
Semua anggota keluarga berkumpul diruang makan, kecuali Naufal.
"Naufal. Kamu mau kemana?" tanya Elvan ketika melihat adiknya tengah melangkahkan kaki menuju ruang tamu.
"Aku mau ke Studio kak. Sudah lama aku tidak ke Studioku. Aku kasihan pada mereka yang kerepotan mengurus Studio itu. Sedangkan aku malah asyik-asyiknya nyantai di rumah," jawab Naufal.
Mereka semua tersenyum. Mereka semua tahu, Naufal adalah laki-laki keras kepala. Laki-laki yang pekerja keras sama seperti Ayahnya.
Laki-laki yang tidak mau menyusahkan orang lain, walaupun orang tersebut tulus melakukannya.
"Kau sibuk dan fokus sama Studiomu saja. Bagaimana dengan yang lainnya? Usahamu bukan di Studio saja kan? Avana Gym, Everest Boxing, dan Perguruan MTF mu mau kau apakan? Apa akan kau biarkan begitu saja, huh? Belum lagi NFL Corp," ucap Aditya bertubi-tubi.
DEG..
SKAKMAT..
Naufal tidak bisa berkata-kata apa lagi. Memang benar apa yang dikatakan kakaknya itu. Dirinya terlalu fokus sama satu pekerjaannya yaitu STUDIO tanpa memikirkan pekerjaannya lain yang sudah menantinya.
Seketika ekspresi wajahnya berubah menjadi sedih. Mereka yang melihatnya sontak berubah menjadi khawatir, lalu Helena berdiri dan menghampiri putra bungsunya.
"Kamu kelihatan jelek kalau seperti ini, sayang. Anak-anak Mommy semuanya tampan-tampan tidak jelek seperti wajah kamu ini," goda Helena.
"Mommy." Naufal mempoutkan bibirnya yang membuat orang tersenyum.
Helena menggandeng tangan putranya dan membawanya duduk di sofa. "Mau tidak kamu bercerita kepada Mommy?" Helena memperlihatkan senyuman menggodanya. "Ya, itupun kalau kamu masih sayang sama Mommy." Helena yang pura-pura merajuk.
Mereka yang ada di ruang tengah hanya bisa menahan tawanya melihat interaksi antara ibu dan anak.
"Aaiiisshh! Mommy tidak malu apa dilihatin oleh mereka semua," ucap Naufal yang melihat ibunya yang terus menggodanya.
"Kenapa harus malu? Biarkan saja mereka melihatnya. Lagian mereka kan punya mata. Jadi mereka bebas melihatnya," saut Helena.
"Naufal. Sekarang jawab pertanyaan kakak yang barusan!" seru Aditya.
"Yak! Kenapa kalian pada mengeroyokku sih?" kesal Naufal.
"Ayolah sayang." Albert pun ikutan bersuara.
"Baiklah." Naufal akhirnya menyerah atas godaan para keluarganya.
"Untuk Perguruan MTF dan Everest Boxing di bandung semuanya baik-baik saja. Aku selalu dapat laporannya. Untuk NFL Corp juga sama baik-baik juga. Tapi...."
Perkataan Naufal terhenti dan dirinya menundukkan kepalanya agar keluarganya tidak melihat wajah sedihnya.
"Tapi apa, Fal?" tanya Elvan yang sudah was-was pasti ada sesuatu yang terjadi batinnya.
__ADS_1
Hening...
"Naufal." panggil Aditya.
"Avana Gym milikku sudah diambil alih oleh orang lain," ucap Naufal lirih.
"Apa?!" teriak mereka semua.
"Bagaimana bisa Naufal? Itukan milikmu? Usahamu?" seru Rayyan.
"Aku tidak tahu kak. Aku ditipu. Orang yang menjadi kepercayaanku selama ini ternyata dia bekerja untukku itu karena suruhan orang lain," jawab Naufal.
"Jadi maksudmu orang itu membayar orang lain untuk bekerja denganmu," ucap Andhira sang Bibi. Naufal mengangguk.
"Kenapa kau teledor sekali sih? Kenapa juga kau memberikan kepercayaan kepada orang itu?" Aditya terlihat kesal terhadap adik bungsunya.
"Yak! Kenapa kakak malah marah padaku? Kalau aku tahu sejak awal. Aku tidak akan mungkin mempekerjakan orang itu apalagi menjadi orang kepercayaanku. Lagian dia bekerja denganku sudah lima tahun. Selama lima tahun itu tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Dan bahkan selama lima tahun itu juga usahaku itu maju," jawab Naufal yang tidak terima dimarahi.
"Dan kalian tahu tidak kenapa aku selalu fokus dengan STUDIO itu, sekalipun aku sibuk dengan yang lainnya?" tanya Naufal.
"Kenapa memangnya?" tanya Aditya penasaran.
"STUDIO itu hidupku kak. Aku tidak mau kehilangannya. Aku tidak masalah kehilangan yang lain. Asal Studio aku itu tetap bertahan. Kau tahukan kak. Setiap aku sedih, setiap aku ada masalah, aku larinya kesana. Aku melampiaskan semuanya disana. Dan disana pula aku bisa menciptakan sebuah lagu, sekalipun aku bukan seorang Idol lagi. Aku tidak mau kehilangan Studioku. Kalau aku sampai kehilangan Studio itu, lebih baik aku mati. Itulah alasan kenapa kak Damian meninggal. Dia membantuku untuk mencari tahu siapa dalang sebenarnya." Naufal bercerita sembari menangis.
"Maafkan aku, Mom." Naufal berbicara pelan sementara air matanya masih mengalir.
"Lalu bagaimana kondisi Studiomu sekarang? Apa baik-baik saja?" tanya Albert.
"Aku hampir kecolongan lagi Dad," jawab Naufal.
"Apa maksudmu, sayang?" tanya Albert bingung.
"Aku hampir saja kehilangan Studioku melalui asisten sialan itu. Dia berusaha mengambil semua berkas-berkas yang ada di ruang kerjaku. Tapi keburu ketahuan oleh Henry, Nathan, Theo dan Ricky. Lalu mereka memberikan sedikit pelajaran padanya. Setelah mereka puas, baru mereka menghubungiku," jawab Naufal.
"Jadi itu alasannya, kau buru-buru pergi setelah menerima panggilan dari Henry saat baru keluar dari rumah sakit?" tanya Elvan.
"Ya," jawab Naufal singkat.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya Apa kamu tahu siapa dalangnya?" tanya Felix, sang paman.
"Nihil. Dia tidak mau mengaku. Sekeras apapun aku dan yang lainnya memukulinya. Sampai aku minta bantuan kak Damian untuk memasang alat pelacak ke dalam tubuhnya. Kak Damian itu salah satu Hacker dan dia juga ahli dalam menanamkan alat pelacak berupa microcip kedalam tubuh manusia. Jadi dengan begitu kita muda menemukan keberadaan orang itu dari jarak jauh. Tapi rencana kami gagal. Ternyata orang itu benar-benar licik dan pintar. Dia mengetahui kalau ada alat pelacak dalam tubuh anak buahnya itu. Dengan teganya orang itu langsung membunuh anak buahnya itu."
"Dari mana kau mengetahui semua itu, Naufal?" tanya Rayyan.
"Kak Damian menghubungiku dan memberitahu semuanya padaku. Dan terakhir dia bilang padaku kalau dia akan berusaha mendapatkan semuanya dan mencari tahu siapa orang itu. Sepuluh menit setelah aku selesai berbicara dengan Kak Damian di telepon. Orang itu menelponku," ucap Naufal.
__ADS_1
"Jadi maksudmu, kau mendapat telepon dari orang itu?" tanya Aditya sedikit emosi.
"Ya. Bahkan Kak Damian juga menyuruhku untuk menceritakannya pada Daddy. Tapi aku..." Naufal menundukkan kepalanya.
"Kenapa sayang? Tidak perlu merasa bersalah begitu. Daddy mengerti alasan kamu tidak mau cerita selama ini. Daddy sama sekali tidak marah sama kamu. Justru Daddy bangga padamu."
"Benarkah Dad?" tanya Naufal.
"Eemmm." jawab Albert tersenyum.
"Apa yang dikatakan orang itu saat dia menelponmu, Fal?" tanya Elvan.
"Intinya. Dia mengetahui semuanya tentangku, Kak Arsya, kak Barra, kak Dhafin, kak Ardian, kak Davian dan kak Reza. Dia juga mengetahui kalau kami mantan Idol PANTA BOYS. Dia juga mengetahui tentang siapa saja yang dekat dengan Daddy. Bahkan dia juga tahu semua nama marga yang dekat dengan Daddy. Dan orang itu akan tetap mengincar Studio ku dengan cara lain. Aku tidak tahu rencana apa yang akan dilakukannya."
Saat mendengar penuturan Naufal. Felix Ravindra melirik kearah Albert Alexander. Yang dilirik mengerti maksud dari lirikan itu.
"Jangan-jangan luka lebam di dadamu saat itu. Apa orang itu yang melakukannya?" tanya Aditya.
"Ya. Orang itu menyuruh beberapa anak buahnya menghadangku saat pulang dari Studio. Dadaku terkena pukulan balok kayu. Saat itu aku lengah," ucap Naufal.
"Ya, sudah! Mulai saat ini kamu tidak perlu khawatir dan memikirkan masalah itu. Biar Daddy yang mengurusnya. Yang kamu pikirkan sekarang adalah kerjaanmu saja," ucap Albert.
"Lalu bagaimana dengan Studio ku, Dad?" tanya Naufal.
"Kamu tidak perlu khawatir. Daddy janji padamu. Studiomu akan aman. Secepatnya Daddy akan mengamankan semua aset-asetmu. Jadi sekalipun orang itu berhasil mendapatkan berkas-berkas kepemilikan Studio milikmu atau yang lainnya. Itu tidak akan berguna sama sekali." Albert memberikan keyakinan pada putra bungsunya.
"Benarkah, Dad?" tanya Naufal berharap.
"Ya, Sayang."
Naufal berdiri dan berpindah tempat duduk yang tadinya duduk di samping ibunya sekarang duduk di samping Ayahnya. Dan Naufal langsung memeluk Ayahnya dengan erat.
"Terima kasih, Daddy. Maafkan Aku. Kalau aku baru cerita sekarang."
"Tidak apa-apa sayang. Daddy mengerti!"
Naufal melepaskan pelukannya dari Ayahnya. "Kan sampai lupa. Aku kan mau ke Studio. Ini semua salah kak Aditya. Coba tadi kakak tidak mengajakku ngobrol. Pasti aku sudah ada di Studio sekarang," ucap Naufal yang sengaja buat kakaknya marah.
"Yak! Kenapa kamu malah marahnya pada kakak? Dan kapan kakak ngajak kamu ngobrol," protes Aditya tak terima.
"Daddy, Mommy semuanya aku pergi. Kak Aditya wajahmu jelek sekali. Hahahahahaha."
Setelah mengatakan itu, Naufal pun langsung berlari dengan suara tawanya yang kencang.
Semuanya ikut tertawa melihat wajah Aditya yang memerah karena ulah sibungsu karena sibungsu hobbi sekali ngebully ketiga kakak-kakaknya.
__ADS_1