
Mendengar umpatan dari Naufal, anggota keluarganya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar Naufal sedang berbicara di telepon dengan sahabatnya.
"Mommy. Aku sudah selesai," ucap Naufal dan Naufal pun langsung berdiri dari duduknya.
"Naufal, kamu baru makan dua suap saja tadi. Akhir-akhir ini kamu susah sekali makannya," tegur Aditya.
Naufal tidak mempedulikan perkataan kakak keduanya itu. Bahkan menatapnya pun enggan. Kemudian Naufal beranjak dari meja makan. Tapi sebelumnya, Naufal menghampiri kulkas untuk mengambil susu kesukaannya. Naufal menuangkan susu itu ke dalam gelas lalu tidak butuh lama susu di dalam gelas tersebut ludes begitu saja.
Sedangkan anggota keluarganya yang melihatnya tersenyum. Mereka tahu kalau putra bungsu mereka tidak pernah lepas yang nama susu pisang kesukaannya. Maka dari itu mereka selalu menyediakan stok setiap sibungsu ada di rumah.
"Mommy, Daddy, Paman, Bibi aku ke kamar," ucap Naufal.
Setelah mengatakan hal itu, Naufal pun langsung pergi meninggalkan mereka semua yang masih berada di meja makan. Tapi langkahnya terhenti dan membalikkan badannya.
"Oh, ya! Jangan ada yang menggangguku. Dan jangan ada yang masuk ke kamarku." Naufal berucap sembari melihat kearah kakak keduanya.
Setelah itu Naufal pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya di lantai dua.
Niatnya Aditya ingin mendatangi kamar adiknya. Tapi sudah terlebih dahulu diperingati oleh sang adik. Aditya hanya bisa menghela nafasnya.
"Hah!"
Helena dan Albert yang melihat putra keduanya menjadi tidak tega. Mereka tahu kalau niat dari putra keduanya itu ingin mendatangi kamar sibungsu. Tapi putra bungsunya malah sudah terlebih dahulu memperingati untuk tidak mengganggunya.
"Sayang. Yang sabar ya. Beri waktu adikmu. Biarkan dia sendiri dulu." Helena menghibur putra keduanya itu.
"Ya, Mom." Aditya menjawabnya dengan sedikit tidak bersemangat.
***
Keesokkan paginya dimana seluruh anggota keluarga telah berkumpul di ruang tengah. Sedangkan Naufal masih tertidur di kamarnya. Aditya pun berniat menuju kamar adik bungsunya.
^^^
Saat ini Aditya sudah berada di depan pintu kamar sang adik. Dengan keberanian yang tinggi, Aditya membuka pintu kamar adiknya. Dia tidak peduli kalau nantinya adiknya akan marah padanya.
CKLEK..
Setelah pintu terbuka. Aditya langsung melangkahkan kakinya memasuki kamar adiknya. Dapat dilihat bahwa adiknya masih tertidur pulas.
Aditya berlahan mendekati ranjang Naufal. Tangan terangkat untuk mengelus rambut adiknya lalu kemudian Aditya memberikan kecupan sayang pada kening sang adik tercinta.
"Sehatlah selalu, Fal. Kakak tidak mau kamu sakit," batin Aditya.
Aditya masih mengelus rambut adiknya. "Naufal, bangunlah. Hari ini Daddy dan Mommy akan berangkat ke Jerman. Apa kamu tidak mau mengantar mereka ke Bandara?"
Naufal menggeliat dalam tidurnya sambil bibirnya yang sedikit dimanyunkan. Hal itu sukses membuat Aditya terkekeh melihat wajah adiknya.
"Hei, Naufal. Bangunlah. Atau kakak akan menghancurkan semua koleksi Iron Man milikmu." Aditya sedikit memberikan ancaman.
Mendengar ucapan dan ancaman dari Aditya, Naufal pun langsung membuka matanya lalu kemudian Naufal menduduki dirinya.
"Ka-kakak." Naufal berbicara khas orang bangun tidur.
Aditya hanya memberikan senyuman pada adiknya saat adiknya terkejut melihat dirinya.
"Lebih baik kakak keluar dari kamarku. Aku tidak mau melihat kakak atau pun bicara dengan kakak." Naufal masih marah terhadap kakak keduanya itu. Setelah itu, Naufal membuang wajahnya kearah lain
"Naufal. Kakak mohon jangan seperti ini. Kakak tahu, kakak salah. Kakak minta maaf," ucap Naufal menyesal.
Naufal masih tidak mempedulikan kakaknya itu. Bahkan menatap pun tidak.
"Fal, ayolah. Bicaralah sesuatu. Jangan diamkan kakak seperti ini. Kakak sangat menyayangimu, Fal."
Aditya merasakan sesak di dadanya ketika melihat adik manisnya sama sekali tidak ingin melihatnya dan juga tidak ingin berbicara dengannya.
Naufal menggenggam tangan adiknya lalu mengecupnya. "Hiks.. kakak mohon Naufal. Maafkan kakak. Kakak benar-benar menyesal sudah menamparmu. Kakak saat itu kelepasan.. Hiks."
Akhirnya tangis Aditya pun pecah. Hati Aditya hancur kala melihat adik kesayangannya masih enggan berbicara dan menatap wajahnya.
Naufal yang mendengar isakan sang kakak, menjadi tidak tega. Dan pada akhirnya Naufal mengalihkan pandangannya menatap kakaknya itu.
"Ka-kakak." Naufal kemudian menangis saat melihat kakak kesayangannya menangis.
"Naufal," lirih Aditya saat mendengar adiknya memanggilnya.
Naufal langsung memeluk tubuh kakaknya itu. Aditya yang mendapatkan pelukan dari adiknya pun tak mau kalah. Dirinya pun membalas pelukan dari adiknya itu dengan erat.
"Aku menyayangi, kakak. Maafkan aku.. Maafkan aku."
"Kamu tidak salah. Kakak yang salah. Maafkan kakak ya."
"Aku sudah memaafkan kakak. Aku tidak benar-benar membenci kakak. Kakak adalah kakak kesayanganku," jawab Naufal.
Aditya melepaskan pelukannya pada adiknya dan menatap wajah tampannya. Dan detik kemudian Aditya memberikan kecupan pada kening adiknya itu. "Kakak menyayangimu. Selamanya!"
"Ya, sudah! Sekarang kamu pergilah mandi. Setelah selesai, lekaslah turun ke bawah. Semuanya sudah menunggu di bawah. Kamu tidak lupakan hari ini Daddy dan Mommy akan berangkat ke Jerman?"
__ADS_1
"Baiklah, kak."
Setelah berhasil membujuk dan berdamai dengan adiknya. Aditya pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan adiknya sendiri di kamarnya. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar adiknya memanggilnya.
"Kakak."
Aditya membalikkan badannya dan dapat dilihat, adiknya sedang merentangkan kedua tangannya. Aditya yang mengerti akan hal itu pun mendekati adiknya lalu memeluknya.
"Aku menyayangi kakak. Aku menyayangi kakak," ucap Naufal dalam pelukan sang kakak.
Aditya tersenyum bahagia akan sifat manja adiknya. Inilah yang tidak bisa dilupakan oleh seorang Aditya Alexander.
"Kakak juga menyayangimu."
Aditya melepaskan pelukannya pada adiknya. "Ya, sudah. Sekarang pergilah mandi dan bersiap-siap."
"Eeemm." Naufal mengangguk.
Tanpa mereka sadari. Ada sepasang mata yang sedang mengintip. Orang itu menangis. Menangis karena bahagia menyaksikannya dua makhluk tampan yang sudah berdamai.
***
Kini Naufal dan anggota keluarganya sudah berada di Bandara.
"Daddy, Mommy. Apa kalian benar-benar akan pergi ke Jerman selama itu?" tanya Naufal.
"Maaf, sayang. Mommy dan Daddy benar-benar harus pergi kesana," saut Helena pada putra bungsunya.
"Tidak apakan sayang? Daddy dan Mommy berjanji akan selalu menghubungi kalian disini," ucap Albert pada keempat putranya.
"Biarkan Mommy dan Daddy pergi, Fal. Kan masih ada kakak, kak Aditya, kak Rayyan, Paman dan Bibi," hibur Elvan pada Naufal yang masih setia memeluk ibunya.
"Kak Elvan benar, Fal. Lagi pula Daddy dan Mommy pasti akan pulangkan." Aditya juga ikut meyakinkan adik bungsunya.
"Kalau begitu kalian harus berjanji padaku kalau kalian harus selalu sehat, harus selalu menyayangi kami berempat, tidak boleh melupakan kami, selalu memberikan kabar pada kami, tidak boleh sakit disana dan kalian harus pulang kesini lagi dan kalian tidak boleh lama-lama disana," saut Naufal.
"Baiklah. Daddy dan Mommy akan lakukan semua yang Naufal katakan," jawab Albert.
"Tapi Naufal juga harus berjanji pada Mommy kalau Naufal tidak boleh sakit, tidak boleh sedih. Naufal tidak boleh banyak pikiran dan Naufal harus membuka hati Naufal untuk menerima para kakak-kakak Naufal. Jangan memendam perasaan apapun. Nanti Naufal bisa sakit," ucap Helena panjang lebar sambil menggenggam tangan putra bungsunya.
"Aku mengerti Mommy. Jadi cepatlah pulang dengan keadaan yang baik-baik saja," ucap Naufal.
"Pasti sayang," jawab Albert dan Helena bersamaan.
"Elvan, Aditya, Rayyan. Jaga diri kalian baik-baik dan jaga adik kalian? Kalau ada apa-apa hubungi Daddy dan Mommy. Mengerti!" seru Albert.
"Andhira, Felix. Aku titip anak-anakku. Jaga mereka. Kalau mereka nakal, jitak saja. Terutama Naufal," ucap Helena jahil.
"Mommyyy!" teriak Naufal sembari memanyunkan bibirnya.
Helena tersenyum melihat putra bungsunya lalu kemudian berjalan menghampiri keponakannya Arsya.
"Arsya. Inilah kesempatanmu untuk lebih dekat dengan Naufal. Bibi titip Naufal padamu."
"Aku mengerti, Bi! Aku akan menjaga Naufal," jawab Arsya.
"Terima kasih, sayang!"
"Baiklah, kami pergi dulu ya!"
Keempat bersaudara itu hanya tersenyum. Walaupun mereka sedang menangis.
"Sudah, sudah. Ayo, kita pulang."
Felix dan Andhira mengajak putra dan keponakan-keponakannya untuk pulang.
***
Mereka telah kembali ke mansion setelah pulang dari Bandara. Sementara Naufal memilih masuk ke kamarnya.
"Aku lelah." Naufal merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk kesayangannya. Dalam beberapa detik Naufal pun tertidur
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dan waktunya untuk makan malam. Para pelayan tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka.
Elvan keluar dari kamarnya dan langsung menuju dapur. "Bibi. Makan malamnya sudah siap?"
"Lima menit lagi selesai, tuan muda Elvan," jawab pelayan tersebut.
"Jangan lupa susu pisang untuk Naufal. Letakkan di atas meja."
"Baik, tuan muda."
"Malam kak," sapa Aditya dan Rayyan bersamaan yang baru datang.
"Malam juga Aditya, Rayyan."
"Mana Naufal?" tanya Elvan yang tidak melihat adik bungsunya.
__ADS_1
"Mungkin masih di kamarnya, kak" Aditya menjawab pertanyaan dari kakaknya itu.
Ketika Aditya hendak berdiri dari kursinya, dirinya sudah ditahan oleh Rayyan.
"Biar aku saja yang panggil Naufal untuk makan malam, kak."
"Ya, sudah. Kau panggil, Naufal. Suruh Naufal turun untuk makan. Tadi Naufal melewatkan makan siang dan jangan sampai malam ini dia tidak ikut makan malam," ucap Elvan.
"Baik, kak." Rayyan berlalu pergi menuju kamar Naufal di lantai atas.
^^^
TOK..
TOK..
"Naufal ini kakak. Kakak masuk ya."
CKLEK..
"Naufal."
"Kak."
"Kita makan yuk. Kak Elvan dan kak Aditya dan sudah menunggu di meja makan."
"Baiklah, kak. Ayo kita turun."
Lalu mereka berdua pun pergi meninggalkan kamar Naufal untuk menuju lantai bawah.
Sekarang Alexander bersaudara sudah berada dimeja makan.
"Makan yang banyak, Fal. Tadi siang kamu melewati makan siang," ucap Elvan.
"Setelah itu kamu istirahat," ucap Aditya.
"Baiklah," jawab Naufal dengan wajah ditekuk
Hening...
Acara makan malam selesai. Sekarang mereka bersantai di ruang tengah sejenak.
"Kak Elvan!"
Elvan yang dipanggil oleh adik bungsunya langsung menoleh.
"Ya, Fal. Ada apa, hum?"
"Besok aku akan kembali ke Jakarta, kak. Dua hari lagi aku ada rekaman pembuatan album baru untuk artis. Untuk saat ini yang ada di pikiranku hanya KING STUDIO & AVANA GYM ku," ucap Naufal.
"Lalu bagaimana dengan EVEREST BOXING & PERGURUAN MTF mu yang ada disini?" tanya Rayyan
"Kan ada kak Daffa, kak Rehan, kak Dylan, Ansel, Gary dan Leon yang mengurusnya, kak."
"Jangan lupakan juga NFL'Corp. Perusahaan itu juga di Jakarta. Jangan hanya fokus sama dua itu saja, Naufal." Aditya berbicara seperti itu hanya sekedar untuk mengingatkan Naufal.
"Iya. Aku tahu."
"Kau tidak tahu masalah yang aku hadapi, kak Aditya. Bukan aku mengabaikan NFL'Corp dan fokus sama KING STUDIO dan AVANA GYM saja. Dua usahaku itu sedang dalam masalah. Dalam artian bukan dalam masalah keuangan tapi ada orang yang ingin merebutnya dariku." batin Naufal.
"Naufal." Elvan memanggil adiknya.
Naufal tidak mendengar panggilan kakaknya itu. Pikiran melayang ntah kemana?
"Naufal." Elvan kembali memanggil adiknya sambil menepuk pelan bahu adiknya. Dan hal itu sukses menyadarkan Naufal dalam lamunannya
"Kamu mikirin apa, sih?" tanya Elvan saat melihat adiknya yang sedang melamun.
"Tidak ada, kak." Naufal terpaksa berbohong pada kakak sulungnya itu karena Naufal tidak ingin kakaknya ikut terbebani akan masalahnya.
"Gimana kak? Aku besok pergi ke Jakarta?" tanya Naufal.
"Baiklah. Tapi kamu harus janji kepada kakak. Kamu harus jaga kesehatan, tidak boleh kelelahan, kalau ada panggilan masuk dari kami, kamu harus segera mengangkatnya. Mengerti!" Elvan menatap wajah tampan adik bungsunya.
"Baiklah, kak. Aku mengerti."
"Kapan kamu akan Ke Jakarta?" tanya Rayyan.
"Besok pagi-pagi sekali, kak."
"Kakak antar ya!" seru Elvan.
"Tidak usah kak. Aku pergi sendiri saja," sahut Naufal.
"Ya, sudah. Sekarang kamu ke kamar dan istirahatlah," ucap Elvan.
"Baiklah. Kalau begitu aku ke kamar, kak. Selamat malam kak."
__ADS_1
"Selamat malam juga Fal," jawab mereka barengan