
Matahari pun mulai bergeser ke arah Barat dan perlahan meredupkan sinar cahayanya. Langit biru dengan awan putih dengan semburat cahaya kemerahan mengiringi akhir dari acara lamaran Khalis dan Dona.
Dua insan yang akan terikat dalam janji suci beberapa pekan ke depan pun harus menahan rasa sebelum kalimat ikrar yang menghalalkan hubungan mereka diucapkan di depan penghulu. Tetapi hal itu tidak mengurangi kebahagiaan keduanya, terutama Khalis yang tak lepas dari senyuman semenjak kembali dari kediaman orang tua Dona.
"Khal, kamu memang tidak salah pilih, jalan Allah untuk mempertemukan kalian berdua itu sungguh di luar dugaan manusia. Setelah penuh liku, keinginan Nadia yang tersirat akhirnya terwujud. Kamu harus bersyukur, mendapatkan wanita yang kuat," ucap ibu Khalis penuh haru.
"Walau sedikit aneh," canda Khansa.
"Itu bumbu pemanis, Sa," jawab Khalis.
"Ciiiee yang lagi jatuh cintrong!" goda Khansa.
"Alhamdulillah akhirnya bisa jatuh cinta lagi, ya kan Khal?" bela ibu Khalis.
"Alhamdulillah," jawab Khalis dengan senyum yang merekah.
Lalu, Khansa mulai mengeluarkan kotak-kotak yang berisi aneka makanan, yang telah disiapkan Dona untuk makan malam mereka nanti.
"Itu banyak banget, isinya apa saja, Sa?" tanya Khalis.
Khansa pun membuka satu persatu kotak makanannya, sambil menjelaskannya isinya.
"Ada ayam goreng yang endeuss tadi, lengkap sama sambel dan lalapannya. Kalau tadi sayur asem, yang ini sop tofu bakso ikan. Ada puding mangga, bronis kukus yang tadi juga. Hmmm ini apa yaa?"
Khalis pun menyicip makanan yang Khansa maksud.
"Hmmm ini, enak lah pokoknya," ucap Khalis sambil menjilati jari-jemarinya.
"Huuu yang lagi happy, semua juga enak," goda Khansa.
"Ini kayak lumpia tapi isi kentang dan daging sapi, pakai bumbu kari, beneran enak!" lanjut Khalis yang asyik menikmati samosa, kudapan asal India berbentuk segitiga.
"Udahan ngemilnya, ntar membulat lho !" goda Khansa.
"Sudah kok, beratku sudah mulai nambah, setelah bertahun-tahun bertahan di angka 75, sekarang nyaris 80 dong! dan sindrom bajuku dulu tak segini, mulai terjadi !" seru Khalis.
"Setelah sekian tahun, makan nggak teratur, makan buah kadang-kadang, begitu sebulanan di suplai makanan sehari tiga kali, auto langsung membulat!" goda Khansa.
"Biar membulat, juga tetap sexy and laku. Otw become a handsome groom," sahut Khalis memuji dirinya sendiri.
"Ih muji diri sendiri muluk, narsis !"
"Narsis adalah nama tengahku," sahut Khalis lagi.
"Ih serius, ini meltednya kebablasan ! kembalikan kakakku yang kulkas itu!"
"Maaf, kakak kulkas itu sekarang sedang menghilang, dia akan kembali di kantor besok pagi," jawab Khalis.
Tiba-tiba Khalis mengingat sesuatu yang ia lupakan saat acara lamaran berlangsung. Ia pun segera mengambil gawainya dan menghubungi Dona.
"Assalamu'alaikum," sapa Dona.
"Wa'alaikumsalam, maaf tadi saya lupa. Besok pagi saya tunggu di Royal Andarukno jam 10," ucap Khalis.
"Oke, eh dimananya?" tanya Dona.
"Di lobby, setelah itu kita langsung ke WO-nya," jawab Khalis.
"Okey."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Khansa yang mendengarkan, hanya menggelengkan kepalanya dan berkomentar, "Kayaknya double personality deh, tadi bisa ngaco eh tetiba kulkas mode on!"
"Sa, sepanjang diriku belum halal untuknya, aku akan tetap menjaga kekulkasanku di depannya," sahut Khalis.
"Hiiii, aku merinding ndengerin bahasanya !" ucap Khansa sambil berpura-pura merinding.
"Ah, pingin rasanya segera mengumumkan ke luar sana, that I'm taken !" seru Khalis sambil merebahkan badannya di sofa.
"He's absolutelly in love, Sa !" sahut Dzaky.
"Indeed !"
Sementara itu di rumah Dona, ayahnya segera meminta Dona untuk menghubungi semua kakak dan adiknya
"Dona, video call semua yang di Bandung dan Bekasi, sekarang !"
"Baik, Pak."
Dona pun segera menghubungi empat saudara kandungnya, melalui sambungan video. Tak lama kemudian satu persatu kakak dan adik Dona mulai bermunculan di layar handphone-nya.
"Assalamu'alaikum," salam keempat kakak dan adik Dona.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," jawab Dona dan kedua orangtuanya.
"Waaah kita formasi lengkap!" seru Hana, kakak perempuan Dona satu-satunya.
"Eh nunsewu, gimana kabarnya Bapak, Ibu?" tanya Hana.
"Alhamdulillah, seperti yang terlihat, sehat dan segar," jawab ayah Dona.
"Bapak, langsung aja yaa. Alhamdulillah, tadi pagi Dona sudah dilamar. In syaa Allah, akad nikah dilaksanakan dua pekan lagi. Tadi tanggal berapa Don?"
"10 April, hari Sabtu," jawab Dona.
Keempat saudara Dona pun serempak mengucapkan hamdalah dan selamat untuk Dona, walaupun di dalam hati mereka bertanya-tanya.
"Eh gimana-gimana ? Kok nggak ada intronya ? Tiba-tiba dilamar, sama siapa, eh kenapa cuma aku yang bingung ?" tanya Hana.
"Ini juga lumayan mendadak, prosesnya kilat. Bapak ibu nggak akan cerita disini, silahkan kalian ngobrol masing-masing atau lanjut VC-nya," ucap ayah Dona.
" Ya sudah, Bapak ibu cuma mau ngasih tahu itu saja. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah ayah dan ibu Dona beranjak dari ruang keluarga, percakapan khas kakak dan adik pun terjadi.
"Cerita, cepet, aku kepo!" pinta Hana.
"Ih, pada kepo ih !" canda Dona.
Tiba-tiba Rahma yang sedari tadi menunggu, akhirnya ia pun menampilkan wajahnya pada percakapan video itu.
"Assalamu'alaikum, apa kabar Mbak, Mas."
"Wa'alaikumsalam, eh ada Rahma, iii curang ! kamu dapat live reportnya!" canda Hana kembali.
"Iya dong Mbak, menyaksikan secara langsung dong!"
"Eee ganteng nggak ? umur berapa? duren kah?" Hana pun membombardir Rahma dengan pertanyaan.
"Beuh, dapat jackpot ini mbak Dona!"
"Lanjut dan jelaskan dengan sedetail-detailnya!" seru Hana.
"Hmm kayaknya percakapan ini mendingan dilanjutkan oleh para wanita saja, kita dapat laporannya aja," ucap Verdi.
Verdi, Ewing dan Wawan pun bertukar posisi dengan istri mereka, yaitu Devi, Rita dan Lani.
"Jadi ada apa ini, ada apa?" tanya Devi.
"Tadi ada lamaran, no potong-potong! sesi tanya jawab setelah pengumuman selesai!" jawab Dona.
"Rempong ya, Buk!" protes Devi.
"Baiklah, saya Dona Aqeela, pagi ini telah menerima lamaran dari seorang pria yang bernama Khalis Ghiban, yang merupakan atasannya Rahma di kantor," jelas Dona dengan gaya pembaca berita di televisi.
"Iya, dia itu Manager Area!" sahut Rahma.
"Wuiii mobil Jepang yak!" ucap Hana.
"Hmm aku nggak dilamar sama mobil Jepang, ya kali ntar nikah sama mobil Jepang?"
"Ma, mbak Donanya coba tolong disehatkan!" protes Hana.
"Han, itu tandanya Dona sangat sehat, udah biarin aja dia begitu, nanti kita tinggal begini aja, nggak usah repot!" sahut Devi yang sudah cukup lelah dengan drama di dalam hubungan persaudaraan itu.
"Baiklah, aku akan memberikan kronologisnya, catat baik-baik," ucap Dona.
"Buruan !"
"So, kenal melalui proses orderan katering untuk kantor, yang lanjut ke katering rumah. Usianya 44 tahun, duren anak satu cowok, dua tahun lebih tua dari Aisha dan ternyata kakak kelasnya di SMP," jelas Dona dengan singkat.
"Yang kepo bisa lanjut kepoin FB-nya, nama akunnya sama dengan namanya tadi," tambah Dona.
Mereka pun segera membuka akun FB Khalis.
"Uwaa ganteng! wuihi tinggi ya, berapa tingginya?" komentar Hana.
"Aku nggak nanya," jawab Dona.
"Ya iyalah, masa' kamu nanya? kira-kira gitu lho !" protes Hana.
"Kayaknya lebih tinggi dari Wawan," jawab Dona.
"Lan, tinggi Wawan berapa?" tanya Hana.
"Mas, tingginya berapa, ditanya mbak Hana!"
__ADS_1
"170 !" jawab Wawan.
"Tuh segitu," ucap Lani.
"Yaaa kayaknya lebih tinggi, ntar aja di cek kalau ketemu, sekalian bawa meteran biar akurat," canda Dona.
"Eh Ma, Dona tadi makan apa ? Kok dia seperti biasanya, nggak lebih error gitu ?" canda Hana.
"Aku nggak lihat mbak Dona makan, aku cuma lihat mbak Dona ngelihatin orang makan," jawab Rahma.
"Oh pantes! Oke, lanjut !" seru Hana.
"Terus mau dimana acaranya?" tanya Devi.
"Rencananya di Royal Ambarukno, besok pagi aku kesana," jawab Dona.
"Terus aku diundang, nggak ? " canda Hana.
"Nggak, aku cuma ngasih tahu, bukan ngundang," jawab Dona santai.
"Oya sudah, ngapain kita disini, kan nggak diundang, Dona cuma ngasih tahu doang !" celetuk Devi.
"Ada yang sensi ! Udah ah, aku mau kirim chat aku sama dia, silahkan dipelajari dan dikomentari," ucap Dona.
"Eh anyway, tanggapan anak-anak gimana?" tanya Devi.
"Haadee, dari awal sudah langsung manggil ayah aja! semuanya kompak manggil ayah, gimana aku nggak malu ! Ee tapi dia malah nyahut juga! sini sama Ayah! pokoknya gitu deh!"
"Kok bisa, emang sudah pada kenal?" tanya Hana.
"Baru ketemu sekali, waktu dia ke rumah untuk ambil katering, dia katering makanan harian, buat dia sama anaknya. Trus, ntah gimana langsung pada sksd ajah. Huhuhu coba dong, kemarin kan acara famgath di Kaliurang, sebagai penyedia BBQ diriku diajak untuk ikut, bareng krucil sama Eni, Tati. Bocah main panggil ayah semuanya, anaknya dia juga manggil aku ibu, rasanya diriku ini ingin ke Timbuktu!" jelas Dona.
"Alhamdulillah adek ku sehat!" sahut Hana.
"Mbak mau nanya, ada apa sih dengan Timbuktu ?" tanya Lani.
"Hanya penggemar komik Donal tahu ada apa dengan Tumbuktu," jawab Dona.
"Ho oh, hanya kita berdua yang tahu ya, Don !" tambah Hana.
"Iyes."
"Yowes sekian laporan singkat dari event lamaran Dona dan Khalis, nantikan kelanjutannya esok hari. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Setelah mematikan sambungan VC-nya, Dona segera menskrinsyut percakapannya dengan Khalis dan mengirimnya ke grup chat mereka berlima.
Tak lama kemudian, satu persatu kakak dan adik Dona membalasnya dengan stiker tertawa.
Penasaran tuh orang kayak apa!! pilih, pilih, eee di pilih di pilih di pilih ! berasa di Tanah Abang! balas Hana.
Tapi lucu Na, nih orang antik, kita lihat aja setelah nikah ntar kayak apa, ketik Devi.
Besok jangan lupa laporannya Don, rekam kalau bisa, ready kamera! ketik Hana.
Dia kira kita ngartis, ogah ! ketik Dona.
Ih pelit! ketik Hana.
Biar! balas Dona.
Rempong nih berdua, pakai 'kamar' lain kalau mau berantem! canda Devi.
Mbak! kita seragamnya apa? tanya Hana kepada Devi.
Ngapain pakai seragam, kan kita nggak diundang, tadi Dona tuh cuma ngasih tahu doang! Dia nggak ngundang kita ! Jadi ngapain nyiapin seragam?
Ciee ada yang sensi, uhuk-uhuk, balas Dona.
Eh mana adik ke-4 dan 5, kok kita ber-3 lagi ? ehh bangun ! panggil Hana melalui pesan WA-nya.
Iya Mbak, aku membaca dalam diam, jawab Rita.
Yaa kalau baca dalam kerumunan, ntar.... isi sendiri dah ! ketik Devi.
Besok aku kabarin lagi setelah dari gedungnya, ntar sedikit live report lah hmm atau live repot yak? canda Dona
Ribet ye! kita tunggu besok ya Don!
Siap, Kakak !
Bubai dulu yak, nak beberes ! ciao, adios amigos! pamit Dona
Awas kejeblos! canda Vina.
__ADS_1