
Semua anggota keluarga, keenam kakak-kakaknya, keenam sahabatnya Vanesha dan para sahabat Naufal sedang berkumpul di ruang tengah, kecuali Naufal. Naufal memilih istirahat dikamarnya.
Para sahabatnya Vanesha sudah selesai melaksanakan magang mereka. Jadi mereka diajak oleh para kakak-kakaknya Naufal untuk mengunjunginya sekalian membesuk Naufal yang sedang sakit.
Keenam sahabatnya Vanesha sudah mengetahui kondisi Naufal yang sebenarnya. Hanya Vanesha yang belum mengetahuinya.
"Kalian tega sekali kepada perempuan itu. Masa iya dia yang harus membayar semua pesanan kalian. Yang seharusnya itu kalian yang bayarin!" ucap Rayyan
"Habisnya kita kesal semua sama tuh cewek," jawab Reza.
"Sebenarnya memang benar kami yang seharusnya membayar dikarenakan kami yang ngajak Naufal jalan-jalan keluar. Saat kami tiba di Cafe, tiba-tiba datang perempuan itu dan langsung memeluk Naufal." Davian berucap.
"Bukan itu saja perempuan itu mengaku sebagai Vanesha," kata Ardian.
"Apa?" teriak para anggota keluarga Naufal, tak terkecuali sahabat-sahabat Vanesha.
"Tunggu dulu Vanesha? Siapa itu Vanesha?" tanya Albert.
"Paman belum tahu?" tanya Arsya.
"Belum. Memangnya siapa Vanesha?" tanya Albert lagi.
"Vanesha itu calon menantu Paman," jawab Barra.
"Benarkah? Jadi putraku yang manja itu sudah punya pendamping!" seru Albert sumringah.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya pada perempuan itu?" tanya Aditya penasaran.
"Perempuan tetap terus meyakinkan Naufal kalau dirinya itu benar-benar Vanesha," jawab Dhafin.
"Tanggapan Naufal bagaimana?" tanya Elvan.
"Naufal sedikit kebingungan terhadap perempuan yang tiba-tiba datang memeluknya. Saat perempuan itu meyakinkan kalau dia memang benar-benar Vanesha, perempuan itu memperlihatkan cincin yang dipakainya. Cincin yang sama yang dipakai Naufal. Hal itu sukses membuat Naufal merasakan sakit dikepalanya. Tapi untungnya Davian dan Reza berhasil menenangkan Naufal," saut Ardian.
"Awalnya kami mau pulang saja dikarenakan kondisi Naufal. Tapi Naufal tidak mau dan memaksa tetap berada disana. Akhirnya kami mengiyakan keinginannya Naufal," jawab Davian.
"Saat Reza marah dan mengatakan kalau dia lapar. Perempuan itu menawarkan diri untuk mentraktir apapun yang dipesan Naufal. Hal itu membuat Naufal bertambah bingung. Maka kak Arsya mengambil alih tugas Naufal. Kak Arsya memesan semua menu yang ada di cafe tersebut termasuk pesanan kita-kita," kata Barra.
"Terus," ucap Rayyan.
"Yang jelas. Perempuan itu hanya menurut dan pasrah atas semua pesanan kak Arsya," jawab Reza.
"Lalu Naufal bagaimana?" tanya Andhira yang ikutan nimbrung.
"Naufal hanya bingung melihat kami semua, Bi! Tapi Naufal menikmatinya," kata Dhafin.
"Setelah kita selesai makan. Kita langsung pulang. Itu pun Naufal yang ngajak pulang karena kami perhatikan wajah Naufal yang sedikit kelelahan dan sedikit pucat," ucap Davian.
Mereka semua tertawa mendengar cerita dari para kakak-kakaknya Naufal. Saat mereka lagi asyik tertawa, Naufal datang menghampiri mereka semua.
"Hei, Fal." sapa Nathan, sementara Naufal hanya membalasnya dengan senyuman.
"Naufal. Bagaimana kondisi kamu?"
"Kamu baikan?" tanya Theo.
"Aku baik," jawab Naufal.
Terdengar suara bell berbunyi.
"Biar aku saja yang membuka pintunya!" seru Ishana lalu beranjak pergi menuju pintu utama.
CKLEK..
Pintu dibuka dan terlihat seorang perempuan muda berdiri di depan pintu.
"Kamu siapa?" tanya Ishana pada perempuan itu.
Tanpa menjawab pertanyaan Ishana, perempuan itu langsung masuk ke mansion tanpa permisi dan berteriak sesuka hatinya.
"Kak Naufal!" teriak perempuan itu menggema di ruang tengah.
Semua orang yang ada di ruang tengah tersebut kaget. Tak terkecuali Naufal. Naufal melongo melihat Vanesha abal-abal datang ke mansionnya.
__ADS_1
"Kenapa dia kesini? Dari mana dia tahu alamat rumahku." batin Naufal.
"Kak Naufal!" teriak perempuan itu dan langsung memeluk Naufal.
Sedangkan yang lainnya hanya geleng-geleng kepala dan menatap jijik kearah perempuan tersebut, terutama keenam sahabat Vanesha.
"Hei. Kamu siapa dan kenapa tiba-tiba kamu memeluk Naufal, putra, Bibi?" tanya Helena
"Bibi lupa dengan saya. Saya Vanesha, kekasihnya kak Naufal," jawab Vanesha abal-abal.
"Ooh. Jadi perempuan ini yang diceritakan oleh Arsya." batin Helena.
"Maaf ya, nak! Bukan Bibi lupa sama kamu. Bibi belum pernah bertemu dengan perempuan bernama Vanesha karena putra bungsu bibi belum mengenalinya pada Bibi dan Bibi juga belum tahu kalau putra Bibi sudah punya kekasih," jawab Helena.
"Mampus," batin para kakak-kakaknya Naufal.
"Rasain lo. Dasar wanita murahan." batin sahabat-sahabat Vanesha.
"Ach, bodo amat." perempuan itu masih setia memeluk Naufal tanpa ada niat untuk melepaskan pelukannya.
"Maaf ya Va-nesha. Tolong lepaskan pelukan kamu ini. Aku tidak terbiasa dipeluk!" seru Naufal yang sudah risih.
Anggota keluarga yang melihat raut wajah Naufal yang sudah sangat risih dengan perempuan itu menjadi tidak tega. Tanpa peduli lagi Aditya berdiri dan dengan kasarnya menarik perempuan itu dari Naufal.
"Kau ini punya harga diri tidak, hah? Beraninya kau memeluk adikku. Apa kau tidak bisa melihat bagaimana reaksi adikku padamu?!" bentak Aditya.
"Naufal, pergilah ke kamarmu sekarang!" seru Elvan.
Naufal mengangguk dan langsung pergi meninggalkan mereka semua. Tapi dengan cepat, perempuan itu menahan tangan Naufal. Mereka semua kaget atas apa yang dilakukan oleh perempuan tersebut.
"Apa yang kau lakukan? Biarkan adikku pergi ke kamarnya!" bentak Rayyan.
"Kak Naufal. Apa kak Naufal mau ke kamar? Ayoo, kita ke kamar. Aku akan temani kak Naufal," ucap perempuan itu.
"Maaf. Aku mau istirahat. Tolong lepaskan tanganku," ucap Naufal. Dan tiba-tiba rasa sakit itu muncul lagi. "Aakkhhh." Naufal memegang kepalanya.
"Naufal, kau kenapa sayang?" tanya Helena yang melihat putranya menahan sakit.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang sangat familiar. "Kakak Naufal!" panggil Vanesha yang air matanya sudah mengalir tanpa komando saat melihat Naufal yang dipeluk oleh wanita lain.
Mereka semua terkejut melihat perempuan yang datang tiba-tiba dan memanggil Naufal.
"Vanesha!" teriak sahabatnya saat melihat Vanesha datang.
"Jadi gadis ini yang bernama Vanesha. Cantik sekali." batin Helena dan Albert tersenyum.
Naufal mengerenyit keningnya. Pikiran berkecamuk. Matanya terus menatap gadis yang muncul di hadapannya.
"Eeemm. Jadi dia yang bernama Vanesha. Cantik juga. Aku harus bergerak cepat," batin perempuan itu.
"Kak Naufal. Kapan kita akan melaksanakan rencana pertunangan kita? Orang tuaku sudah tidak sabaran!" seru perempuan itu tambah mengeratkan pelukannya pada Naufal.
Naufal hanya diam di tempat. Tapi tatapan matanya masih fokus pada gadis yang ada di hadapannya. Gadis yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Naufal berusaha sekuat tenaga untuk mengingatnya. Dalam hatinya, dia memiliki perasaan yang begitu dalam.
Elvan, Aditya dan Rayyan sedari tadi memperhatikan gerak gerik Naufal. Terutama wajah sang adik.
"Kak. Aku khawatir pada Naufal. Sepertinya Naufal berusaha untuk mengingat gadis yang baru datang itu," ucap Rayyan.
"Kau benar Rayyan. Apa dia yang bernama Vanesha? Vanesha yang asli!" seru Aditya.
"Arsya," panggil Elvan.
"Iya kak Elvan,"
"Apa gadis itu yang bernama Vanesha?" tanya Elvan.
"Ya, kak. Dialah Vanesha," jawab Arsya.
"Kak Naufal. Aku tidak menyangka kakak tega padaku. Tapi aku turut bahagia atas pertunangan kak Naufal dengan perempuan itu. Semoga kak Naufal bahagia. Aku permisi." Vanesha langsung pergi meninggalkan Naufal yang sudah menangis.
"Vanesha tunggu!" teriak Ishana lalu berlari menyusulnya.
"Va-vanesha," lirih Naufal.
__ADS_1
"Aarrgghh!" teriak Naufal.
"Naufal!" teriak mereka yang khawatir melihat Naufal yang kesakitan.
"Kau minggir!" bentak Elvan dan dibantu oleh Aditya untuk merebut Naufal dari rengkuhan perempuan sinting tersebut.
Sedangkan perempuan itu tetap dengan posisinya dengan memeluk tubuh Naufal.
"Aku bilang minggir perempuan sialan!" teriak Elvan sekali lagi tepat di depan wajah perempuan tersebut lalu mendorongnya sampai perempuan itu jatuh di lantai dan Aditya langsung menarik tubuh adiknya dan membawanya ke kamar.
"Kau puas, hah!" bentak Jennitra sambil menarik kasar tangan perempuan itu.
"Kalau sampai hubungan mereka hancur. Kami semua akan mengejarmu kemanapun kau pergi," ucap Zora.
***
Sudah dua puluh menit Ishana mencari Vanesha. Akhirnya dirinya berhasil menemukan Vanesha.
"Hei." sapa Ishana dan duduk disamping Vanesha. "Kenapa kau pergi? Apa kau tidak merindukan kekasihmu itu, hum?"
"Kenapa aku harus merindukannya? Sedangkan dia saja tidak merindukanku" lirih Vanesha.
"Kau salah Vanesha," ucap Ishana.
"Maksud kak Ishana apa?" tanya Vanesha.
"Naufal sedang sakit. Lebih tepatnya Naufal mengalami Amnesia. Dia melupakan keluarganya, dirinya dan keenam kakak-kakaknya. Sekarang ini yang dia ingat adalah kedua orang tuanya dan ketiga Kakaknya saja. Selebihnya dia belum bisa mengingatnya Vanesha," tutur Ishana.
"Selama kita melaksanakan magang. Selama itulah kita tidak tahu masalah apa yang sudah dihadapi oleh pacar-pacar kita. Saat kami selesai magang. Pacar-pacar kita datang menjemput kita dan mengajak kita ke rumah Naufal. Dan mereka sudah menceritakan semuanya pada kami, termasuk kondisi Naufal. Naufal mengalami kecelakaan mobil. Naufal sempat hilang selama satu bulan. Saat Naufal kembali, alhasil Naufal Amnesia."
Vanesha yang mendengar cerita Ishana menangis. Dia merasa bersalah.
"Kak. Temani aku bertemu kak Naufal," pinta Vanesha.
Ishana tersenyum lalu kemudian mengangguk.
"Ayoo."
Ishana menelepon Enzi. Sebelum kembali ke mansion Naufal.
"Hallo kak. Ada apa? Vanesha baik-baik saja kan?"
"Vanesha baik-baik saja. Oh iya! Aku dan Vanesha akan kesana. Tolong tahan perempuan itu jangan biarkan dia pergi."
"Baiklah."
***
Enzi memanggil Jennitra dan Nattaya lalu membisikkan sesuatu pada mereka berdua.
"Kak Ishana meminta kita untuk menahan perempuan gila itu sampai Kak Ishana dan Vanesha kembali."
"Memang kenapa? Bukannya bagus dia pergi dari sini," saut Nattaya.
"Iya, kau benar. Tapi ini pesan Kak Ishana," ucap Enzi lagi.
"Baiklah," ucap Nattaya dan Jennitra bersamaan.
Enzi memandangi keempat sahabatnya dan memberi kode pada mereka sambil melirik ke arah perempuan gila yang lagi duduk di sofa. Mereka mengerti akan kode dari Enzi dan mereka langsung duduk di samping perempuan itu. Bahkan tidak memberikan cela untuk perempuan itu lepas.
CKLEK..
Pintu dibuka. Dan terlihat Ishana dan Vanesha yang memasuki mansion.
"Vanesha, kau baik-baik?" tanya para sahabatnya.
"Aku baik-baik saja," jawab Vanesha dan matanya langsung menatap tajam perempuan itu.
Helena menghampiri Vanesha. "Jadi kamu yang bernama Vanesha. Gadis yang sudah mencuri hati putra bungsu, Bibi?" tanya Helena tersenyum sambil membelai lembut rambut Vanesha.
"I-iya, Bi! Aku Vanesha Naladhipa," jawab Vanesha gugup.
"Tidak perlu gugup seperti itu sayang. Bibi gak galak kok. Bibi sudah jinak," celetuk Helena. Mereka tertawa mendengar ucapan Helena.
__ADS_1