
BRAAKK..
Pintu kamar Naufal dibuka paksa oleh Elvan. Setelah pintu terbuka, mereka semua masuk kedalam kamar tersebut.
"Naufal!" teriak mereka semua saat melihat Naufal yang sedang kesakitan memegang kepalanya.
Albert memeluk putra bungsunya dan berusaha menenangkannya. Dirinya sudah menangis melihat kondisi putra bungsunya itu.
"Sayang. Lepaskan tanganmu dari rambutmu sayang. Jangan sakiti dirimu, nak!"
"Sa-kit Dad. Ini sa-kit sekali. Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun? Apa saja yang aku lupakan Daddy?" lirih Naufal yang air matanya sudah membasahi wajah tampannya.
Elvan, Aditya dan Rayyan sudah tidak kuat melihat adik bungsu mereka kesakitan. Mereka bertiga menghampiri Naufal yang dipeluk oleh Albert.
"Naufal, lihat kakak." Elvan memegang kedua pipi adiknya.
Naufal menatap wajah kakak tertuanya dengan wajah yang basah oleh air matanya dan mata yang sembab. Elvan langsung menghapus air mata adiknya.
"Dengarkan kakak. Kamu tidak perlu memikirkan apapun. Cukup tenangkan pikiranmu. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengingatnya. Biarkan ingatan itu datang dengan sendirinya tanpa paksaan."
Elvan mengecup kening adiknya lalu Elvan mengambil alih tubuh adiknya dari pelukan ayahnya dan membawa tubuh adiknya itu ke tempat tidur.
"Sekarang kamu istirahatlah," ucap Elvan lalu menyelimuti tubuh adiknya.
"Ka-kakak." panggil Naufal.
"Ada apa, hum?" tanya Elvan yang tangannya mengelus rambut adiknya.
"Kalian disini saja. Temani aku tidur," pinta Naufal yang tatapan mata sayunya tertuju pada Elvan, Aditya dan Rayyan.
Mereka yang ditatap seperti itu tidak tega. Dengan kompaknya mereka mengangguk.
"Baiklah. Kami akan menemanimu tidur," jawab ketiga kakak-kakaknya bersamaan.
Sedangkan yang lainnya memilih pergi meninggalkan Alexander bersaudara dikamar.
***
Kendrik sekarang berada di ruang kerjanya. Dia di kursi kerja sambil memegang ponsel ditangan kirinya. Dia sudah tidak sabar menunggu informasi dari anak buahnya.
Ketika Kendrik tengah bahagia sembari menunggu kabar, terdengar suara pintu diketuk dari luar.
TOK..
TOK..
"Masuk!" teriak Kendrik dari dalam. Pintu dibuka.
CKLEK
"Ada berita apa?" tanya Kendrik.
"Anak itu selamat Bos," jawab anak buahnya.
"Sudah kuduga. Lalu apa yang terjadi?"
"Anak itu mengalami Amnesia. Dia tidak ingat sama sekali tentang dirinya dan keluarganya," jawab anak buahnya.
Terukir senyuman licik di bibirnya.
"Kau suruh perempuan itu mendekatinya."
"Baik, Bos." jawab anak buahnya.
"Maaf Bos saya mengganggu!" seru salah satu anak buah lainnya yang tiba-tiba datang.
"Ada apa?" tanya Kendrik.
"Saya mendapatkan info tentang siapa kekasih dari Naufal. Namanya Vanesha Naladhipa. Seorang mahasiswi di Universitas terkenal di Jakarta. Mereka baru dua minggu jadian. Dan ternyata Naufal membeli cincinĀ berlian couple. Jadi masing-masing mereka memakai cincin yang sama. Jadi saya sudah menyiapkan cincinnya agar lebih meyakinkan," tutur anak buahnya.
"Waah sempurna. Informasi yang sangat bagus. Kalau begitu jadikan perempuan itu sebagai Vanesha kekasihnya. Dan buat Naufal itu salah paham kepada keenam sahabatnya itu. Dengan tuduhan sudah menggoda Vanesha," ucap Kendrik.
"Baik Bos."
__ADS_1
Lalu anak buahnya pergi meninggalkan ruangannya.
***
"Fal" panggil Ardian.
Naufal menolehkan wajahnya kearah Ardian "Apa?" jawab Naufal singkat.
"Kita jalan, yuk! Sudah lama kita tidak jalan bersama," ucap Ardian dan diangguki oleh yang lain.
"Kemana?" tanya Naufal.
"Kemana aja? Asalkan kami bisa membuatmu bahagia," saut Barra.
"Hanya kita?" tanya Naufal.
"Ya. Hanya kita bertujuh," jawab Arsya.
"Mommy setuju sayang. Pergilah dan bersenang-senanglah bersama mereka."
Semua menatap Naufal. Berharap Naufal mau menerima ajakan mereka.
"Baiklah. Aku ke kamar dulu mau ganti baju." Naufal langsung bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Mendengar ucapan dari Naufal mereka semua tersenyum bahagia karena sudah berhasil membujuk Naufal.
Lalu detik kemudian, Barra berteriak "Naufal!"
Naufal menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Barra.
"Ya."
"Jangan ganti baju saja. Kalau perlu mandi sekalian. Badanmu bau!" teriak Barra sambil menutup hidungnya. Dia sengaja agar Naufal kesal.
Naufal memanyunkan bibirnya, menggembungkan pipinya dan membelalakkan kedua bola matanya tidak terima dikatakan bau oleh kakak pucatnya itu.
"Dasar manusia pucat tak punya hati dan tak punya perasaan," umpat Naufal.
"Sudah sana. Jangan perlihatkan wajah jelek seperti itu. Tambah jelek tahu," ejek Dhafin.
"Kalian tega sekali berkata begitu pada Naufal. Kalian tidak lihat wajah kesalnya tadi," ucap Reza.
"Kalau kami perhatikan wajahnya itu imut dan menggemaskan. Tidak seperti orang yang lagi kesal," saut Davian.
"Ya, kau benar Davian." Ardian membenarkan ucapan Davian.
"Hahahaha." semua yang ada di.ruang tengah itu pun tertawa, tak terkecuali Helena dan Andhira.
***
Tibalah mereka di sebuah Cafe mahal. Belum ada lima menit mereka duduk, tiba-tiba seorang perempuan datang dan langsung memeluk Naufal. Semuanya kaget dan melongo.
"Kak Naufal!" teriak perempuan itu.
"Yak! Kau siapa? Dan kenapa tiba-tiba saja kau memelukku?" tanya Naufal bingung.
"Yah, kak! Kau tidak ingat denganku. Aku Vanesha Naladhipa, kekasihmu, kak!" perempuan itu menatap wajah tampan Naufal.
Naufal mentautkan kedua alisnya. Sedangkan keenam kakaknya melongo tak percaya.
"Jangan ngaku-ngaku sebagai Vanesha ya? Kau pikir kami tidak tahu wajah Vanesha yang asli. Dasar Vanesha abal-abal," ucap Davian.
"Kalian tidak percaya padaku. Aku ada buktinya," sahut wanita itu lalu kembali menatap wajah Naufal. "Kak Naufal, coba lihat ini." wanita itu menunjukkan cincin yang ada di jari manisnya.
Naufal melihat cincin yang ada dijari perempuan itu. Naufal makin bingung. "Lalu apa hubungannya dengan cincin kamu itu?" tanya Naufal.
"Kak Naufal juga punya cincin yang sama sepertiku. Ini kak. Lihatlah sendiri! " seru perempuan itu.
Perempuan itu langsung menarik tangan kiri Naufal dan memperlihatkan cincin yang dipakainya dengan cincin yang dipakai oleh perempuan itu.
"Lihatlah. Cincin kita sama. Bahkan cincin ini kak Naufal yang belikan untuk kita. Sebagai tanda jadi hubungan kita," tutur perempuan itu.
Naufal merasakan pusing di kepalanya. Reza dan Davian yang menyadari bahwa Naufal sedang menahan rasa sakitnya angkat bicara.
__ADS_1
"Fal. Jangan dipaksakan. Kalau kau tidak bisa mengingatnya," ucap Reza.
"Lebih baik kita pulang saja. Kasihan Naufal," ujar Davian. Mereka pun mengangguk tanda setuju.
"Jangan. Kita sudah jauh-jauh datang kesini. Masa kita pulang begitu saja," saut Naufal.
"Tapi Naufal...." kata Arsya khawatir.
"Aku tidak apa-apa kak," jawab Naufal.
"Kau yakin Fal?" tanya Barra.
"Aku yakin."
"Ya sudah," jawab Barra.
"Kok diam saja, kak? Kenapa? Kak Naufal tidak suka ya kedatanganku?" tanya Vanesha.
"Aku tidak ingat apapun tentangmu. Kalau kau Benar Vanesha kekasihku lalu kenapa kau ada disini? Kau tidak lihat aku lagi bersama keenam kakak-kakakku. Dan mereka tidak membawa pasangan mereka. Itu tandanya mereka yang mengajakku kesini," sahut Naufal dan diangguki oleh yang lain.
"Maafkan aku kak Naufal. Aku benar-benar tidak tahu. Aku memang udah berencana mau kesini juga, eeh tahunya ada kak Naufal juga disini. Ya, sudah aku menghampiri kak Naufal."
"Iiiissss. Sok akrab loo." gumam Reza jijik.
"Pengen banget aku tampol muka tu cewek." batin Davian.
"Urat malumu udah putus ya kali, nona!" Barra menatap tidak suka kearah wanita itu.
"Kalau mau acting jadi artis, main sinetron aja." Arsya juga tidak suka terhadap cewek yang ngaku-ngaku sebagai Vanesha.
"Dasar Vanesha abal-abal." Dhafin menatap jijik wanita itu.
"Punya wajah aja pas-pasan. Cantik tidak, Jelek tidak. Sedang. Mendingan Vanesha kemana-mana." batin Ardian.
Begitulah rentetan omelan dan gumaman para kakak-kakak Naufal mengenai perempuan abal-abal yang datang memeluk Naufal.
"Hei, Vanesha abal-abal. Kita kesini bukan untuk lihat kau mesra-mesra sama Naufal. Kita kesini mau makan. Kita semua sudah lapar," sergah Reza.
"Oh. Kak Naufal lapar ya. Bagaimana kalau aku yang traktir saja? Aku yang bayarin kak Naufal. Kebetulan aku habis gajian. Kak Naufal boleh makan sepuasnya," saut perempuan itu.
Naufal mentautkan alisnya mendengar ucapan perempuan yang ada di hadapannya. Lalu pandangannya tertuju pada kakak-kakaknya.
Para kakaknya yang mengerti arti tatapan Naufal memberikan senyuman manis mereka pada Naufal.
"Kau tenang Naufal. Serahkan pada kami," jawab Naufal.
"Apa kau yakin bisa membayar pesanan Naufal?" tanya Arsya.
Naufal menatap perempuan tersebut. Dan perempuan itu juga menatap Naufal. "Aku yakin. Apapun demi kau Naufal."
Naufal menatap kakak-kakaknya. Naufal makin bingung dengan keadaan sekarang.
Arsya yang melihat kebingungan diwajah Naufal, dirinya pun berinisiatif membantu Naufal.
"Naufal. Biar kakak saja yang memesan makanan untuk kamu ya?" Naufal menganggukkan kepalanya.
"Oke. Vanesha abal-abal. Aku mewakili adikku Naufal. Aku akan memesan stik daging 7 porsi, nasi goreng seafood 7 porsi, spaghetti 7, pizza 5 porsi, serta minuman segar dan dingin masing-masing 2," tutur Arsya.
"Gila. Mereka ini lapar apa kerasukan? Mereka memesan semua makanan yang harganya 'waaw'. Bisa-bisa aku tidak bisa pulang dikarenakan uangku habis buat membayar semua makanan ini." batin perempuan itu.
Sedangkan mereka tersenyum puas. "Bayar tu semua pesanan kita. Emangnya lo mampu bayar makanan sebanyak ini. Kalau pun lo mampu membayarnya, ujung-ujungnya lo bakal pulang jalan kaki karena kehabisan uang." batin para kakak-kakak Naufal.
Sedangkan Naufal hanya menatap bingung mereka semua.
"Baiklah," jawab perempuan itu.
Lima belas menit kemudian, semua pesanan telah tersedia di meja.
"Ayo, makan!" seru Barra.
Sedangkan perempuan tersebut hanya pasrah melihat ketujuh pria yang ada di hadapannya sedang menikmati semua pesanan tanpa melirik kearahnya. Mereka tidak peduli, apakah cewek itu sudah makan atau belum? Yang ada dipikiran mereka adalah siapa suruh ngaku-ngaku sebagai Vanesha dan menawarkan diri untuk mentraktir mereka?
Sebenarnya yang ditraktir itu hanya Naufal karena perempuan itu itu udah berani pake nama Vanesha kekasihnya Naufal buat nipu. Ya, terpaksa dech. Para kakaknya ngikutin permainan perempuan tersebut.
__ADS_1
Setelah beberapa jam berada di cafe, akhirnya mereka semua selesai menyantap semua makanan yang mereka pesan.
Mereka sekarang berada di dalam mobil menuju mansion Naufal. Selama dalam perjalanan pulang, mereka tak henti-hentinya tertawa. Mereka terus memikirkan nasib si cewek abal-abal yang ngaku sebagai Vanesha kekasihnya Naufal yang harus membayar semua pesanan mereka di Cafe yang sangat mahal.