
Mereka telah berada di Rumah Sakit.
Kedua orang tua dan kakak kandung Vanessa, keluarga Naufal dan orang terdekat Naufal. Mereka menunggu dengan hati yang gelisah dan dengan penuh kesedihan. Tak terkecuali Naufal. Dirinya sangat syok. Kejadian itu masih terngiang-ngiang di otaknya.
Naufal duduk di lantai dan bersandar di dinding rumah sakit dengan wajah sedih dan mata yang sembab. Elvan masih setia merangkul dan memeluk Naufal. Sesekali Elvan mencium pucuk kepala Naufal disertai kata-kata penenang untuk adiknya.
"Naufal. Kamu harus kuat. Kamu tidak boleh seperti ini. Apapun yang terjadi kamu harus kuat," ucap Elvan yang menghibur adiknya.
Naufal masih tetap dalam posisinya. Tidak ada niat untuk mendengarkan ocehan dari sang kakak. Yang ada di pikirannya sekarang adalah Vanesha.. Vanesha dan Vanesha.
CKLEK..
Pintu ruang operasi di buka. Keluarlah seorang dokter dan perawat. Wajah dokter itu terlihat kelelahan. Naufal langsung menghampiri dokter tersebut dan disusul oleh kedua orang tua Vanesha dan kakaknya.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Naufal.
Dokter tersebut menghembuskan nafas lelahnya sebelum menjawab pertanyaan Naufal.
"Maafkan saya. Saya gagal menyelamatkan nyawanya. Saat saya mengeluarkan peluru tersebut pasien sudah meninggal," jawab dokter itu.
Naufal geleng-geleng kepala dan air matanya lagi-lagi mengalir membasahi pipinya. Naufal kemudian menarik kasar kera kemeja putih kedokteran pria itu dengan kasar.
"Kau jangan bercanda, Dok! Kau tahu yang di dalam itu siapa, hah?! Dia calon istriku. Jangan seenaknya kau mengatakan kalau dia sudah meninggal. Kau itu bukan Tuhan yang bisa menentukan kematian seseorang!" teriak Naufal.
Elvan yang melihat adiknya yang tiba-tiba menyerang dokter langsung berusaha untuk melepaskan tangan adiknya yang ada di kerah dokter itu dibantu oleh Aditya.
"Naufal, lepaskan. Jangan seperti ini. Kau tidak boleh bersikap seperti ini. Apa kamu tidak lihat bagaimana lelahnya dokter itu? Dokter itu sudah berusaha semampunya. Tapi Tuhan berkata lain." Elvan berbicara dengan suara yang sedikit dikerasi agar adiknya bisa dengar perkataannya.
"Naufal, kakak mohon. Lepaskan," ujar Aditya.
Genggaman tangan Naufal yang ada di kerah baju Dokter itu melemah. Berlahan Naufal menurunkan tangannya.
__ADS_1
Naufal seketika jatuh terduduk di lantai dengan kepala tertunduk dan air matanya terus mengalir. Elvan memeluk Naufal dengan lembut dan mengusap punggung adiknya. Sedangkan Dokter tersebut menghela nafas lega.
"Maafkan sikap kasar adikku, Dokter. " Aditya meminta maaf kepada Dokter tersebut.
"Tidak masalah. Saya mengerti. Kalau begitu saya permisi," ucap Dokter tersebut.
Jenazah Vanesha dibawa keluar oleh dua orang perawat dari ruang operasi. Saat melihat jenazah Vanesha yang didorong keluar dari ruang operasi, mereka semua menangis. Kedua orang tua Vanesha dan kakaknya Vanesha sudah histeris saat melihat jenazah anak gadis dan adik perempuannya.
Naufal? Bagaimana keadaannya? Jangan ditanya lagi. Dialah yang paling syok dan terpukul.
Naufal berlahan membuka kain putih yang menutup tubuh kekasihnya. Air matanya lagi-lagi jatuh. Naufal memandangi wajah damai Vanesha.
"Kenapa kau melakukan ini, Vanesha? Apa yang ada di pikiranmu saat itu sampai kau rela memberikan nyawamu untukku? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Apa kau tidak mau menikah denganku? Dua hari yang lalu kau menemuiku dan menceritakan pertemuanmu dengan wanita murahan itu. Setelah itu kau memintaku untuk tidak meninggalkanmu. Tapi ini apa? Justru kau yang pergi meninggalkanku, Vanesha. Kau pergi tanpa mengajakku bersamamu. Aku tidak tahu. Apakah aku bisa hidup tanpamu, Vanesha." Naufal menatap wajah pucat Vanesha dan mengusap lembut wajahnya.
Jenazah Vanesha di dorong menuju ruang jenazah. Dan disaat itulah tangis Naufal pecah.
"Vaneshaaaaa! Aaaaaaaaaaa!" teriak Naufal yang sudah jatuh lemah di lantai.
"Naufal. Kamu harus kuat sayang. Ada Mommy disini." Helena memeluk tubuh putra bungsunya dan memberikan ciuman sayang pada kening putranya.
Tiba-tiba Naufal melepaskan pelukan ibunya dengan kasar. Dirinya berdiri dengan wajah yang penuh dengan amarah.
"Dia sudah membunuh, kekasihku. Aku harus membalaskan dendam atas kematian Vanesha. Aku tidak akan membiarkan dia hidup. Hanya ada satu takdir yang aku dan dia miliki. Aku yang mati di tangannya atau dia yang mati di tanganku atau kami berdua yang sama-sama mati. Selama dia masih hidup dan masih berkeliaran di dunia ini. Hidupku tidak akan tenang. Cukup Vanesha yang jadi korban. Aku tidak mau ada korban lagi hanya gara-gara diriku." Naufal berbicara dengan wajah yang seperti orang yang kerasukan.
Tanpa memperdulikan orang-orang disekitarnya, Naufal melangkahkan kakinya pergi meninggalkan mereka semua. Tapi dengan cekatan Elvan langsung menarik dan menahan pergelangan tangan Naufal dengan kuat.
"Apa kau sudah gila, Naufal? Itu bisa membahayakan nyawamu!" bentak Elvan.
"Aku tidak peduli. Selama ini nyawaku selalu dalam bahaya. Kemana pun aku pergi aku selalu jadi incaran. Jadi mau sampai kapan hidupku seperti ini, kak!" Naufal balik membentak kakak tertuanya itu.
Naufal menatap tajam kearah Elvan begitu juga dengan Elvan. Mereka sama-sama memberikan tatapan tajam satu sama lain.
__ADS_1
Albert dan Helena serta yang lainnya bergidik ngeri melihat kedua Alexander bersaudara yang sedang bertengkar. Mereka menangis.
"Urusi saja urusanmu Elvan Alexander dan jangan campuri urusanku. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku ini. Jadi jangan pernah melarangku!" bentak Naufal.
Setelah itu, Naufal pergi begitu saja tanpa menghiraukan tatapan yang sedang menatapnya.
"Naufal, berhenti!" teriak Elvan.
Tapi teriakan itu tidak digubris oleh Naufal. Naufal terus melangkahkan kakinya.
"Naufal Alexander!" teriak Elvan yang kedua kalinya. "Kalau kau tetap pergi. Kau akan melihat mayat kakakmu saat ini juga. Jadi akan ada dua pemakaman hari ini. Vanesha dan Elvan Alexander!" teriak Elvan dan itu berhasil membuat langkah Naufal berhenti.
"Kau tidak akan melakukan hal itu karena aku tahu siapa kau?" Naufal berbicara tanpa membalikkan badannya.
"Ya. Kau memang benar. Kau tahu siapa kakak? Kau tahu sifat kakak? Tapi jangan pernah kau lupakan satu hal dalam diri kakak, Naufal. Kau adalah segalanya bagi kakak. Kau adalah adik kesayangan kakak. Apapun akan kakak lakukan untukmu, sekalipun nyawa taruhannya," ucap Elvan
Sontak hal itu membuat Naufal kaget. Naufal kembali ingat dengan kata-kata Elvan. Saat Naufal mengalami hari-hari buruk dimana saa dirinya meninggalkan grupnya. Saat dirinya sedang menjalani pemeriksaan kesehatan jantungnya.
"Kau adalah adik kesayangan kakak. Kakak akan selalu ada untukmu. Kamu jangan pernah menyerah apapun yang terjadi. Kakak sayang kamu. Kakak akan melakukan apapun untuk kamu. Sekalipun kakak harus kehilangan nyawa. Kakak rela. Asal adik kakak yang tampan ini selalu tersenyum, ceria, dan manja. Kakak tidak mau melihat kamu menangis lagi. Kamu harus janji pada kakak kalau kamu akan selalu tersenyum. Kalau kamu ada masalah, kamu bisa ceritakan semuanya pada kakak. Jangan ada rahasia antara kita berdua, oke!"
Tiba-tiba air matanya mengalir deras di pipinya. Naufal menangis mengingat kata-kata manis yang terlontar dari mulut kakak kesayangannya itu. Ia tahu betul akan sifat kakaknya itu. Kakak kesayangannya itu akan melakukan apapun untuk dirinya.
Elvan yang menyadari bahwa adiknya sedang menangis lalu kemudian Elvan menghampiri adik kesayangannya itu. Elvan menghapus air mata adiknya. Dan mencium keningnya.
"Kakak sangat menyayangimu. Melebihi nyawa kakak sendiri," ucap Elvan dan menarik adiknya ke dalam pelukannya.
Tak tinggal diam. Aditya dan Rayyan merasa cemburu melihat Elvan yang memeluk Naufal. Mereka pun berlari menghampiri keduanya. Lalu mereka berhamburan ke dalam pelukan Elvan dan Naufal.
Terjadilah aksi pelukan yang dilakukan oleh Alexander bersaudara. Semua yang melihat adegan tersebut tersenyum bahagia.
"Pemandangan yang begitu indah," ucap Felix diangguki oleh semuanya.
__ADS_1