Naufal Alexander

Naufal Alexander
Kembali 2


__ADS_3

"Jadi jenazah yang ada dipeti itu bukan kakak. Tapi hanya sebuah boneka yang benar-benar mirip dengan kakak. GILA!! Kau benar-benar gila, kak! Ternyata selama ini aku bergaul dengan orang gila sepertimu. Bisa-bisa aku tertular gila sepertimu juga." Naufal menatap horor Damian.


"Maafkan kakak, Naufal dan kalian juga. Kakak melakukan ini hanya ingin membantumu," jawab Damian.


"Tapi caramu itu aku tidak suka. Kau mengorbankan hidupmu. Kau berpisah dengan ibumu. Dan kau berpura-pura mati hanya untuk membantuku. Padahal aku bukan keluargamu. Kita berteman hanya baru enam bulan. Tapi kau rela melakukan semua itu hanya untukku."


Naufal berbicara tanpa menatap wajah Damian. Dan jangan lupa air matanya sudah jatuh membasahi pipinya


"Kakak melakukan semua itu karena penyesalan kakak terhadap adik kandung kakak yang sudah meninggal," lirih Damian.


"Kakak dulu memiliki adik laki-laki. Adik yang sangat tampan sama sepertimu. Kau mau tahu kenapa kakak mati-matian membelamu. Kakak rela mengorbankan apapun untukmu. Bahkan saat kakak dinyatakan meninggal, kakak masih tetap melindungimu. Kecelakaan yang menimpamu sebulan yang lalu yang hampir merenggut nyawamu. Lalu kau berhasil diselamatkan. Yang menyelamatkanmu itu adalah kakak. Kakak menyuruh Paman dan beberapa teman-teman kakak untuk pergi menyelamatkanmu. Dan membawamu ke suatu tempat yang terpencil dan menghilang selama satu bulan. Dan satu hal lagi, kenapa kakak begitu menyayangimu?" ucapan Damian terhenti.


"Apa? Apa alasanmu begitu menyayangiku dan rela melakukan semuanya untukku?" tanya Naufal yang masih menangis.


Bahkan semua orang yang ada di ruangan itu menangis mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Damian. Terutama kedua orang tua dan ketiga kakak-kakaknya Naufal. Mereka tampak terharu dan bahagia.


"Apa kau pernah melakukan Transplantasi Jantung atau Operasi donor Jantung?" tanya Damian.


"I-iya," jawab Naufal.


"Kau tahu? Jantung siapa yang ada disini sekarang?" tanya Damian sambil memegang dada kiri Naufal dengan lembut. Air mata Damian sudah membasahi pipinya.


Tidak ada jawaban dari Naufal. Naufal diam membeku dan air matanya terus mengalir. Pikirannya melayang ntah kemana?


"Jantung yang ada di tubuhmu ini adalah jantung milik adiknya kakak. Adik kakak menderita kanker otak. Saat sebelum dia meninggal, dia ingin mendonorkan jantungnya untuk seseorang. Dan kebetulan orang itu adalah kau Naufal. Jadi itulah alasannya kenapa kakak melakukan semua ini padamu. Kakak ingin menebus semua rasa bersalah dan penyesalan kakak terhadap adik kandung kakak. Kakak tidak mau terjadi sesuatu padamu. Kakak ingin kau tetap hidup dengan jantung barumu." Damian menatap wajah Naufal. Damian menangis ketika menatap wajah Naufal.


"Kau berusaha melindungiku. Tapi pria itu berusaha untuk membunuhku. Berulang kali pria itu mencelakakanku. Berulang kali aku masuk ke rumah sakit. Dan terakhir kecelakaan satu bulan yang lalu. Dan keadaanku tidak bisa dikatakan baik-baik saja saat ini. Jadi, apa bisa aku bertahan hidup dengan jantung adikmu ini kak?" Naufal berbicara dengan menatap balik Damian dan Naufal berusaha untuk tidak menangis.


"Kau pasti bisa Naufal. Kakak percaya. Kau anak yang baik. Kau anak yang kuat. Tuhan akan melindungimu," ucap Damian


"Apa yang kau katakan itu benar kak Damian. Aku anak yang baik dan Tuhan pasti akan melindungiku. Tuhan akan melindungiku dengan cara mengambil nyawaku. Karena orang baik sudah ditakdirkan untuk mati dengan cepat. Tapi orang jahat matinya pasti akan lama." Naufal berbicara seakan-akan tanpa beban dalam dirinya.


"Naufal! Nangan bicara seperti itu, nak!" ucap Helena yang menangis mendengar penuturan putra bungsunya.


"Oh ya, Naufal. Kakak mau nanya. Boleh tidak?" tanya Damian hati-hati karena dilihat dari wajahnya, Naufal dalam mood yang buruk.

__ADS_1


"Kak Damian mau bertanya apa padaku?" tanya Damian balik.


"Soal kau dengan Vanesha," jawab Damian.


"Apa yang ingin kakak ketahui tentang hubungan kami?" tanya Naufal.


"Apa kau tidak ingin mencari tahu siapa orang yang sudah membuat hubunganmu dengan Vanesha hampir hancur?"


"Tidak perlu. Aku sudah tahu siapa dalang dari semua ini," jawab Naufal.


"Siapa?" tanya Damian berpura-pura tidak mengetahuinya.


"Kendrik Alvaro!" jawab Naufal singkat, jelas.


"Brengsek!" umpat Albert.


"Mau apalagi bajingan itu," ucap Felix ketus.


"Apa kau akan diam saja? Apa kau tidak akan memperbaiki hubunganmu dengan Vanesha?" tanya Damian lagi.


"Kak Damian tidak usah khawatir. Hubunganku dengan Vanesha baik-baik saja. Memang awalnya Vanesha hampir mempercayai omongan perempuan itu. Tapi akhirnya Vanesha lebih memilih percaya padaku!" ucap Naufal.


"Perempuan murahan itu mengarang cerita pada Vanesha. Perempuan itu mengatakan pada Vanesha kalau dia hamil olehku. Bahkan perempuan itu memberikan bukti kehamilanya dengan surat keterangan hamil dari rumah sakit," jawab Naufal.


"Gila tu perempuan. Memangnya isi otaknya apa sih?" saut Arsya kesal.


"Kenapa perempuan itu mau melakukan hal bodoh itu?" tanya Amrita.


"Perempuan itu melakukan karena uang. Dia dibayar oleh bajingan Kendrik Alvaro. Dibayar dengan mahal agar dia mau melakukannya." Naufal berbicara ketus.


"Ini semua kesalahan kak Elvan dan kak Aditya!" Naufal menatap kesal kearah kedua kakaknya.


"Yak! Kenapa kau menyalahkan kami berdua? Memangnya salah kami berdua apa?" tanya Aditya dan diangguki oleh Elvan.


"Kalau waktu itu kalian berdua tidak menghalangiku, mungkin waktu itu perempuan murahan itu sudah mati ditanganku. Dan dia tidak akan mengganggu Vanesha dan mengarang cerita masalah kehamilannya," jawab Naufal.

__ADS_1


"Kami melakukannya karena kami sayang padamu, Naufal! Kakak tidak mau kau jadi pembunuh. Apalagi sampai mengotori tanganmu," ucap Elvan yang melihat raut wajah adiknya penuh amarah.


"Tapi sayangnya, kali ini nasib perempuan murahan itu tidak sebaik yang dia pikir. Dia berpikir kalau rencananya sudah berhasil membuat Vanesha percaya padanya. Vanesha justru menceritakannya padaku. Dan aku yakin saat ini, perempuan itu sedang bermain-main dengan beberapa orang suruhanku." Naufal berbicara sembari membayangkan wajah kesakitan dan suara teriakan perempuan itu.


Setelah mengatakan hal itu. Naufal langsung pergi meninggalkan semua orang yang ada di ruang tengah mansion miliknya.


Sedangkan semua orang bahkan kedua orang tuanya dan ketiga kakaknya serta para sahabatnya, memandangi punggungnya yang sudah menghilang dari pandangan.


"Mommy khawatir dengan perempuan itu Elvan. Perintah apa yang sudah diberikan Naufal pada orang suruhannya itu. Kalau perempuan itu sampai meninggal, bagaimana? Mommy tidak mau Naufal sampai terjerat hukum," ucap Helena.


"Kau tidak perlu khawatir sayang. Sekali pun nanti perempuan itu harus mati ditangan orang suruhan Naufal. Pasti Naufal sudah merencanakan semua ini dengan baik. Kalau sampai diketahui oleh pihak kepolisian, aku yakin Naufal tidak akan ditangkap. Karena Naufal juga korban disini. Dan bisa jadi Naufal sudah menyiapkan semuannya untuk membersihkan nama baiknya, apabila sampai berurusan dengan polisi." Albert berbicara sembari menenangkan istrinya.


"Aku setuju dengan Albert. Apa yang dikatakan Albert benar? Naufal itu memiliki dua kepribadian. Saat bersama keluarganya, Naufal seperti bayi besar yang manja. Tapi kalau sudah menyangkut hal lain yang menyangkut harga diri, keselamatan keluarga atau hal yang berhubungan dengan kejahatan, Naufal akan berubah jadi monster!" tutur Felix.


"Sifat monstermu menurun pada putra bungsumu, Albert!" Adelard berbicara sembari mengejek Albert.


"Ya kau benar sekali Adelard. Naufal itu jiplakan Albert. Keras kepalanya, emosinya dan cara bicaranya benar-benar seperti Albert," ucap Daksa.


"Ada satu perbedaan dari Albert dan Naufal!" seru Radeon.


"Apa itu, Radeon?" tanya Andreaz penasaran.


"Ketampanan wajah. Naufal itu sangat tampan, manis, cantik, imut dan menggemaskan. Sedangkan sahabat kita ini wajahnya sangat jelek!" ucap Radeon.


"Sialan kau Radeon!" Albert menatap kesal Radeon.


"Hahahahaha." mereka tertawa puas karena sudah berhasil membuat sahabatnya kesal.


"Kak! Kau lucu sekali," goda Amrita.


"Yak! Kau juga ikut menertawai kakakmu ini, hah!" Albert kesal karena adik perempuannya ikut menertawainya.


"Daddy," panggil Aditya.


Albert melihat kearahnya. "Ada apa, Aditya?"

__ADS_1


"Dad, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak mungkin diam saja? Ini menyangkut nyawa Naufal. Pria gila itu mengincar Naufal. Kita harus melakukan sesuatu, Daddy."


"Albert. Aditya benar. Kita harus cepat bertindak sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Putra-putra bungsu kita dalam bahaya. Kendrik juga mengincar putra bungsu kami!" ucap Nevian.


__ADS_2