
Setelah episode pengejaran yang membuat hati Dona kembali tersakiti, hari-hari Dona selanjutnya kembali disibukkan dengan urusan sekolah ketiga anaknya. Setelah liburan usai, Aisha harus kembali masuk asrama dan kedua adiknya pun bersekolah seperti biasa.
Dona kembali melakukan promosi dagangannya, yaitu made by order roti, pizza, sushi, bento dan nasi box di FB, IG dan status WA-nya.
Setelah beberapa pekan melakukan promosi secara online, adik sepupu Dona, Rahma yang bekerja di pusat penjualan dan servis mobil asal negeri matahari terbit ini menghubunginya.
"Mbak, tolong WA-in aku menu-menu bentonya dong, jangan lupa harganya juga," ucap Rahma melalui telepon genggamnya.
"Hmmm ada apa nih? mau pesen?" tanya Dona.
"In syaaAllah. Mau ada rapat besar, ada orang Jepang sama Korea, total dua puluh orang. Pak Bos minta menu Jepang sama Korea halal. Daripada aku ribet cari dimana, kalau sama Mbak, kan jelas halalnya. Oiya, budget-nya bebas, tapi biasanya Pak Bos suka order dua ratus ribu per porsi," jelas Rahma.
"Waah, mihil nih. Menu eksklusif banget, dong?!" seru Dona.
"Iya, Mbak. Bisa kan?"
"In syaaAllah, nanti aku kirim daftar menunya. Eh nanti, di box atau gimana nih, tapi kayaknya nggak mungkin pakai box, kan atau prasmanan?" lanjut Dona.
"Kotak eksklusif, Mbak. Yang keren gitu, ada kan?"
"Oke, tapi aku harus order dulu, yang model bento kayu gitu biasanya. Buat kapan?"
"Pekan depan, Senin-jumat, makan siang plus coffe break," jawab Rahma.
"Alhamdulillah masih lima hari lagi, masih bisa prepare. Eh buat coffe break termasuk yang dua ratus ribu itu?"
"Nggak Mbak, dua ratus ribu hanya untuk bentonya aja. Untuk coffe break, budget-nya seratus ribu/pax, termasuk minumannya. Cemilan dua kali, di pagi jam sembilan sama sore jam tiga. Kalau pagi biasanya teh sama espresso aja sih. Kalau sore bisa buble drink, milkshake atau aneka jus gitu," jelas Rahma.
"Oke, noted. Syukron Ma."
"Afwan Mbak, kutunggu yaa. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Dona menutup teleponnya dan segera mengirim foto-foto bento, aneka roti dan makanan ringan untuk coffe break kepada Rahma.
Ia pun membuat daftar menu bento beserta cemilan untuk lima hari nanti, kemudian ia juga segera mengirimnya ke Rahma.
Keesokan harinya, Rahma menghubungi Dona kembali.
"Oke Mbak, Pak Bos bilang, dia mau coba untuk Jum'at siang dulu. Minta lima box, isi setiap box, satu menu yang sama untuk meeting pekan depan. Sekalian sama cemilannya juga, nanti aku transfer untuk test food dulu," ucap Rahma.
"Alhamdulillah, oke deh. Jadi untuk test food satu juta untuk bentonya, lima ratus ribu untuk snack-nya. Berarti total satu setengah juta," jelas Dona.
"Sip, sip. Mbak, aku langsung transfer. Kalau ini oke, dia akan lanjut order. Pak Bos orangnya baik banget, support sama bisnis kecil-kecil kayak gini," ucap Rahma.
"Alhamdulillah, semoga jadi langganan ya. Anyway, ini katering perdana aku untuk kantor lho!" seru Dona.
"Serius Mbak, selama ini belum pernah yang kantoran?" tanya Rahma.
"Belum, mentok-mentok ya untuk aqiqah, arisan sama acara sekolah," jawab Dona.
"Semoga ini pembuka kesuksesan kateringnya ya, Mbak."
"Aamiin."
"Oiya, aku antar jam sebelas atau jam berapa nih?"
"Antar jam satu aja. Pak Bos baru balik ke kantor setelah Jum'atan biasanya jam setengah dua," jawab Rahma.
"Oke deh, in syaa Allah jam satu siang sudah otw," ucap Dona.
"Anter sendiri atau pakai taksi online?" tanya Rahma.
"Sendiri lah, sekalian ngaturnya di sana biar rapih."
"Yowes Mbak, ku tunggu Jum'at siang."
"Oiya Mbak, aku minta nomor rekeningnya, biar aku transfer DP-nya dulu, lima puluh persen kan?"
"Iya, DP lima puluh persen dulu, nanti di hari Jum'at baru pelunasan untuk test food, " jelas Dona.
__ADS_1
"Sip. Mbak, ntar jangan lupa difotoin untuk setiap menunya ya," pinta Rahma.
"Itu mah sudah pasti, sekalian buat promosi itu wajib! Yowes Ma, aku mau belanja nih!"
"Oke, Mbak makasih ya."
"Sama-sama."
Dona segera berbelanja kebutuhan untuk orderannya di pasar, supermarket dan beberapa item ia harus membelinya secara online.
Di hari Kamis siang, Dona mulai mempersiapkan acar wortel dan lobak untuk salad dan kimchi untuk bento-nya nanti.
Tibalah hari Jum'at, sejak pukul empat pagi, Dona dengan dibantu oleh dua asistennya, Eni dan Tati telah sibuk di dapur, untuk mempersiapkan test food siang nanti. Memasak nasi, membumbui daging dan ayam serta lainnya untuk pesanan bento di hari ini.
Tak lupa, ia juga tetap harus mengurus kedua anaknya di rumah.
"Ayo bangun, sudah pagi. Shalat shubuh yuk," ajak Dona.
Dengan masih mengantuk, Ara dan Zalfa berjalan ke kamar mandi untuk bersiap shalat Subuh.
Setelah selesai shalat Subuh, Dona harus kembali mempersiapkan pesanan kateringnya di dapur. Tetapi sebelumnya, ia berpesan kepada kedua putrinya terlebih dahulu, "Kalian berdua jangan tidur lagi. Ibu mau lanjut masak di dapur untuk katering hari ini. Ingat, nanti jam setengah enam kamu mulai gantian mandi."
"Iya Bu," jawab Ara.
"Bu, aku laper. Aku sarapan dulu aja, ya," pinta Zalfa yang memang gemar makan, sehingga tubuhnya nampak lebih tinggi dan besar dari anak seusianya.
"Yowes, turun sekalian. Ra, kamu mau sekalian sarapan, nggak?"
"Nanti aja, Bu."
"Yowes, ingat jangan ketiduran!" pesan Dona sebelum ia dan Zalfa menuju dapur di lantai bawah.
"Zalfa, sarapannya chicken katsu ya," ucap Dona sambil mengambil sepotong chicken katsu dan memotongnya. Ia lalu menuju ruang makan.
"Zalfa sarapan sendiri dulu ya, ibu mau nyiapin buat pesenan nanti siang," ucap Dona.
"Iya, Bu."
"Nanti, kalau sudah selesai makan, langsung siap-siap sekolah ya."
Dona kembali melanjutkan aktivitas di dapur sambil sesekali mengecek persiapan sekolah kedua anaknya.
Beberapa saat kemudian, Dona harus mengantarkan kedua anaknya ke sekolah, yang lokasinya hanya sekitar dua kilometer dari rumah, sebelum ia melanjutkan kesibukannya di dapur.
Pada pukul setengah sebelas, selesai sudah aktivitas memasak di dapur. Keringat mengalir dari pelipisnya, hingga membuat pakaiannya basah, karena panas dari kompor. Hal itu tak membuat Dona memperlambat gerakannya.
"Semua sudah siap, tinggal packing-nya. En, untuk snack-nya bisa langsung dimasukin ke box. Yang lain dimasukkan jam dua belas aja. Nanti jam satu kurang seperempat, saya langsung antar ke kantornya Rahma," ucap Dona.
"Ibu mau antar sendiri, nggak pakai grab?" tanya Eni.
"Kan aku harus presentasi, makanya aku harus antar sendiri."
"Aku istirahat sebentar, ya. Tolong, kamu beresin dapur dulu," lanjut Dona.
Dona naik ke lantai atas menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan istirahat sejenak, sebelum mengantarkan orderan lunch box-nya.
Pada pukul setengah satu siang, semua bento untuk presentasi telah selesai, setelah mengaturnya di dalam mobil, Dona segera menuju kantor Rahma. Beberapa saat kemudian, Dona telah sampai di kantor Rahma, yang terletak di Jl. Laksda Adi Sucipto, yang hanya berjarak kurang dari dua kilometer dari kediamannya.
Rahma dan dua orang temannya telah menunggu Dona di parkiran, mereka segera menghampiri begitu melihat mobil Dona dan membantunya mengeluarkan box-box makanan dan minuman, lalu membawanya ke ruang rapat.
Dona mengatur box makan siang, snack beserta minumannya sesuai urutan hari katering pekan depan di atas meja rapat.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," ucap Dona.
"Ma, aku harus nungguin sampai atasan kamu datang?" tanya Dona kepada Rahma.
"Ya iyalah Mbak, masa' aku yang presentasi menu?"
"Hmm, nanti aku ngomong apa, ya? Oiya, kayak apa sih Bos kamu?" tanya Dona penasaran.
"Baik kok, kayaknya sih seumuran Mbak juga, hmm mungkin lebih tua sedikit. Ngomongnya irit, cowok banget pokoknya. Santai aja," jelas Rahma.
__ADS_1
Dona memang sedikit gugup, karena ini adalah kali pertama ia mempromosikan kateringnya secara langsung.
Tak lama kemudian, seorang pria berbadan tinggi tegap, berkulit putih dengan potongan rambut yang sangat rapi dan trendi, serta bulu wajah yang rapi menghiasi dagunya, memasuki ruang rapat.
"Assalamu'alaikum, saya Khalish Ghiban," salam atasan Rahma.
"Wa'alaikumsalam, saya Dona Aqeela."
"Silahkan duduk," ucap Khalish mempersilahkan.
"Kita langsung saja. Apa saja isi bento di depan saya ini?" tanya Khalis tanpa basa-basi dengan ekspresi wajah yang sangat datar.
Dona kemudian berdiri dan menjelaskan satu persatu isi bento yang bawanya.
"Baik Pak, yang pertama ini adalah menu untuk hari senin, bulgogi, kani roll, kimchi, japchae dan gyeren mari. Untuk snack-nya, pagi, poffertjes dan aneka berry. Sore, strawberry cheesecake dan jus buah naga."
"Untuk selasa, chicken katsu saus kari, shrimp roll, salad, yakisoba, tamagoyaki. Snack pagi fruit cupcakes with yoghurt, sorenya choipan dan jus mangga."
"Rabu, bibimbap, kimchi, beef teriyaki dan tempura udang. Snack pagi sandwich. Sorenya puding aneka buah dan Thai mango ice."
"Kamis, sapi lada hitam, cah pokchai, sup iga. Snack pagi mini burger. Sorenya dimsum dan buble drink."
"Terakhir, Jum'at, norimaki, salad, tempura set, tamagoyaki. Snack pagi fruit salad, sorenya waffle with berries dan es kopi," jelas Dona dengan lancar.
"Hmm looks delicious. Oke, can we taste it now?" tanya Khalis.
"My pleasure," jawab Dona mempersilahkan.
"Sekalian Rahma, Bu Dona juga," ucap Khalis.
Dona sedikit ragu, tetapi bahasa tubuh Khalis mempersilahkan dirinya dan Rahma untuk menikmati bento yang ia siapkan, sehingga membuatnya segan untuk menolak.
"Ini judulnya saya makan catering sendiri, dong ?" ucap Dona untuk menghilangkan kegugupannya dan ternyata berhasil membuat membuat Khalis menarik sedikit bibirnya ke atas, sehingga membentuk senyuman tipis.
"Biasanya yang masak itu makan belakangan kan, awalnya hanya icip-icip. Saya yakin Anda belum makan siang," jawab Khalis.
Tahu aja, kalau sebenarnya aku juga laper, kata Dona dalam hati.
"Wait! Rahma, tolong ambilkan piring!" perintah Khalis.
"Baik, Pak," jawab Rahma.
Rahma pun segera keluar menuju pantry untuk mengambil beberapa piring.
Sementara di ruang rapat, Khalis melanjutkan mencicipi makanan yang dibawa oleh Dona.
Lalu Khalis menimbang untuk minuman mana yang akan ia coba dan pilihannya jatuh pada es kopi. Matanya pun berbinar setelah meminum es kopi yang disajikan.
"It's so good," lirihnya tetapi masih tetap terdengar jelas oleh Dona.
"Hmm it's refreshing, I like it. Anyways, did you cook by yourself ?" tanya Khalis yang kembali dengan ekspresi datarnya.
"Iya, dengan dibantu oleh dua orang asisten," jawab Dona
Lalu ditengah perbincangan mereka, handphone Khalis pun berbunyi.
"Excuse me," ucap Khalis sebelum ia menerima panggilannya.
"Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumsalam. Yah, aku pulang terlambat ada latihan tambahan."
"Jadi jam berapa?"
"Jam lima, Yah."
"Oke, tapi kamu harus langsung pulang nggak pakai mampir," ucap Khalis datar.
"Sip! Eh Yah, pesenin sushi dong, yang norimaki aja ya!" pinta putra tunggalnya.
"Hmm, what I get in return?"
__ADS_1
"Aku yang beresin ruang kerja Ayah."
"Oke, deal !"