
Plak...
Plak...
Seorang pria paruh baya memberikan tamparan keras kepada seorang gadis cantik di hadapannya. Gadis itu adalah Mareta, sementara pria yang memberikan tamparan kepada Mareta adalah ayah dari Mareta.
"Dasar anak tidak tahu diuntung! Anak pembawa sial. Dimana otakmu, hah?! Lihat, apa yang sudah kau lakukan. Kau membuat semua keluargamu sengsara!" bentak pria itu dengan tatapan nyalang menatap anak perempuannya.
"Ayah... Aku tidak salah. Ini semua kesalahan perempuan gila itu."
Plak..
Plak..
Pria itu kembali memberikan tamparan. Tamparan kali ini membuat pipi Mareta merah dan sudut bibirnya robek.
"Kau masih berani menyalahkan Tasya atas apa yang terjadi padamu dan keluarga kita?! Apa kau belum sadar juga atas semua kesalahanmu dan juga kelakuan burukmu selama ini. Apa yang terjadi pada kita itu semua karenamu Mareta!" teriak pria itu dengan menunjuk kearah Mareta.
"Karena sifat irimu, sifat dengkimu dan sifat busuk hatimu kau rela melakukan apapun sampai-sampai kau merebut semua milik orang lain. Dan orang itu adalah Tasya sahabatmu sendiri. Jika bukan berkat Tasya, kau dan kita semua akan selamanya menjadi miskin dan kita tidak akan pernah merasakan hidup mewah. Seharusnya kita berterima kasih kepadanya dengan kita membantunya jika dia dalam kesulitan dan memberikan kasih sayang serta perhatian ketika dia sendirian dan sedang bersedih!" ucap pria itu dengan suara kerasnya.
Mendengar ucapan dan amarah suaminya, wanita paruh baya itu menatap kearah anak perempuannya dengan tatapan terlukanya. Dia tidak menyangka jika anak perempuannya akan melakukan hal bodoh demi ambisinya untuk menjadi istri seorang Yosef Harisman yang tak lain adalah calon suami dari Tasya.
"Sudahlah, Pak! Untuk apalagi Bapak memarahi manusia seperti dia. Tidak ada gunanya juga. Dia tidak akan mendengarkan apa yang Bapak katakan. Jika dia sadar akan kesalahannya, maka dia akan merubah sikapnya ketika Tasya memergoki dia tidur dengan Yosef. Dia juga akan sadar ketika melihat keluarga besar Yosef hancur. Tapi buktinya dia sadar juga, justru makin parah. Terbukti ketika dia bertemu dengan Tasya di sebuah Cafe. Dia melihat mantan sahabatnya itu datang bersama dua orang pemuda. Dengan seenaknya dia mengatakan kepada semua orang bahwa sahabatnya itu tidak tahu berterima kasih kepada Yosef. Dia juga menuduh sahabatnya itu telah mengkhianati Yosef demi dua pemuda itu."
Deg..
Mareta seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari ibunya itu. Dia tidak menyangka jika ibunya mengetahui kejadian tersebut.
"Ayo, Pak! Kita berkemas-kemas sekarang. Kita pergi dari kota ini dan kita kembali ke rumah asli kita. Ibu lebih bahagia tinggal disana, karena hati ibu memang nyaman disana. Kita bisa tinggal di ruang mewah ini itu semua berkat kebaikan Tasya. Ibu malu harus tinggal di rumah ini atas apa yang dilakukan oleh manusia satu ini."
Wanita paruh baya itu berbicara bersamaan dengan dirinya beranjak dari duduknya dengan tatapan matanya menatap tajam kearah anak perempuannya.
"Iya. Ibu benar! Kita harus pergi. Kita tidak bisa tinggal di rumah ini lagi, walau nyatanya rumah ini sudah diambil lagi oleh si pemiliknya. Bapak tidak akan pernah berkecil hati. Satu hal yang bapak inginkan adalah Tasya tidak ikut membenci Bapak akan kelakuan anak tidak tahu diri itu. Bapak sudah anggap Tasya seperti anak perempuan Bapak sendiri."
"Ibu juga Pak. Ibu juga sudah anggap Tasya seperti anak perempuannya ibu sendiri. Ibu juga berharap Tasya tidak membenci ibu. Ibu tahu alasan Tasya mengambil rumah ini lagi karena Tasya tidak ingin perempuan itu tinggal disini. Tasya juga tidak sampai hati meminta kepada kita untuk mengusir dia dari sini, maka dari itulah kenapa Tasya mengambil rumah ini kembali."
"Ayo, Bu! Kita bersiap-siap!"
Setelah itu, keduanya langsung pergi meninggalkan Mareta untuk menuju kamarnya untuk mengemasi pakaiannya. Keduanya memutuskan untuk kembali ke rumah mereka yang kecil dan sederhana.
__ADS_1
Sementara Mareta terdiam di tempat mendengar ucapan demi ucapan dari kedua orang tuanya. Hancur sudah hidupnya. Dia kembali miskin seperti dulu.
"Yosef ya Yosef. Dia satu-satunya harapanku. Aku tidak mau miskin lagi. Aku tidak mau hidup miskin lagi seperti dulu."
Setelah mengatakan itu, Mareta pun pergi meninggalkan rumahnya untuk menemui Yosef. Dan dia akan meminta Yosef segera menikahinya.
***
"Alice aku mohon. Jangan menghindariku terus. Mari kita bicara."
Sementara gadis yang bernama Alice tetap terus melangkah tanpa menghiraukan ucapan dan panggilan dari orang itu.
Sreekk..
Brukk..
Deg..
Seketika Alice menghentikan langkahnya ketika mendengar bunyi mobil yang menabrak sesuatu. Hati Alice seketika berdenyut sakit.
Alice berlahan membalikkan badannya untuk melihat apa yang terjadi di belakang tubuhnya. Dan detik kemudian, kedua mata Alice membelalakkan matanya ketika melihat pemandangan yang begitu menyayat hatinya.
Tes..
"Aditya!" teriak Alice lalu kakinya langsung berlari menghampiri laki-laki yang dia cintai.
Yah! Orang yang mengejar dan memanggil Alice itu adalah Aditya. Aditya bertekad untuk mendapatkan Alice kembali setelah dirinya mengetahui kebenaran tentang Alice dari adik bungsunya dan adik sepupunya.
"Aditya... Hiks," isak Alice bersamaan dengan Alice mengangkat kepala Aditya dan meletakkan di atas pahanya.
"Aditya, ini aku. Maafkan aku... Hiks."
Aditya seketika tersenyum ketika mendengar ucapan dari Alice. Tangannya kemudian terangkat hendak menyentuh pipi putih Alice perempuan yang dia cintai selama ini.
"Alice."
"Iya, ini aku."
Seketika Aditya menutup kedua matanya sehingga membuat Alice seketika berteriak memanggil namanya.
__ADS_1
"Aditya, tidak! Aditya buka matamu. Aku mohon Aditya!"
"Tolong!" teriak Alice dengan tatapan matanya menatap orang-orang sekelilingnya.
^^^
Di lokasi yang sama dan di tempat yang berbeda terlihat enam pemuda tampan bersama dengan kekasihnya baru saja keluar dari sebuah supermarket dengan menjijikan beberapa barang belanjaannya.
Dua dari pemuda tampan itu melihat kearah kerumunan. Kedua pemuda itu adalah Davian dan Reza.
Davian dan Reza menatap lekat kearah kerumunan itu. Keduanya dapat melihat dari sela-sela orang-orang berdiri. Davian dan Reza melihat dengan jelas wajah dari orang yang dipeluk oleh seseorang.
Seketika Davian dan Reza membelalakkan matanya ketika mengetahui wajah dari laki-laki yang dipeluk oleh seorang gadis.
"Kakak Arsya, itu... Itu kakak Aditya!" seru Davian.
"Kakak Aditya ada disana!" teriak Reza dengan menunjuk kearah kerumunan tersebut.
Baik Arsya, Barra, Dhafin, Ardian maupun para kekasihnya langsung melihat kearah tunjuk Reza.
Arsya langsung berlari menghampiri kerumunan tersebut dan diikuti oleh Barra, Dhafin, Ardian, Davian dan Reza serta para kekasihnya.
"Minggir!" bentak Arsya dengan mendorong tubuh orang-orang yang berdiri menatap kearah kakak sepupunya.
"Otak kalian ada dimana?! Bukannya kalian memanggil ambulance. Ini justru kalian hanya menonton saja!" teriak Barra.
"Aku bersumpah jika salah satu anggota keluarga kalian atau kalian sendiri mengalami hal seperti ini semoga tidak akan ada yang menolong kalian!" ucap Ardian marah.
"Kakak Aditya." Arsya seketika menangis melihat kakak sepupunya tak sadarkan diri dengan kepalanya mengeluarkan darah.
"Barra, Dhafin! Angkat kakak Aditya, naikkan ke punggung kakak!"
"Baik."
Setelah itu, Barra dan Dhafin mengangkat tubuh Aditya dibantu oleh Ardian lalu meletakkan di atas punggung Arsya.
Setelah itu, Arsya membawa Aditya menuju mobilnya. Diikuti oleh Barra dan Dhafin di belakang.
"Kak Alice." Ishana serta yang lainnya membantu Alice berdiri.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan lokasi untuk menuju rumah sakit.