Naufal Alexander

Naufal Alexander
Hukuman Mati Untuk Kendrik


__ADS_3

"Tunggu Daddy sayang. Daddy akan datang menyelamatkanmu," batin Albert dan Felix.


"Bertahanlah untuk kami semua, Naufal!" batin Elvan, Aditya dan Rayyan.


Mereka semua berharap semoga putra-putra mereka, adik-adik mereka dalam keadaan baik-baik saja sampai mereka semua datang.


"Ayo, tunggu apalagi. Buruan kita kesana. Jangan sampai kita terlambat!" seru Aditya dan semuanya mengangguk.


***


Setelah puas menyiksa Naufal. Kini Kendrik pergi menuju ruangan sebelah dimana keberadaan keenam kakak-kakaknya Naufal.


CKLEK..


"Akhirnya aku bisa bertemu dengan kalian. Bagaimana keadaan kalian disini? Apa menyenangkan berada disini, hum?" seringai Kendrik.


"Jadi kau orangnya? Orang yang selama ini menyakiti adikku. Dimana  adikku, Naufal? Dimana kau menyekapnya?!" bentak Arsya.


"Arsya!" seru Kendrik. "Tenang. Adikmu ada di ruangan sebelah. Tapi sepertinya dia tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Karena aku barusan bermain-main dengannya. Dan adikmu itu cukup berani juga melawanku, walau dirinya dalam keadaan terikat."


"A-apa maksud ucapanmu, hah?!" bentak Barra.


"Apa yang sudah kau lakukan padanya?!" teriak Ardian lalu menarik kera ke meja Kendrik dengan kuat.


Kendrik menepis kedua tangan Adrian dengan sangat kuat. Lalu memberikan pukulan di wajah Ardian.


Bugh..


"Ardian!" teriak Arsya dan yang lainnya.


"Kalian ingin melihat adik kalian kan? Sekarang lihatlah baik-baik di layar televisi itu. Kalian semua bisa melihat bagaimana nasib adik kalian Naufal Alexander?" ucap Kendrik lalu menghidupkan televisi itu dan memperlihatkan sebuah rekaman CCTV yang berada di ruangan penyekapan Naufal.


Arsya, Barra, Dhafin, Ardian, Davian dan Reza mereka membelalakkan matanya saat melihat adegan yang ada di rekaman itu.


"Naufal!" teriak histeris mereka dan air mata mengalir membasahi pipi mereka.


"Dasar iblis. Pengecut!" teriak Arsya lalu memberikan pukulan di wajah Kendrik.


Bugh..


Kendrik menyeka darah di sudut bibirnya. "Hanya segitu kah kemampuanmu Arsya," remeh Kendrik.


"Aku bisa melawanmu sendiri selama kau tidak melibatkan semua anak buahmu itu. Kau hanya bisa mengandalkan anak buahmu saja. Kau belum tentu bisa melawan kami. Dasar pengecut dan sampah," ejek Arsya.


Bugh..


"Kak Arsya!" teriak mereka.


"Jangan berani-beraninya kau menghinaku. Terima saja nasib kalian. Siapa yang kuat dialah pemenangnya? Aku sudah selesai bermain dengan adik kalian dan sekarang giliranku yang akan bermain dengan kalian semua. Seperti yang kau katakan Arsya Ravindra kalau kita bisa bertarung satu lawan satu tanpa aku melibatkan anak buahku. Tapi apa gunanya aku membayar mereka kalau mereka tidak melakukan pekerjaan mereka? Dan kenapa aku tidak mau melawan kalian langsung, karna lawanku sebenarnya adalah ayah kalian?" seru Kendrik. "Terutama Albert Alexander dan Felix Ravindra. Mereka berdua musuh terbesarku. Aku sangat sangat dendam pada mereka berdua." Kendrik berucap dengan penuh amarah.


"Hahaha! Dendam? Kau sakit hati pada Pamanku dan ayahku karena kau gagal mendapatkan cintanya Bibiku dan ibuku. Benarkan?" ejek Arsya tepat sasaran. "Dengan cara yang licik kau mendekati Nenekku dan mempengaruhi pikirannya dengan menjelek-jelekkan ayahku didepannya agar kau bisa lebih leluasa mendekati ibuku. Dasar menjijikan," tutur Arsya.


Bugh..


"Dasar bocah-bocah sialan! Kalian semua sama saja seperti orang tua kalian!" bentak Kendrik. "Kalian semua!" teriak Kendrik pada anak buahnya. "Hajar dan siksa mereka semua sampai mereka tidak bisa bergerak sama sekali," perintah Kendrik pada anak buahnya.


"Nikmatilah dan Berbahagialah kalian disini bersama anak buahku," ucap Kendrik lalu dirinya pergi.


***


Mereka telah sampai di lokasi dimana Naufal dan keenam sahabat-sahabatnya disekap. Mereka berpencar dan menelusuri setiap ruangan yang ada di markas tersebut.


Albert dan kelima sahabatnya fokus mencari keberadaan Kendrik sasaran utama mereka.


Kemudian mereka menemukan sebuah ruangan yang diyakini oleh mereka itu adalah ruang pribadi Kendrik. Lalu mereka pun pergi menuju ruangan tersebut


BRAKK..


Pintu ruangan itu dibuka dengan paksa. Dan mereka semua masuk ke ruangan itu.


"Akhirnya kita bertemu kembali Kendrik Alvaro!" seru Albert Alexander yang menatap tajam Kendrik.


Tidak jauh beda dengan Felix Ravindra, Radeon Adhitama, Andreaz Pratista, Adelard Krishon, Daksa Carney dan Nevian Carney.


"Sialan. Dari mana mereka mengetahui keberadaan ku? Ditambah lagi aku belum mempersiapkan semuanya. Seharusnya aku yang membuat mereka datang kesini dan masuk jebakanku dan aku bisa menghabisi mereka semua. Tapi malah jadi seperti ini. Mereka datang sebelum semua rencanaku berjalan lancar," batin Kendrik.


"Kenapa, hum?" tanya Felix meremehkan.


"Kau pasti bingung saat ini dan bertanya dalam hatimu dari mana kami mengetahui tempat persembunyianmu ini. Benarkan?" tanya Daksa.

__ADS_1


"Tidak selamanya kau bisa bersembunyi dari kami Kendrik," kata Andreaz.


"Kau memang laki-laki pengecut. Beraninya hanya pada putra-putra kami. Mereka tidak tahu apa-apa masalah ini tapi kau melibatkan mereka dalam urusan balas dendammu," kata Radeon.


"Dimana putraku?" teriak Albert.


Kendrik tersenyum meremehkan. "Kenapa tidak kau cari sendiri putra kesayanganmu itu? Lagian aku lupa dimana aku mengurungnya?" pungkas Kendrik.


Bugh..


Albert melayangkan pukulannya di wajah Kendrik. Dan membuat Kendrik meringis.


"Waaaw! Pukulanmu masih sama Albert. Masih kuat seperti dulu."


"Brengsek! Katakan dimana putraku dan yang lainnya?!" bentak Albert dan menarik kerah baju Kendrik dengan kuat.


"Seperti yang aku katakan barusan Albert. Aku lupa dimana aku menyekap putramu itu?" jawab Kendrik dengan senyuman seringainya.


"Brengsek!" Albert menarik tubuh Kendrik lalu melemparnya sampai tersungkur di lantai.


"Cukup Albert. Kau jangan menghabiskan tenagamu sendirian. Kami ada disini. Bagaimana kita berpesta saja? Lagian tanganku sudah sangat gatal sekali untuk menyentuhnya!" seru Nevian dengan senyum seringainya.


Mereka yang mengerti arah pembicaraan Nevian, lalu mengangguk setuju.


Mereka memberikan pukulan dan tendangan pada Albert secara bergantian. Mereka tidak peduli apa cara mereka ini salah atau benar? Yang ada di pikiran mereka sekarang ini adalah ingin membuat pria brengsek tersebut memberitahu dimana putra-putra mereka disekap? Tidak bisa cara halus, cara kekerasan pun akan mereka tempuh demi putra-putra mereka.


Tidak jauh beda dengan yang lainnya yang berada diluar dimana putra-putra mereka yang lain sedang berkelahi melawan para anak buahnya Kendrik.


"Kalian cek satu persatu ruangan disini. Kalau ruangan itu terkunci, dobrak saja. Siapa tahu adik-adik kita ada di dalam ruangan itu?" Elvan memberikan perintah pada adik-adiknya yang lain.


"Baik," jawab mereka kompak dan mereka pun melakukan tugas mereka.


"Kakak lihat disana!" seru Pasya sambil menunjuk ke arah beberapa orang keluar dari salah satu ruangan.


"Tunggu apalagi, Ayo!" seru Aditya.


Mereka pun berlari menuju ruangan tersebut. Tanpa pikir panjang lagi mereka memberikan perlawanan pada beberapa orang yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


Bugh.. Duagh..


Bugh..


Bugh.. Duagh..


CKLEK..


Saat mereka masuk ke ruangan itu, mereka melihat adik-adik mereka tergeletak tak berdaya dengan luka di seluruh tubuh mereka.


Mereka menghampiri adik mereka masing-masing. Sedangkan Aditya tidak melihat keberadaan adiknya sama sekali. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Pikirannya kalut. Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah Naufal adik kesayangannya.


"Arsya... Arsya!" panggil Aditya sambil menepuk pelan pipi adik sepupunya itu. "Naufal mana? Kenapa dia tidak bersama dengan kalian?"


Tidak ada jawaban dari Arsya dan membuat Aditya semakin gila memikirkan keadaan adiknya.


"Arsya, jawab kakak! Dimana Naufal?!" teriak Aditya histeris.


"Kak Aditya," lirih Arsya. "Nau-naufal ada di-ruang-an sebelah. Ce-cepat tolong dia," ucap Arsya terbata.


Aditya pun segera berlari menuju ruangan sebelah. "Naufal, bertahanlah. Kakak datang," batin Aditya yang air matanya masih setia mengalir.


"Aditya," panggil Elvan yang tiba-tiba datang bersama Damian setelah berhasil mengalahkan beberapa anak buahnya Kendrik.


"Bagaimana? Kau sudah menemukan dimana Naufal?" tanya Elvan.


"Naufal ada di ruangan itu kak," jawab Aditya sambil menunjuk ke arah ruangan yang dimaksud.


Lalu mereka bertiga pun langsung menuju ruangan tersebut.


Elvan menyentuh knop pintu. "Sial pintunya terkunci," umpat Elvan.


"Elvan, kita dobrak saja pintunya!" seru Damian. Elvan mengangguk.


Mereka mendobrak pintu itu.


BRAAKK.. BRAAKK..


BRAAKK..


Dengan tiga dobrakan, pintu pun berhasil terbuka. Saat mereka berada di dalam ruangan itu. Mata mereka terbelalak saat melihat kondisi adik kesayangan mereka dalam keadaan yang sangat buruk.

__ADS_1


"Naufal!" teriak Elvan dan Aditya.


Mereka berlari menghampiri adik kesayangan mereka yang tengah teringat di sebuah kursi.


Elvan langsung jatuh bersimpuh di hadapan adiknya. Tangannya terangkat untuk mengangkat wajah adiknya agar dirinya bisa melihat dengan jelas wajah sang adik.


Elvan terkejut saat melihat wajah Naufal yang begitu pucat seperti mayat. Sedangkan Aditya dan Damian melepaskan semua ikatan yang ada di tubuh Naufal.


Saat semua ikatan itu terlepas dari tubuh Naufal. Tubuh lemah itu jatuh tepat di pangkuan Elvan. Tangis mereka pun pecah. Mereka tidak bisa membendung tangisan mereka.


"Hei, Fal. Ini kakak sayang. Kakak datang. Maafkan kakak. Maafkan kakak yang datang terlambat," ucap Elvan yang memeluk erat tubuh Naufal seakan-akan enggan untuk melepaskannya. Elvan menangis sejadi-jadinya.


"Naufal, kakak juga ada disini," lirih Aditya dan menggenggam tangan dingin adiknya. "Naufal, kau adalah hidup kakak. Kakak mohon jangan tinggalkan kakak. Bertahanlah demi kami semua," tutur Aditya.


"Naufal. Kakak tidak ingin kehilanganmu. Tidak ingin berpisah denganmu. Karena kamu adalah nyawa kedua kakak setelah kakak mati," ucap Elvan sambil mengecup kening Naufal.


Melihat dua Alexander bersaudara menangis. Damian juga ikut menangis. Bagaimana pun dirinya sudah menganggap Naufal sebagai adiknya sendiri. Hatinya juga merasakan sakit melihat kondisi Naufal saat ini.


"Elvan! Aditya! Lebih baik sekarang kita bawa Naufal keluar dari tempat ini. Naufal harus segera dilarikan ke rumah sakit. Kalian lihatlah wajah Naufal sudah seperti mayat. Tambah lagi luka di perutnya itu," tutur Damian yang berusaha menenangkan mereka berdua.


"Ayo, kak! Kita harus pergi dari sini," ucap Aditya.


^^^


"Albert, cukup! Hentikan! Kau bisa membunuhnya!" teriak Felix yang berusaha menenangkan Albert yang membabi buta menghajar Kendrik.


"Jangan halangi aku, Felix. Biarkan aku membunuh laki-laki brengsek ini. Dia pantas untuk mati. Dia sudah membunuh ayahku. Dia juga sudah membunuh ayah mertua kita. Dia sudah menyakiti putra bungsuku dan berulang kali mencelakakannya!" teriak Albert.


"Ya, aku tahu. Aku tahu hal itu! Tapi kalau kau membunuhnya. Apa bedanya kau dengannya? Bajingan ini seorang pembunuh. Apa kau juga mau menjadi seorang pembunuh juga, hah? Pikirkan istri dan putra-putramu, Albert!" bentak Felix.


"Apa yang dikatakan Felix benar Albert. Kau tidak perlu membunuhnya. Biarkan pengadilan yang memberikan hukuman mati untuknya," sela Andreaz.


"Kalau bukan demi istri dan anak-anakku, kau sudah mati di tanganku Kendrik!" teriak Albert.


"Ayo! Kita bawa bajingan ini keluar dari sini," ujar Daksa.


Kemudian Daksa dan Adelard menarik paksa kedua tangan Kendrik dan membawanya keluar dari ruangan tersebut.


^^^


Saat mereka tiba diluar polisi sudah berada disana. Beberapa polisi tersebut langsung mengambil alih Kendrik dan memborgol kedua tangannya ke belakang.


"Pastikan kali ini pria sialan ini mendapatkan hukuman mati," ucap Albert pada atasan polisi tersebut.


"Kau jangan khawatir Albert. Lagian pria ini sudah dalam penyelidikan kami selama ini. Semua bukti kejahatannya sudah ada pada kami dan ditambah lagi bukti penyekapan yang dilakukannya terhadap putra-putra kalian. Selama ini dia selalu berhasil lolos dalam kejaran polisi. Tapi berkat kalian, dia berhasil tertangkap. Terima kasih Albert atas kerja samanya," ucap atasan polisi tersebut.


"Aku juga berterima kasih padamu kau sudah mau membantuku," balas Albert.


"Sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu."


"Bawa dia!" perintahnya pada anak buahnya.


Polisi-polisi itu membawa Kendrik ke kantor polisi untuk ditahan. Dan tidak perlu lagi penyelidikan. Karena semua bukti sudah didapat. Tinggal menunggu proses pengadilan. Berharap Kendrik mendapatkan hukuman yang sangat-sangat berat.


"Papi," panggil Pasya saat bertemu dengan ayah dan Pamannya.


"Arsya, kau tidak apa-apa sayang?" tanya Felix saat melihat putra bungsunya dalam keadaan terluka.


"Aku tidak apa-apa, Pi! Aku masih sanggup untuk berjalan. Bagaimana dengan Naufal? Apa Naufal baik-baik saja?" tanya Arsya.


"Kami belum bertemu dengan Naufal. Bahkan Elvan, Aditya dan Damian belum kembali," kata Radeon.


"Kak Arsya sudah memberitahu kak Aditya dimana Naufal disekap. Mungkin sekarang kak Aditya sedang menyelamatkan Naufal," lirih Davian.


"Semoga Aditya berhasil menyelamatkan Naufal," balas Adelard.


"Nah, itu mereka!" seru Felix.


Mereka melihat kedatangan Elvan, Aditya, Damian dan Naufal dalam gendongan Elvan.


"Elvan, Aditya. Kenapa dengan Naufal? Kenapa wajahnya sangat pucat sekali?" tanya Albert yang menangis melihat putra bungsunya.


"Kita harus segera membawa Naufal ke rumah sakit, Dad! Sebelum terlambat," ujar Aditya.


Sedangkan Elvan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya sudah sembab karena menangis.


Akhirnya mereka semua pergi meninggalkan markas milik Kendrik menuju rumah sakit, karena putra-putra bungsu mereka butuh perawatan medis. Terutama Naufal.


Sedangkan untuk Kendrik dia akan menjalani hukumannya di dalam penjara dan mendapatkan hukuman seberat-beratnya yaitu hukuman mati dari pengadilan sesuai permintaan dari pihak keluarga korban.

__ADS_1


__ADS_2