
Davian sudah berada di rumahnya dan langsung bersiap-siap. Setelah dirinya selesai, Davian pun bergegas turun ke bawah.
Ketika tiba di bawah dapat dilihat olehnya kakak pertamanya dan kakak keduanya sedang tersenyum menatapnya.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa penampilanku kurang baik ya?" tanya Davian bingung.
Samuel dan Michael saling tatap dan kembali menatap adik bungsu mereka.
"Kau sangat tampan sekali, Davian Carney!" seru mereka bersamaan.
Mendengar pujian dari kedua kakaknya hal itu sukses membuat Davian menjadi malu.
"Kakak."
"Kau pasti ingin ke rumah Dhafin kan? Lalu dari rumahnya Dhafin, kalian bersama-sama akan ke mansion Naufal," ucap Samuel.
"Rencana awalnya memang begitu, kak! Dikarenakan aku baru pulang mengantarkan Mama ke butik. Jadi aku akan langsung menyusul mereka ke mansion Naufal," jawab Davian.
"Ooh, Jadi begitu," saut Michael.
"Ya, sudah. Kau berhati-hatilah di jalan. Jangan ngebut. Setelah sampai disana. Sampaikan salam kakak pada Naufal," ucap Samuel.
"Semoga usahamu dan yang lainnya berhasil," ujar Michael.
"Terima kasih, kak. Kalau begitu aku pergi dulu!"
Setelah itu, Davian pun pergi meninggalkan kedua Kakaknya.
***
Ardian baru pulang dari kantornya dan langsung menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Sebelumnya Ardian sudah menghubungi Davian untuk langsung ke mansion Naufal dan tidak perlu menunggunya di rumah Dhafin.
Setelah selesai, Ardian langsung turun ke bawah.
"Ardian." panggil Agatha.
"Ya, Mi."
"Sudah mau pergi?" tanya Agatha.
"Iya, Mi."
Agatha membelai wajah tampan putra bungsunya. "Semoga pertemuan kalian kali ini berhasil."
"Terima kasih, Mi." Ardian memberikan kecupan sayang di pipi Ibunya
"Kalau begitu aku pergi dulu, Mi."
Setelah itu, Ardian pun pergi meninggalkan Ibunya untuk menuju mansion Naufal.
***
Dua puluh menit kemudian Arsya, Reza, Dhafin dan Barra telah sampai di mansion Naufal. Tepat di depan pintu mansion, Arsya tampak ragu-ragu untuk menekan bell.
"Kenapa kak? Tadi kau begitu semangat, tapi sekarang saat kita sudah berada tepat didepan mansion Naufal, kau malah seperti ini?" tanya Reza.
"Tapi, Za." Arsya sedikit ada rasa was-was.
"Ayolah, kak." kini Barra yang bersuara.
"Baiklah." Arsya pun pasrah.
TING..
TONG..
Pintu mansion terbuka. Terlihat seorang wanita paruh baya berdiri di depan mereka.
"Kalian pasti teman-temannya, Tuan muda Naufal kan? Dan anda pasti bernama Arsya Ravindra," ucap pelayan yang jari telunjuk menunjuk kearah Arsya.
"Benar," jawab Arsya singkat.
"Kalau begitu, silahkan masuk." pelayan itu pun mempersilakan mereka masuk.
"Oh ya! Dari mana anda tahu namaku?" tanya Arsya.
"Ooh itu. Tuan muda Naufal sudah memberitahu saya kalau kalian akan datang dan menyuruh saya untuk melayani kalian. Bahkan tuan muda Naufal juga yang memberitahu nama anda pada saya dengan memperlihatkan foto kalian pada saya melalui ponselnya biar saya gak salah bawa masuk orang kesini."
"Oh ya. panggil saja saya bibi Rya," ucap pelayan itu.
"Emangnya Naufal kemana, bi? tanya Reza.
"Tuan muda Naufal lagi di kantornya tuan."
"Kalau begitu saya ke belakang dulu tuan."
__ADS_1
"Ya. Silahkan, Bi!" mereka menjawab secara bersamaan.
^^^
Disinilah mereka sekarang di ruang tengah mansion Naufal.
"Ini pertama kalinya aku ke mansion nya Naufal. Mansion yang sangat mewah dan besar. Bahkan lebih besar dari mansion milik kak Arsya. Hehehehe." Reza berucap sembari terkekeh.
PLETAK..
Satu jitakan mendarat di kening Reza. "Kau mengejekku ya. Awas saja kalau kau datang ke mansion ku lagi." Arsya menatap horor Reza.
"Aish, kak. Begitu saja marah. Aku kan hanya bercanda, kak." Reza mempoutkan bibirnya.
Tak lama kemudian terdengar suara bell berbunyi. Saat bibi Rya mau membukakan pintu, sudah terlebih dahulu Reza yang membukakan pintu tersebut.
"Kak Ardian, Davian. Ayo masuk!" seru Reza.
Dan mereka pun masuk ke dalam. Dan kini mereka berdua sudah berada di ruang tengah dan berkumpul dengan yang lainnya di ruang tengah sambil menunggu Naufal kembali.
"Mana Naufal? Dari tadi aku tidak melihatnya?" tanya Ardian.
"Ardian belum kembali Ardian." Barra menjawab pertanyaan dari Ardian.
"Emangnya Naufal kemana, kak?" kali ini Davian yang bertanya.
"Naufal masih di kantor, Davian. Bibi Rya bilang biasanya jam 4 sore Naufal sudah pulang," jawab Arsya.
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 4.30 sore, tapi Naufal belum juga kembali.
"Ini sudah jam 4.30 sore, kenapa Naufal belum kembali?" tanya Reza yang sudah mulai khawatir.
"Mungkin sebentar lagi Naufal kembali, Za!" Arsya menjawabnya.
"Aku takut terjadi sesuatu pada Naufal, kak!" Reza berucap lirih.
"Reza, tenanglah. Semoga tidak terjadi apa-apa pada Naufal. Percayalah!" ucap Davian menghibur Reza.
***
Naufal, Nathan, Theo, Ricky dan Henry sedang berada dalam ruangan Studio Naufal. Mereka bekerja sama dengan beberapa musisi terkenal. Dan sekarang ini, mereka berlima tengah disibukkan dengan tugas mereka.
Ya! mereka sekarang sedang fokus melakukan Pembuatan Rekaman Album untuk para musisi tersebut. Mereka masih berada di Ruangan Studio Naufal.
"Tugas kita sudah kelar. Bagaimana kalau kita cari makan diluar?!" seru Henry.
"Boleh juga tuh. Lagian dari tadi perutku sudah minta diisi," jawab Theo dan diangguki oleh Ricky.
"Bagaimana dengan kalian berdua Naufal, Nathan?" tanya Ricky.
"Aku tidak masalah," jawab Nathan.
"Lalu bagaimana denganmu, Fal?" tanya Theo.
"Terserah kalian. Aku menurut saja." Naufal menjawab dengan suara yang sedikit lemas.
"Kau kenapa, Fal?" tanya Ricky lalu segera mendekati Naufal.
"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah saja," jawab Naufal.
Kemudian Nathan dan Henry menghampiri Naufal dan melihat dengan jelas sahabatnya itu.
"Fal, kau sakit ya. Wajahmu pucat sekali?" tanya Henry panik.
"Aku tidak apa-apa, Henry." Naufal langsung membuka kedua matanya.
"Ya, sudah. Ayo, kita pulang!" seru Nathan.
Saat Naufal ingin beranjak dari tempat duduknya dan hendak berdiri, tiba-tiba tubuhnya hampir jatuh dan dengan sigap ditahan oleh Nathan dan Theo.
"Naufal." pekik mereka.
"Kau tidak apa-apa, Fal? Kita ke rumah sakit ya." Nathan benar-benar khawatir akan Naufal.
"Jangan bawa aku ke rumah sakit lagi, Nat! Antarkan saja aku pulang." Naufal memohon pada sahabatnya untuk membawanya pulang.
"Baiklah. Kalau itu maumu," saut Nathan pasrah.
"Ayoooo," ucap Henry diangguki yang lain.
Mereka memapah Naufal berjalan menuju parkiran dimana mobil mereka di parkir.
Setelah sampai di parkiran, mereka membuka pintu mobil mobil. Nathan sudah duduk di depan dan Henry membantu Naufal untuk masuk ke dalam mobil karena keadaanya tampak lemah lalu disusul Henry, Ricky dan Theo. Nathan mengendarai mobil nya kecepatan sedang.
***
__ADS_1
Sekitar dua puluh lima menit, tibalah mereka di mansion Naufal. Mereka turun dari mobil dan tidak lupa Henry dan Theo membantu memapah Naufal. Tepat di depan pintu mansion, tanpa pikir panjang Nathan menekan bel tersebut.
TING..
TONG..
Pintu mansion pun terbuka.
"Naufal!" teriak Reza saat melihat Naufal yang dipapah oleh Henry dan Theo.
Mendengar suara teriakan Reza membuat Arsya, Barra, Dhafin, Ardian dan Davian terkejut dan berlari menghampiri Reza.
"Ada apa, Re..." ucapan Arsya terhenti saat melihat Naufal yang dipapah oleh Theo dan Henry.
"Naufal," lirih Arsya.
"Apa kalian akan membiarkan kami tetap berdiri disini?" tanya Henry.
Sontak membuat mereka sadar dalam keterkejutan.
"Maaf, Henry. Ayo, bawa Naufal masuk."
Henry dan Theo menduduki Naufal di sofa. "Kau tidak apa-apa Fal?" tanya Henry.
"Aku baik-baik saja Henry." Naufal menjawab dengan suara lemahnya.
Naufal belum menyadari kalau keenam sahabat sekaligus kakak-kakaknya ada di mansion miliknya.
"Apa tidak sebaiknya kau ke rumah sakit, Fal?" ucap Ricky.
"Ti-tidak. Aku baru bebas dari rumah sakit sialan itu setelah lima hari aku di penjara oleh keenam kakak-kakakku," jawab Naufal yang masih kesal kepada keenam kakak-kakaknya itu.
Mereka tersedak saat mendengar ucapan Naufal. Arsya bangkit dari duduknya dan pindah ketempat dimana Naufal duduk. Dengan lembut, Arsya membelai rambut coklat Naufal.
Naufal masih dalam posisi duduk dan punggungnya menyandar pada punggung sofa serta mata yang masih terpejam.
"Naufal." Arsya berucap dengan suara lirihnya.
Mendengar suara yang dikenal memanggil namanya. Naufal berlahan membuka matanya.
"K-kak Ar-arsya," ucap Naufal terbata.
"Ya. Ini kakak, Fal!" Arsya tersenyum melihat wajah adik sepupunya.
Tanpa sadar, air matanya sudah mengalir di pipi putihnya.
"Kak Arsya. Aku sangat merindukanmu. jangan pernah tinggalkan aku."
"Naufal. Maafkan kakak. Kakak janji, kakak tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau adalah adik kakak. Selamanya adik kakak." Arsya langsung memeluk Naufal dan menangis.
"Kau jelek sekali saat menangis kak," ejek Naufal sambil tersenyum.
"Yak! Kau berani mengejek kakak, hum!" Arsya begitu bahagia akhirnya adik kelincinya telah kembali padanya.
"Fal. Apa kau tidak merindukan kami? Apa cuma kak Arsya saja yang kau rindukan, hum?" tanya Barra yang pura-pura merajuk.
"Kak Barra? Kau disini juga?" tanya Naufal.
"Kami semua ada disini, Naufal!" Davian berbicara dengan semangatnya.
"Kakak. Aku sangat merindukan kalian semua. Maafkan aku telah mengabaikan kalian," ucap Naufal saat berusaha mengangkat kepalanya agar bisa menatap kakaknya satu persatu.
"Tidak Fal. Kau tidak punya salah pada kami. Kami yang salah padamu. Kau maukan memaafkan kami?" tanya Ardian.
"Aku sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi, kak! Aku sudah melupakannya dan aku tidak pernah benar-benar membenci kalian," jawab Naufal dengan suara lirihnya.
Naufal bangkit dari duduknya dan berusaha untuk berdiri. Dan saat dirinya sudah berdiri. Naufal merasakan sakit dan nyeri di bagian dadanya. Mereka semua panik saat melihat Naufal memegang dan meremas dadanya.
"Naufal. Kau kenapa? Apa yang sakit, Fal? Katakan pada kakak." Arsya terlihat begitu khawatir.
Naufal tidak menjawab. Naufal masih tetap memegang dadanya yang sakit dengan keringat bercucuran dan akhirnya kesadaran mengambil alih tubuhnya.
BRUK..
Arsya berhasil menahan tubuh Naufal dan membawanya dalam pelukan.
"Naufal. Kau kenapa? Bangunlah." Arsya menangis melihat adiknya yang tidak sadarkan diri sambil tangannya menepuk-nepuk pelan pipi Naufal.
Semuanya menangis saat melihat Naufal tak sadarkan diri. Mereka semua mendekati Naufal berusaha untuk menyadarkan Naufal.
"Naufal... Naufal... Hiks.. Bangunlah.. Hiks," tangis Reza pecah.
"Kenapa kalian hanya menangis saja. Bawa Naufal ke rumah sakit. Sekarang!!" teriak Dhafin.
Tanpa pikir panjang lagi, mereka membawa Naufal ke Rumah Sakit dengan pikiran campur aduk.
__ADS_1