New Chapter Of My Life

New Chapter Of My Life
Episode 86


__ADS_3

Perang dingin antara Khalis dan Dona pun mulai sering terjadi. Keadaan di rumah yang tadinya penuh kehangatan dan canda tawa keduanya berubah menjadi dingin.


Keempat anak mereka pun bertanya-tanya akan apa yang terjadi diantara kedua orang tua mereka.


Bukan hanya masalah sosialisasi yang berbeda pandangan, bisnis pun akhirnya berpengaruh.


Dengan keuntungan dari ketiga usahanya, Khalis pun ingin membuka cabang baru untuk Dona's Kitchen di Jakarta Selatan.


Dona's Kitchen saat ini telah mempunyai 2 cabang di Buaran Mall dan Kelapa Gading, yang keduanya berada di timur dan utara Jakarta.


Berbeda dengan suaminya, Dona memilih untuk fokus pada dua tempat itu terlebih dahulu, karena bisnis kateringnya juga membutuhkan perhatiannya.


Perbedaan pendapat keduanya dapat dirasakan oleh putra putri mereka di rumah. Terkadang membuat mereka bersedih dan hanya dapat berbagi rasa dengan saudara mereka.


Kesibukan dan perbedaan pendapat, membuat keduanya jarang menghabiskan waktu bersama dengan ke empat putra dan putri mereka.


Alta pun mencari perhatian dengan tidak mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, ia berharap gurunya akan memanggil ayah dan ibunya ke sekolah.


Bukan hanya itu, Alta juga sering tampak murung dan tidak mau bergaul di sekolah sehingga ia pun mulai sering diganggu oleh teman atau pun kakak kelasnya.


Hingga perkelahian pun tak dapat dielakkan oleh Alta. Ia memukul 2 anak di sekolahnya karena mengejeknya sebagai anak manja yang seperti perempuan.


Wali kelas Al pun memanggil Dona ke sekolah.


Dona, segera mengendarai mobilnya ke sekolah untuk menemui wali kelas Al.


" Maaf Bu, sebenarnya Alta kalau di rumah biasa bermain dengan siapa yaa?? " tanya Bu Endah wali kelas Al.


" Biasanya main dengan kakaknya, tetapi belakangan seringnya sendiri, karena kakaknya perempuan semua dan sudah jauh lebih besar yang sibuk dengan tugas sekolah dan kuliahnya. Sedangkan kakak laki-lakinya saat ini masih bekerja di Doha dan hanya punya sekali atau 2 kali dalam setahun. "


" Maaf Bu, tetapi belakangan ini prestasi Al di sekolah menurun drastis. Banyak tugas sekolah yang tidak ia kerjakan, ketika, saya, tanya jawabannya hanya sekenanya saja, seperti capek atau lupa. "


" Hasil ulangannya pun berada jauh di bawah KKM. "


Bu Endah pun memperlihatkan nilai-nilai tugas sekolah dan ulangan harian Al.


Dona pun terkejut dengan hasilnya. Warna merah menghiasi kartu nilai anak bungsunya itu.


" Sepertinya Al tidak memberitahu ibu akan masalahnya di sekolah."


" Hari ini mungkin puncaknya Bu, Al barusan memukul 2 siswa lain dari kelasnya. Alhamdulillah, mereka tidak apa-apa, hanya sedikit memar di bagian lengannya. Mungkin Al ingin melepaskan rasa frustasinya, tetapi salah jalan. Tadi saya juga telah meminta keterangan dari siswa yang lain, intinya Al membela diri dari bullyan yang sering ia terima. Walaupun hanya bersifat verbal, tetapi kami juga telah menghukum 2 siswa tersebut karena perilakunya. "


Dona terdiam tak mempercayai apa yang ia dengar.


" Bu, boleh saya ijin untuk membawa Al pulang lebih cepat?? " tanya Dona.


" Silahkan, kami rasa juga itu yang terbaik, karena sepertinya ia tidak akan dapat berkonsentrasi dalam belajarnya lagi. "


Setelah mendapatkan izin, Dona pun menemui Al di kelasnya dan membawanya pulang.


Dona tidak ingin membahas apa yang baru Al lakukan, ia tahu pasti, jika Al pasti juga tidak menginginkan hal itu terjadi.


" Al kita jalan-jalan yuk!! kamu mau kemana?? "


Al memandangi ibunya yang bersikap biasa seolah tidak ada masalah apapun.


" Terserah Ibu, " jawabnya datar.


" Hmmm kita jajan gelato, marshmallow trus kita ke Dufan!! "


" Bu, ngapain ke Dufan cuma berdua aja, ga seru!!! lagian aku pakai seragam sekolah, mana boleh masuk "

__ADS_1


" Kita beli baju dulu, trus kita ke Dufan!! Oke!! lets gooo!! " ajak Dona penuh semangat.


Wajah Al pun mulai ceria, senyum kecilnya pun menghiasi wajahnya yang sedari tadi murung.


Dona mengajak Al membeli pakaian di sebuah bistro lalu mereka segera menuju Dufan.


" Masih sepi, " ucap Al ketika telah sampai di Dufan.


" Iyalah, hari sekolah dan baru buka juga kan. "


" No antri kita serbu semuanya!!! " ucap Dona sambil menarik Al berlari menuju wahana permainan.


Keduanya tertawa dan saling menggoda satu sama lain. Dona dan Al tak segan berfoto dengan pose yang aneh dan membuat keduanya tertawa


Dona juga mengajak Al untuk membeli jajanan yang ia suka. Al pun memilih es krim dan cotton candy.


Hingga menjelang maghrib, Dona memutuskan untuk pulang ke rumah.


Sebelum pulang, ia mengajak Al berbicara sembari Al menikmati es krimnya.


" Al, gimana sekolahnya?? temannya siapa aja?? "


Al menarik nafasnya dan menjawab dengan malas.


" Biasa aja, ga seru, ngebosenin!! "


" Kenapa?? memangnya temannya ga ada yang bisa diajak main?? "


" Ada, tapi aku yang ga mau!! "


" Kenapa?? kan seru main bareng teman di sekolah. Biasanya Al kan suka main bola. "


" Iya, tapi teman Al ga ada seru!! "


Dona pun meraih badan bungsunya itu, ia memeluknya dan membelai kepala dan punggung putranya itu.


Badan Al bergoncang karena tangisnya.


" Keluarin aja Al, ga papa. Kamu nangis aja sampai kamu puas. Ibu disini untuk Al. Maafin Ibu yaa, maafin Ayah juga yang lupa kalau Al, anak shalih Ayah dan Ibu, masih butuh dipeluk, masih butuh diajak cerita, masih butuh main. Maafin ya, Sayangnya Ibu " ucap Dona yang juga ikut menangis menyesali kelalaiannya sebagai seorang ibu.


Perlahan tangis Al pun mereda, ia tetap memeluk ibunya dengan erat.


" Bu, maaf, jilbab ibu jadi basah."


Dona pun tertawa.


" Ga papa, cuma jilbab aja kok, tadi baju ibu juga basah kena air di arung jeram. "


Keduanya pun tertawa.


" Ibuuu, aku kangen ibu, ayah sama mbak semuanya. Mas Rafif apa kabarnya?? aku boleh video call ?? "


Dona pun menghubungi Rafif,


" Assalamu'alaikum, " salam Rafif.


" Wa'alaikumsalam. "


" Mas!! Apa kabar??? Mas Rafif lagi di kantor yaa?? " tanya Al penuh semangat.


" Alhamdulillah baik, iya nih masih di kantor kan masih pagi di sini. Eh kamu dimana?? sama siapa?? "

__ADS_1


Al mengarahkan HPnya ke arah sekelilingnya tanpa menjawab pertanyaan kakaknya itu.


" Eeeee!!! kamu di Dufan!!! berdua doang sama ibu???!!! kok bisa!!! iii curaaaang!!! "


Dona dan Al pun tertawa melihat reaksi Rafif.


" Bisa dong Fif, kan ibu lagi pingin our time berdua sama Al. "


" Mas, aku dibeliin baju sebelum kesini dong!! " pamer Al menunjukkan baju barunya.


" Waaaa!!! ibuuu aku pulang yaa!!! "


" Ooo tak boleh!!! kamu masih harus nguli, biar ntar pulang bawa berlian!!! "


" Hadeeeh ibuuu, emang Ibu ga kangen sama aku yang super ganteng ini!! "


" Ga, ga salah!! kangen banget lah yaa. Tapi itu brewoknya dirapiin dong, kayak ayah, kan rapi. "


" Ya kan, kalau Ayah ada yang ngerapiin, aku kan ga ada. "


" Makanya cari yang ngerapiin lah. "


" Ga ah, ntar aja. "


" Eh Bu, Al nanti aku telpon balik, ada Bos tuh, dilihatin dari tadi. "


" Ok Mas, maaf yaa. "


Setelah Dona mengakhiri sambungan telponnya, Alta terlihat jauh lebih semangat dibandingkan sebelumnya.


Senyum pun menghiasi wajah bungsunya itu, membuat Dona lega. Paling tidak untuk saat ini, Al telah melepaskan emosinya.


Ia pun berjanji pada dirinya, untuk lebih memperhatikan anak-anaknya, terlebih Al.


Ia tidak memberitahu Khalis tentang masalah Al di sekolah, tetapi ia telah memberitahu Khalis bahwa ia mengajak Al bermain ke Dufan dan ia telah meminta agar Khalis tidak menanyai Al perihal apapun.


" Don't ask anything to Al and I mean it. Nanti aku cerita "


Sesampainya di rumah,


" Al!! langsung mandi yaa " ucap Dona.


Khalis menghampiri Dona,


" Dari mana?? "


" Nanti aku ceritanya, yang jelas tadi Al melepaskan stressnya. Aku ke Dufan. Sstt no protes and marah, ceritanya nanti malam. We need to talk privately " jawab Dona yang membuat Khalis tidak bertanya lagi.


Di saat makan malam,


" Tadi aku naik kora-kora seru banget!! tapi ibu ketakutan " ucap Al penuh semangat.


" Eeeee kamu kok ke Dufan ga ajak-ajak Mbak sih??!! " protes Zalfa.


" Kan Mbak sekolah "


" Kamu juga sekolah!! eee kok bolos!! Buuu kok Al ke Dufan bareng ibuuuu!!! "


" Lagi pingin jalan berdua aja ya Al. Tapi sekali ini aja kok, besok tetap sekolah seperti biasa. Kalau mau ke Dufan, Sabtu kita kesana " jawab Dona.


Khalis nampak diam saja, sebetulnya ia ingin marah kepada Dona, tetapi ia pendam.

__ADS_1


Dona sebetulnya merasakan kemarahan Khalis, tetapi seperti yang ia katakan, ia akan menceritakannya nanti di saat anak-anak mereka telah berada di kamarnya masing-masing.


__ADS_2