarik selang infus itu dari tabung infus tersebut.
Setelah itu, Naufal turun dari ranjangnya dan menghampiri pria itu.
Naufal langsung melilitkan selang tersebut ke leher pria tersebut dengan sangat kuat kemudian menarik selang itu dengan kuat sampai pria itu kesulitan bernafas.
"Mommy. Keluar dari sini dan cari bantuan!" seru Naufal.
"Tapi, Naufal."
"Buruan Mommy!" teriak Naufal.
Dan pada akhirnya ibunya menuruti apa yang dikatakannya. Helena pun pergi.
"Siapa kau? Pasti kau suruhan dari si brengsek Kendrik Alvaro kan?" teriak Naufal.
"Kalau iya, kenapa?"
Seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut dan langsung menyerang Naufal.
JLEB..
"Aaakkhhh."
Orang itu menancapkan suntikan tepat di samping leher Naufal dan mengakibatkan Naufal meringis kesakitan. Dan seketika tubuh Naufal jatuh lemah dan tak sadarkan diri.
"Ayo, angkat dia buruan. Kita harus pergi dari sini sebelum mereka kembali," ucap pria itu.
__ADS_1
mereka pun segera membawa Naufal pergi dari ruangan itu.
^^^
Di sisi lain, Helena tengah berlari seperti orang kesetanan. Tanpa disadarinya dirinya menabrak beberapa orang. Salah satunya adalah suaminya sendiri.
"Sayang kau kenapa?" tanya Albert saat melihat istrinya ketakutan lalu setetes air mata jatuh dari matanya.
"Ayo, buruan! Kita harus ke ruang rawat Naufal. Ada orang yang ingin mencelakainya." Helena berbicara dengan bibir yang bergetar.
Mendengar ucapan dari Helena, mereka pun segera berlari menuju ruang rawat Naufal.
BRAKK..
Mereka membuka pintu ruang rawat Naufal dengan paksa. Mereka semua terkejut karena Naufal sudah tidak ada di ruang tersebut.
"Kita terlambat Daddy," ucap Elvan.
"Naufal!" teriak Helena.
"Mom." Aditya memeluk ibunya.
"Pasti ini ulahnya Kendrik Alvaro!" seru Felix.
"Kau benar, Felix. Pasti dia. Siapa lagi yang berani dengan keluargaku selain brengsek itu?" Albert benar-benar marah saat ini.
"Kenapa orang-orangnya Kendrik bisa masuk ke ruangan ini? Bukannya yang menjaga ada tiga orang?" tanya Nirvan Sheehan.
"Oh iya. Kemana perginya ketiga bocah itu? Disuruh jagain. Malah kelayapan," ucap Aditya kesal.
"Ada apa ini? tanya Andhira yang datang bersama Liana.
"Naufal diculik, Bi. Ada orang yang masuk dan menyerang Mommy dan Naufal," jawab Elvan.
"Apa?" teriak Andhira. "Kak Helena, maafkan aku. Seharusnya aku tidak meninggalkan kakak," ucap Andhira.
"Aku juga minta maaf, Mom." Liana berbicara dengan suara yang bergetar. Dan dirinya sudah menangis.
"Sudahlah. Ini bukan salah kalian. Walaupun kalian tetap ada disini. Hal ini pasti akan terjadi juga. Ini semua sudah direncanakan olehnya. Rayyan, Rehan dan Daffa mereka juga tidak ada disini. Tidak mungkin mereka pergi begitu saja tanpa izin," ucap Albert.
Elvan menghubungi adiknya Rayyan. Panggilan tersambung. Tapi tidak di angkat oleh adiknya itu.
"Aish. Rayyan kau dimana?" Elvan tampak khawatir akan adiknya.
"Itu Rehan!" teriak Zivan.
Mereka menghampiri Rehan yang terlihat sedikit kesakitan.
"Rehan. Kau tidak apa-apa sayang?" tanya Kishan.
"Aku tidak apa-apa, Pa. Hanya sedikit sakit di belakang leherku. Sial. Ternyata Dokter itu itu telah menipuku "gerutu Rehan.
"Baiklah Paman," jawab mereka bersamaan dan mereka pun pergi.
"Elvan. Kau cari adikmu Rayyan. Daddy takut terjadi sesuatu padanya." suruh Albert.
Saat Elvan ingin melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang rawat Naufal, tiba-tiba mereka dikejutkan suara orang terjatuh.
BRUKK..
"Rayyan!" teriak mereka bersamaan.
Rayyan jatuh pingsan tepat di depan ruang rawat Naufal dengan luka di kepalanya. Mereka mengangkat tubuh Rayyan dan menidurinya di ranjang.
"Brengsek kau Kendrik. Kau sudah berani menyakiti kedua putraku. Tunggu pembalasanku. Kalau putra bungsuku kenapa-kenapa. kau habis ditanganku." Albert berbicara dengan nada yang benar-benar emosi.
***
Mereka semua telah berkumpul di mansion Naufal. Dikarenakan keadaan Rayyan tidak terlalu parah. Hanya luka lecet di dahinya. Serta keadaan Rehan dan Daffa juga baik-baik saja. Jadi mereka memutuskan untuk kembali ke mansion.
Pikiran mereka hanya tertuju pada seseorang yaitu Naufal. Mereka semua benar-benar mengkhawatirkan Naufal. Mereka tidak tahu bagaimana keadaan Naufal sekarang. Helena sebagai seorang ibu tidak kuasa menahan tangisnya.
"Seharusnya Mommy tidak meninggalkan Naufal sendirian. Mommy melihat dengan jelas, bagaimana Naufal mencekik leher pria itu dengan selang infusnya? Dan Mommy juga melihat darah yang menetes dari tangannya Naufal," lirih Helena.
Elvan beranjak dari duduknya dan berpindah duduk di samping ibunya. Kemudian Elvan memeluk ibunya dengan penuh kasih.
"Mommy sudahlah. Jangan menyalahkan diri Mommy sendiri. Naufal melakukan ini untuk melindungi Mommy. Naufal tidak mau Mommy kenapa-kenapa?" Elvan berusaha menghibur ibunya.
Disaat mereka sedang dilanda kesedihan dan kekhawatiran tentang sibungsu. Tiba-tiba terdengar suara ponsel yang berbunyi. Ponsel itu milik Albert. Albert mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Nomor siapa ini," batin Albert.
"Dari siapa, Albert?" tanya Felix.
"Nomornya tidak dikenal," jawab Albert.
"Angkat saja Kak. Siapa tahu penting? Siapa tahu sibrengsek itu yang menghubungimu? Dan jangan lupa di Loudspeaker biar kami bisa mendengarnya juga!" seru Felix.
Albert pun menjawab panggilan tersebut.
"Hallo," jawab Albert.
"Hallo, Albert. Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu saat ini, hah? Aku dengar usahamu makin sukses dan berkembang. Aku salut padamu Albert. Ditambah lagi kau memiliki putra-putra yang sangat tampan. Terutama putra bungsumu Naufal Alexander. Sifatnya sama persis sepertimu. Makanya kenapa aku ingin sekali bermain-main dengannya."
"Brengsek! Dimana putraku? Kau apakan dia, hah?! Kalau terjadi sesuatu pada putraku, aku akan membunuhmu Kendrik Alvaro!" bentak Albert.
"Tenang, Albert. Untuk saat ini aku belum menyentuh putramu, karena permainan akan dimulai saat semuanya sudah berkumpul dan ikut bermain denganku disini."
__ADS_1
"Apa maksudmu, Kendrik!" bentak Felix.
"Felix Ravindra. Ternyata kau juga berada di sana ya. Aku kagum dengan persahabatan kalian."
"Jangan bertele-tele, Kendrik. Apa maksud dari perkataanmu barusan?" tanya Felix.
"Apa yaa.. eeemmm? Tunggu saja kejutan dariku."
Setelah selesai mengatakan kata-kata terakhirnya, Kendrik Alvaro langsung memutuskan panggilannya tersebut.
TUTT..
TUTT..
"Daddy. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak bisa membiarkan laki-laki itu menyakiti Naufal. Kita harus segera bertindak, Dad!" seru Aditya.
"Kau sabarlah Aditya. Kita tidak bisa sembarangan bertindak. Bisa-bisa nyawa Naufal taruhannya," jawab Albert lembut.
"Justru nyawa Naufal sekarang ini dalam bahaya kalau kita hanya diam saja tanpa pergerakan sama sekali. Daddy tidak dengar barusan apa yang dikatakan pria brengsek itu? Dia akan bermain-main dengan Naufal setelah semuanya berkumpul. Apa kalian tidak menyadari hal itu? Apa kalian mau putra bungsu kalian mati di tangannya?!" teriak Aditya di depan Albert dan Felix.
"Aditya!" bentak Elvan. "Jaga ucapanmu. Kau jangan pernah meninggikan nada bicaramu di depan Daddy dan Paman Felix."
Aditya tidak memperdulikan amarah kakaknya. Yang ada di pikirannya sekarang adalah adiknya kesayangannya. Bagaimana cara menyelamatkan adiknya itu?
"Kalian ini bodoh atau pura-pura bodoh, hah? Apa kalian tidak juga mengerti maksud dari ucapan pria itu?!" bentak Aditya. "Ah, sudahlah. Aku tidak mau berdebat dengan kalian. Kalau kalian masih mau duduk disini dengan santai, silahkan. Aku sendiri yang akan pergi menyelamatkan Naufal. Aku tidak peduli. Sekalipun nyawaku sebagai taruhannya. Demi Naufal aku rela melakukannya. Naufal sudah banyak menderita selama ini dan dia selalu menangis. Aku tidak akan pulang ke rumah sebelum aku berhasil menemukannya." Aditya berbicara dengan wajah sedihnya.
Setelah itu, Aditya langsung pergi meninggalkan semua anggota keluarganya.
"Aditya berhenti!" teriak Elvan.
Sedangkan Aditya tetap melangkahkan kakinya dan mengabaikan teriakan kakaknya itu.
Elvan pun tidak tinggal diam. Dirinya berusaha menghalangi adiknya untuk tidak pergi dan bertindak bodoh. Elvan melayangkan satu pukulan tepat mengenai wajah adiknya.
BUGH..
"Aakkhh." Aditya meringis.
"Elvan!" teriak Albert dan Helena.
Mereka semua terkejut atas apa yang mereka lihat. Ini adalah yang pertama kali seorang Elvan memukuli adiknya, Aditya. Karena sepengetahuan seluruh anggota keluarga, hubungan Elvan dan ketiga adik-adiknya sangatlah kompak dan juga harmonis.
Elvan memegang kedua bahu Aditya dan berusaha menenangkan adiknya.
"Kakak tahu kau sangat sedih atas apa yang terjadi pada Naufal. Kakak dan yang lainnya juga merasakannya. Tapi kita tidak bisa buru-buru, Aditya. Kita harus membuat rencana terlebih dahulu untuk melawan pria brengsek itu." Elvan berbicara lembut sambil menatap manik hitam adiknya itu.
Aditya menepis kasar kedua tangan Elvan yang berada di bahunya. "Aku tidak peduli. Seperti yang aku katakan barusan. Aku siap memberikan nyawaku untuk menyelamatkan adikku. Tidak sepertimu yang hanya bisa tenang, sabar. Sedang adikmu di luar sana tidak tahu bagaimana keadaannya? Adikmu baru saja melakukan operasi di bagian kepalanya. Lalu pria brengsek itu menculiknya di rumah sakit. Bagaimana kalau ternyata pria itu menyiksa Naufal. Seperti yang dia katakan kalau dia ingin bermain-main dengan Naufal. Apa kalian semua tidak mikir, kondisi Naufal saat ini. Kelemahan Naufal ada pada jantungnya. Bagaimana kalau pria brengsek itu mengetahuinya. Lalu menyiksa Naufal tepat di jantungnya. Apa kalian semua masih bisa tenang dan mengatakan sabar!" teriak Aditya
Setelah mengatakan hal itu di depan Elvan. Aditya pun beranjak pergi meninggalkan mereka semua.
***
Keesokkan harinya, tepatnya sore hari. Dimana keenam kakak-kakaknya Naufal baru saja menyelesaikan tugas mereka di kantor masing-masing.
Saat dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing. Mobil mereka dijegat oleh beberapa orang. Dan mengakibatkan perkelahian diantara mereka.
Namun naasnya, mereka kalah dan berhasil dibawa pergi oleh orang yang tidak mereka kenal. Dan mereka bertemu di satu tempat.
"Kakak," panggil Reza dan Davian saat mereka melihat keempat kakak mereka yang berada di tempat yang sama
"Reza, Davian!" teriak mereka yang sama terkejutnya.
"Siapa kalian? Dan kenapa kami dibawa kemari?" teriak Arsya yang berusaha melepaskan diri dari orang-orang yang membawanya dan kelima sahabatnya.
"Lepaskan!" teriak Reza.
"Diam!" bentak anak buahnya Kendrik lalu memukuli bagian belakang kepala Reza.
BUGH..
"Reza!" teriak mereka.
Reza tidak sadarkan diri. Lalu kemudian mereka diseret ke sebuah ruangan bersebelahan dengan ruangan dimana Naufal berada.
Setelah sampai di depan ruangan tersebut. Para anak buahnya Kendrik mendorong Arsya dan kelima adik-adiknya.
"Masuk!" bentak pria itu.
Kini Arsya dan kelima adik-adiknya sudah berada di dalam ruangan. Setelah para anak buahnya Kendrik mengunci pintu ruangan tersebut.
"Reza," panggil mereka. Mereka semua sangat mengkhawatirkan Reza.
"Sebenarnya mereka itu siapa? Dan kenapa mereka membawa kita kemari?" tanya Davian bingung.
"Eugh." terdengar suara lenguhan dari bibir Reza.
"Reza," panggil mereka. Berlahan Reza membuka matanya.
"Syukurlah kau sudah sadar. Kau baik-baik saja?" tanya Arsya.
"Aku baik-baik saja, Kak. Ini dimana?" tanya Reza.
"Kita juga tidak tahu Reza," jawab Dhafin.
"Apa orang yang menculik kita itu orang yang sama yang menculik Naufal?" tanya Ardian.
"Bisa jadi Ardian. Naufal kan pernah cerita pada kita kalau orang itu mengincar kita semua. Tapi korban pertama adalah Naufal." Barra berbicara sembari membenarkan ucapan Ardian.
__ADS_1
"Tapi Naufal dimana? Orang itu mengurung Naufal di ruangan yang mana? Aku takut Naufal kenapa-kenapa?" Davian sangat mengkhawatirkan Naufal.
"Orang itu benar-benar gila," umpat Barra.