Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Kemarahan Naufal Terhadap Divia


__ADS_3

Naufal dan Vanesha saat ini berada di sebuah Cafe yang terkenal di Jakarta. Keduanya sedang menikmati kebersamaan sembari berkencan.


Kini Naufal dan Vanesha sedang menikmati makan siangnya dengan penuh kebahagiaan. Sesekali Naufal atau pun Vanesha saling suap-suapan. Bahkan keduanya saling tertawa ketika menyuapi pasangannya.


Ketika Naufal dan Vanesha sedang menikmati kebahagiaannya dengan saling suap-suapan sembari tertawa lucu, tiba-tiba datang seseorang yang menggangu kebahagiaan keduanya terutama untuk Naufal.


"Hei!"


Seketika acara makan Naufal dan Vanesha terhenti. Baik Naufal maupun Vanesha secara bersamaan melihat kearah orang yang berdiri di hadapannya.


Detik kemudian..


Naufal menatap dengan penuh dendam kearah orang yang ada di hadapannya itu. Dan jangan lupa, tangannya yang mengepal kuat.


Tanpa rasa malu dan tanpa permisi, orang itu langsung duduk di kursi yang ada di hadapan Naufal sembari tersenyum menatap wajah tampan Naufal.


"Hallo, Naufal! Lama kita tidak bertemu. Kamu makin tampan."


Orang itu adalah Alona Divia Eknath mantan kekasihnya Naufal.


Mendengar ucapan gadis di hadapannya itu tidak membuat Naufal terpengaruh. Justru Naufal makin asyik dengan Vanesha. Bahkan Naufal makin menunjukkan rasa cintanya yang tulus kepada Vanesha dengan berulang kali menyuapi Vanesha.


Melihat perlakuan romantis Naufal kepada gadis di sampingnya itu membuat Divia mengepal kuat tangannya dengan tatapan matanya menatap tak suka pada pasangan tersebut.


"Naufal, kamu apa kabar? Kamu tahu tidak selama ini aku begitu merindukan kamu. Apa kamu juga merindukan aku?"


"Lebih baik anda pergi dari sini. Kehadiran anda membuat calon istriku tak nyaman," sahut Naufal tanpa melihat wajah lawan bicaranya.


Mendengar ucapan kejam dari Naufal membuat Divia merasakan sakit di hatinya.


"Fal, kenapa kamu bicara seperti itu? Apa kamu sudah tidak cinta lagi sama aku. Apa karena di....?"


Braakk...


Seketika Naufal menggebrak meja dengan kerasnya bersamaan dirinya berdiri dari duduknya. Dan diikuti oleh Vanesha.


"Apa anda tidak mendengar apa yang saya katakan barusan, hah?! Saya menyuruh anda pergi dari sini. Keberadaan anda membuat calon istri saya tak nyaman. Jangan menjadi wanita murahan dengan berusaha merayu calon suami dari wanita lain." Naufal berucap dengan begitu kejam dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Divia serta suara yang sengaja dikeraskan.


Divia benar-benar terkejut ketika mendengar ucapan kasar dari Naufal. Dia tidak menyangka jika Naufal akan berkata seperti itu kepada dirinya.


Merasa dirinya gerah dan tak nyaman membuat Naufal memutuskan untuk mengajak Vanesha untuk pulang.


"Sayang, lebih baik kita pulang sekarang. Nanti malam jangan lupa ajak kedua orang tua kamu dan kakak kamu ke rumah, oke!"


"Baiklah."


Vanesha langsung menuruti apa yang dikatakan oleh Naufal. Dia tidak ingin protes apabila bertanya tentang gadis yang ada di hadapannya itu.


Setelah itu, Naufal langsung menggandeng tangan Vanesha lalu keduanya pun pergi meninggalkan cafe tersebut meninggalkan Divia sendirian.


Sementara Divia mengepalkan kuat tangannya. Dirinya tidak terima diperlakukan seperti ini oleh Naufal. Seharusnya dia yang digandeng oleh Naufal bukan gadis lain.


"Aku akan mendapatkan kamu kembali, Naufal! Aku tidak peduli kau sudah memiliki kekasih atau calon istri," batin Divia.

__ADS_1


***


Di kediaman Naufal dimana semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang tengah termasuk Liana dan Renata.


Sesampainya mereka di rumah anak perempuan Liana dan Elvan langsung menceritakan pertemuannya dengan mantan kekasih Paman kesayangannya itu.


Mendengar cerita dari putrinya/keponakannya/cucunya membuat Albert, Helena, Elvan, Aditya, Rayyan dan anggota keluarga lainnya langsung melihat kearah Liana dan Renata.


"Liana, Renata! Apa benar yang dikatakan oleh Elna?" tanya Helena.


"Iya, Mom! Aku, Renata dan anak-anak bertemu dengan Divia di supermarket," jawab Liana.


"Bahkan gadis itu memperkenalkan dirinya padaku sebagai calon istrinya Naufal," sela Renata.


"Apa?!" teriak Elvan, Aditya dan Rayyan bersamaan.


"Brengsek! Mau apa lagi dia. Apa dia belum puas menyakiti hati dan perasaan Naufal selama ini. Sudah bagus dia pergi. Dan sekarang dia kembali lagi," ucap Aditya yang marah mengingat perlakuan buruk Divia kepada adiknya.


"Bibi, Paman! Sebenarnya ada apa? Siapa Divia? Dan kenapa dia bisa berbicara seperti itu dan mengklaim Naufal calon suaminya?" tanya Renata.


"Divia itu adalah mantan kekasihnya Naufal saat Naufal masih menjadi seorang penyanyi dulu," jawab Helena.


"Naufal begitu mencintai Divia, namun sayang Divia tidak benar-benar mencintai Naufal. Terbukti ketika Naufal memutuskan keluar dari Grup Panta Boy saat itu. Divia selingkuh dengan laki-laki lain dan meninggalkan Naufal ketika Naufal sedang terpuruk dan kesakitan." Rayyan berbicara ketika mengingat kondisi adiknya saat itu.


"Bahkan Divia terang-terangan memperkenalkan pacar barunya di hadapan Naufal. Perempuan itu sama sekali tidak peduli akan perasaan Naufal," ucap Elvan.


Mendengar cerita dari Helena, Elvan, Aditya dan Rayyan mengenai perempuan yang bernama Divia membuat Felix, Magath, Pasya, Tasya dan Arsya terkejut. Mereka tidak menyangka jika perempuan seperti Divia tega melakukan hal menjijikan itu.


Ketika mereka semua sedang membahas masa lalu Naufal dengan Divia, seketika mereka semua dikejutkan dengan suara bantingan pintu yang cukup keras dan disertai suara teriakan.


"Aarrgghhh!"


Mendengar suara bantingan pintu yang cukup keras dan juga teriakan membuat mereka semua langsung berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya menatap kearah ruang tamu.


"Brengsek!"


Mendengar suara teriakan untuk yang kedua kalinya membuat semua anggota keluarga berlari menuju ruang tamu.


^^^


Prang..


Naufal memukul kuat vas bunga yang berada di samping sofa panjang tersebut sehingga vas bunga itu pecah. Dirinya benar-benar marah atas kejadian di Cafe beberapa jam yang lalu.


"Aarrgghhh! Brengsek! Dasar perempuan sialan!" teriak Naufal.


"Naufal!" teriak anggota keluarganya ketika telah sampai di ruang tengah.


Mereka semua menatap khawatir Naufal, apalagi ketika mereka melihat tangan Naufal yang berdarah.


"Astaga, Naufal!" Helena langsung berlari menghampiri putra bungsunya itu.


Liana langsung berlari mengambil kotak obat untuk mengobati luka di telapak tangan adik iparnya itu.

__ADS_1


"Sayang," lirih Helena sembari tangannya mengusap lembut kepala putra bungsunya.


"Ini, Mom!" Liana datang membawa kotak obat, kemudian Liana membantu ibu mertuanya mengobati tangan adik iparnya.


"Sayang, kamu dengar Mommy tidak!" Helena menangis ketika melihat kondisi putra bungsunya saat ini.


"Fal, kamu kenapa?" tanya Elvan.


"Mom."


"Ada apa, hum?"


"Dia kembali."


"Dia? Siapa sayang?"


"Perempuan murahan itu kembali lagi. Dia sudah berani menampakkan diri di hadapanku dan Vanesha."


Deg..


Helena seketika terkejut ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari putra bungsunya. Begitu juga dengan Albert, Elvan, Aditya, Rayyan dan anggota keluarga lainnya.


"Brengsek!" Aditya dan Rayyan seketika marah ketika mendengar ucapan dari adiknya.


"Mom. Aku tidak ingin hubunganku dengan Vanesha hancur gara-gara perempuan sialan itu. Aku mencintai Vanesha, Mom!"


Helena langsung memeluk tubuh putra bungsunya. Hatinya seketika sesak ketika mendengar aduan dari putra bungsunya itu.


"Hal itu tidak akan pernah terjadi. Percayalah! Kamu dan Vanesha akan tetap bersama," hibur Helena.


"Apa yang dikatakan oleh Mommy benar Naufal. Kamu dan Vanesha akan tetap bersama sampai kalian menikah. Kamu jangan khawatirkan perempuan sialan itu. Dia bukan Tuhan yang bisa melakukan apa yang dia inginkan," sahut Aditya.


"Lalu bagaimana dengan Vanesha? Aku takut jika dia terpengaruh dengan ucapan perempuan murahan itu," ucap dan tanya Naufal.


"Jika Vanesha mencintai kamu, maka dia akan lebih memilih percaya sama kamu. Tapi jika seandainya perempuan murahan itu berhasil membuat Vanesha memilih percaya padanya, maka kakak yang akan buat perhitungan dengan perempuan menjijikan itu." Elvan berucap dengan penuh penekanan dan penuh amarah.


"Karena dia sudah berani masuk dan mengusik kehidupan kamu dan Vanesha, kita juga akan masuk dan mengusik keluarganya. Apa yang dia lakukan kepada kamu dan Vanesha, seperti itu juga yang akan kita lakukan terhadap keluarganya." Rayyan berucap sembari menatap wajah sedih adiknya yang saat ini dipeluk oleh ibunya.


Helena berlahan melepaskan pelukannya, lalu tatapan matanya menatap wajah basah putra bungsunya itu. Tangannya terangkat untuk menghapus air mata putranya dengan lembut.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Mommy sangat yakin semuanya akan baik-baik saja."


"Sudah ya. Jangan bersedih lagi."


"Lebih baik kamu bersih-bersih biar segar badannya," ucap Elvan.


"Baiklah."


Setelah itu, Naufal beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya untuk menuju kamarnya di lantai dua.


"Kita tidak bisa diam saja untuk masalah ini. Kasihan Naufal. Dia baru saja bersatu kembali dengan Vanesha setelah kejadian yang menimpa Vanesha dan keluarganya," ucap Felix.


"Tentu saja aku tidak akan diam saja melihat perempuan itu kembali menyakiti putra bungsuku. Jika dia benar-benar melakukan itu, maka aku akan menghancurkan dia melalui keluarganya." Albert berucap dengan penuh amarah.

__ADS_1


"Hm!"


__ADS_2