Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Awal Kemenangan


__ADS_3

Naufal saat ini berada di ruang tengah. Dirinya saat ini tengah berbahagia karena telah membuat kedua kakak beradik Alvaro itu kehilangan perusahaan dimana perusahaan tersebut yang selalu mereka banggakan ketika menekan keluarga Vanesha sehingga membuat Vanesha dan keluarganya tidak bisa berbuat apa-apa.


Beberapa jam yang lalu, tangan kanannya mengabari dirinya akan kehancuran perusahaan milik Alex Alvaro dan Derry Alvaro. Perusahaan milik kedua kakak beradik itu mengalami ledakan yang cukup dasyat sehingga membuat perusahaan itu hangus terbakar dilalap api. Dalam kejadian itu, sekitar 25 karyawan dan karyawati meninggal dunia karena tidak berhasil menyematkan diri.


Sementara untuk Alex dan Derry ketika mendengar ledakan pertama langsung berlari keluar dari perusahaan ALx Enterprise guna menyelamatkan diri.


"Tidak ada lagi yang bisa kalian sombongkan untuk menekan orang-orang lemah. Sudah waktunya kalian pensiun dari dunia bisnis dan menjemput kemiskinan kalian," ucap Naufal.


Ketika Naufal tengah menikmati kebahagiaannya. Tanpa Naufal sadari, anggota keluarga sejak tadi tersenyum menatap dirinya yang sejak tadi tersenyum di ruang tengah. Mereka semua meyakini bahwa kesayangannya itu tengah berbahagia akan pembalasannya yang telah dilakukan tiga hari berturut-turut.


"Pasti saat ini Naufal sedang bahagia karena pembalasannya berjalan sesuai keinginannya," sahut Arsya.


"Itu sudah jelas, Arsya! Coba lihat wajahnya. Dari wajahnya saja terlihat kalau Naufal begitu menikmati pembalasannya," sela Aditya.


"Naufal benar-benar menikmatinya!" seru Pasya, Elvan, Rayya dan para sepupunya yang lain.


Bukan hanya para kakak dan kakak sepupunya yang ikut senang melihat kebahagiaan Naufal. Kedua orang tuanya, Paman dan Bibinya juga ikut merasakan kebahagiaan ketika melihat raut bahagia Naufal.


Setelah puas mereka memperhatikan Naufal dari jauh. Akhirnya mereka semua memutuskan untuk menghampiri Naufal yang saat ini masih asyik dengan dunianya.


Kini mereka semua sudah duduk cantik di sofa ruang tengah dengan Helena yang duduk di samping putra bungsunya.


Helena tersenyum melihat wajah tampan, wajah manis dan wajah menggemaskan putra bungsunya itu ketika lagi tersenyum. Menurut Helena, wajah putra bungsunya itu seperti anak kecil berusia empat tahun.


Dikarenakan sudah tidak sabar ingin mengetahui tentang pembalasan putranya itu, Helena pun mengganggu putranya dengan cara membelai lembut kepala belakang putranya itu.


Seketika Naufal terkejut ketika merasakan sentuhan di kepala belakangnya. Berlahan Naufal mengalihkan pandangannya ke samping. Dapat dilihat olehnya wajah cantik ibunya yang saat ini tersenyum menatap dirinya.


"Aish, Mommy! Mengganggu saja," ucap Naufal kesal lalu kembali menatap ke depan.


Naufal seketika terkejut ketika melihat semua anggota keluarganya sudah duduk cantik di sofa dengan menatap dirinya.


"Aish! Kenapa kalian semua menatapku seperti itu?" tanya Naufal kesal.


"Kita semua ingin tahu tentang pembalasan kamu itu " sahut Alfan.


"Berhasil atau justru gagal," ucap Tamara.


"Pasti gagallah," ledek Aryan.

__ADS_1


"Seorang Naufal Alexander kan cemen," ledek Dylan.


Mendengar ledekan dari Aryan dan Dylan membuat Naufal seketika mendengus. Dan jangan lupa tatapan matanya yang menatap tajam kearah kedua kakak sepupunya itu.


"Kalau aku punya ilmu sihir. Sudah aku buat kalian menghilang dari sini dan terdampar di planet Pluto," ucap Naufal dengan bibir yang bergerak-gerak mengabsen kumpulan penghuni kebun binatang.


"Buktinya saat ini kamu tidak memiliki ilmu sihir apapun," ejek Aryan.


"Jadi buang semua hayalanmu itu. Dan sadarlah akan dunia nyatamu," sahut Dylan.


"Yak! Kakak Aryan, Kaka Dylan. Kalian berdua benar-benar menyebalkan ya!" teriak Naufal.


"Hahahahaha." Aryan dan Dylan tertawa keras karena telah berhasil membuat adiknya itu kesal akan perlakuannya itu.


Sementara anggota keluarga lainnya tersenyum gemas melihat kekesalan Naufal dan geleng-geleng kepala melihat sifat usik Aryan dan Dylan.


"Bagaimana pembalasannya selama tiga hari ini, hum?" tanya Albert kepada putra bungsunya.


Mendapatkan pertanyaan dari ayahnya membuat Naufal langsung melihat kearah ayahnya itu. Detik kemudian, Naufal tersenyum.


"Sangat memuaskan, Daddy!"


"Kalau Daddy boleh tahu. Apa yang kamu lakukan terhadap kedua kakak beradik itu?" tanya Albert.


"Apa mereka tahu bahwa pelakunya adalah kamu?" tanya Ammar sang Paman.


"Sampai detik ini kedua manusia bodoh itu belum mengetahui siapa pelakunya. Jangankan pelaku peledakan perusahaan mereka. Pelaku penculikan ibunya Vanesha dan bebasnya kak Daniel, sampai detik ini mereka belum mengetahuinya." Naufal berucap sembari tersenyum bahagia.


"Jadi maksud kamu. Alex selaku kakak dari Derry Alvaro itu sudah tahu bahwa ibunya Vanesha diculik dan Daniel telah bebas?" tanya Zivan.


"Iya. Si bodoh itu sudah tahu, tapi tidak tahu siapa pelakunya." Naufal tersenyum ketika mengatakan itu.


Mendengar jawaban demi jawaban dari Naufal tentang pembalasannya terhadap dua manusia yang sudah menghancurkan keluarga Naladhipa tersenyum penuh kebahagiaan dan kemenangan. Mereka semua tidak menyangka jika cara balas dendam yang dilakukan oleh Naufal begitu rapi sehingga membuat para musuh kesulitan untuk mencari tahu pelaku sebenarnya.


"Daddy bangga sama kamu. Pembalasan yang kamu lakukan itu sangat luar biasa."


"Aku seperti ini juga belajar dari Daddy. Rencana yang aku buat itu aku ambil dari rencana-rencana yang belum pernah Daddy lakukan sebelumnya. Jika sebelum Daddy melakukan rencana A, maka aku mengubahnya menjadi rencana B. Hanya merubah sedikit saja sehingga dengan begitu para musuh tidak mudah untuk menyelidikinya."


Lagi-lagi mereka semua tersenyum bahagia dan bangga akan kecerdasan dan kelicikan Naufal dalam aksi balas dendamnya.

__ADS_1


***


Di kediaman Alvaro terlihat kedua kakak beradik yaitu Alex dan Derry saat ini terlihat sedang marah. Keduanya menghajar beberapa anggotanya yang selamat dalam ledakan tersebut. Mereka menumpahkan semua kemarahannya melalui para anak buahnya.


"Brengsek!"


"Siapa orang itu!


"Aarrgghh!" Alex dan Derry berteriak.


Flashback On


"Kakak janji sama kamu kalau kamu akan tetap menikah dengan Vanesha."


"Terima kasih kak."


Ketika Alex dan Derry sedang saling memberikan kekuatan, tiba-tiba datang empat anak buahnya sembari berteriak.


"Bos, cepat keluar! Selamat diri kalian. Ada Bom di perusahaan ini!"


Mendengar teriakkan dan perkataan dari keempat anak buahnya membuat Alex dan Derry terkejut. Mereka benar-benar syok mendengarnya.


"Bos, buruan! Tinggalkan perusahaan ini! Selamat diri kalian, Bos!" teriak keempat anak buahnya itu.


Seketika Alex dan Derry tersadar, lalu mereka berdua sembari berpegangan tangan berlari keluar meninggalkan perusahaan.


"Kalian juga. Buruan keluar!"


Para karyawan dan karyawati berlari menuju pintu keluar untuk menyelamatkan diri dari ancaman Bos tersebut.


DUUAAARRRR..


Seketika terdengar ledakan yang cukup keras sehingga membuat beberapa karyawan dan karyawati yang baru tiba di depan pintu masuk perusahaan terlempar. Begitu juga dengan Alex dan Derry.


Flashback Off


"Kak, kita tidak bisa berdiam seperti ini. Kita harus cari tahu siapa orang itu," ucap Derry.


"Kau benar, Derry. Kita harus cari tahu siapa orang yang sudah meledakkan perusahaan kita. Setelah kita mendapatkan identitas orang itu. Kita akan balas dengan cara yang sama," sahut Alex dengan tatapan amarahnya.

__ADS_1


"Harus seperti itu kak. Pembalasan kita harus sesuai dengan apa yang orang itu lakukan terakhir perusahaan kita," ucap Derry.


Dan pada akhirnya, Alex dan Derry bekerja sama untuk mencari pelaku atas ledakan perusahaan miliknya, walau nyatanya sampai kapan pun keduanya tidak akan pernah bisa untuk mendapatkan identitas dari sang pelaku.


__ADS_2