
[Rumah Naufal]
[Ruang Tamu, 13:15 pm]
Barra, Dhafin, Ardian, Davian dan Reza sudah berada di rumah Naufal tepatnya di ruang tamu ditemani oleh Arsya.
"Sialan tuh siluman kelinci. Seenaknya nyuruh gue kesini. Kalau aja dia nggak ngancem gue. Mungkin gue udah bobok cantik di rumah," ucap Barra kesal.
"Sama kak. Aku juga. Kalau nggak mikirin ancaman sikelinci laknat itu ogah deh datang kemari. Mending milih tidur seharian di rumah," sela Reza.
Ardian, Davian dan Dhafin mengangguk-angguk membenarkan perkataan Barra dan Reza.
"Tapi buktinya kalian sudah disini sekarang kan," ejek Arsya.
"Iya. Itupun karena sikelinci itu ngancem," jawab Ardian.
"Lalu kenapa kalian mau datang. Seharusnya kalian tidak usah datang, sekalipun diancam sama si bocah tengil itu," kata Arsya.
"Jadi kakak senang kalau sikelinci itu menjauhi kami semua?" tanya Davian.
"Lalu bagaimana dengan kalian? Apa kalian mau dijauhi ama sikelinci nakal itu, hum?" Arsya.
"Tidak," jawab Barra, Dhafin, Ardian, Davian dan Reza bersamaan.
Arsya tersenyum gemas melihat mendengar jawaban kompak dari sahabatnya itu
"Aku tidak rela sikelinci buntalan itu jauh-jauh dariku. Kalau sikelinci itu sudah jauh susah sekali untuk digapai," ucap Reza.
"Ya. kau benar, Za. Sekali siluman kelinci itu merajuk dan marah susah untuk menenangkannya," kata Davian.
"Bagaimana nasib kita kalau sampai hal itu terjadi?" tanya Dhafin.
"Nah, itu kalian tahu. Jadi kalian harus terima resiko saat sikelinci itu memaksa kalian untuk datang kesini. Itu tandanya kalian benar-benar sayang padanya," kata Arsya.
"Kau benar, kak Arsya. Kami memang sangat menyayanginya. Kami rela datang kesini dan takut akan ancamannya itu," ujar Reza dan diangguki oleh yang lainnya kecuali Arsya.
Arsya tersenyum sebagai jawabannya.
^^^
[Ruang Tengah]
Di ruang tengah berkumpul Albert, Helena, Elvan, Aditya, Rayyan, Felix, Andhira dan Pasya. Sedangkan sipemilik rumah masih di dalam kamarnya. Mereka asyik mengobrol dan berbincang-bincang sembari melontar candaan.
Lalu terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Siapa lagi kalau bukan sibungsu kesayangan mereka
Tap!!
Tap!!
Tap!!
"Siang Daddy! Siang Mommy! Siang Paman! Siang Bibi! Siang kakak!" Naufal melangkah menuju ruang tengah sembari menyap anggota keluarganya.
__ADS_1
Setelah itu, Naufal kemudian menduduki pantatnya di sofa tepat di samping sang ibu kesayangannya.
"Siang juga kelinci nakal," jawab mereka bersamaan.
"Aish."
"Kakak Arsya mana?" tanya Naufal saat tidak melihat kakak yang menyebalkannya itu.
"Kamu bertanya dengan siapa? Disini ada delapan orang," sindir Aditya.
"Iiissss! Salah satu dari kalian kan bisa menjawabnya. Apa susahnya sih?" kesal Naufal sambil mempoutkan bibirnya.
Helena mencubit pelan pipi gembil putra bungsunya karena gemas.
"Kakak kamu itu ada di ruang tamu bersama kakak-kakak kamu yang lain. Mereka semua sudah datang," jawab Helena.
"Ooh," jawab Naufal singkat. Lalu terukir senyuman jahil di bibirnya.
Elvan, Aditya dan Rayyan menatap wajah adiknya. Mereka curiga akan senyuman dari sang adik.
"Kok cuma 'ooh' saja jawabannya, Fal?? Kenapa tidak kamu temui mereka?? Kan kamu yang nyuruh mereka datang?" tanya Elvan.
Naufal tidak menjawab pertanyaan dari kakak tertuanya itu.
Lalu lewatlah seorang pelayan dengan membawa nampan berisikan minuman. Dan Naufal pun menolehkan wajahnya ke arah pelayan itu.
"Bi. Itu minuman mau dibawa kemana?" tanya Naufal.
"Hmm." terlintas ide cemerlang di otaknya.
Naufal beranjak dari duduknya dan menghampiri sipelayan itu. Lalu detik kemudian Naufal membisikkan sesuatu di telinga sang pelayan tersebut.
"Tolong siapkan tempat yang special di teras samping. Dekor dengan bagus. Lalu tata makanan dan minuman diatas meja. Akan ada empat sahabatku lagi yang akan datang," bisik Naufal kemudian mengambil satu gelas minuman yang ada di nampan itu.
"Baik tuan muda," jawab pelayan itu lalu kembali ke dapur dengan membawa nampan tersebut.
Sedangkan anggota keluarganya yang memperhatikannya hanya geleng-geleng kepala akan kelakuan sibungsu.
"Mau apalagi tuh bocah?" tanya Rayyan.
"Kamu. Kenapa kau menyuruh bibi membawa minuman itu kembali ke dapur?" tanya Rayyan.
Naufal menolehkan wajahnya melihat ke arah kakaknya. "Mau tahu aja. KEPO." lalu pergi meninggalkan anggota keluarganya menuju ruang tamu.
^^^
[Ruang Tamu, 14:15 PM]
Arsya, Barra, Dhafin, Ardian, Davian dan Reza sedang asyik mengobrol tanpa mereka menyadari sang pemilik rumah sedang menguping.
"Tapi kadang-kadang sifatnya itu menyebalkan. Kadang suka seenaknya," kata Reza.
"Untung aja sayang. Kalau tidak sudah gue tendang tuh buntalan kelinci ke dasar laut yang paling dalam," kata Barra.
__ADS_1
"Kalau aku punya ilmu sihir, aku akan buat tu bocah jadi kelinci benaran. Lalu aku kerangkeng di dalam kandang," ucap Davian.
"Eehheeemm!!" Naufal berdehem sambil bersandar di dinding dengan tangan yang memegang segelas minuman.
Mereka menolehkan pandangan mereka melihat ke sumber suara. Dapat mereka lihat Naufal sedang berdiri bersandar di dinding dengan minuman di tangannya.
"Hehehe... Fal." mereka tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuk mereka yang tak gatal.
Beda dengan Arsya. Arsya menahan tawanya saat melihat kelima sahabatnya mati kutu di depan adiknya.
"Sudah lama disitu, Fal?" tanya Ardian.
"Sudah dari satu tahun yang lalu," jawab Naufal asal.
"Enak ya. Di depan memuji. Di belakang mengumpat. Mau musuhan nih, hum?" sindir Naufal sembari meneguk minuman.
Davian beranjak dari duduknya dan menghampiri Naufal. "Hehe. Jangan marah ya. Kita semua cuma bercanda kok."
"Jangan percaya, Fal! Sekarang aja mereka bilangnya bercanda. Tadi aja mereka semua mengumpati kamu tahuu," kata Arsya sembari mengompori.
"Sialan kau, kak Arsya." Barra mengumpat.
"Nah! Tuh lihat sendirikan, Fal? Barra aja berani mengumpati kakak kamu yang tampan ini," adu Arsya sambil menahan tawanya.
"Kakak Arsya. Kau benar-benar kurang ajar ya. Senang sekali melihat kami yang tak berkutik di depan sikelinci ini," kesal Dhafin.
"Fal, jangan dengarkan Kak Arsya gila itu," ucap Barra sambil mengumpati kakaknya itu.
Saat Naufal ingin membuka suara. Terdengar suara seseorang yang memanggil namanya.
"Siluman kelinci sialan, aku datang!" teriak Henry yang langsung masuk ke dalam rumah Naufal diikuti Nathan, Theo dan Ricky.
Naufal menatap tajam ke arah Henry. Sedangkan Henry memilih mengabaikan tatapan tersebut.
"Kalian membawa apa? Kenapa banyak sekali?" tanya Dhafin saat melihat Henry dan Nathan menenteng masing-masing dua kantongĀ makanan.
"Tanyakan saja pada kelinci sialan itu," umpat Henry.
Dalam diam Naufal tersenyum.
"Memangnya aku kenapa? Aku dari tadi hanya berdiri disini dan tidak ngapa-ngapain," jawab Naufal santai.
"Seharusnya aku yang bertanya pada kalian berdua. Kalian ngapain bawa barang sebanyak itu? Apa kalian mau mengotori rumahku, hah? Atau kalian mau jualan disini?" tanya Naufal sarkas dan hal itu sukses membuat Henry dan Nathan kesal, terutama Henry.
"Sialan kau, Fal." Henry mengumpat.
"Aku menyuruh kalian datang kesini bukan untuk menceramahiku. Apa kalian akan disini sampai malam? Apa kalian tidak mau makan atau minum, hum?" tanya Naufal.
"Hah!" mereka hanya bisa menghela nafas pasrah atas sikap kelinci kesayangan mereka.
"Ayoo," ajak Naufal.
Dan Naufal pun pergi meninggalkan mereka semua dan mereka semua pun mengikuti Naufal dari belakang.
__ADS_1