
Khalis dan Dona memutuskan untuk membuat jadwal pergantian jaga.
Dona tetap dengan jadwal 2 malam, bergantian dengan Aisha 1 malam, kemudian Khalis 1 malam.
Anggota keluarga Dona dan Khalis pun bergantian menjenguk dan menawarkan bantuan untuk bergantian menjaga Al di rumah sakit.
Teman-teman Khalis dan Dona pun tak melewatkan kesempatan mereka untuk ikut ambil bagian dalam proses pengobatan Al.
Donasi pun mereka alirkan ke rekening Dona dan Khalis. Kiriman makanan untuk keluarga Khalis dan Dona juga terus mengalir hampir tiap pekannya.
Ucapan semangat dan doa dari berbagai pihak membuat Khalis dan Dona terharu atas perhatian orang-orang yang mereka kenal.
Bahkan para karyawan mereka pun ikut menyumbangkan sebagian gaji mereka untuk kesembuhan Al.
Hal ini membuat Khalis dan Dona tak dapat menahan air mata harunya lagi.
" Pak, Bu, selama ini Anda berdua telah banyak membantu kami, bukan hanya dengan memberikan pekerjaan tetapi rasa kekeluargaan yang Anda tanamkan pada kami semua dan tidak pernah membedakan latar belakang membuat kami merasakan menjadi bagian dari keluarga bapak dan ibu. Anak-anak Bapak dan Ibu juga selalu berperilaku sopan terhadap kami, selalu mengucapkan terimakasih, maaf, tersenyum bahkan membungkukkan badannya setiap kali berpapasan atau melewati kami. Kami banyak belajar adab dari mereka yang usianya jauh lebih muda dari kami. Terimalah Pak, Bu, memang tidak seberapa tetapi banyak do'a dan harapan yang kami sematkan untuk kesembuhan adik Al."
Khalis pun memeluk Andra, perwakilan karyawan yang menyerahkan sumbangan untuk Al.
" Jazakumullah khair, jazakumullah khair, " ucap Khalis berulang-ulang.
" Pak, Bu, jika tidak keberatan kami juga ingin bergantian menjaga adik Al di rumah sakit. Setidaknya jika kita semua ikut berpartisipasi, beban bapak dan ibu akan berkurang. Beni akan membantu dalam urusan transportasi. Diah dan Caca juga akan mengirimkan makanan bagi anggota keluarga yang menunggu di rumah sakit. "
" Bantuan kalian sudah lebih dari cukup, jangan menambah beban pekerjaan lagi. Kalian fokus pada pekerjaan kalian, tanggung jawab kalian ada di sini. Saya tidak ingin kalian kelelahan. "
" Pak, kami siap membantu sampai titik darah penghabisan, kami tidak sanggup menyaksikan Bapak dan Ibu berjuang tanpa kami di dalamnya. Izinkan kami Pak, Bu. "
Khalis dan Dona pun berpandangan.
" Kami harus meminta izin dari dokter yang merawat Al, nanti setelah diberikan izin, dengan senang hati kami menerimanya " jawab Khalis.
" Terima kasih Pak, Bu. Kita berjuang bersama dengan nama Allah!! "
Semenjak itu, beban yang dirasakan Khalis dan Dona pun berkurang jauh.
Al pun terlihat senang dengan kedatangan orang-orang yang ia kenal, hal ini pun membuat daya tahan tubuhnya meningkat.
Teman-teman sekolah Al juga mengirimkan video kegiatan mereka di sekolah. Kartu ucapan dan tanda tangan untuk kesembuhan Al tak lupa mereka kumpulkan. Bahkan dari mereka ikut memberikan mainan kesukaan Al.
Wali kelas Al selalu merekam kegiatan belajar mengajar di kelas, agar Al juga dapat mengikutinya dari rumah sakit.
Terkadang disaat kondisi Al memungkinkan, ia mengikuti kelas secara online, sehingga dapat berinteraksi langsung dengan guru dan teman-temannya.
Rambut Al yang telah rontok seluruhnya akibat kemoterapi, membuat Khalis dan Dona mencari cara lain untuk menyemangati Al.
Ketika keduanya sedang beristirahat di rumah, Khalis pun mempunyai ide untuk membuat Al tersenyum.
" Yang, help me, " ucap Khalis sambil memegang alat pencukur rambut elektrik miliknya.
" Apa Mas. "
" Shave my head, clean. "
" Mas??? are you serious?? "
" Yup, just shave it all. "
Dengan tangan bergetar Dona mencukur rambut Khalis. Air mata haru kembali menetes dari mata Dona.
" It's okay Yang, it'll grow ," ucap Khalis sambil memegang tangan Dona yang gemetar dan mengarahkan untuk terus mencukur rambutnya sampai habis.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Khalis pun tertawa melihat penampilan barunya.
Dona akhirnya pun tertawa melihat penampilan Khalis.
" Auuuch silau!!! kinclong amaaat!! " canda Dona.
" Ternyata my head is beautifull " ucap Khalis yang membuat keduanya tertawa.
" Semriwing rasanya ga, Mas??"
" Hahaha adem dingin. "
Dona pun mengoleskan lotion khusus untuk kulit kepala.
" Biar ga kering and stay kinclong, " candanya.
Keduanya lalu berangkat menuju rumah sakit. Tak lupa, Khalis menutupi kepalanya dengan topi.
Sesampainya di kamar Al,
" Assalamu'alaikum, Al " sapa Khalis dan Dona.
" Wa'alaikumsalam... kok Ayah pakai topi?? " tanya Al.
" Iya tumben, ngapain pakai topi, Yah ?? " tanya Aisha yang menjaga Al.
Tanpa menjawab, Khalis pun membuka topinya.
" Surprise !! "
Aisha dan Al pun tertawa melihat penampilan baru ayah mereka.
" Ayaaaah!!! mukanya jadi bedaaaa!! " teriak Al.
" Laaa rambutnya hilang, kok mukanya yang beda?? " canda Khalis.
" Pokoknya penampilan Ayah ini akan bertahan sampai kamu sembuh dan rambut kamu mulai tumbuh, " ucap Khalis sambil memeluk bungsunya itu.
Tak lama handphone Aisha pun berdering.
" Mas Rafif video call, " ucapnya.
Mereka bertiga pun duduk diantara Al.
" Assalamu'alaikum. "
" Wa'alaikumsalam, eeee ngumpul yaa. Wait!!! Ayah!!! Yah!!! really!!! " ucap Rafif yang tak percaya akan penglihatannya.
" Iya Fif, kenapa?? "
Rafif pun membuka tutup kepalanya,
" I did that too !! "
Mereka pun tertawa bersama.
" Haadeee Ayah sama anak, walaupun berjauhan masih kompak aja anehnya!! " canda Dona.
" Wait!! kita bertiga dapat menerangi taman di kala malam nih!! " canda Rafif lagi.
" Silau Men!! " tambah Aisha.
__ADS_1
Tawa pun semakin riuh terdengar.
Tetapi kemudian Al meneteskan air matanya.
" Kenapa Al?? " tanya Dona sambil membelai wajah Al yang pucat.
" Al senang, senang banget!! senang sampai rasanya mau nangis!!! "
Khalis dan Dona pun memeluk Al.
" Kita lawan penyakit Al bersama-sama, banyak saudara dan teman mengirimkan doa untuk kesembuhan Al. Yang penting Al harus semangat untuk kesembuhan Al, " ucap Khalis.
" Iya Al, maafin Mas Rafif hanya bisa kirim do'a dan video call. Tapi nanti kalau Mas Rafif bisa pulang ke Jakarta, Mas Rafif akan langsung temuin Al. "
" Segini juga aku sudah senang, Mas. Mas Rafif disana juga harus sehat ya, Mas "
"'Siap Bos!! "
Waktu pun berlalu, hingga memasuki bulan ke-empat masa perawatan Al di rumah sakit, ia pun telah diperbolehkan rawat jalan.
" Alhamdulillah, sel-sel kanker di dalam darah Al telah berkurang drastis. Memang Al belum dapat dinyatakan sembuh total, tetapi perkembangannya sangat signifikan. In syaa Allah, pekan depan Al sudah boleh pulang. "
Khalis dan Dona pun sujud syukur atas berita bahagia yang mereka dapatkan hari itu.
Berita kepulangan Al, bagaikan hembusan angin yang sejuk di kala panas.
Dona segera menyiapkan kepulangan Al, semua kebutuhan dan perawatan lanjutan di rumah, ia siapkan dengan detail sesuai dengan anjuran dokter.
Khalis tak lupa memberikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantunya.
Sebuah kejutan tambahan dari Khalis untuk putra bungsunya ini pun telah ia siapkan.
Ia memindahkan kamar Al ke lantai paling atas lalu merenovasi salah satu bagian atapnya, dengan memasang kaca jendela yang cukup besar, sehingga Al dapat melihat kilauan bintang di malam hari.
Ia pun memasang lift mungil kapasitas 2 orang untuk memudahkan mobilisasi Al tanpa merasa lelah dengan naik turun tangga.
Tibalah saat Al pulang, di Jum'at siang yang cerah, udara pun tidak terlalu panas, ketiga kakak perempuan Al telah mempersiapkan kedatangan adik bungsu mereka.
Aisha, Ara dan Zalfa telah siap menyambut kedatangan Al di teras rumah mereka.
Akhirnya terlihat Chevrolet Captiva hitam milik Khalis yang segera masuk ke area carport.
" Assalamu'alaikum. "
" Wa'alaikumsalam.... Altaaaaa!!!! " sapa ketiganya.
" Masuk dulu, biar Al masuk dulu. Yuk Al, ibu bantu."
Dengan jalan yang masih tertatih, Al memasuki rumah yang sangat dirindukannya.
Aisha mendorong sebuah kursi beroda untuk Al.
" Duduk disini Al, biar Mbak dorong ke dalam. "
" Ga, Mbak. Aku mau jalan aja, kangen jalan. "
" Biarkan Al jalan, biar dia latihan melemaskan otot-otot yang lama tidak digunakan " ucap Dona.
" Al, mau di bawah atau mau langsung ke kamar?? " tanya Dona.
" Al mau ke halaman belakang, kangen lihat tamannya."
__ADS_1