Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Keterkejutan Aditya Dan Rayyan


__ADS_3

[Kediaman Naladhipa]


Vanesha yang saat ini berada di ruang tengah. Sejak tadi Vanesha mondar-mandir tidak karuan. Dirinya terus memikirkan kekasih yaitu Naufal Alexander yang tidak ada kabar sama sekali. Dia sudah berulang kali menghubungi Naufal, namun panggilan tidak dijawab oleh Naufal.


"Kakak Naufal, kakak ada dimana? Kenapa panggilan dariku tidak diangkat? Semoga kakak nggak kenapa-kenapa." gumam Vanesha.


"Vanesha!" tiba-tiba kakak laki-lakinya Daniel datang.


Vanesha yang mendengar seseorang yang memanggilnya langsung mengalihkan pandangannya kearah orang itu.


"Kakak Daniel."


"Ada apa? Kenapa masih disini? Bukannya kamu akan pergi ke kantornya Naufal?" ucap dan tanya Daniel.


"Aku sedang menunggu kakak Naufal, kak. Sejam yang lalu kakak Naufal menghubungi aku dan mengatakan bahwa dia akan langsung kesini sepulang dari kantor. Jadi nggak usah ke kantor. Seharusnya sepuluh menit yang lalu kakak Naufal sudah sampai. Tapi sampai sekarang kakak Naufal belum juga menampakkan dirinya," jawab Vanesha.


"Mungkin Naufal lupa karena saking banyaknya kerjaan di kantornya," hibur Daniel."


"Tidak, Kak. Kakak Naufal mengatakan padaku kalau hari ini dia tidak terlalu sibuk. Pekerjaannya hanya mengecek beberapa berkas untuk ditandatangani. Selesai semuanya, kakak Naufal akan langsung pergi," jawab Vanesha.


"Apa kamu sudah menghubungi Naufal?" tanya Daniel.


"Sudah, kak! Tapi tidak diangkat. Dan terakhir ponselnya tidak aktif," jawab Vanesha.


Daniel yang melihat kekhawatiran dan ketakutan di wajah adik perempuannya menjadi tidak tega. Dia juga tahu bahwa Naufal tidak pernah ingkar akan perkataannya. Jika Naufal tidak bisa, maka Naufal akan langsung memberikan kabar.


Kemudian Daniel memeluk tubuh adik perempuannya. Dirinya berusaha menenangkan ketakutan dalam diri adik perempuannya itu.


"Percayalah. Naufal pasti akan baik-baik saja. Naufal pasti akan datang kesini menjemputmu dengan selamat," hibur Daniel.


Saat Daniel sedang menghibur Vanesha, tiba-tiba Diana sang Bunda datang. Diana datang karena ingin melihat putrinya yang katanya akan pergi ke kantor calon menantunya.


[Maaf jika nama untuk ibunya atau ayahnya Vanesha sudah ada sebelumnya. Dan kenapa sekarang berbeda karena Author lupa. Jika belum ada. Syukur sekali karena namanya hanya satu]


Ketika Diana sampai di bawah, matanya tak sengaja melihat Daniel yang sedang memeluk Vanesha. Dan Diana bisa melihat kalau Vanesha sedang menangis.


"Sayang," panggil Diana sembari melangkah menghampiri kedua anak-anaknya.


"Bunda," ucap Daniel dan Vanesha bersamaan.


"Vanesha. Kamu kenapa sayang? Apa kamu bertengkar dengan Naufal?" tanya Diana.


"Tidak, Bunda. Aku dan kakak Naufal tidak bertengkar. Hubungan kami baik-baik saja," jawab Vanesha.


"Lalu kenapa?" tanya Diana.


"Tidak ada kabar dari Naufal, Bunda!" Daniel yang menjawabnya.


"Apa? Kamu sudah menghubungi Naufal?" tanya Diana yang seketika mengkhawatirkan calon menantunya itu.


"Sudah, Bunda! Aku sudah berulang kali menghubungi kakak Naufal. Panggilan pertama tersambung. Kakak Naufal bilang sudah dalam perjalanan dari kantor menuju kesini. Tapi sampai sekarang, kakak Naufal belum datang juga. Lalu aku kembali menghubungi kakak Naufal, ponselnya sudah tidak aktif."


Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari putrinya membuat Diana semakin mengkhawatirkan Naufal. Dirinya berharap Naufal baik-baik saja.


"Naufal, kamu ada dimana? Kakak harap kamu baik-baik saja," batin Daniel.

__ADS_1


"Naufal. Semoga kamu tidak kenapa-kenapa, nak!" batin Diana.


***


[Rumah Sakit Medistra]


Pasya Ravindra sudah berada di rumah sakit. Saat ini dirinya sedang menunggu di ruang UGD. Hati dan pikirannya saat ini tertuju pada adik sepupunya yang ada di ruang UGD.


"Fal, kakak berharap kamu baik-baik saja!" batin Pasya.


Seketika Pasya tersadar satu hal. Dirinya belum mengabari Paman dan Bibinya yaitu kedua orang tua dari Naufal yang sekarang di Bandung.


Pasya merogoh ponselnya yang ada di dalam saku celananya. Setelah mendapatkan ponselnya, Pasya mencari nama kontak Pamannya di daftar kontak. Ketika setelah mendapatkannya, Pasya pun langsung menghubungi sang Paman.


"Hallo, Pasya!"


"Hallo, Paman Albert. Aku mau kasih tahu Paman bahwa Naufal masuk rumah sakit. Ini aku sekarang di rumah sakit."


"Apa?! Apa yang terjadi, Pasya? Kenapa Naufal bisa masuk ke rumah sakit?"


"Aku tidak tahu Paman. Aku menemukan Naufal sudah tergeletak di jalan."


"Rumah sakit mana?"


"Rumah sakit Medistra."


"Baiklah. Apa kamu sudah menghubungi Aditya, Rayyan dan Mami kamu. Mereka yang ada disana."


"Belum Paman. Aku lupa. Aku panik dan yang ada di pikiranku hanya Paman dan Bibi."


"Baik, Paman!"


Setelah mengatakan itu, Pasya langsung mematikan panggilannya. Begitu juga dengan Albert di seberang telepon.


Pasya mencari kontak Aditya. Setelah mendapatkannya. Pasya langsung menghubunginya.


***


Aditya saat ini berada di perjalanan pulang. Dia tidak sendirian, melainkan bersama dengan Alice. Keduanya baru saja menghabiskan waktu bersama setelah satu jam lebih bekerja di kantor.


Aditya fokus mengendarai mobilnya. Sesekali kali Aditya melirik kearah kekasihnya yang duduk di sampingnya. Kemudian tangannya terangkat mengelus kepala belakang kekasihnya itu.


"Terima kasih sudah mau menerimaku," ucap Aditya.


Alice tersenyum. "Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu, Dit! Aku wanita yang tidak normal lagi, tapi kamu dengan ikhlas mau menerimaku." Alice berucap dengan tangannya mengusap-usap lembut pipi Aditya.


"Karena aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Aditya Alexander!"


Tiba-tiba ponselnya Aditya berbunyi menandakan panggilan masuk. Aditya kemudian menghentikan sejenak mobilnya guna untuk menerima panggilan.


Aditya mengambil ponselnya di saku celananya. Setelah ponselnya di tangannya, Aditya melihat nama 'Pasya' di layar ponselnya.


"Hallo, Pasya!"

__ADS_1


"Dit, Naufal masuk rumah sakit. Sekarang aku di rumah sakit lagi nungguin Naufal diperiksa di ruang UGD."


"Apa?"


Seketika tubuh Aditya menegang ketika mendengar Pasya yang mengatakan adik laki-lakinya berada di rumah sakit.


"Sayang, ada apa? Apa yang dikatakan Pasya?" tanya Alice.


Alice terlihat panik saat melihat perubahan wajah Aditya.


"Pasya. Kamu... kamu sedang tidak bercandakan. Apa yang terjadi?"


"Aku tidak tahu pasti apa yang telah terjadi. Aku menemukan Naufal tergeletak di pinggir jalan saat aku mau pulang ke rumah," jawab Pasya.


"Sekarang katakan padaku, kamu ada di rumah sakit mana?" tanya Aditya.


"Medistra," jawab Pasya.


"Baiklah."


Setelah mengatakan hal itu, Aditya langsung mematikan teleponnya. Lalu Aditya melihat kearah Alice yang kini menatapnya.


"Kita ke rumah sakit Medistra sekarang! Naufal masuk ke rumah sakit. Pasya menemukan Naufal yang tergeletak di pinggir jalan," ucap Aditya.


Seketika Alice terkejut ketika mendengar ucapan dari Aditya.


"Kamu masih bisa bawa mobilnya?"


"Bisa. Kamu tidak perlu khawatir. Oh, iya! Tolong kabari Rayyan," ucap Aditya bersamaan dirinya memberikan ponselnya kepada Alice.


"Baiklah."


Setelah mengatakan itu, Alice langsung mencari nama kontak Rayyan di daftar kontak di ponsel Aditya.


Dan tak butuh waktu lama, terdengar suara seseorang di seberang telepon.


"Hallo, kak Aditya!"


"Hallo, Rayyan. Ini kak Alice. Kakak ingin mengabari kamu bahwa Naufal masuk rumah sakit."


"Apa?! Naufal masuk rumah sakit?! Kenapa kak? Apa yang terjadi?"


"Kakak juga tidak tahu. Aditya juga tidak tahu. Tapi Pasya bilang kalau dia menemukan Naufal tergeletak di jalan."


"Rumah sakit mana?"


"Medistra."


"Baiklah. Aku segera kesana."


Tutt..


Tutt..


Rayyan langsung mematikan panggilannya secara sepihak. Dirinya benar-benar khawatir dan takut akan adiknya.

__ADS_1


__ADS_2