
Di kediaman Naufal Alexander terlihat beberapa anggota keluarga berkumpul. Mereka adalah Albert, Helena, Felix, Andhira dan anak-anaknya.
"Rayyan," panggil Albert.
"Iya, Dad!"
"Bagaimana hasil dari Kompetisi Mini Fotografer?" tanya Albert.
"Berjalan dengan lancar," jawab Rayyan.
"Siapa pemenangnya?" tanya Aditya.
Mendengar pertanyaan dari Aditya membuat Rayyan tersenyum. Seketika Rayyan membayangkan wajah cantik seorang Dira Kayana.
Melihat Rayyan tiba-tiba tersenyum membuat mereka semua meyakini bahwa yang pemenang tersebut adalah seorang wanita. Jika tidak, tidak mungkin Rayyan akan tersenyum seperti itu.
Puk..
Elvan yang duduk di samping adik keduanya itu memukul pelan bahunya sehingga membuat siempunya terkejut.
"Aish, menyebalkan!"
"Lagian orang ditanya bukannya dijawab. Ini malah tersenyum kayak orang gila," sahut Elvan menjahili adiknya itu.
"Kakak Rayyan itu pasti lagi jatuh cinta pada pandangan pertamanya!" seru Naufal yang tiba-tiba datang menuju ruang tengah sembari memegang sebotol susu pisang.
Setelah tiba di ruang tengah, Naufal langsung menduduki pantatnya di samping ayahnya dengan tatapan matanya masih menatap wajah tampan kakak ketiganya itu.
"Aku benar kan kak? Kakak pasti sedang merasakan namanya jatuh cinta. Kakak saat ini tengah membayangkan wajah cantik seorang Dira Kayana pemenang pertama dalam kompetisi Fotografer yang kakak adakan secara mendadak itu," ucap Naufal.
"Ih, apaan sih anak kecil. Sok tahu kamu."
"Yeeyy! Siapa yang kakak bilang anak kecil?"
"Yah, kamu! Siapa lagi."
"Berarti mata kakak itu katarak. Udah gede gini masih dibilang anak kecil. Kalau aku masih kecil, mana mungkin aku bisa memegang perusahaan yang besar, Avan Gym, perguruan Taekwondo dan King Studio. Kalau aku anak kecil, nggak mungkin juga aku sudah terlebih dulu memiliki kekasih. Sementara kakak belum sama sekali."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Naufal membuat Rayyan seketika melongo tak percaya. Sementara anggota keluarganya seketika tersenyum melihat wajah melongonya Rayyan akibat perkataan dari Naufal.
"Iyain aja deh."
"Lah, kan memang benar seperti itu." Naufal berucap kesal.
Ketika semua anggota keluarga tengah berkumpul bersama sembari bercerita, terdengar bunyi ponsel berdering menandakan sebuah panggilan masuk. Ponsel tersebut milik Naufal.
Naufal langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Ketika ponselnya sudah di tangannya, tatapan matanya menatap ke layar ponselnya. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya.
Albert yang duduk di samping putranya sedikit memiringkan kepalanya ke samping guna untuk melihat ke layar ponsel milik putra bungsunya itu.
Seketika terukir senyuman di bibir Albert ketika mengetahui si pelaku yang menghubungi putra bungsunya.
"Siapa Dad?" tanya Elvan dengan suara pelan.
"Vanesha," jawab Albert.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Ayahnya membuat Elvan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
"Hallo, sayang!"
"Hallo, kak! Aku bosan seperti ini terus. Kapan kakak Naufal akan membawa aku dan ayah pergi?"
"Kamu yang sabar ya. Tinggal selangkah lagi untuk aku membuat kedua manusia busuk itu mengalami kehancuran. Apa yang telah mereka lakukan padamu dan keluarga kamu. Itu juga yang aku lakukan terhadap mereka berdua."
"Baiklah."
"Gadis pintar."
"Kak."
"Ada apa, hum?"
"Apa di rumah kakak ada kakak Daniel? Boleh aku bicara sama kakak Daniel?"
Mendengar permintaan dan mendengar suara lirih dari kekasihnya membuat hati Naufal sesak.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Naufal melihat kearah Daniel yang duduk di sebelah Aditya kakak keduanya itu.
"Kakak Daniel," panggil Naufal.
"Iya, Fal."
"Ini Vanesha ingin bicara sama kakak."
Mendengar nama adiknya disebut oleh Naufal membuat Daniel seketika tersenyum bahagia. Apalagi ketika mendengar Naufal mengatakan bahwa adik perempuannya itu ingin bicara dengan dirinya.
Setelah ponsel milik Naufal berada di tangannya, Daniel pun langsung berbicara dengan adik perempuannya.
"Nesha sayang. Ini kakak, Dek!" Daniel meneteskan air matanya ketika mengatakan itu kepada adiknya.
Vanesha yang di seberang telepon seketika menangis ketika mendengar suara kakak laki-lakinya untuk pertama kalinya sejak kejadian itu.
"Kakak Daniel... Hiks. Kakak, aku kangen sama kakak. Bagaimana keadaan kakak sekarang? Kakak baik-baik saja kan?"
Air mata Daniel makin deras keluar ketika mendengar ucapan demi ucapan dari adik perempuannya. Hatinya sakit ketika mendengar nada bicara adiknya yang bisa dipastikan bahwa adiknya tengah menangis.
"Kakak baik-baik saja, sayang! Ini semua berkat calon suami kamu yang sesungguhnya," jawab Daniel sambil melihat kearah Naufal.
Sementara Naufal langsung membuang mukanya karena malu ketika Daniel yang menyebut dirinya calon suami yang sesungguhnya.
Sedangkan anggota keluarganya senyum senyum melihat Naufal yang malu akibat perkataan dari Daniel.
"Aish, Kakak! Apaan sih!"
"Kenapa? Oh, jangan-jangan kamu sudah mulai menyukai laki-laki itu dibandingkan kekasih kamu yang ada disini, hum?"
"Ih, apaan sih! Aku tutup nih."
"Oke, Oke! Maafkan kakak. Bagaimana kabar kamu dan ayah?"
__ADS_1
"Buruk. Sangat buruk. Kita nggak punya apa-apa lagi. Semua kekayaan kita sudah diambil sama bajingan itu. Sementara untuk Bunda. Bunda masih di rumah sakit. Jika aku atau Ayah ingin kesana, harus dikawal. Bahkan aku dan ayah setiap mau kesana matanya harus ditutup agar aku dan ayah tidak mengetahui lokasi dan arah jalannya."
Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari adik perempuannya membuat Daniel seketika mengepal kuat tangannya. Dirinya benar-benar membenci kedua kakak beradik Alvaro itu.
"Kamu yang sabar dan yang kuat disana. Secepatnya kita akan berkumpul kembali seperti dulu. Apa yang sudah diambil oleh kedua bajingan itu sebentar lagi akan kembali kepada kita."
"Iya, kak. Aku percaya itu."
"Jaga dirimu dan juga jaga ayah. Jangan sampai ayah sakit, oke!"
"Baik, kak! Kakak juga harus sehat-sehat disana. Jangan ngerepotin calon suamiku ya."
Seketika Daniel tertawa ketika mendengar ucapan dari adik perempuannya itu.
"Yeeyy! Tadi giliran kakak ngomong gitu kamu berakting kesal. Sekarang kamu mengakuinya juga. Dasar adik plin plan."
"Yeeeyyy! Serahku dong. Kenapa jadi kakak yang sewot."
"Iya, iya! Serah kamulah. Kakak nurut aja deh."
"Kakak."
"Iya, sayang!"
"Aku sayang kakak."
"Kakak juga sayang kamu. Kakak sayang Ayah dan juga sayang Bunda."
"Apa perlu aku kasih tahu Ayah tentang kakak yang sudah bebas dari penjara."
"Kamu bicaralah dulu sama Naufal. Jika Naufal melarang kamu, maka kamu harus dengarkan dia."
"Baiklah, kak!"
"Ya, sudah. Ini kamu bicaralah sama Naufal lagi."
Setelah mengatakan itu, Daniel memberikan ponselnya kepada Elvan, lalu Elvan memberikan kepada Aditya. Dan dari Aditya baru diberikan kepada Naufal.
"Ini, Fal!"
Naufal mengambil ponselnya lalu kembali berbicara dengan Vanesha kekasihnya sekaligus calon istrinya.
"Senang udah ngomong sama kakak Daniel, hum?"
"Jangan ditanya lagi kak. Aku benar-benar senang bisa dengar suara kakak Naufal lagi. Kebahagiaan aku akan bertambah jika aku bisa memeluk kakak Daniel."
"Kamu akan segera merasakan hal itu. Bersabar, oke!"
"Kakak Naufal."
"Ada apa?"
"Boleh tidak aku kasih tahu Ayah tentang kakak Daniel."
"Jangan dulu ya. Takutnya nanti rencana terakhirku ini akan gagal jika kamu kasih tahu Ayah kamu. Kita nggak tahu bagaimana reaksi ayah kamu ketika mendengar bahwa putranya sudah bebas dari penjara. Takutnya ayah kamu menjadi tidak sabaran dan berakhir Ayah kamu ingin bertemu dengan kakak kamu."
__ADS_1
Mendengar ucapan serta penjelasan dari Naufal membuat Vanesha seketika paham. Dirinya tahu bagaimana sifat Ayahnya terhadap dirinya, kakaknya dan ibunya jika sudah merasakan namanya rindu. Ayahnya itu tidak sabar menunggu dan ingin segera memeluk orang-orang yang dia sayangi.
Bukan hanya Vanesha saja yang menyetujui dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Naufal. Daniel selaku anak tertua dari keluarga Naladhipa juga sama seperti Vanesha yang mengetahui sifat ayahnya itu.