Naufal Alexander

Naufal Alexander
Kembali


__ADS_3

Saat mereka dalam suasana hening. Mereka dikejutkan dengan suara bell yang berbunyi.


TING..


TONG..


"Siapa yang menekan bell. Apa ada tamu yang kalian tunggu?" tanya Nirvan.


"Dari pada penasaran, biarkan aku yang membukanya!" seru Rayyan.


Rayyan pun pergi untuk membukakan pintu tersebut.


CKLEK..


Pintu itu dibuka oleh Rayyan.


"Eeh, Kalian. Pasti kalian ingin bertemu dengan Naufal kan?" tanya Rayyan.


"Iya, Kak. Naufal nya ada kan, kak?" tanya Henry balik.


"Ada. Ayoo Masuk. Naufal pasti senang melihat kalian ada disini," ucap Rayyan.


Lalu mereka melangkahkan kaki memasuki mansion Naufal.


"Naufal. Teman-teman kamu datang!"


Naufal mengalihkan pandangannya melihat keempat sahabatnya. Terukir senyuman manis di bibirnya.


Henry menghampiri Naufal dan memeluknya. Sedangkan Naufal mentautkan kedua alisnya melihat sikap Henry yang tiba-tiba memeluknya.


"Ada apa denganmu, kedelai hitam? Kenapa tiba-tiba kau memelukku. Kau tidak merencanakan sesuatu yang buruk untukku kan?" tanya Naufal menyelidik.


PLETAK..


Henry memberikan satu hadiah jitakan di kening Naufal dan itu berhasil membuat Naufal meringis kesakitan.


"Aww! Kenapa kau menjitakku kedelai hitam sialan!" teriak Naufal.


"Itu hukumanmu siluman kelinci kudisan. Pertama seenaknya saja kau mengganti namaku. Kedua kau berpikiran negatif tentangku," jawab Henry kesal.


"Salah sendiri. Ngapain pakai acara pelukan segala. Jadi wajar saja aku punya pikiran yang aneh tentangmu," saut Naufal yang tak mau kalah.


Sedangkan para anggota keluarga, sahabat-sahabatnya serta yang lainnya hanya tersenyum gemas menyaksikan perang mulut antara Henry dan Naufal. Paling tidak pikiran Naufal teralihkan kemasalah yang lain.


"Ada apa? Kenapa kalian tiba-tiba datang kemari? Tidak biasanya." Naufal menatap penuh selidik keempat sahabatnya itu.


"Fal." panggil Henry yang matanya sudah berkaca-kaca.


Naufal menatap mata Henry. "Ada apa denganmu, Henry? Kamu sepertinya mau menangis?" tanya Naufal heran.


"Ada yang ingin bertemu denganmu, Fal! Kau lihat disana." Henry menunjuk ke arah seseorang yang berdiri dibelakang Theo, Ricky dan Nathan.


Naufal mengalihkan pandangannya sesuai arah yang ditunjuk oleh Henry. Theo dan Nathan bergeser ke samping dan terlihat jelas seorang pemuda yang tengah menatapnya dengan tatapan rindu.


Naufal melihat dengan jelas pemuda itu. Tanpa sadar air matanya mengalir dipipi mulusnya.


"Ka-kakak Damian," lirih Naufal.

__ADS_1


Damian melangkahkan kakinya mendekati Naufal. Kini Damian sudah berdiri tepat dibdepannya.


"Apa kau tidak merindukan kakak, Fal?" tanya Damian.


Sedangkan Naufal masih tetap mematung memandangi orang yang dia rindukan dengan air mata yang masih setia mengalir.


Akhirnya Damian pun memeluk Naufal karena rasa rindunya terhadap Naufal.


"Ini kakak. Kakak Damian. Maafkan kakak yang telah membohongimu atas kematian kakak. Kakak akan ceritakan semuanya padamu. Kakak Janji." Akhirnya tangis Naufal pun pecah.


"Hiks.. hiks.. hiks," isak tangis Naufal.


Damian melepaskan pelukannya dari Naufal. Dan menghapus air mata yang membasahi pipi Naufal.


"Aku bahagia kau kembali kak." Naufal menatap wajah tampan Damian.


"Ceritakan padaku, bagaimana bisa kakak masih hidup?" tanya Naufal.


FLASHBACK ON


"Sudah dulu ya, Fal! Kakak tutup telponnya. Dan jangan lupa, kau harus secepatnya menceritakan masalahmu ini pada keluargamu, terutama Ayahmu. Siapa tahu Ayahmu punya solusinya? Kau pikirkanlah terlebih dahulu."


Setelah selesai berbicara dengan Naufal ditelepon. Damian memutuskan pergi untuk menemui rekan-rekannya dan membahas tentang pria yang selama ini meneror Naufal.


Damian sekarang sudah berada di jalan raya. Damian mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Satu jam Damian menempuh perjalanan untuk menuju markas miliknya dan berkumpul dengan rekan-rekannya.


Selama diperjalanan, perasaan Damian tidak tenang. Ada sesuatu yang akan terjadi. Tapi Damian berusaha untuk menepis semua perasaan itu.


Tiba-tiba saja, ada sebuah truk yang bermuatan cukup besar melaju kencang kearahnya. Sebelum truk itu mengenai mobilnya, Damian telah terlebih dahulu melompat keluar dari mobilnya dan tubuhnya mental keluar lalu berguling-guling kesemak-semak dan tidak sadarkan diri. Dan mobil tersebut hancur.


"Bos. Pekerjaan selesai. Laki-laki yang bernama Damian telah tewas. Mobilnya hancur dan saya melihat dengan jelas laki-laki itu tidak bisa meloloskan diri dari dalam mobilnya."


***


Di sisi lain, para rekan-rekannya sedang menunggu kedatangan Damian. Sudah satu jam lebih Damian tidak kunjung datang.


Dan akhirnya mereka memutuskan untuk mencari Damian. Mereka berusaha terus-menerus menghubungi ponsel Damian tapi lagi dan lagi panggilan tak dijawab.


Mereka kemudian mengecek GPS mereka semoga terhubung dengan GPS nya Damian.


Alhasilnya, mereka berhasil menemukan keberadaan Damian. Dan mereka pun langsung menuju kelokasi tersebut.


Tidak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai dilokasi. Mereka sangat kaget saat melihat kondisi Damian dan mereka langsung membawa Damian ke rumah sakit.


***


Mereka semua menunggu di depan ruang UGD. Pihak keluarga pun sudah datang.


CKLEK..


Pintu Ruang UGD terbuka. Dan terlihat seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan putra saya, dokter?" tanya ibunya Damian.


"Keadaan putra anda baik-baik saja. Tidak ada luka serius. Hanya luka lecet bagian dahi dan tangan saja," ucap dokter itu.


"Syukurlah."

__ADS_1


"Pasien akan dipindahkan ke ruang rawat dan setelah itu kalian boleh melihatnya. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Dokter itu lalu berlalu pergi.


Sekarang Damian sudah berada di ruang rawat. Hanya ada Damian dan ibunya saja di ruangan tersebut. Beberapa menit kemudian, Damian pun sadar.


"Akhirnya kau sadar juga Damian. Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya ibunya.


"Aku baik-baik saja ibu. Ibu tidak perlu khawatir ya," jawab Damian.


"Ibu senang mendengarnya."


"Oh ya, Bu! Bisa ibu hubungi paman sekarang. Suruh Paman untuk datang kesini. Aku ingin membahas sesuatu dengan kalian."


"Baiklah. Ibu akan menghubungi pamanmu dan menyuruh pamanmu kesini."


"Hallo, Ronald. Damian ingin bertemu denganmu. Apa kau bisa ke rumah sakit sekarang?"


"Baiklah. Aku akan ke rumah sakit sekarang."


"Bagaimana bu?" tanya Damian.


"Pamanmu akan segera datang kesini," jawab ibunya.


"Bu, aku pinjam ponselmu."


Lalu ibunya menyodorkan ponselnya pada Damian. Damian menekan nomor salah satu rekannya dan hubungan tersambung.


"Hallo, Remon. Bisa kau dan yang lainnya ke rumah sakit sekarang?"


"Baiklah Damian. Aku dan yang lainnya akan ke rumah sakit segera."


"Terima kasih Remon."


***


Semuanya telah berkumpul diruang rawat Damian.


"Baiklah. Karena kalian semua telah berkumpul. Aku akan beritahu pada kalian, Apa alasanku menyuruh kalian datang?" tutur Damian


"Ada apa, Damian?" tanya Ardy.


"Begini. Kecelakaan yang menimpaku ini bukan kecelakaan biasa. Ada yang sengaja membuatku celaka. Pelakunya adalah orang yang sama. Orang yang selama ini berusaha mencelakakan Naufal. Dia sudah mengetahui kalau aku dan Naufal ingin mencari tahu identitasnya. Pasti saat ini, orang itu merasa bahagia karena beranggapan aku sudah mati. Jadi aku minta pada kalian urus kematian palsuku."


"Bagaimana caranya Damian?" tanya Ronald, sang Paman.


"Orient Industry, perusahaan pembuat boneka. Boneka yang mirip dengan manusia. Dibuat dengan silikon berkualitas tinggi sebagai boneka yang sangat mirip laki-laki sungguhan. Kulitnya sangat mirip kulit manusia, begitu juga dengan lekuk matanya."


"Jadi, aku minta pada kalian buat boneka yang mirip denganku. Dan boneka itulah yang akan kita makamkan saat dipemakaman." Damian menjelaskan rencana untuk membuat kematian palsunya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sayang?" tanya ibunya.


"Aku akan bersembunyi disuatu tempat. Paling tidak aku bisa istirahat memulihkan tenagaku. Dan juga melanjutkan tugasku mencari tahu siapa orang itu? Setelah aku berhasil, baru aku akan muncul kembali," jawab Damian.


"Baiklah. Kami akan lakukan perintahmu, kak!" seru Arkan.


"Dan Paman akan ikut bersamamu. Dan kau, kak! Kakak tetap di rumah. Biar tidak ada yang curiga!" ucap Ronald.


"Baiklah," jawab ibunya Damian.

__ADS_1


FLASHBACK OFF


__ADS_2