
Ketika sedang bersama Naufal dan teman-temannya yang lain. Ardian iba-tiba dikejutkan dengan suara ponselnya.
Ardian langsung mengambil ponselnya dan melihat nama 'Henry' adik sepupunya di layar ponselnya.
"Hallo Henry. Ada hal apa menelpon kakak?"
"Kakak ada dimana sekarang?"
"Kakak ada di mansion Naufal. Memangnya ada apa?"
"Bisa tidak aku bicara dengannya. Aku sudah menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif."
"Oke. Tunggu sebentar."
Ardian menyerahkan ponselnya kepada Naufal. "Fal. Henry ingin bicara denganmu."
Naufal menerima ponsel dari Ardian dan menjawab panggilan dari Henry sahabatnya itu.
"Hallo Henry. Ada apa?"
"Kenapa ponselmu tidak aktif, hah?!" tanya Henry kesal.
"Yaaakk! Kalau kau menelponku hanya untuk memarahiku. Lebih baik aku tutup saja teleponnya." ucap Naufal yang tak mau kalah.
Sedangkan para kakaknya hanya tertawa melihat tingkah Naufal yang sedang berbicara dengan Henry di telepon.
"Jangan! Okee, sorry. Memang kenapa ponselmu tidak aktif? Tidak biasanya."
"Ponselku rusak. Mau beli baru, tapi tidak ada yang mau belikan untukku. Terpaksa aku harus nunggu sampai ada yang mau membelikan ponsel baru untukku?" tutur Naufal yang sudah terkekeh.
"Bilang saja gak mau keluar uang. Dasar kelinci buluk."
"Yaaak! Apa kau bilang, hah? Awas saja kau hitam. Kau meneleponku ada apa?" tanya Naufal yang sudah kesal.
"Oh ya, aku sampai lupa. Ini ada paket untukmu."
"Paket? Dari siapa?"
"Tidak ada nama pengirimnya."
"Hah! Kau buka saja paket itu sekarang."
"Baiklah."
"Bagaimana? Apa isinya?"
"Isinya sebuah catatan yang mengatakan bahwa orang itu mengetahui rencana kita. Dan..." ucapan Henry terhenti.
"Dan apa Henry?" tanya Naufal.
Hening tidak ada jawaban..
"Henry kau dengar aku!" teriak Naufal yang membuat para kakaknya kaget dan khawatir.
"Maaf Fal," ucap Henry dengan suara yang seperti menahan tangis.
"Ada apa Henry? Kenapa dengan suaramu? Katakan Henry. Jangan buat aku khawatir!" bentak Naufal.
"K-kak Damian." lirih Henry.
"Kak Damian? Kenapa dengan kak Damian? Apa yang terjadi Henry?"
"Kak Damian meninggal. Orang itu membunuhnya Naufal," jawab Henry dengan suara bergetar.
"Apa?" teriak Naufal yang jatuh terduduk di lantai dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
"Tidak. Ini tidak mungkin. Kau bercandakan Henry."
"Aku lagi tidak bercanda Naufal. Apalagi menyangkut nyawa orang," jawab Henry yang juga sudah menangis di seberang telepon.
"Ya, sudah. Aku tutup teleponnya. Aku dan yang lainnya akan ke rumah kak Damian.
Panggilan terputus..
TUTT..
__ADS_1
TUTT..
Naufal masih tidak percaya atas apa yang barusan dirinya dengar kalau Damian telah meninggal. Orang yang selalu membantunya.
Para kakaknya tampak khawatir melihat Naufal yang tiba-tiba histeris, lalu kemudian mereka semua mendekatinya.
"Naufal ada apa? Apa yang terjadi, hah?" tanya Arsya yang sudah memeluk Naufal.
"Ya, Fal. Ada apa? Kenapa kau seperti ini?" tanya Dhafin.
"Apa yang di bicarakan oleh Henry padamu? Tadi kau menyebut nama kak Damian. Siapa dia?" tanya Ardian.
"Orang itu benar-benar kejam. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Naufal.
Naufal berdiri dan langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi keluar dari kamarnya. Tanpa menghiraukan keenam kakaknya.
"Naufal!" teriak mereka dan langsung mengikuti Naufal.
^^^
Sesampainya di bawah, Naufal juga mengabaikan anggota keluarga yang sedang duduk di ruang tengah.
"Naufal," panggil Helena.
Tapi justru Naufal tidak memperdulikan panggilan ibunya. Helena beranjak dari tempat duduk dan menghampiri putra bungsunya.
"Naufal. Kamu kenapa nak? Ada apa denganmu sayang" tanya Helena.
Naufal tidak menjawab pertanyaan dari ibunya. Tubuhnya sudah bergetar menahan isakan.
Helena menyentuh dagu putranya dan mengangkat wajahnya. Dapat terlihat jelas kalau putranya sedang menangis.
"Ada apa sayang? jawab pertanyaan Mommy?"
"Mommy... Hiks... Hiks." tangis Naufal pecah.
Helena membawa putranya dalam pelukannya dan memberikan kehangatan dan ketenangan bagi dirinya.
"Bisakah kamu ceritakan pada Mommy. Kenapa kamu nangis seperti ini? Sudah cukup Mommy melihatmu seperti ini. Mommy tidak mau terjadi sesuatu padamu sayang. Kalau kamu sayang sama Mommy dan peduli sama Mommy. Ceritakan pada Mommy apa yang terjadi?" pinta Helena pada putranya.
"Kak Damian," lirih Naufal.
"Dia temanku Mommy. Dia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Dia selalu baik padaku. Sama seperti Kak Elvan, Kak Aditya dan kak Rayyan. Tapi..."
"Tapi apa sayang?" tanya Helena pada putranya.
"Di-dia... Hiks... sudah meninggal Mom. Barusan Henry menghubungiku. Henry bilang kalau kak Damian meninggal. Kak Damian meninggal karena dibunuh oleh orang itu Mommy... Hiks." Naufal bercerita sambil terisak.
DEG..
Semua orang terkejut mendengar pengakuan dari Naufal.
"Mom! Biarkan aku pergi menemuinya untuk yang terakhir kalinya. Aku ingin berada disana dan mengantarkan kepergiannya Mommy. " Naufal memohon pada ibunya.
"Baiklah. Kamu boleh pergi, tapi harus ada yang menemanimu. Mommy tidak mau kamu dalam keadaan seperti ini membawa mobil sendiri. Bagaimana?" tanya Helena lembut pada putranya.
"Baiklah Mom," jawab Naufal.
"Biar aku dan Ardian saja yang menemani Naufal, Bibi!" seru Arsya.
"Baiklah. Kalian hati-hati ya," saut Helena.
***
Perasaan kehilangan itu muncul hanya kepada orang yang kita kenal secara baik, dan biasanya hal ini terjadi kepada keluarga, sahabat, dan pasangan. Kecil kemungkinan kita untuk mudah merasakan kehilangan sama orang yang baru kita kenal atau bahkan orang yang sama sekali tidak kita kenal.
Itulah yang dirasakan oleh seorang Naufal Alexander. Dia baru saja kehilangan sosok sahabat yang sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri. Sahabatnya pergi untuk selama-lamanya.
"Selamat jalan kak Damian. Aku berjanji akan menemukan orang yang sudah membunuhmu dan aku akan membalaskan kematianmu," batin Naufal.
TOK..
TOK..
"Naufal." Elvan memanggil adiknya dari luar kamarnya.
__ADS_1
Naufal yang mendengar suara ketukan pintu kamarnya langsung beranjak pergi untuk membukakannya.
CKLEK..
Pintu dibuka oleh Naufal. Dan dapat dilihat Elvan yang sudah berdiri di depannya.
"Kenapa kakak menatapku? Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Naufal saat melihat kakaknya yang menatap dirinya.
"Kakak menyayangimu. Selamanya kakak menyayangimu," ucap Elvan sambil mengelus rambut Naufal.
"Ya, aku tahu kakak menyayangiku dan tidak bisa jauh-jauh dariku kan?" tanya Naufal dengan bangganya.
Elvan hanya tersenyum mendengar ucapan adiknya itu. "Iya, kamu benar. Kakak memang tidak bisa jauh-jauh darimu karena kakak akan merindukan senyuman kelincimu, kakak akan merindukan wajah manismu dan wajah imutmu itu," jawab Elvan menggoda adiknya.
"Aish! Lebay," jawab Naufal dan langsung pergi meninggalkan kakaknya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
Elvan hanya tersenyum lalu pergi menyusul adiknya menuju lantai bawah.
^^^
Tibalah Naufal di ruang makan dan langsung menduduki pantatnya di kursi.
"Naufal. Kakakmu mana? Kenapa tidak bersamamu? Bukannya tadi kakakmu ke kamarmu sayang?" tanya Helena.
Naufal hanya mengangkat bahunya. "Mungkin kak Elvan sudah terdampar ke pulau terpencil," jawab Naufal asal.
Sementara Helena geleng-geleng kepala mendengar jawabab sibungsu. Begitu juga dengan yang lain.
Selang beberapa menit, akhirnya orang yang dibicarakan datang juga. "Elvan. Ayo, duduk sayang. Kita akan mulai sarapannya," kata Albert.
"Ya, Dad!" ucap Elvan dan langsung duduk di kursinya.
"Makan yang banyak adik kakak yang manis," kata Elvan menatap wajah adiknya.
"Kakak menyuruhku makan banyak. Apa kakak berniat ingin memiliki adik gendut?" ucap Naufal kesal.
"Justru bagus dong. Kalau kamu gendut itu akan menambah kesan imut dan lucu," jawab Elvan dengan menaik turunkan alisnya.
"Jadi kita bertiga memiliki julukan baru untukmu," sela Aditya menambahkan sambil matanya melirik kearah Elvan dan Rayyan.
"Julukan terbaru dari kami untukmu adalah kelinci gembul," celetuk ketiga kakak-kakaknya.
Naufal menatap ketiga kakaknya dengan tatapan horor. Dan jangan lupa bibir yang mengeluarkan sumpah serapah untuk ketiga kakaknya itu.
"Dasar Kalian menyebalkan kak," kesal Naufal.
"Sudah-sudah. Kalian hobi sekali menjahili adik kalian. Kalian tidak lihat bibirnya sudah panjang ke bawah. Sebentar lagi mau menangis," ucap Albert yang ikut menjahili sibungsu.
"Daddy!" teriak Naufal.
"Hahahahaha." tawa mereka semua pecah.
"Kau benar-benar lucu Naufal. Tambah lagi wajahmu yang tampan dan juga cantik itu," ucap Arsya yang juga ikut menjahili adik sepupunya.
"Kak Arsya, aku ini laki-laki. Kenapa kau malah menyebutku cantik? Kalau dibilang tampan. Aku masih bisa terima." Naufal menatap kesalahan ketiga kakaknya dan kakak sepupunya.
"Kau memang laki-laki. Tapi wajahmu tak meyakinkan Naufal," ledek Arsya.
"Kak Arsya!" teriak Naufal yang matanya menatap horor pada Arsya.
"Waw. Sikelinci ngamuk," celetuk Arsya lalu kembali fokus pada makanannya.
Semuanya tertawa melihat wajah kesal Naufal .
"Naufal," panggil Helena.
"Apa? Apa Mommy juga akan seperti mereka?" Naufal mempoutkan bibirnya.
"Tidak sayang. Kamukan kesayangan Mommy," hibur Helena.
Terukir senyuman manis dari bibir Naufal. Dan kemudian fokus pada makanannya.
"Bagaimana tidurmu sayang!" tanya Helena.
"Aah. Tidurku nyenyak Mommy," jawab Naufal sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
Semua anggota keluarga makan bersama dengan suasana sangat menyenangkan. Mereka makan dengan hikmat.
Setelah selesai sarapan semua anggota keluarga berkumpul di ruang tenggah. Berbincang bincang dan tertawa.