Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Kerinduan Naufal Terhadap Vanesha


__ADS_3

Setelah satu bulan Naufal terbaring koma di rumah sakit. Kini dirinya sudah berada di rumah mewah miliknya. Tepat satu minggu Naufal kembali pulang ke rumahnya setelah dinyatakan sembuh oleh pihak rumah sakit dan juga sang Paman.


Seluruh anggota keluarganya sangat sangat bahagia dan bersyukur atas kesembuhan dirinya. Rasa sedih, rasa khawatir mereka telah hilang dan pergi dari diri mereka masing-masing. Yang mereka rasakan saat ini adalah kebahagiaan atas pulanglah orang yang mereka sayangi.


Naufal saat ini berada di kamarnya. Tepatnya sekarang ini Naufal sedang berdiri di balkon kamar kesayangannya. Dirinya sudah bangun dari tadi, tapi enggan untuk keluar dari kamar tersebut.


Banyak yang dipikirkan Naufal saat ini. Salah satunya Vanesha kekasihnya. Kekasihnya itu selalu datang dalam mimpinya. Yang membuatnya bingung dan selalu memikirkan mimpi tersebut adalah perkataan dari sang kekasih.


Dalam mimpi itu kekasihnya Vanesha mengatakan akan kembali padanya dan meminta dirinya untuk menunggunya.


^^^


[Ruang Makan]


Seluruh anggota keluarga sedang berkumpul di meja makan. Mereka akan sarapan pagi bersama. Semua jenis makanan, minuman dan buah-buahan telah tersaji dan tertata rapi di atas meja.


Anggaplah sarapan pagi kali ini adalah ucapan rasa syukur pada Tuhan atas kesembuhan salah satu anggota keluarga mereka yang tak lain adalah putra, adik, kakak, keponakan yang sangat disayangi.


Saat mereka hendak memulai acara sarapan mereka. Mereka tak sengaja melupakan sesuatu. Dan salah satu dari mereka pun menyadarinya.


"Hei. Sepertinya ada yang kurang nih!" seru Amrita Bibi kesayangan Naufal.


Mereka semua menatap bingung kearah Amrita. Yang ditatap pun balik menatap satu persatu anggota keluarganya.


"Apa kalian benar-benar sudah melupakan seseorang, hum?" tanya Amrita tersenyum jahil.


Lalu mereka saling memperhatikan wajah anggota keluarga satu persatu dan...


"Naufal!" teriak mereka bersamaan setelah menyadari bahwa sikelinci nakal kesayangan mereka tidak berada di meja makan .


"Aish! Kenapa kita sampai melupakan si kelinci itu sih?" gerutu Aditya.


"Pantasan saja sedari tadi kita tidak mendengar suaranya," ucap Pasya.


"Ya, sudah. Aku akan ke kamarnya," ucap Elvan, lalu pergi meninggalkan meja makan menuju kamar Naufal.


^^^


[Kamar Naufal]


Elvan sudah berada di depan pintu kamar Naufal.


Tok!!


Tok!!


Tok!!


"Fal, kakak masuk ya!" seru Elvan dari luar kamarnya.

__ADS_1


Karena tidak ada sahutan dari adiknya. Elvan pun membuka pintu kamar adiknya itu.


Cklek!!


Setelah pintu tersebut terbuka, Elvan melangkah masuk ke dalam kamar adiknya dan dapat dilihat olehnya sang adik yang sedang berdiri di balkon kamarnya. Elvan pun kemudian menghampiri adiknya itu.


"Sepertinya pemandangan diluar lebih indah dari pada memandangi wajah tampan kakakmu ini, hum!" ucap Elvan dengan pedenya.


Seketika Naufal terkejut akan suara sang kakaknya. "Ka-kakak!" Naufal melirik sekilas kakaknya itu, lalu kembali lagiĀ fokus pandangannya ke depan.


"Ada apa, hum? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Elvan lembut dan tangannya sudah berada di kepala adiknya, lalu membelainya dengan lembut.


"Vanesha. Aku memikirkan Vanesha," jawab Naufal tanpa menatap wajah tampan kakaknya.


"Apa kamu merindukannya?" tanya Elvan lagi.


"Aku sangat merindukannya, kak. Sangat merindukan dirinya," jawab Naufal yang berusaha tidak menangis di depan kakaknya.


Elvan sangat mengerti perasaan adiknya saat ini. Elvan mengusap lembut punggung adiknya dan dapat dirasakan olehnya, adiknya berusaha untuk tidak menangis.


"Menangislah kalau kamu ingin menangis. Jangan menahannya karena itu akan membuat kamu sakit," ucap Elvan.


Dan setelah Elvan mengatakan hal itu pada adiknya. Naufal pun melepaskan tangisannya yang sedari tadi ditahannya.


"Hiks."


"Kakak akan selalu ada untuk kamu. Kamu harus kuat dan tidak boleh lemah. Kamu itu laki-laki dan laki-laki itu tidak boleh cengeng. Tidak masalah kamu merindukan Vanesha, karena itu haknya kamu. Tapi kakak tidak mau sampai kamu jatuh sakit hanya karena selalu memikirkan Vanesha. Kesehatan itu penting. Kakak tidak mau kalau kamu sakit lagi," ucap Elvan sembari menghibur adiknya.


Naufal mengangguk berlahan. "Baik, kak."


"Ya, sudah. Sekarang kita ke bawah, yuk! Semuanya sudah menunggu kita di meja makan," ajak Elvan.


"Kakak. Bisa tidak sarapan pagi untukku diantar ke kamar saja," mohon Naufal yang mempoutkan bibirnya.


"Eeemmm! Baiklah. Tapi kamu harus menghabiskan sarapannya dan tanpa ada sisa di piring. Oke!"


"Oke!"


"Kalau begitu kakak ke bawah dan menyuruh pelayan untuk membawakan sarapan untuk kamu ke kamar," ucap Elvan.


Setelah mengatakan itu, Elvan langsung pergi meninggalkan Naufal sendiri di kamarnya.


^^^


[Ruang Makan]


Anggota keluarga yang ada di meja makan sedang menunggu Naufal dan Elvan agar mereka bisa sarapan pagi bersama.


Tap!!

__ADS_1


Tap!!


Tap!!


Terdengar suara langkah kaki menuju meja makan. Siapa lagi kalau bukan si sulung keluarga Alexander. Elvan sudah berada di meja makan.


"Elvan. Mana Naufal? Kenapa tidak sekalian turun bersama denganmu?" tanya Helena.


"Mommy. Naufal minta sarapan dibawa ke kamarnya saja. Naufal ingin sarapan di kamarnya," jawab Elvan.


"Ya, Sudah. Biar Mommy saja yang membawakan sarapan untuk Naufal," ucap Helena dan langsung mengambil piring kemudian diisi nasi serta lengkap dengan lauk-pauknya beserta air putih segelas dan tidak lupa minuman kesukaan putra bungsunya itu yaitu susu pisang.


Setelah semuanya lengkap, Helena pun beranjak pergi menuju kamar putra bungsunya itu dengan nampan di tangan.


Setelah kepergian Helena ke kamar Naufal. Aditya pun bertanya perihal adiknya itu pada kakak tertuanya.


"Apa terjadi sesuatu pada Naufal, kak? Kenapa Naufal tidak sarapan bersama kita disini?" tanya Aditya.


"Naufal lagi sedih saat ini," jawab Elvan.


"Sedih? Memangnya kenapa, Elvan? Kenapa dengan adikmu?" tanya Albert khawatir.


"Saat aku masuk ke kamarnya, Naufal sedang berdiri di balkon. Dan aku bisa merasakan ada yang sedang dipikirkan oleh Naufal. Dan ternyata dugaanku benar. Aku pun bertanya padanya. Lalu Naufal menjawabnya dan mengatakan kalau dirinya sangat merindukan Vanesha," jawab Elvan.


"Kasihan Naufal. Ini pertama kalinya Naufal jatuh cinta. Dan hubungannya dengan Vanesha baru satu bulan. Tapi takdir berkata lain. Naufal harus berpisah dengan Vanesha," tutur Rayyan.


"Sudah, sudah! Apapun yang dialami Naufal. Kita akan selalu ada untuknya. Kita ini adalah satu keluarga. Dan sebuah keluarga itu harus saling menjaga, saling menyayangi, saling berbagi, saling peduli, saling mendukung. Itulah hubungan sebuah keluarga," ujar Felix.


"Kau benar, Felix!" jawab Albert.


***


Di King Studio dimana Ricky, Theo, Henry dan Nathan sedang sibuk dengan tugas mereka masing. Mereka saat ini tengah berada di ruang rekaman. Mereka sedang melakukan pengambilan rekaman lagu untuk dua artis penyanyi pendatang baru. Pekerjaan tersebut akan berakhir sekitar pukul dua siang nanti.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Sesuai dengan harapan mereka. Tidak meleset sama sekali. Pekerjaan mereka pun telah selesai.


"Akhirnya! Aku bebas!" seru Henry, lalu menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruang kerja mereka.


"Badanku serasa mau rontok semua," ucap Nathan.


"Oh ya. Jangan lupa kasih tahu Naufal soal kerja sama kita dengan Teddy Advertising," kata Ricky.


"Aku yang akan menghubunginya nanti. Oh ya! Kebetulan besok kita liburkan. Bagaimana kalau kita ke rumah Naufal? Kita sudah lama tidak ngumpul bareng dengannya semenjak kejadian itu. Aku benar-benar merindukannya," tutur Nathan.


"Besok kita akan mengunjunginya," sahut Ricky.


"Ya, sudah! Ayo, kita pulang. Sebelumnya kita cari makan dulu ya," saran Theo


Dan mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah dan akan singgah terlebih dahulu di sebuah Cafe.

__ADS_1


__ADS_2