Naufal Alexander

Naufal Alexander
Berkunjung


__ADS_3

"Aaaiiissshh! Ini bocah seenaknya saja mematikan telepon secara sepihak. Tidak sopan sekali," gerutu Arsya.


"Tapi kenapa aku harus marah? Seharusnya aku bahagia dengan ucapan Naufal tadi." Arsya monolog.


"Arsya." Andhira memanggil putra bungsunya yang barusan keluar dari kamarnya dan langsung duduk di sofa ruang tengah.


Arsya melihat kearah Ibunya. "Ada apa, Mi?"


"Tadi Mami dengar kamu sedang berbicara. Berbicara dengan siapa? Disini hanya kamu sendiri. Kamu masih waraskan, sayang?" Andhira berbicara sembari menjahili putranya.


"Aish. Apaan sih, Mi! Mami pikir aku ini gila bicara sendiri," jawab Arsya kesal.


"Ya. Siapa tahu saja," jawab Andhira yang masih menjahili putranya.


"Mamiii." Arsya menatap kesal ibunya.


Sementara Andhira tersenyum karena sudah berhasil mengerjai putranya.


"Oke, oke! Maafkan Mami. Memangnya kamu bicara dengan siapapun, hum?" tanya Andhira pada putranya.


"Aku barusan habis menghubungi Naufal."


Terukir senyuman di bibir Andhira. Lalu dirinya berpindah duduk tepatnya di samping putranya.


"Apa yang kamu bicarakan pada Naufal, sayang?"


"Aku hanya mengatakan pada Naufal kalau aku dan yang lainnya akan datang mengunjunginya ke mansionnya."


"Lalu bagaimana tanggapannya padamu? Naufal jawab apa?"


"Naufal memperbolehkan kami datang kesana. Dan dari nada bicaranya juga lembut walau masih sedikit sinis, sih!"


"Tidak apa-apa? Itu adalah langkah awal untuk Naufal mau membuka hatinya untuk kalian lagi. Bersabarlah!"


"Ya, Mi."


"Kapan kamu dan yang lainnya berangkat?"


"Pukul tiga sore nanti Mi. Yang jelas sekarang ini aku dan yang lainnya akan ke rumah Dhafin dulu. Dari sana kita akan bersama-sama ke mansion Naufal."


"Ya, sudah kalau begitu. Semoga sukses pertemuan kalian."


***


Dhafin berada di ruang tengah. Dia melamun sambil pikirannya memikirkan seseorang. Ya. Dhafin sedang memikirkan Naufal.


Yang ada di pikirannya sekarang adalah Naufal. Dan dia mengingat semua ucapan yang dikatakan oleh Ayahnya tentang Naufal kalau Naufal pernah melakukan Transplantasi Jantung.


Walaupun demikian, kondisi Naufal masih dikatakan lemah. Salah satunya Naufal tidak boleh kelelahan atau kecapean yang bisa membuat jantungnya terganggu.


"Fal." batin Dhafin.


"Dhafin." tiba-tiba Jovita, kakak perempuannya datang dan menepuk bahu adiknya yang sedang melamun, sontak membuat adiknya terkejut.


Jovita pun langsung mendudukkan pantatnya di samping Dhafin.


"Kau kenapa? Apa yang kau pikirkan?"

__ADS_1


"Aku lagi memikirkan Naufal, kak! Dan juga mengingat semua ucapan Papi tentang Naufal."


"Emangnya Papi bicara apa padamu?"


"Papi mengatakan kalau Naufal pernah melakukan Transplantasi Jantung saat sebelum Naufal ikut Audisi di perusahaan musik."


"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah kau mengetahui semua tentang Naufal. Apa kau akan diam saja seperti ini? Apa kau tidak akan mengunjunginya?"


"Ya, tidaklah. Aku dan yang lainnya hari ini akan ke mansion Naufal. Kita akan kesana bersama-sama. Yang lain akan mampir kesini dulu."


"Ooh, begitu. Kakak doakan semoga pertemuan kalian kali ini lancar. Nanti kalau kau sampai disana, sampaikan salam kakak untuknya."


"Baik, kak. Aku akan sampaikan."


"Oh, ya. Dari tadi kakak tidak melihat kak Aldan. Dimana kakakmu itu?"


"Kak Aldan ada di kamar. Barusan kak Aldan baru pulang dari kantornya. Sepertinya kak Aldan kelelahan dan langsung masuk kamar."


"Apa dia sudah makan?"


"Sepertinya sudah kak. Aku melihat bibi Reni mengantarkan makanan ke kamarnya."


"Oh, syukurlah. Kalau begitu kakak pamit ya. Ada tugas yang sudah menunggu kakak di kantor."


Setelah mengatakan hal itu, Jovita bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Dhafin.


***


Reza kini berada di kamarnya.


Dia sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah Dhafin. Dan dari sana barulah berangkat ke mansion Naufal. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Naufal lagi.


Reza sudah berada di meja makan bersama anggota keluarganya. Dan mereka pun memulai makan siang mereka.


"Kamu sudah mau berangkat sayang?" tanya Elzira sang ibu.


"Ya, Ma. Tapi aku ke rumah kak Dhafin dulu. Kami berkumpul disana," jawab Reza.


"Semoga pertemuan kalian kali ini lancar ya. Semangat." Rashid memberikan semangat untuk adik bungsunya.


"Semoga saja, kak. Terima kasih, kak. Aku berharap sekali hal itu. Aku sudah tidak sabar untuk menemuinya," jawab Reza.


"Papa juga akan berdoa semoga semuanya lancar." Nevian juga berharap pertemuan putra bungsunya dengan putra sahabatnya berjalan lancar.


"Makasih, Pa." Reza tersenyum.


***


Barra sedang berada di kamarnya. Dirinya sudah berpakaian rapi. Lalu terdengar ketukan dari luar kamarnya.


TOK..


TOK..


"Barra. Ini Mama sayang. Boleh Mama masuk?"


"Ya, Ma. Silahkan masuk Ma. Pintunya tidak dikunci!" teriak Barra dalam kamarnya.

__ADS_1


CKLEK..


Pintu dibuka dan masuklah seorang wanita cantik ke kamar tersebut.


"Mama."


Orang yang dipanggil Mama itu langsung duduk di tempat tidurnya.


"Putra Mama rapi sekali. Mau kemana, hum?"


"Aku mau ke rumah Dhafin. Lalu dari rumah Dhafin kita bersama-sama akan ke mansion Naufal."


Mendengar ucapan dari Barra, putra bungsunya. Nuria tersenyum.


"Semoga pertemuanmu dan yang lainnya dengan Naufal berjalan lancar. Semoga Naufal tidak menolak kalian lagi."


"Makasih Mama. Aku berharap sekali. Semoga kali ini Naufal tidak menolak kami!" seru Barra semangat.


"Good Luck!" seru Nuria sumringah.


"Kalau begitu aku pergi dulu, Ma!" seru Barra lalu mengecup pipi ibunya dan kemudian pergi meninggalkan ibunya sendiri di kamarnya


"Ya, Tuhan. Persatukan kembali hubungan persaudaraan mereka yang selama ini putus. Buat mereka berkumpul seperti dulu lagi." harapan dan doa Nuria Adhitama.


***


Dhafin berada di kamarnya. Dirinya sedang bersiap-siap. Disaat Dhafin tengah sibuk dengan kesibukannya sendiri, terdengar suara ketukan pintu.


TOK!


TOK!


"Tuan muda Dhafin. Mereka sudah datang. Dan sekarang mereka sudah di ruang tengah," panggil salah satu pembantu di luar kamarnya.


"Suruh mereka nunggu, Bi!" teriak Dhafin dari dalam kamarnya.


"Baiklah Tuan muda," jawab pelayan tersebut lalu kembali menuju ruang tengah.


^^^


Di sinilah mereka sekarang, berkumpul di ruang tengah rumah Dhafin.


"Bagaimana? Langsung berangkat?" tanya Dhafin yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


"Tapi Davian dan kak Ardian belum datang. Bukankah perjanjiannya kita akan berangkat bersama-sama ke mansion Naufal," saut Reza.


"Sudah, Sudah. Biar kakak yang hubungi mereka," sela Arsya.


Arsya merogoh ponsel di saku celananya dan menekan nomor tujuan. Panggilan tersambung.


"Hallo, kak Arsya. Ada apa?"


"Kau ada dimana, Davian? Kakak, Barra dan Reza sudah ada di rumah Dhafin."


"Maaf, kak. Kemungkinan aku sedikit terlambat. Aku sekarang sedang mengantar Mama ke butik. Mungkin sepuluh menit lagi aku akan pulang ke rumah. Ditambah lagi waktu untuk aku bersiap-siap. Dari pada kalian menungguku. Lebih baik kalian berangkat saja dulu ke mansion Naufal. Aku dan kak Ardian akan langsung ke mansion Naufal."


"Baiklah kalau begitu. Kakak dan yang lainnya akan tunggu disana. Ya, sudah. Kakak tutup teleponnya."

__ADS_1


"Ayo, kita berangkat! Davian dan Ardian akan langsung menyusul ke mansion Naufal!"


"Ayo," jawab mereka serempak.


__ADS_2