Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Kekecewaan Naufal


__ADS_3

[THE GARDEN OF MORNING CALM]


Arsya, Barra, Dhafin, Ardian, Davian dan Reza makin khawatir saat panggilan dari Naufal terputus begitu saja. Saat Arsya menghubungi Naufal, ponsel sudah tidak aktif.


"Bagaimana ini, kak Arsya?" tanya panik Davian.


"Apa terjadi sesuatu pada Naufal? Tadikan kita dengar suara tabrakan gitu," sela Reza yang sudah mengkhawatirkan Naufal.


"Sudah. Sudah! Semoga tidak terjadi sesuatu terhadap Naufal. Lebih baik kita ke rumah Naufal sekarang!" seru Dhafin.


Mereka pun memutuskan untuk kembali pulang. Dan mereka akan ke rumah Naufal terlebih dahulu untuk memastikan Naufal baik-baik saja.


***


[Kediaman Naufal]


Saat ini kedua orang tua Naufal, ketiga kakaknya, Paman dan Bibinya dan kakak sepupunya sedang berkumpul di ruang tengah.


"Arsya dan Naufal pada kemana sih? Kenapa jam segini mereka belum pulang? Ini kan sudah pukul tiga sore," ucap Helena.


"Biasanya jam segini mereka sudah di rumah. Apalagi Arsya," sela Andhira menambahkan.


"Aish! Kalian ini kenapa sih? Biarkan saja mereka menghabiskan waktu diluar. Siapa tahu saat ini Arsya dan Naufal sedang berkumpul dengan yang lainnya," sahut Felix.


"Ya, kau benar Felix. Mereka kan seharian di kantor. Siapa tahu saat ini mereka sedang bersenang-senang. Kalian kayak tidak pernah muda saja," ejek Albert.


"Kita ini seorang ibu. Jadi wajar kita mengkhawatirkan putra-putra kita," jawab Helena dan diangguki oleh Andhira.


Albert dan Felix hanya tersenyum gemas melihat tingkah istri-istri mereka.


TING!!


TONG!!


Mereka mendengar suara bell seketika terukir senyuman manis di bibir mereka semua.


"Itu pasti mereka!" seru Helena dan Andhira bersamaan.


Mereka melihat kearah ruang tamu dan dapat mereka lihat beberapa pemuda tampan melangkah menuju ruang tengah.


"Arsya," sapa Andhira.


Arsya, Barra, Dhafin, Ardian, Davian dan Reza duduk ruang tengah bergabung bersama para orang tua.


"Kalian pergi bersama?" tanya Elvan.


"Sebenarnya sih tidak, kak Elvan. Kita janjian bertemu ditaman THE GARDEN OF MORNING CALM setelah pekerjaan kita di kantor selesai. Kecuali Davian dan Reza. Mereka memang datang bersama," jawab Barra.


"Kita semua sudah berkumpul disana, kecuali Naufal. Naufal terlambat lima belas menit. Lalu aku menyuruh kak Arsya menghubungi Naufal," kata Barra.


"Apa kau berhasil menghubungi Naufal, Arsya?" tanya Aditya.


"Berhasil kak Aditya. Saat aku hubungi Naufal dan nanya dia ada dimana, Naufal jawab dia ada dijalan. Lima belas menit lagi nyampe di taman. Lalu aku mendengar suara tabrakan gitu," jawab Arsya.


Mereka semua tampak khawatir. Mereka semua masih trauma semenjak kecelakaan yang menimpa Naufal enam bulan yang lalu yang membuat mereka kehilangan Naufal selama satu bulan.


"Aku akan menghubungi Naufal!" seru Aditya, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi adiknya. Tapi hasilnya nihil. Ponsel adiknya tidak aktif.

__ADS_1


"Bagaimana Aditya?" tanya Helena.


"Ponsel Naufal tidak aktif, Mom." Aditya menjawab pertanyaan dari ibunya.


"Naufal kamu dimana sayang?" batin Albert dan Helena.


"Semoga tidak terjadi sesuatu padamu, Fal!" batin ketiga kakaknya.


^^^


Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Tapi Naufal belum juga pulang. Mereka saat ini benar-benar panik dan khawatir.


"Bagaimana ini sayang? Putra bungsu kita belum kembali," ucap khawatir Helena.


"Elvan. Coba hubungi lagi adikmu," pinta Helena.


"Sudah, Mom. Aku sudah berulang kali menghubungi Naufal. Tapi ponsel masih tidak aktif," jawab Naufal.


"Naufal. Kamu dimana, nak?" batin Helena.


Dikarenakan pikiran mereka sedang kalut, panik dan khawatir sehingga mereka tidak mendengar suara klason mobil milik Naufal yang sudah memasuki perkarangan rumah. Dan kini sudah berada di depan pintu utama rumah mewah miliknya. Naufal langsung menekan kode pintu rumahnya.


CKLEK!!


Pintu rumahnya pun terbuka. Naufal langsung memasuki rumah mewah miliknya itu dan tak lupa menutup pintu itu kembali.


BLAM!!


Naufal tanpa sadar menutup pintu rumahnya dengan keras sehingga anggota keluarganya yang kini berada di ruang tengah terkejut.


Naufal tidak langsung menuju ruang tengah atau menemui anggota keluarganya. Tapi justru Naufal menduduki dirinya di ruang tamu.


Naufal menyandarkan punggungnya di sofa dan memejamkan matanya.


^^^


"Apa kalian mendengar suara pintu ditutup?" tanya Andhira.


"Iya. Kami dengar," jawab yang lainnya.


"Pasti itu Naufal!" seru Renata istri dari Pasya.


Lalu mereka semua pun pergi menuju ruang tamu.


"Hah!" mereka semua bernafas lega saat melihat orang yang mereka nantikan pulang dalam keadaan sehat.


"Sepertinya Naufal kelelahan sehingga Naufal tidur di sofa," ucap Rayyan.


"Apa sebaiknya kita suruh Naufal pindah ke kamarnya, Dad?" tanya Aditya.


"Daddy rasa Naufal tidak benar-benar tidur. Naufal hanya memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan rasa lelahnya," ucap Albert.


Mereka semua terus menatap Naufal.


Naufal saat ini tengah berada di alam mimpinya. Naufal berusaha untuk istirahat sejenak. Lalu tiba-tiba terlintas bayangan-bayangan Vanesha di pikirannya.


"KAKAK NAUFAL!"

__ADS_1


Naufal mencari-cari suara tersebut. Tapi nihil. Orang yang memanggilnya tak terlihat.


"KAKAK NAUFAL!"


Saat Naufal ingin berbalik hendak menuju ruang tengah. Bayangan Vanesha berdiri tepat di depannya.


DEG!!


PRANG!!


Botol susu pisang miliknya terlepas begitu saja dari tangannya. Naufal menatap dengan berlinang air mata sosok yang amat dicintainya. Bayangan Vanesha tersebut mengelus pipi mulus Naufal, membelai rambut Naufal dan mencium bibirnya sekilas.


"Jangan pernah berhenti mencintaiku, kak. Di hatiku hanya ada kakak. Aku mencintaimu, kakak. Sangat amat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku. Jangan lupakan aku," ucap Bayangan Vanesha tersebut. Setelah mengatakan hal itu, bayangan Vanesha pun hilang.


Jungkook diam mematung. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya.


Seketika Naufal membuka kedua matanya. Tatapan matanya mengisyaratkan kemarahan dan kekecewaan.


"Brengsek!" umpat Naufal.


Dan tanpa disadari oleh Naufal. Umpatannya itu terdengar oleh anggota keluarganya dan keenam kakaknya.


Naufal merubah posisinya yang tadinya bersandar di sofa, kini kedua tangannya menumpu di kedua pahanya. Lalu telapak tangannya memegang kepalanya.


"Kenapa aku masih saja mengingatnya? Kenapa aku tidak bisa melupakannya? Semakin kuat aku melupakannya. Justru semakin kuat bayangannya menghantui pikiranku. Padahal dia sudah bahagia dengan laki-laki lain. Kalau begini terus. Lama-lama aku bisa gila," ucap Naufal.


"Aarrrgghhh.!" teriak Naufal.


PRANG!!


Naufal memukul vas bunga yang ada di atas meja di hadapannya sehingga vas bunga tersebut melayang dan mengenai kaca lemari hias.


"Naufal!" teriak Helena dan langsung menghampiri putranya itu dan memeluknya. Dan disusul oleh yang lainnya.


Kini mereka semua telah duduk di ruang tamu dan pandangan mereka fokus pada Naufal.


"Sayang," ucap Helena sembari mengelus lembut rambut putra bungsunya itu. "Ada apa, hum? Ceritakan pada Mommy."


Naufal menatap wajah cantik Ibunya. "Aku bertemu dengannya, Mommy! Aku bertemu dengan Vanesha. Perempuan sialan itu benar-benar sudah bahagia dengan laki-laki itu," lirih Naufal dan air matanya mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya.


Anggota keluarganya dan keenam kakaknya yang melihatnya menjadi tidak tega.


Helena menghapus air mata putra bungsunya itu. Lalu membelai lembut kedua pipinya. "Sudahlah sayang. Kalau memang Vanesha sudah bahagia dengan laki-laki itu, lupakan dia. Jangan diingat ingat lagi perempuan itu. Kamu juga berhak untuk hidup bahagia. Mommy tidak mau kamu sampai jatuh sakit hanya gara-gara memikirkan perempuan itu. Masih banyak perempuan yang baik diluar sana. Mulailah menata hati dan bukalah hati kamu untuk perempuan lain."


"Tidak Mommy. Untuk saat ini aku belum bisa menerima siapapun di hatiku. Memang benar kata Mommy, masih banyak perempuan yang baik diluar sana. Tapi bagiku semua perempuan itu sama. Pengkhianat! Aku memutuskan untuk menutup hatiku untuk perempuan mana pun. Aku memilih untuk sendiri dulu," sahut Naufal.


"Tapi Fal," sela Elvan.


"Hargai keputusanku, kak." Naufal berucap pelan.


Anggota keluarganya dan keenam kakaknya hanya bisa pasrah dan diam. Mereka semua bingung dan tidak tahu harus bicara apa. Mereka juga tidak ingin memaksa Naufal, karena yang menjalani ini semua adalah Naufal.


"Baiklah sayang. Asalkan kamu bahagia, Daddy menghargai keputusan kamu. Daddy juga tidak ingin kamu bersedih sehingga membuat kamu jatuh sakit lagi."


"Terima kasih, Dad." Naufal menjawab perkataan ayahnya. "Ya, sudah! Kalau begitu aku ke kamar dulu. Aku mau istirahat," ucap Naufal.


Mata Naufal menatap keenam kakaknya. "Hyungdeul. Besok kan hari sabtu? Jadi kalian besok jangan ada yang masuk kantor ya? Pukul sepuluh pagi kalian semua sudah harus ada disini. Anggap saja untuk menggantikan acara ngumpul kita di taman tadi yang gagal. Aku juga akan menghubungi Henry, Theo, Nathan dan Ricky."

__ADS_1


"Baiklah, Fal! Kami akan datang." para kakaknya, kecuali Arsya yang memang tinggal di rumahnya.


Setelah mengatakan hal itu, Naufal pun langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya dan para kakaknya untuk menuju kamarnya di lantai dua.


__ADS_2