
[Ruang Penyekapan
Naufal]
Naufal berada di ruangan yang sedikit dingin. Kendrik sudah memulai permainan pertamanya. Dia dengan sengaja membuat ruangan dimana Naufal disekap menjadi dingin. Setiap dirinya bermain-main dengan Naufal, dirinya akan menambahkan suhu dingin di ruangan itu. Yang akan membuat Naufal akan merasa kedinginan.
"Hei, Naufal! Akhirnya kita bertemu juga. Sudah lama sekali aku ingin bertemu denganmu."
"Brengsek," umpat Naufal. "Dasar pengecut. Kalau kau berani, lepaskan ikatanku dan lawan aku sendirian," tantang Naufal yang wajahnya sedikit pucat ditambah lagi suhu ruangan itu dingin.
"Kau menantangku, hah?!" bentak Kendrik sambil tangannya mencekeram kuat rahang Naufal.
"Kenapa? Kau takut?" Naufal tersenyum menyeringai. "Dasar pecundang. Beraninya hanya menyuruh anak buahmu saja. Apa kau tidak punya nyali untuk melawanku?"
"Bedebah, bocah sialan!" Kendrik langsung melayangkan satu pukulan ke wajah Naufal.
Bugh..
"Aakkhh!" Naufal meringis merasakan sakit di wajahnya. "Hahahaha. Hanya segitu tenagamu. Dengan tenagamu seperti itu kau belum tentu bisa melawanku ataupun ayahnya," ejek Naufal.
"Bajingan!"
Bugh..
Kendrik memberikan pukulan kedua tepatnya di bagian perutnya.
"Aakkhh!"
Lagi-lagi Naufal meringis kesakitan dengan kepala tertunduk.
Kendrik mencekeram kasar rahang Naufal dan mengangkat kepalanya agar dirinya bisa melihat dengan jelas wajah kesakitan Naufal.
"Aku kasihan padamu, Naufal. Ada satu rahasia yang tidak kau ketahui dari orang tuamu. Mereka selama ini telah membohongimu," ucap Kendrik.
"A-apa maksudmu?!" bentak Naufal.
"Apa kau ingin tahu yang sebenarnya? Kau itu bukan putra kandung dari keluarga Alexander. Kau hanya seorang anak yatim piatu yang diadopsi oleh keluarga Alexander yang kaya raya itu," tutur Kendrik tersenyum menyeringai.
"Kau bohong. Itu tidak benar. Kau jangan mengarang cerita padaku!" bentak Naufal yang sudah meneteskan air matanya.
"Kau bisa melihatnya di mataku. Apakah ada kebohongan tersirat di mataku ini?" ucap Kendrik meyakinkan.
"Tidak! Itu tidak benar! Kau pasti bohong. Kau melakukan ini karena kau ingin menyakitiku dan ingin balas dendam pada ayahku!" teriak Naufal.
"Itu terserah padamu. Yang jelas aku sudah mengatakan yang sebenarnya," ucap Kendrik.
Setelah itu, Kendrik pergi meninggalkan ruangan itu.
"Oh iya. Satu hal lagi. Aku yang sudah membunuh kedua kakekmu. Mungkin sebentar lagi kau akan menyusul kedua kakekmu itu, Naufal."
Setelah puas bermain-main dengan Naufal. Kendrik menghampiri anak buahnya. "Bagaimana? Apa kau sudah merekam semuanya?" tanya Kendrik.
"Sudah, Bos!"
"Kirimkan video ini beserta video keenam kakak-kakaknya yang berada di ruangan sebelah. Tapi sebelum itu berikan pemanasan terlebih dahulu kepada mereka. Buat mereka ambruk," perintah Kendrik.
"Baik, Bos!"
^^^
Kendrik pun pergi menuju ruang kerjanya untuk menyaksikan adegan selanjutnya.
CKLEK..
Pintu ruangan dibuka dan terlihat ada sepuluh orang yang memasuki ruangan itu. Lalu tiba-tiba mereka menyerang Arsya dan kelima sahabat-sahabatnya. Terjadilah perkelahian di ruangan itu.
Arsya dan kelima sahabat-sahabatnya berhasil melawan anak buah Kendrik. Bahkan semuanya tumbang. Lalu masuk lagi dua puluh orang lagi ke dalam ruangan itu dan pertarungan terus berlanjut.
Sampai akhirnya Arsya dan kelima sahabat-sahabatnya tumbang. Bayangkan saja mereka melawan tiga puluh orang tanpa diberi ampun sedikit pun. Kendrik tersenyum bahagia menyaksikan pertarungan melalui layar laptopnya.
***
Di Mansion Naufal seluruh anggota keluarga berkumpul. Mereka sedang menyusun sebuah rencana untuk mencari dimana keberadaan Kendrik dan dimana pria itu menyekap Naufal?
__ADS_1
TING..
TONG..
Suara bell mansion Naufal berbunyi. Lalu Liana berlari membukakan pintu.
"Ya, sebentar!"
CKLEK..
Pintu Mansion dibuka. Saat Liana sudah berdiri di depan pintu, tidak ada orang sama sekali. Tapi matanya melirik sebuah kotak kecil yang tergeletak di depan pintu.
"Apa ini?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Liana pun mengambilnya kemudian dirinya melangkah masuk ke dalam Apartemen.
^^^
"Liana, kotak apa itu?" tanya Elvan.
"Aku tidak tahu, sayang. Aku menemukan di depan pintu mansion."
"Ya, sudah dibuka saja!" seru Felix.
Liana langsung membuka kotak tersebut. "VCD," kata Liana.
Mereka memutuskan untuk memutar VCD tersebut. Saat VCD itu sudah berputar, mereka semua terkejut saat melihat siapa yang ada di dalam adegan yang diputar dalam VCD itu?
"Naufal!" teriak mereka.
"Lihatlah Paman Albert, wajahnya Naufal terlihat pucat!" seru Zivan.
"Brengsek kau Kendrik. Berani sekali kau menyakiti putraku!"
"Apa-apaan pria itu? Kenapa dia berbicara begitu pada Naufal dan mengatakan kalau Naufal bukan anak kandung Mommy dan Daddy?" Rayyan berucap emosi.
"Naufal sayang. Jangan percaya padanya sayang," lirih Helena yang menangis menyaksikan putranya di dalam rekaman video itu yang sedang tersiksa.
Albert mengebrak meja. "Brengsek! Jadi dia yang sudah membunuh ayahku dan ayah mertuaku. Awas kau, Kendrik. Kali ini aku akan membunuhmu," ucap Albert.
"Arsya!" teriak Andhira yang melihat putranya juga berada di dalam rekaman video tersebut. "Sayang. Itu Arsya putra kita," ucap Andhira histeris di pelukan suaminya.
"Sialan. Kendrik ternyata sudah berhasil menculik Arsya, Barra, Dhafin, Ardian, Davian dan Reza. Ini tidak bisa dibiarkan lagi Albert. Benar kata Aditya. Kita harus segera bertindak sebelum terlambat," ucap Felix.
"Felix. Katakan pada yang lainnya. Kita harus segera menemukan markas Kendrik dan menyelamatkan putra-putra kita. Kerahkan beberapa anak buahmu dan juga yang lainnya," pinta Albert.
"Baiklah," jawab Felix
"Dan kau Damian. Paman mengandalkanmu untuk melacak keberadaan markas Kendrik," ucap Albert.
"Serahkan padaku, Paman. Demi Naufal aku akan berusaha mendapatkan lokasi markas pria brengsek itu," jawab Damian.
Semuanya pun bersiap-siap dengan tugas mereka masing-masing.
***
"Brengsek! Kalau kau berani lepaskan ikatanku sekarang. Lawan aku dengan tangan kosong. Jangan beraninya menyiksaku seperti ini. Pengecut!" teriak Naufal.
"Diam kau sialan!" bentak Kendrik. Lalu memberikan pukulan tepat di perut Naufal.
Bugh..
"Aakkhh!"
"Dasar pengecut. Kau beraninya hanya padaku. Kalau kau ingin membalas rasa sakit hatimu. Kenapa kau tidak langsung berurusan dengan ayahku? Kenapa kau hanya beraninya denganku, hah?!" bentak Naufal.
"Karena kau adalah kelemahan dari laki-laki brengsek itu."
"Cih! Sekali pecundang tetaplah pecundang."
"Beraninya kau berbicara begitu padaku, hah!" bentak Kendrik. "Rasakan ini."
Bugh..
__ADS_1
Bugh!!
"Aakkh!"
Kendrik memberikan dua pukulan keras di perut Naufal yang membuat Naufal merasakan sakit yang teramat di bagian perutnya.
Kendrik sengaja menyiksa Naufal dengan memberikan pukulan di bagian tubuh yang rawan.
"Aku sangat membenci keluargamu. Dimulai dari kedua kakekmu. Kakekmu yang bernama Alexander sudah membunuh ayahku. Dan kakekmu yang bernama Sheehan sudah berani menggagalkan rencanaku untuk mendekati perempuan yang sangat aku cintai. Dan terakhir adalah ayahmu. Dia sudah merebut perempuan yang aku cintai dan saat aku sudah merelakan ayahmu dengan perempuan tersebut, dia malah menggagalkan rencanaku untuk mendekati adiknya."
"Hahaha" Naufal tersenyum kecut. "Kau memang pantas disebut pria brengsek. Kau berani menyalahkan ayahku. Kau menggoda ibuku dan mengejar-ngejar dirinya. Padahal saat itu ibuku sudah memiliki calon suami. Saat kau gagal mendapatkan cinta ibuku, kau malah beralih mengejar Bibiku yang statusnya juga sudah memiliki calon suami. Dimana harga dirimu, hah?! Sampai segitunya kau terobsesi pada Ibuku dan bibiku," ejek Naufal.
Bugh..
"Apakah gadis-gadis diluar sana tidak ada yang menyukaimu? Atau memang hobimu yang suka merusak hubungan orang."
"Tutup mulutmu, bocah sialan!"
Bugh..
Kendrik memberikan pukulan demi pukulan di perut Naufal. Kemudian Kendrik mengelus-elus dan meraba-raba bagian dada kiri Naufal. Terukir senyuman menyeringai di sudut bibirnya.
"Aku dengar kau memiliki masalah di jantungmu ini. Dan aku juga dengar kalau kau pernah melakukan operasi transplantasi jantung. Berarti jantungmu yang sekarang ini adalah jantung baru untuk menopang kehidupanmu. Bagaimana kalau aku bermain-main sebentar dengan jantung barumu ini, hum?"
DEG
"Apa yang akan kau lakukan, hah?"
"Tenang. Aku hanya ingin bermain saja."
Kendrik kemudian menyuruh anak buahnya untuk memukuli Naufal.
"Pukul dia dengan keras tepat di jantungnya," perintah Kendrik.
"Baik, Bos."
Lalu anak buahnya itu langsung melakukan tugasnya.
Bugh.. Bugh..
Bugh.. Bugh..
"Aarrrggghhhh!" teriak Naufal yang merasakan sakit di bagian dada kirinya.
Bugh.. Bugh..
Bugh.. Bugh..
"Arrgghhhh!"
Pukulan demi pukulan yang diterima Naufal. Naufal merasakan nyeri dan sesak serta rasa sakit yang menjalar di bagian dada kirinya itu. Tambah lagi wajahnya yang sudah pucat. Naufal sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit di sekitar dada kirinya. Matanya mulai sayu dan air matanya yang mengalir membasahi wajahnya.
"Aku akan membantumu untuk menghilangkan penderitaanmu dan juga aku akan membuatmu bertemu dengan kedua kakekmu di neraka," ucap Kendrik tersenyum menyeringai.
Kendrik mengeluarkan pisau lipatnya dari sakit celananya. Kemudian Kendrik menancapkan pisau itu ke perut Naufal.
Jleb..
"Aaaaakkkkkkhhhh!" teriak Naufal.
Pisau itu langsung menembus di perutnya. Mengalirkan darah kental kemerahan yang memberikan sensasi nyeri luar biasa.
"Nikmatilah kematianmu, Naufal Alexander." Kendrik tersenyum menyeringai, lalu pergi meninggalkan Naufal sendiri di dalam ruangan yang sangat dingin itu.
***
Semua telah berkumpul di mansion Naufal, termasuk Aditya. Aditya kembali pulang saat setelah mendapatkan panggilan dari Elvan.
Semua sudah bersiap untuk menyerang kediaman Kendrik dan menyelamatkan putra-putra mereka. Tidak terkecuali para kakak-kakaknya juga ikut menyelamatkan adik-adik mereka.
"Aku berhasil!" teriak Damian saat dirinya berhasil menemukan keberadaan letak lokasi penyekapan Naufal dan keenam kakak-kakaknya.
Semua mata memandangi layar laptop Naufal. Terukir senyuman di wajah-wajah mereka masing-masing.
__ADS_1