Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2.


__ADS_3

[CAFE]


Vanesha Naladhipa, gadis cantik itu terlihat duduk mematung di kursi cafe. Sejak setengah jam yang lalu, membiarkan secangkir coffee Luwak di atas meja mendingin, tanpa pernah gadis itu sempat menikmatinya.


Vanesha bahkan hanya memandang kosong laki-laki di hadapannya merasa tidak tertarik sama sekali pada laki-laki yang ada di hadapannya.


Laki-laki itu tak lain adalah Derry Alvaro, CEO muda dari Alderweird Enterprise, pengusaha telekomunikasi, resort eksklusif, rumah-rumah mewah dan apartement eksklusif dengan harga selangit yang tersebar hampir di seluruh dunia, perusahaan yang juga menaungi puluhan departement store mewah, tersebar di Jakarta hingga Jepang, bahkan beberapa juga terdapat di Eropa dan Amerika. Berkembang pesat hingga menghasilkan ratusan juta bahkan milliaran rupiah dan menjadikan keluarga Alvaro berada diperingkat 20 besar orang terkaya di dunia.


"Jadi, apa ayahmu sudah mengatakan semuanya padamu, Vanesha Naladhipa?" suara Derry Alvaro terdengar dingin dan datar.


Sedangkan Vanesha pun hanya mampu mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Bagus! Itu berarti aku tidak perlu bersusah payah menjelaskan semuanya padamu."


Vanesha mengusap tangannya yang mulai mendingin, membeku dalam perasaan kalut yang kini sudah semakin mengikat tubuhnya. Perasaan yang mulai mendominasi hati saat sang ayah meminta Vanesha untuk menemui Derry Alvaro siang ini, membicarakan perjanjian yang sudah disepakati oleh sang ayah dan laki-laki dingin itu tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu.


Perjanjian yang meluluhlantahkan perasaan Vanesha, ke dasar kesedihan tanpa bisa menolak. Perjanjian yang mau tidak mau harus ia dipatuhi, demi kelangsungan kebahagian kedua orang tua yang sangat dia sayangi hingga membuat Vanesha harus mengubur semua impian sempurnanya tentang sebuah kehidupan bahagia tanpa sisa.


"Eoh! Ada satu perubahan rencana yang belum aku katakan padamu." Derry Alvaro mengantungkan kalimatnya, menatap tajam Vanesha yang hanya diam tak beraksi apapun. "Pernikahan kita akan dilaksanakan dua minggu lagi. Jadi persiapkan dirimu dan jangan permainankan aku."


Vanesha terpaku menatap tidak percaya laki-laki yang dulu pernah mengejar-ngejarnya dan mengutarakan cinta padanya ketika di SMA. Vanesha sangat terkejut.


Namun Derry Alvaro hanya tersenyum dingin dan balas menatap Vanesha, datar dan tidak peduli. 


"Apa?" ucap Vanesha masih dalam keterkejutannya.


"Tidak usah terkejut seperti itu Vanesha. Dulu aku selalu mengejar-ngejar cintamu, tapi kau selalu menolaknya. Dan sekarang kau ada di hadapan, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Selama kau mematuhiku, selama itu pula kedua orang tuamu dan kakakmu baik-baik saja. Dan aku tidak akan menyakiti kakak kesayanganmu, Vanesha!"


Vanesha hanya terdiam, tatapan matanya hampa, butiran crystal pun mulai memenuhi iris beningnya. "Aku sudah menyiapkan semuanya, kau hanya perlu berdandan cantik untuk hari istimewa kita saat ini hari itu tiba, kau mengerti?"


Derry Alvaro meraih kacamata hitamnya seraya bangkit dari kursi yang di dudukinya, berjalan mendekat ke arah Vanesha yang masih membeku. Laki-laki itu membungkukkan tubuhnya, mengecup puncak kepala Vanesha tunangannya, lembut dan hangat yang sedang bersuka cita menyambut hari pernikahan, lalu membalikkan tubuhnya, berlalu begitu saja meninggalkan Vanesha yang terisak tertahan di belakang sana.


***


[Rumah Vanesha]


Vanesha melangkahkan kakinya perlahan, menelusuri jalan bebatuan yang ada di halaman depan rumahnya, halaman luas yang dipenuhi puluhan bunga mawar biru dan putih.


Hembusan angin dipenghujung musim dingin, semakin membekukan perasaannya, butiran crystal yang sejak tadi mengalir kian membuat basah pipi pucat gadis itu. Tidak pernah terlintas dipikiran Vanesha jika semuanya akan berakhir seperti ini, jika saja sang ibu tidak mengalami kecelakan tragis saat hendak menghadiri acara wisuda Vanesha hingga membuat ibunya koma selama hampir 6 bulan, tentu saja semua ini tak akan pernah terjadi.


Kecelakaan yang membuat sang ayah Wisnu Naladhipa menjadi terpuruk dalam kesedihan tak berkesudahan. Bekerja tak focus hingga merugikan perusahaan hingga ratusan juta rupiah. Belum lagi biaya pengobatan ibu Vanesha yang sangat besar, menguras banyak pundi-pundi kekayaan dari Wisnu Naladhipa.


Di perburuk lagi dengan penghianatan yang berasal dari dalam perusahaan dan berakibat kebangkrutan mendadak, dari salah satu perusahaan keramik terbesar yang ada di Jakarta pusat. Ditambah lagi sang kakak Daniel Naladhipa dipenjara atas kesalahan yang tak pernah dilakukannya.


Awalnya, Vanesha amat sangat kecewa dan marah atas apa yang sudah dilakukan oleh keluarganya. Anggota keluarganya membuat berita palsu atas kematian dirinya dari semua orang, termasuk sahabat dan kekasihnya Naufal Alexander. Tapi setelah mendengar penjelasan dari keluarganya, Vanesha pun memaafkan kesalahan keluarganya. Bagaimana pun keluarganya melakukan semua itu semata-mata untuk dirinya. Dan Vanesha tak ada alasan untuk membenci mereka. Justru sebaliknya Vanesha sangat menyayangi mereka.


***


[PERUSAHAAN RZ'CORP]


[Ruang Kerja Reza]


Reza sedang sibuk memeriksa berkas-berkas yang akan ditandatangani olehnya. Lalu tiba-tiba terdengar notifikasi pesan di ponselnya.


TING!!


Enzi :

__ADS_1


Selamat siang kak Reza. Indahnya masih bisa menyapa dirimu dan masih bisa melihat sosokmu yang penuh dengan semangat. Semoga harimu selalu semangat dan bisa mudah untuk menjalaninya.


Reza tersenyum bahagia membaca pesan dari kekasihnya itu.


Reza :


Buat kamu yang ada di hatiku.


Pesan ini, semoga juga sampai di hatimu. Rejuk embun di siang hari, relok syair menyentuh hati, Riuh kicau burung bernyanyi. Seiring dengan datangnya sinar matahari, dari lubuk hati ini aku ucapkan selamat siang cintaku, sayangku!!


Enzi :


Saat aku bersamamu, satu jam berasa satu detik. Tapi saat aku jauh darimu, satu hari serasa satu tahun.


Reza :


Aku semakin mencintaimu karena aku telah percaya engkau menyukai diriku apa adanya, dan bukan karena hal lain


Enzi :


Engkau adalah jantungku, hidupku,


satu satunya yang aku pikirkan.


Selamat bekerja kak..


Bye!!


Reza :


Terima kasih sayang!!


Bye!!


"Semangatku kembali menjadi seratus persen karena wanitaku sudah menyuntik vitamin cintanya padaku." monolog Reza tersenyum


"Akhirnya selesai juga. Waktunya aku pulang!" seru Reza semangat.


***


[Kediaman Ardian]


[Ruang Tengah]


Ardian sedang bersantai di rumah miliknya, tepatnya di ruang tengah sembari menonton tv. Satu jam yang lalu dirinya baru pulang dari kantor milik nya.


TAP!!


TAP!!


TAP!!


Terdengar suara derap langkah seseorang menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Orang itu adalah Henry Krishon adik sepupunya Ardian Krishon.


"Kak Ardian. Tumben kau sudah di rumah!" seru Henry saat kakinya melangkah menuju ke ruang tengah.


Henry pun mengalihkan pandangannya melihat kearah adik sepupunya itu. "Nah. Kamu juga tumben jam segini masih di rumah. Biasanya sudah di Studio?"

__ADS_1


"Aish! Tidak sopan sekali. Ditanya malah balik nanya," omel Henry.


Ardian hanya tersenyum mendengar omelan adiknya. Dan Henry sudah menduduki pantatnya di sofa.


Kenapa Henry ada di rumah milik Ardian? Jawabannya adalah Henry menginap selama dua minggu di rumah Ardian karena permintaan ayahnya Henry yang tak lain adalah adik ayahnya Ardian. Karena kedua orang tua Henry berangkat keluar negeri selama dua minggu.


Dikarenakan kedua orang tuanya dan kedua kakaknya overprotektif padanya dan tidak memperbolehkan Henry tinggal sendiri, maka ayahnya menitipkannya pada Ardian. Ditambah lagi Henry sedikit takut pada Ardian.


"Kenapa tidak ke Studio. Kalau sikelinci nakal itu marah dan ngamuk, bagaimana?" tanya Ardian.


"Biarin aja. Kalau dia butuh pasti sikelinci itu akan menghubungiku," jawab Henry asal.


Dan ternyata benar yang dikatakan Henry. Ponsel miliknya berbunyi.


DRTT!!


DRTT!!


Henry merogoh ponsel miliknya di saku celananya. Dan dilihat nama 'siluman kelinci' di layar ponselnya.


"Tuh kan. Apa yang aku katakan tadi? Sekarang siluman kelinci itu menghubungiku," ucap Henry.


"Ya, sudah. Buruan jawab," ucap Ardian. "Jangan lupa diloundspeaker. Biar kakak bisa dengar juga, apa yang dibicarakan oleh si kelinci tengil itu."


Saat Henry ingin menjawab, Naufal yang di seberang telepon tersebut sudah terlebih dahulu bersuara.


"Hallo, kedelai hitam. Kau ada dimana?!" teriak Naufal.


Ardian tertawa pelan mendengar ucapan anarkis dari Naufal.


"Sialan. Bisa tidak sekali saja kau menyebut namaku saat menghubungiku?" tanya Henry kesal.


"Tidak! Karena nama itu sudah cocok untukmu. Jadi aku sudah nyandu memanggilmu dengan sebutan kedelai hitam atau Mingtem.


Lagi-lagi Ardian tertawa mendengar ucapan dari Naufal untuk Henry.


"Yak! Dasar siluman kelinci kurap."


"Ya.. ya.. ya!! Terima kasih pujiannya."


"Dasar gila. Mau apa kau menghubungiku??"


"Hen. Bagaimana tawaranku kemarin?"


"Yang mana? Aku Amnesia."


"Brengsek. Aku sumpahin Amnesia benaran baru tahu rasa!"


"Tidak masalah. Kau juga yang bakalan sedih. Karena sahabat tampanmu ini melupakanmu."


"Huueeekkk! Pedemu terlalu tinggi, Mingtem. Kau tidak terlalu tampan. Menurutku wajahmu itu jelek sama seperti kakakmu itu. Siapa namanya itu.. eemmm!! Aku lupa. Yan... Yan siapa ya?"


Ardian yang mendengar ucapan Naufal membelalakkan matanya. Sedangkan Henry tertawa keras.


"Hahahahaha."


"Siluman kelinci sialan. Awas kau ya kalau bertemu. Akan aku cincang-cincang tubuhmu!" teriak Ardian.

__ADS_1


"Ka-kakak Ardian."


"Iya. Ini kakak. Kau mau apa, hah?!" kesal Ardian.


__ADS_2