
Dua pekan sudah Al dirawat di rumah sakit, pemeriksaan lanjutan terus dijalani oleh Al.
Tidak ditemukan penyebaran sel-sel kanker dalam darahnya, tetapi kondisi Al belum menunjukkan perubahan yang signifikan.
Dokter Asih tetap menyarankan imunoterapi untuk kasus Al.
" Secara medis kondisi Al memang belum menunjukkan perbaikan yang signifikan, tetapi tidak terlihat adanya penyebaran pada sel-sel kankernya, itu sudah menunjukkan ke arah positif. Saya akan menerapkan imunoterapi, dengan mengambil sel T dalam sel darah putihnya. Sel T ini nantinya yang akan berperang melawan sel kankernya. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian obat-obatan untuk membunuh sel kankernya. Terapi ini memang cukup lama, bisa berbulan-bulan, tetapi efek yang ditimbulkan sangat minim. "
" Apa selama terapi ia harus tetap berada di rumah sakit?? " tanya Dona.
" Sebaiknya seperti itu, untuk mencegah virus lain. Tetapi kita bisa lihat kedepannya, jika kondisi Al sudah semakin baik, bisa dilakukan rawat jalan, tentunya dengan prosedur ketat di rumah."
Khalis dan Dona pun menyetujui pengobatan lanjutan untuk Al, prosedur imunoterapi pun segera dilakukan.
Setelah prosuder itu dilakukan, Al tampak tertidur pulas.
Sepekan berlalu setelah prosedur imunoterapi dilakukan, efek samping seperti mual, muntah, pusing dan lainnya membuat Al beberapa kali menangis.
Badannya pun semakin terlihat kurus. Nafsu makannya sangat menurun.
Beberapa kali setelah makan, Al mengeluarkan kembali isi perutnya.
Hal itu membuat Dona terpuruk.
Dona menggenggam jari-jemari tangan putranya sambil memcium satu persatu jarinya.
" Mas, apa aku jahat kalau aku ga berharap banyak untuk kesembuhan Al?? "
Khalis memandang heran ke arah Dona, tetapi sebelum ia berbicara, Dona melanjutkan maksudnya.
" Bukannya aku ga ingin Al sembuh, bukan itu. Tidak ada ibu yang ingin anaknya menderita dan bukannya aku tidak mau berjuang untuk Al. Tetapi ntah kenapa hati ini sudah merelakan kemana arah Al nanti bahkan untuk kemungkinan terburuk sekalipun. Walaupun aku mengenal seseorang yang sembuh total dari sakit ini, tetapi ntahlah, hati ini rasanya 50-50. "
" Selama ini Mas melihat Sayang kuat banget, tougher than I thought, kenapa tiba-tiba menyerah ?? "
" Aku bukan menyerah Mas, tapi setelah sekian tahun aku hidup, beberapa kali mengalami kekecewaan dan kegagalan, membuat aku memprotek hati ini untuk tidak sakit lagi."
"'Do'a selalu kupanjatkan untuk kesembuhan Al, sembuh yang sempurna, sembuh tanpa ada sel kanker yang tersisa. "
" Tetapi di sisi lain, aku juga mempersiapkan yang terburuk, karena aku tidak mau aku hancur perlahan-lahan. "
Khalis pun memeluk erat Dona yang menangis tersedu.
" Sayang butuh istirahat, sudah berapa lama Sayang di sini tanpa keluar sedikit pun?? Kelelahan fisik sudah Sayang rasakan dan sekarang berpengaruh pada pikiran Sayang. "
" Yang, kita istirahat dulu ya. Al dan anak-anak membutuhkan kekuatan dan keberadaan kita. Kita keluar sebentar, pulang ke rumah, istirahat disana. Malamnya kita kembali lagi. Mau makan di Dona's Kitchen?? "
" Kita berdua butuh off juga. Nanti, kita minta tolong perawat yang menjaga Al, sementara kita keluar. Aisha juga bisa dimintai tolong untuk gantiin kita berdua, sebentar aja kok. "
Dona mengangguk tanda setuju.
Khalis kemudian berbicara kepada perawat yang bertugas jika mereka berdua akan pulang sebentar.
" Silahkan Pak, kami akan mendampingi adik Al selama Bapak dan ibu keluar. "
Khalis pun menghubungi Aisha untuk segera datang ke RS menggantikan dirinya dan Dona untuk hari itu saja.
Setelah Aisha datang,
" Al, ayah dan ibu pulang sebentar yaa. Sekarang Al ditemani mbak Aisha dulu yaa. "
" Al sama mbak dulu yaa. Ayah dan ibu mau pulang sebentar, gantian sama mbak yaa. Mbak Aisha kan juga mau nemenin Al disini. "
Al memandangi wajah Dona dengan mata sayu.
" Tapi Ibu cuma sebentar kan?? "
__ADS_1
" Iya, nanti malam Ibu temenin Al disini lagi. "
Khalis dan Dona akhirnya keluar rumah sakit.
" Mas, aku mau creambath di salon yaa, sekalian pijat. Kan ada yang dekat rumah. "
Khalis meraih tangan Dona dan mencium punggung tangannya.
" Mau creambath, facial, spa sekalian juga ga papa. You need it "
" Creambath aja lah, bisa nyambi makan. "
Khalis pun tertawa.
" Akhirnya keluar juga jurus OVJ-nya. "
" Laaa, emang bener. Kalau creambath bisa sambil makan, baca buku, nonton, main congklak juga bisa kalau ada. Tapi kalau facial, mumi mode on itu, Mas. "
" Alhamdulillah, baru sebentar keluar RS, finally my Dona is back. I miss that, Hon. "
" Yang, kita sekarang atur jadwal untuk jaga di rumah sakit. 3 hari disana dan 1 hari di rumah. Anak-anak yang lain juga butuh kita. "
" We need to be fair to them "
" Mas juga sesekali harus kontrol ke cafe dan bengkel. Sayang cukup antara RS dan rumah saja. Cafe dan Katering serahkan ke manajer yang sudah terpercaya. Mereka kan tenaga profesional. "
" Nanti Mas yang periksa laporannya, Sayang fokus di urusan anak-anak saja, yaa. "
Khalis lalu mengarahkan mobilnya ke salon khusus muslimah langganan Dona, sebelum itu ia membelikan makanan dan minuman favorit untuk Dona nikmati di salon.
" Enjoy your time, I'll pick you up satu jam lagi. "
Dona pun menikmati siang itu dengan memanjakan dirinya di salon, sedangkan Khalis memilih untuk melepaskan kepenatannya dengan berendam dalam air hangat di rumahnya.
Suara pesan masuk ke HP Khalis,
" Mas, aku pulang sendiri aja. Mas istirahat aja, aku sudah pesan taxi online. "
Khalis kemudian menyelesaikan mandinya. Badannya pun sudah terasa lebih segar dibandingkan sebelumnya.
Tak lama kemudian, Dona sampai di rumah.
" Welcome home " sambut Khalis di depan pintu rumahnya.
" Hmmm wangiiii " ucap Dona yang mencium wangi cologne Khalis.
" Sayang juga wangi, kepalanya. "
" Rambut Mas, rambutnya yang wangi. "
" Mas sudah makan?? "
" Otw, tadi berendam sampai ketiduran, jadi belum makan. "
" Makanlah, aku temenin, aku sih sudah kenyang. "
" Sayang berendam aja dulu, Mas sudah siapin airnya di bath up."
" Oooouuu co cwiiittt " Dona pun mencium pipi Khalis.
" Dah sana mandi dulu."
Dona kemudian merendamkan dirinya di dalam air hangat yang telah diberi minyak esensial untuk membantunya relaksasi.
Khalis mengetuk pintu kamar mandi,
__ADS_1
" Yang, dikunci ga?? "
" Ga, masuk aja, diriku sudah terbungkus busa."
Khalis pun masuk ke kamar mandi.
" Mas ga makan?? "
" Nanti aja. Mas pijat lehernya yaa."
" Ga pakai plus-plus yaa. "
Khalis pun tersenyum,
" Tenang, pakai minus aja. "
Dona pun menyiratkan air ke arah Khalis.
Khalis hanya tertawa dan mulai memijat leher hingga punggung Dona.
" Jadi ngantuk. "
" Tidur aja. "
" Ga ah, nanti di kasur yang kurindukan saja. "
" Oiya, Zalfa kok belum pulang?? " tanya Khalis.
" Palingan sebentar lagi, biasanya dia sampai rumah sekitar jam 16.30."
" Ara tadi juga WA, hari ini pulang agak malam, karena ada tugas kelompok, " lanjut Dona.
Khalis kemudian berpindah ke arah kaki Dona.
" Angkat kesini kakinya. "
Dona lalu mengangkat kakinya ke arah Khalis. Lalu Khalis pun memijat telapak kaki Dona.
" Mas, aselik aku jadi ngantuk banget kalau di pijat gitu."
" Ya tidur aja, namanya juga relaksasi."
" Ga ah, takut tenggelam. "
Khalis tertawa geli mendengar jawaban Dona.
" Laaa ketawa, beneran ini !! Aku pernah baca, ada orang meninggal waktu berendam di bath-up karena ketiduran. "
" Kok bisa tenggelam?? aneh, " tanya Khalis.
" Mungkin panik jadi lupa kalau dia bisa duduk tegak aja atau berdiri kan beres " jawab Dona.
Setelah beberapa menit berendam.
" Dah, jangan kelamaan, nanti keriput, " ucap Khalis.
" 10 menit lagi, sampai hangatnya hilang. Tapi Mas keluar dulu. "
" Ga mau. " canda Khalis.
" Hmmm baiklah, Anda ingin melihat pertunjukan ..... "
" Siap Nyah, Tuan akan menunggu di luar, " jawab Khalis sambil keluar kamar mandi.
" Jangan lama-lama!!! " teriaknya lagi.
__ADS_1