
Suara adzan Dzuhur terdengar bersahutan, prosesi lamaran Dona dan Khalis pun dihentikan sesaat, untuk menunaikan ibadah shalat Dzuhur. Para pria bergantian mengambil air wudhu dan kemudian berjalan bersama menuju masjid yang terletak hanya sekitar 100 meter dari rumah orang tua Dona, sedangkan yang wanita berjama'ah di rumah.
Sementara itu, Dona menyiapkan makan siang untuk tamu-tamunya. Aroma masakan yang menggugah selera pun tercium dari ruang makan.
"Hmmm bikin laper, masak apa Mbak?" tanya Khansa setelah ia menunaikan shalat Dzuhur.
"Sayur asem sama ayam goreng aja, yang gampang," jawab Dona sambil menata hidangan di meja makan.
"Hmmm aroma sambal terasinya menggoda banget, minta resepnya ya, Mbak," pinta Khansa.
"Sip, ntar aku WA."
Beberapa saat kemudian, terdengar suara para pria yang baru saja tiba dari masjid, "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Dona.
Rafif segera menuju ruang makan, begitu menyium aroma makanan yang sudah tertata rapi di atas meja makan.
"Ibu masak apa sih ? enak banget aromanya!" tanya Rafif.
"Tuh lihat aja," jawab Dona.
"Ayam goreng ! waaa ada makanan wajibnya juga!" seru Rafif sambil menunjuk pada tahu dan tempe goreng.
"Cuci tangan dulu," ucap Dona.
"Fif, tunggu yangti, yangkung dulu," tegur Khansa.
"Iya, aku cuma ngelihat dulu kok. Aku juga belum cuci tangan," jawab Rafif.
"Bu, minta ini buat nanti malam, ya," pinta Rafif.
"Iya, sudah ibu siapin kok."
"Asyik, makasih Bu."
Ayah Dona yang tengah berbincang di ruang tamu pun menghampiri Dona.
"Sudah siap, Don?" tanya Ayah Dona.
"Sampun, Pak."
Ayah Dona pun mempersilahkan Khalis dan keluarganya untuk menikmati sajian makan siang yang telah tersaji, "Mari silahkan. Silahkan mencicipi hidangan ala kadarnya."
Keluarga Khalis dan Dona pun menikmati makan siang bersama, sambil bercakap-cakap untuk mengetahui lebih satu sama lainnya.
"Dona berapa bersaudara ya?" tanya ayah Khalis.
"Dona anak ke-tiga dari lima bersaudara, kakak dan adiknya tinggal di Bandung dan Bekasi," jawab ayah Dona.
"Maaf mau tanya juga, Dona lulusan mana yaa?" tanya ibu Khalis.
"Saya desain interior Tribakti," jawab Dona.
"Eh angkatan berapa?" tanya Khalis yang terperanjat dengan jawaban Dona.
"Angkatan '98," jawab Dona.
"Berarti....," ucap Khalis tetapi tidak melanjutkan kalimatnya.
"Berarti apa?" tanya Dona.
"Adik kelas Mbak Nadia. Mbak Nadia juga interior Tribakti, angkatan '94," jawab Khansa.
Dona pun berusaha mengingat-ingat seniornya yang bernama Nadia. Setelah menyelesaikan makan siangnya, Dona menuju kamarnya di lantai atas dan mengambil sebuah album foto lamanya. Setelah menemukan foto yang ia cari, ia segera kembali ke ruang keluarga membawa album fotonya.
"Sa, ini bukan?" tanya Dona menunjuk pada sebuah foto, seorang gadis berkacamata memakai jilbab yang sedang duduk di teras kampus.
Khansa pun membelalakkan matanya,"Iya, ini mbak Nadia !"
"Mbak kenal sama Mbak Nadia?" tanya Khansa.
Dona pun menarik nafasnya, lalu ia tersenyum dan mulai bercerita akan kenangan singkatnya bersama Nadia.
"Aku kenal mbak Nadia karena dia yang duluan ngajak aku kenalan. Dia punya senyuman yang manis banget, aku ingat kata-kata pertamanya waktu ngajak aku kenalan."
__ADS_1
"Assalamualaikum, kenalan dong aku Nadia DI'94. Wah senangnya ketemu junior yang pakai jilbab juga, di angkatanku cuma aku yang berjilbab yang lainnya berketat."
"Aku ingat banget karena intronya yang lucu. Sayangnya, aku cuma ketemu dua bulan aja sama mbak Nadia, karena dia sedang tugas akhir. Tadinya aku pikir bakalan bisa ketemu lagi sewaktu dia yudisium, tapi ternyata kami nggak ketemu lagi," kenang Dona.
Rafif pun meminta album foto Dona,"Bu, lihat."
"Silahkan," jawab Dona sambil memberikan album fotonya kepada Rafif.
"Ibu yang mana?" tanya Rafif.
"Ini Ibu yang pakai jilbab hitam, trus ini ibu Rafif yang pakai jilbab merah," jawab Dona.
Rafif pun membawa albumnya ke samping Khalis. Khalis pun membeku ketika melihat foto mendiang istrinya bersama Dona, karena kesamaan fisik keduanya yang bagaikan saudara kandung.
"Ibu mirip," ucap Rafif.
"Mirip siapa?" tanya Dona.
"Ibu Rafif mirip ibu. Sepintas mirip," jawab Rafif.
"Oh iya, ini ada ceritanya. Jadi, waktu awal masuk, kami berdua selalu dikira kakak-adik. Mbak Nadia kelihatan senang banget, sampai-sampai bilang ke temannya kalau aku memang adiknya. Bahkan sampai ada dosen yang nanya, apa benar aku adiknya mbak Nadia, aku sih cuma jawab, iya, kami berdua kakak dan adik ketemu gede tapi beda orang tua," ucap Dona sambil tersenyum.
"Hmmm jadi kangen masa-masa itu," lirih Dona.
"Ternyata cara Allah mempertemukan kalian berdua ini cukup unik dan mempunyai benang merah yang tipis," ucap ibu Khalis.
Khalis terdiam cukup lama memandangi foto lama Nadia dan Dona. Hingga ia teringat sesuatu, kemudian ia membuka hpnya. Tak lama kemudian, ia memberikan HPnya kepada Khansa.
Khansa membelalakkan matanya dan menoleh ke arah Dona, kemudian ia memberikan HP Khalis kepada Dona.
Tiba-tiba, teringat sama adik kelas, namanya Dona, DI'98. Kami selalu dikira kakak adik, tapi kami hanya bertemu sebentar, karena saya keburu lulus. Apa kabarnya? sayangnya aku nggak tahu nama lengkapnya, kalau tahu akan mudah mencarinya disini. Dona ! Kalau kamu baca status ini, salam kangen dari jauh. Peluk dan cium jauh buat adik ketemu gede!
Dona membacanya dengan mata berkaca-kaca, lalu ia mengembalikan HP Khalis, tetapi, "Kamu skrol ke atas, ada lagi," ucap Khalis.
Dona pun menskrol status Nadia, kemudian dibacanya status yang menyayat hatinya.
Kalau mikirin sakit ini, jadi pingin nyari pengganti posisiku sekarang. Paksu pasti marah kalau aku ngebahas ini, tapi aku nggak mau dia dan Rafif sendirian setelah aku nggak ada. Bolehlah nyiapin bekal untuk orang yang akan di tinggal. Entah kenapa hanya ada satu nama yang terngiang di hati untuk mendampingi paksu nanti. Dona kamu dimana? Kudo'akan suatu saat kalian akan berjodoh. Dona, adik ketemu gedeku, Mas Khalis dan Rafif, Raja dan Pangeranku. Aku ingin kalian menjadi satu keluarga, katanya do'a orang sakit diijabah oleh Allah. Semoga kelak kalian bertemu dan membangun keluarga yang baru. Love you much !
Dona terdiam, air matanya pun mengalir.
"Kenapa tanggalnya?" tanya Khansa.
"Sama dengan sidang keputusan ceraiku," jawab Dona.
Suasana seketika itu pun menjadi hening.
"Mbak Nadia, menghembuskan nafas terakhirnya, sepekan kemudian, setelah tidak sadarkan diri selama empat hari," ucap Khansa memecahkan keheningan.
Khalis menarik nafasnya dengan berat, ia kembali mengingat saat ia harus kehilangan Nadia untuk selamanya.
"Yah, berarti ibu sudah nyiapin jodoh buat ayah sebelum meninggal?" tanya Rafif.
Tetapi Khalis tidak menjawab.
"Semua sudah tertulis di lauhul mahfuz, kita hanya menunggu saatnya tiba saja," jawab ayah Khalis.
"Aku bingung," ucap Rafif.
"Kenapa?" tanya Khalis.
"Kata Ara, ibu sudah tiga tahun menjomblo, tapi kalau tanggal surat cerainya sama kayak status ibu, berarti dua tahun dong!"
Dona pun tertawa mendengar kebingungan Rafif.
"Ingat aja kamu Fif. Jadi sebenarnya, ibu sudah berpisah sekitar enam bulan sebelum akhirnya bercerai, kalau dihitung sama proses cerainya yaa hampir setahun. Mei pisah dan Mei tahun berikutnya sudah sah cerai secara negara," jelas Dona.
"Ooo.. eh maaf Bu, jadi ngingetin masalah itu," ucap Rafif.
"Nggak papa, kan sudah moved on" jawab Dona dengan senyum.
"Move on yang terwaw ya, Mbak !" celetuk Rahma.
"Eh Pak, otw mas, kalau tahu cerita gimana akhirnya pisah trus cerainya mbak Dona? waaa dijamin melongo! esmosi jiwa yang membara di dalam dada!" seru Rahma penuh semangat.
"Merdeka!" sahut Dona.
__ADS_1
" Yeee Mbak!"
"Laaa kenapa kamu yang emosi gitu ngomongnya ? eh semua itu ada hikmahnya. Alhamdulillah aku akhirnya cerai sama ituh... "
"Kok bilangnya ituh ?" potong Khansa.
"Karena apa Ma ?" tanya Dona.
"Karena ia adalah nama yang tidak boleh disebutkan!" ucap Dona dan Rahma kompak.
"Lord Voldemort dong!" celetuk Khansa.
"Ya, mirip-mirip gitu kan Ma?"
"Iyes," jawab Rahma singkat.
Keduanya pun tertawa sedangkan yang lainnya kebingungan akan apa yang keduanya tertawakan.
"Ini ngomong apa sih ? ibu nggak ngerti, tadi nangis sekarang ketawa. Nggak jelas !" protes ibu Dona.
"Bumbu hidup itu, Bu. Nano-nano rasanya," jawab Dona .
"Jadi penasaran, ntar aku kulik ya, Mbak?" ucap Khansa.
"Khan..," tegur Khalis.
"Nggak papa, nanti aku akan ceritain dramanya," ucap Dona.
"Santai aja, Khal. Hati Dona sudah benar-benar sembuh, dia nggak mau bahas atau cerita bukan karena masih sakit hati, tapi kalau mau cerita... "
"Pemirsahnya harus siapin pop corn, minuman, trus tisu. Itu adalah tiga benda yang wajib ada, saking panjang ceritanya, sampai berepisode-episode!" potong Dona.
"Kalau seperti ini, emang bener dah moved-on!" ucap Khansa.
"Seru lho kalau Mbak Dona cerita, kita sedih, prihatin dengarnya, ceritanya deskriptif banget, tapi bukan Mbak Dona kalau nggak ada errornya, cerita sedih malah jadi kayak OVJ gimana coba?" ucap Rahma.
"Karena itu adalah bakat terpendam ku," celetuk Dona.
"Nih yaa, pernah nonton Titanic kan? heboh pada jamannya, kan ?"
"Trus Mbak Dona ? nengok juga nggak. Waktu akhirnya di tayangin di TV, orang yang nonton pada nangis kan, sedih gitu, tapi Mbak Dona lempeng aja," ucap Rahma.
"Kok bisa," tanya Khansa.
"Karena aku nggak nonton," jawab Dona santai.
"Yeee, Rahma!" protes Khansa.
"Itu kan film jaman aku baru mau lulus SMA, daripada nonton itu aku mending nonton 'saving private Ryan', lebih seru, walaupun kalau sekarang ditawarin nonton film itu lagi, aku akan nolak," ucap Dona.
"Mbak Dona penganut aliran anti mainstream, kalau yang lain cari yang banyak pengikutnya, kalau mbak Dona cari yang sedikit," ucap Rahma.
"Kan kasian kalau followernya sedikit, aku kan ngebantuin... "
"Kan kan kan.... aneh kan," potong Rahma.
Percakapan antar dua sepupu ini pun kembali menghangatkan suasana yang kembali penuh dengan tawa.
"Kayaknya nggak ada hari tanpa kelucuan Dona," ucap Ibu Khalis.
"Seru ya, punya ibu kayak Mbak Dona," puji Khansa.
"Seru pada saatnya!!" protes Aisha dan Ara.
"Kenapa?" tanya Khalis.
Mendengar protes kedua putrinya Dona tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Kan, ibu mulai lagi ?! Ibu tuh suka aneh! Tuh kan, nggak ada apa-apa bisa ketawa sendiri. Ibu itu galak, aturannya banyak, tapi yaa seru juga kalau cerita. Trus kalau ibu lagi mager, dijamin nggak akan ngerjain apa-apa kecuali nafas!" jawab Ara.
"Trus kadang, ibu ngomong gini, 'Sha, kamu yang lanjut beresin bawah yaa, ibu mau ngehalu'," tambah Aisha.
Wajah Dona pun semakin memerah karena tawanya.
"Ibu yang seperti ini tuh yaa, limited edition, edisi terbatas yang hanya diberikan kepada anak-anak yang spesial, tapi nggak pakai telor!" canda Dona.
__ADS_1
"Kan ibu mulai lagii !"