
Setelah menunggu seharian sembari menyusun rencana untuk menemui Tyo, Mayang memberi kabar, jika Pak RT baru bisa ditemui esok pagi. Akhirnya hari itu Dona harus menelan kekecewaan.
Sorenya Ratna mengajak mereka bertiga makan malam di restoran seafood langganannya.
"Jadi rencananya gimana?" tanya Ratna.
"Ya besok pagi, ketemu Pak RT dulu," jawab Farhan.
"Besok kita temui RT-nya, kita minta bantuannya untuk bisa membuat Tyo keluar, sekalian memberikan informasi kalau kamu adalah istri sahnya Tyo dan kamu belum meninggal seperti yang diberitakan," lanjut Farhan.
Maka setelah mengatur rencana dengan matang, keesokan paginya Mayang menghubungi Farhan, bahwa Pak RT siap menerima kedatangan mereka pagi ini pada pukul enam pagi.
Farhan bersama Ita dan Dona dengan menggunakan kendaraan kantor, berangkat menuju kediaman Pak RT, tetapi sebelumnya mereka menemui Mayang yang telah menunggu di perempatan simpang rumah Tyo.
"Yang mana rumah Pak RT ?" tanya Farhan kepada Mayang.
"Itu Pak, yang ujung kiri, nah kalau rumah Pak Tyo itu yang ujung kanan seberangnya," jelas Mayang.
"Oke, kalau begitu kita ke rumah Pak RT dulu," ucap Farhan yang bersegera menuju rumah Pak RT bersama Ita dan Dona.
"Assalamu'alaikum," salam Farhan di depan teras rumah Pak RT.
"Wa'alaikumsalam, silahkan masuk," jawab Pak RT yang sedang bersantai di teras rumahnya.
"Maaf Pak, pagi-pagi kami datang bertamu. Saya Farhan dan ini istri saya Ita. Saya rekan kerja Tyo, yang tinggal di rumah ujung itu."
"Oo ya ya, ada apa ya?" tanya Pak RT sedikit bingung.
"Jadi kami ingin memastikan apakah benar yang tinggal di rumah tersebut adalah Tyo Pranowo ?"
"Iya benar, Pak Tyo dengan keluarganya baru pindah ke komplek ini sekitar sebulanan yang lalu, tetapi saya lupa tepatnya," jawab pak RT.
"Maaf Pak, keluarganya?" tanya Farhan pura-pura tidak mengerti.
"Iya, dengan istri dan satu anaknya."
"Maaf Pak, setahu kami, istri Tyo itu Dona, ini orangnya," Farhan menjelaskan.
Mendengar penuturan Farhan Pak RT tampak kebingungan.
"Iya Pak, saya Dona istrinya Tyo dan saya masih hidup, tidak seperti yang diberitakan jikalau saya sudah meninggal," jelas Dona yang semakin membuat pak RT kebingungan.
Membaca ekspresi pak RT yang seperti tidak tahu harus berkata apa, Farhan kembali memberikan pertanyaan.
"Jadi begini Pak, apakah ada surat keterangan bahwa mereka suami istri?"
"Oo ada, semua warga yang tinggal disini wajib memberikan surat keterangan pernikahan, kami tidak menerima pasangan kumpul kebo di komplek ini."
Kemudian Pak RT mengeluarkan map plastik berisi surat-surat keterangan warganya, lalu ia menunjukkan surat keterangan status pernikahan Tyo dengan Uma. Tentu saja momen tersebut digunakan Ita dan Dona untuk segera mengambil foto surat tersebut.
Pada surat keterangan tertulis pada kop surat, Surat Pernyataan Nikah Siri, tertanggal, Jakarta, 4 September 2017 dan juga terdapat surat cerai Uma, yaitu tertanggal 28 Agustus 2017. Pada surat pernyataan tersebut hanya tercantum nama mempelai pria dan wanita, serta satu saksi tanpa tercantum nama wali dari mempelai wanita.
Ita dan Dona pun berpandangan, mereka berdua bertanya-tanya akan keabsahan surat tersebut.
Kemudian Farhan mengutarakan niatannya untuk menemui Tyo, tetapi sebelumnya ia ingin memastikan Tyo ada di rumahnya, untuk itu ia meminta tolong kepada Pak RT untuk menemui Tyo terlebih dahulu, setelah Pak RT selesai bertamu, maka Farhan akan langsung menemui Tyo.
Pak RT pun segera menemui Tyo di rumahnya, sementara Farhan, Ita dan Dona kembali masuk ke dalam mobil. Lalu Farhan memindahkan mobilnya ke simpang seberang ujung rumah kontrakan Tyo. Dimana posisi kendaraannya tidak terlihat dari rumah kontrakan Tyo, tetapi dari dalam mobil terlihat jelas rumah dan sekitarnya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Pak RT terlihat meninggalkan rumah Tyo. Farhan dan Ita segera keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah Tyo. Tetapi sebelum mereka menuju rumah Tyo, Ita berpesan, "Don, nanti kamu harus keluar yaa, harus temuin Tyo, aku tunggu di dalam sama Bang Farhan."
__ADS_1
"Iya Mbak," jawab Dona walaupun di dalam hatinya ia ingin segera pergi meninggalkan lokasi. Rasa sakit di dalam dadanya membuat Dona sulit berfikir jernih, ia pun melantunkan dzikir-dzikir untuk menenangkannya.
Tak lama berselang, Mayang muncul mendekati mobil.
"Bu, Pak Farhan sudah masuk ya?"
"Iya, Mbak."
"Ibu nggak masuk ?"
"Nanti, ngumpulin niat dulu," canda Dona untuk menghilangkan kekesalannya.
Setelah sepuluh menit berlalu, Dona belum juga masuk, akhirnya Ita keluar dan menemui Dona di mobil.
"Don, buruan masuk. Aku tunggu yaa, cepet !"
"Iya, Mbak."
Setelah Ita kembali ke rumah Tyo, Dona pun berjalan mengikuti setelahnya.
"Assalamu'alaikum," salam Dona dengan degup jantung yang sangat kencang.
"Wa'alaikumsalam," jawab Farhan dan Ita.
Tyo tampak terkejut dengan kehadiran Dona. Wajahnya tampak berubah menjadi pucat dan ia pun terlihat panik.
Dona yang tidak memperdulikan Tyo, memilih duduk di samping Ita.
Lalu, Farhan pun mulai menjelaskan apa sebenarnya maksud kedatangannya bersama Dona.
"Kemarin kami berangkat bareng Dona dari Jogja dan seperti yang tadi saya sampaikan, saya kesini untuk memastikan berita yang simpang siur tentang kamu dan Dona."
Kemudian Farhan mulai bertanya kepada Tyo apa sebenarnya permasalahan mereka berdua. Tetapi Tyo kembali menjawab dengan jawaban yang memojokkan Dona.
"Trus, kalau kita berduaan aja, anak-anak mau dititipkan ke siapa ? Sepanjang kamu tidak memberikan solusinya, ya jangan salahkan atas penolakan saya."
"Dona benar, Yo. Ketiga putri kalian masih kecil-kecil, tidak mungkin mereka ditinggal di rumah tanpa penjagaan orang dewasa," sahut Farhan.
"Ya tapi kan, seharusnya dia bisa membagi waktunya. Hampir setiap saya pulang ke rumah, rumah berantakan, baju-baju menumpuk di keranjang, bahkan terkadang Dona belum masak sama sekali, tetapi dia malah asyik-asyiknya tidur !"
"Sudah pernah ngurus rumah sendirian tanpa pembantu, dengan batita yang tidak pernah mau ditinggal walaupun sekejap saja ? Tahu bagaimana rasanya ketika sudah berhasil menidurkan Zalfa dan kemudian bersiap melakukan pekerjaan rumah lainnya, tetapi jelang lima menit kemudian Zalfa menangis dan minta ditemani. Mandi saja harus curi-curi waktu. Ingat waktu kamu pulang dan Zalfa menangis karena saya sedang di kamar mandi ? Coba kamu yang mengalaminya selama tiga tahun !"
"Dan apa kamu lupa, kalau saya pernah mengalami amnesia parsial setelah melahirkan Zalfa ? apakah kamu lupa bagaimana usahaku untuk mengembalikan memori yang hilang itu ?!"
"Aku bahkan tidak memiliki waktu untuk diriku sendiri. Aku bahkan sempat tidak mengingat jika aku telah memiliki tiga putri !"
"Aku juga bahkan tidak dapat membaca Alqur'an! Aku harus kembali merangkak seorang diri, untuk mengembalikan semua ilmu yang telah kupelajari !"
"Lalu dimana dirimu saat itu semua terjadi padaku ! semua keluhanku tidak kamu perdulikan, bahkan kamu menganggap aku melebih-lebihkannya !"
"Dan disaat perlahan semua telah kembali normal pada tempatnya, kamu memilih untuk pergi dan mengkhianatiku, tidak cuma itu, kamu dan pasanganmu yang ntah sudah sah atau belum, telah memfitnahku, sementara aku tidak tahu menahu tentang apapun tentang fitnah yang kalian hembuskan!"
"Saya tidak pernah memfitnahmu, saya rasa semua itu kenyataan dan bukan fitnah," ucap Tyo membela diri.
Akhirnya Farhan yang juga 'gerah' dengan jawaban Tyo, meminta Dona untuk kembali bicara.
"Don, ada yang mau kamu tanyakan ke Tyo ?"
"Jadi saya mau tahu aja nih, katanya sudah nikah lagi. Saya hanya mau tahu kapan, dimana dan saksinya siapa?" tanya Dona.
__ADS_1
Tyo tidak segera menjawab pertanyaan yang dilontarkan Dona, tetapi ia malah masuk ke dalam kamar terlebih dahulu. Ketika Tyo masuk ke dalam kamar, Dona pun menggunakan kesempatan untuk mengambil gambar dari foto yang terpajang di rak-rak samping sofa, di tempat ia duduk.
Foto yang memperlihatkan, Tyo berdua dengan Uma di puncak dan foto mereka bertiga dengan anak semata wayang Uma.
Tak lama kemudian, Tyo kembali dari kamarnya dan mulai menjawab pertanyaan Dona.
"Jadi saya sudah nikah lagi pada tanggal dua Oktober."
Tiba-tiba datang seorang pria yang langsung masuk ke ruang tamu.
"Saya Budi, saya saksi nikah Tyo dan Uma," ucap pria itu secara tiba-tiba, yang membuat Ita dan Dona berpandangan kembali.
"Ooo Pak Budi, jadi gimana kemarin pernikahan Tyo dan Bapak siapanya yaa?" tanya Farhan.
"Saya kakak iparnya Uma, jadi saya adalah saksi pernikahan mereka. Waktu itu, sore jam empat kalau tidak salah, di rumah saya di komplek Buana Regency tanggal empat Oktober," jawab Budi.
Dona berhasil menjebak Tyo dengan pertanyaan kapan pernikahan itu dilakukan dan Dona sengaja tidak menanyakan wali nikah, untuk melihat apakah Tyo menyadari pertanyaan tersebut kurang tepat atau Tyo akan menjawab sesuai apa yang ia tanyakan.
Setelah itu Farhan masih berbincang dengan Tyo, sedangkan Ita dan Dona sibuk dengan kamera HP-nya, mengambil video ruangan dan sekitarnya dengan cara candid.
Tak lama, Farhan menyudahi kunjungannya dan segera berpamitan, sedangkan Dona telah keluar terlebih dahulu dan segera masuk ke dalam mobil, tetapi sebelumnya Ita mengabadikan moment Dona berada di depan rumah Tyo dengan mengambil foto Dona yang sedang berjalan.
Setelah semua masuk ke dalam mobil, Farhan menyampaikan terima kasihnya kepada Mayang yang telah membantu.
"Yang, makasih yaa. Akhirnya ketemu juga tuh orang!"
Mendengar Farhan menyingkat nama Mayang, membuat Dona tertawa geli dan mulai menggodanya.
"Ciiyee Bang, Yang niii yee," canda Dona, yang membuat geli Ita.
" Wah liatin nih kalau 'Yang'-nya beda !" tambah Ita memanasi suaminya.
"Dah puas yaa !" sahut Farhan yang membuat Ita dan Dona tertawa.
"Kita jalan sekarang, kita sudah ditunggu Ratna di rumahnya," lanjut Farhan.
Farhan kemudian membawa mereka ke rumah Ratna yang telah menunggu hasil 'serangan fajar' tadi.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, masuk yuk. Kita sarapan dulu," ajak Ratna.
Sambil sarapan, mereka membahas hasil 'penyergapan' pagi tadi.
"Jadi gimana tadi?"
"Serangan fajar dimulai tanpa babibu, membuat tersangka tidak siap sehingga lupa mengkondisikan rambutnya yang seperti Sun Go Han akibat baru bangun tidur," jawab Dona sambil tertawa.
"Puas banget kayaknya nih Dona!" ucap Ratna.
"Eeiiimmm, ku puas banget ! Haaduuu itu tadi sudah ketahuan banget bohongnya, trus itu nikah sah nggak tuh ?!"
"Emang kenapa?" tanya Ratna.
"Masa' nggak ada wali nikahnya, cuma ada saksi, itu juga cuma satu, kan ngeri," jawab Dona.
"Yaa kalau itu memang bener nikah !" sahut Ita.
"Na'udzubillah mindzalik!"
__ADS_1
"Jadi rencana gimana nih ?!" tanya Ratna.
"Kita kembali ke Jogja dan Surabaya, penerbangan nanti siang jam dua-an. Itu rencana pulangnya. Nah kalau urusan Tyo ini, kita lihat dia mampu bertahan berapa lama di kantor ini setelah semuanya dilucuti," jawab Dona.