New Chapter Of My Life

New Chapter Of My Life
Episode 10 Menghadiri Sidang Perceraian


__ADS_3

Jadwal sidang ke-dua, dilaksanakan pada hari Selasa pukul setengah pagi, di pengadilan agama Jakarta Utara.


Untuk itu, Dona berangkat ke Jakarta seorang diri menggunakan penerbangan sore sehari sebelumnya. Lalu, ia menginap di rumah orang tuanya yang dulu, dimana ia menempati kamarnya yang lama, kamar sebelum ia menikah. Kamar yang masih sama, hanya tempat tidur dan lemari pakaian yang berbeda. Lemari gantung build-in pun masih terpasang seperti dulu.


Sebetulnya kamar ini, telah ditempati Andre adik sepupunya, tetapi pada saat itu Andre masih kuliah di Palembang.


Dona duduk diatas tempat tidur, ia memandang ke sekeliling kamarnya dahulu. Ada kerinduan pada suasana kamar yang dulu ia tempati bersama dengan Hana, sejak ia kelas enam SD hingga sebelum menikah dengan Tyo.


Memori akan kebersamaan ia dengan Hana pun bermunculan dalam ingatan. Bagaimana ia menghabiskan waktu liburan sekolah dengan mendekorasi ulang kamarnya. Mengecat dinding hingga plafon, berulang kali ia lakukan berdua dengan sang kakak.


Lemari gantung di atas tempat tidur yang merupakan hasil desainnya, yang dulu ia isi dengan semua koleksi buku-buku dan gantungan kunci, serta perlengkapan menggambar yang ia gunakan selama kuliah.


Kenangan itu pun terhenti, ketika terdengar suara pintu kamar diketuk dari luar.


"Iya, masuk," jawab Dona.


Bulik Yuni, istri dari Lik Edi pun masuk ke dalam kamar.


"Besok jam berapa ke pengadilan?" tanyanya.


"Jadwal sidangnya jam setengah sembilan, enaknya berangkat jam berapa ya, Bulik ?"


"Nanti tanya ke Paklik saja. Untuk besok, Bulik temani dulu yaa, kan besok pertama kalinya kamu datang sidang."


"Terima kasih Bulik, oiya Wawan sudah datang?"


"Belum, coba kamu telpon aja."


"Oiya, nanti Lik Eddy mau bicara, sekalian makan malam," lanjut Bulik Yuni.


"Baik Bulik, aku telpon Wawan dulu ya."


"Iya, nanti Bulik tunggu di bawah jam setengah delapan, ya."


"Baik, Bulik."


Setelah Bulik Yuni keluar dari kamar, Dona segera menghubungi Wawan.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, kamu sudah sampai mana?" tanya Dona.


"Sudah di depan pagar, bukain Mbak !"


"Yee, pencet bel-nya aja sih."


"Iya, nih sudah dah dibukain," jawab Wawan sambil tertawa.


Dona mematikan sambungan teleponnya dan menuju ke lantai bawah untuk menemui Wawan.


"Assalamu'alaikum," ucap Wawan memberi salam.


"Wa'alaikumsalam," jawab Dona sambil membuka pintu ruang tamu.


"Alhamdulillah, sampai juga. Langsung masuk, yuk," ajak Dona ke ruang keluarga.


"Wawan sudah datang?" tanya Bulik Yuni yang menemui di ruang keluarga.


"Assalamu'alaikum, Bulik," salam Wawan.


"Wa'alaikumsalam."


"Makan pempek dulu, mumpung masih hangat," Bulik Yuni menawarkan.


Bulik Yuni adalah orang Palembang asli, dimana setiap bulannya, ia selalu mendapat kiriman aneka pempek dan kerupuk Palembang dari saudaranya yang masih tinggal di sana.


"Alhamdulillah, pas lagi laper nih," ucap Wawan yang tanpa menunggu segera menikmati sajian makanan khas Palembang itu.

__ADS_1


Tak berapa lama, terdengar suara mobil memasuki carport.


"Tuh Lik Eddy baru pulang," ucap bulik Yuni.


"Assalamu'alaikum," salam lik Eddy.


"Wa'alaikumsalam."


"Sudah pada datang ?" sapa lik Eddy sambil menghampiri Dona dan Wawan.


Setelah bersalaman, ia ikut duduk bersama untuk menikmati pempek.


"Gimana Don, sudah siap untuk besok ?" tanya lik Eddy.


"In syaa Allah, amunisi sudah lengkap!" jawab Dona semangat.


"Alhamdulillah."


"Besok sidang jam setengah sembilan, kan ? kalian berangkat jam setengah delapan aja, takutnya macet," saran lik Eddy.


"Baik, Lik."


"Ya sudah, Paklik mau istirahat dulu, lanjut aja makan pempeknya," ucap lik Eddy yang kemudian pergi menuju kamarnya di lantai atas.


"Siyaaap," jawab Dona dan Wawan.


"Mbak, besok gimana nih rencananya? Tyo pasti marah lihat Mbak datang," tanya Wawan.


"Biarin, marah mah urusannya dia, lagian salahnya sendiri, bikin gugatan kok isinya mengarang indah semua," jawab Dona.


"Eh kamu tidur di kamar mana?" tanya Dona.


"Kemarin sih, aku di kamar Alif."


"Ooo, yo wes aku mau mandi dulu," ucap Dona.


Beberapa saat kemudian, ba'da Isya mereka kembali berkumpul untuk makan malam bersama.


"Gimana Don, persiapan kamu untuk sidang besok pagi ?" tanya lik Eddy.


"In syaaAllah sudah full amunisi, bukti-bukti perselingkuhan Tyo sama semua sanggahan atas tuntutannya sudah lengkap," jawab Dona.


"Semoga sidangnya berjalan dengan lancar. Satu hal paklik mau pesan, kamu harus tenang jangan terbawa emosi. Agar kamu bisa dengan lancar menjawab semua pertanyaan yang akan diajukan pada saat sidang. Intinya tenang, ya."


"Inggih Paklik," jawab Dona.


Malam semakin larut, Dona tengah bersiap untuk mengistirahatkan raganya, tetapi sebelum itu, ia membaca kembali surat gugatan Tyo, untuk mempersiapkan pembelaannya esok pagi.


Setelah menikmati nostalgia, tidur di dalam kamarnya yang lama, keesokan paginya, Dona terbangun dengan badan yang segar dan penuh rasa positif untuk menyambut persidangan perdananya nanti.


Beberapa jam kemudian, Dona dan Wawan telah siap menuju Pengadilan Agama Jakarta Utara.


"Tunggu sebentar ya, Paklik juga sekalian mau berangkat ke kantor," ucap bulik Yuni.


Tak lama, lik Eddy menemui keduanya di ruang tamu.


"Ya sudah kita berangkat sekarang, semoga lancar nanti sidangnya ya," ucap lik Eddy sambil menyalami Dona dan Wawan.


"Aaamiinn, makasih Lik."


Dona, Wawan dan Bulik Yuni berangkat menuju Pengadilan Agama Jakarta Utara menggunakan kendaraan harian di rumah, yang dikemudikan oleh supir pribadi keluarga Lik Eddy, sedangkan Lik Eddy menggunakan kendaraan yang biasa ia gunakan untuk ke kantor.


Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di Pengadilan Agama Jakarta Utara. Lalu, Dona mendatangi petugas PA, untuk menanyakan letak ruang sidangnya, sekaligus menandatangani daftar hadir. Setelah itu, ia dan bulik Yuni menunggu di kursi tunggu di depan ruang sidang. Sementara Wawan menunggu di lobby. Dona melihat ke sekitarnya, dimana sejak sampai ia tidak melihat kehadiran Tyo sama sekali di ruang tunggu.


Mungkin ia terlambat, pikir Dona.


Tepat pada pukul setengah sembilan, Tyo dan Dona di panggil untuk memasuki ruang sidang.

__ADS_1


Tyo terlihat berjalan masuk terlebih dahulu, diikuti oleh Dona dan Wawan.


Lah, dia sudah datang? Tadi ngumpet dimana tuh? gumam Dona.


"Assalamu'alaikum," ucap Dona memberi salam kepada majelis hakim.


"Wa'alaikumsalam," jawab majelis hakim.


Melihat kehadiran Dona, salah satu hakim pun bertanya, "Jadi hari ini, ibu Dona sudah hadir ya?"


"Ya, Yang Mulia," jawab Dona.


"Kalau begitu kita mulai sekarang."


"Baiklah, Pak Tyo, Bu Dona sudah hadir disini, apakah gugatannya mau dilanjutkan?" tanya Hakim Ketua.


Tyo melihat ke arah Dona dengan ekspresi wajah memelas, membuat Dona yang sudah hafal dengan wajah munafik suaminya itu, memilih untuk tidak memperdulikannya, ia tetap memandang lurus ke depan.


"Iya, Yang Mulia," jawab Tyo dengan nada penuh keraguan.


"Sepertinya Anda tidak yakin dengan keputusan Anda. Begini deh. Kan kalian sudah memiliki tiga anak, perempuan semua ya ?"


"Iya, Yang Mulia," jawab Tyo.


"Kalau begitu berdamai saja. Nggak usah dilanjutkan, semuanya kan masih bisa dibicarakan. Bagaimana ?" saran dari Hakim Ketua.


"Tidak Yang Mulia, saya mau melanjutkan saja," ucap Dona penuh keyakinan.


Tyo kembali memberikan ekspresi memelasnya, hal ini membuat Dona segera meminta izin untuk menyerahkan jawaban atas gugatannya.


"Oh, jadi Bu Dona sudah siap, kalau begitu kami minta berkasnya diperbanyak lima kali, empat untuk kami dan satu untuk Pak Tyo. Sementara itu silahkan kalian menuju ruang mediasi dua," ucap Hakim Ketua sambil mengetukkan palunya.


Dona yang tidak mengerti pun bertanya, "Ruang mediasi ?"


"Iya, kalian bicarakan terlebih dahulu masalahnya apa, didampingi oleh petugas mediasi kami," jawab Hakim Ketua.


"Kalau langsung sidang saja memangnya tidak bisa?" tanya Dona.


"Kalau Bu Dona menolak, nanti biaya sidang ditanggung oleh Bu Dona," jawab Hakim Ketua.


"Kalau begitu saya mediasi saja," ucap Dona memutuskan.


"Silahkan Pak Tyo dan Bu Dona menuju ruang mediasi. Pak Tyo, ini suratnya pengantarnya," ucap Hakim Ketua.


Dona, Tyo dan Wawan pun berjalan meninggalkan ruang sidang. Kemudian Tyo menyerahkan surat pengantar mediasi ke sekretaris bagian mediasi, yang berada di depan ruang sidang.


"Setelah yang di dalam ruang mediasi dua keluar, Bapak bisa langsung masuk," ucap sekretaris bagian mediasi sambil menyerahkan berkas perkara kepada Tyo.


Setelah itu, Tyo menghampiri Dona dengan wajah penuh emosi.


"Kamu bilang kamu nggak akan datang ! terus kenapa sekarang kamu datang, pakai bawa berkas-berkas segala ! apa itu ? kamu mau bikin cerita baru lagi ? eh ingat ya, kamu sudah ngancurin pekerjaan saya, apa itu masih belum cukup? kamu masih mau ngejelekin saya disini ?!" hardik Tyo


"Eh saya nggak bisa tinggal diam saja kalau di fitnah, gugatan kamu itu bohong semua ! kamu kira saya bakalan diam saja kalau difitnah seperti ini !"


"Saya nggak fitnah, itu kenyataan!" balas Tyo.


"Wah kamu beneran sudah nggak jelas nih, sampai-sampai kamu tidak bisa membedakan mana kenyataan dan mana yang halusinasi hasil ciptaanmu sendiri !" sergah Dona.


Tetapi, Tyo tetap mengomel tidak jelas dan bersikukuh mengatakan bahwa ia adalah yang difitnah dan bahwa Donalah yang menghancurkan dirinya.


Dona pun lelah, lalu meninggalkan Tyo yang masih tetap marah-marah tidak jelas.


"Wan, kamu ladenin tuh manusia, aneh banget !" ucap Dona yang mulai tersulut emosi.


Wawan pun menghampiri Tyo dan entah apa yang Tyo katakan, tetapi Wawan terlihat hanya sekali berusaha membantah Tyo, kemudian meninggalkan Tyo sendiri yang masih tetap marah-marah seorang diri.


"Mbak, kayaknya emang nggak beres deh tuh orang ? sudah aku tinggalin, tapi dia masih ngomel. Itu ngomel ke siapa?"

__ADS_1


__ADS_2