
Setelah prosesi lamaran dilakukan pada hari Ahad, di keesokan paginya, Khalis tetap bekerja seperti biasa. Hanya saja, kali ini mood-nya tampak lebih cerah dari hari-hari sebelumnya. Wajah yang kaku itupun tampak mulai mengendor, ditandai dengan ekspresi wajahnya yang tak lagi datar, melainkan tampak ceria.
Hal itupun membuat para karyawannya keheranan dengan perubahan mendadak atasan mereka yang dikenal dengan sebutan Pak Bos Kulkas.
Di pagi itu, Khalis datang lebih cepat dari jadwalnya karena ia ingin menyelesaikan pekerjaannya lebih dahulu, sebelum ia memenuhi janji temu dengan wedding organizer di Hotel Royal Ambarukno. Sesampainya di kantor, ia menyempatkan untuk menyapa garda utama dealernya terlebih dahulu.
"Assalamualaikum, selamat pagi semuanya," sapa Khalis ketika melewati para karyawan front desk, yang membuat mereka berpandangan.
Lalu, front desk officers pun menjawabnya sambil keheranan, "Wa'alaikumsalam, selamat pagi, Pak ?"
Mendengar nada tanya pada salam karyawannya, Khalis pun menghentikan langkahnya, lalu bertanya, "Kok selamat paginya pakai tanda tanya? Apa kalian tidak yakin ini pagi atau siang ?"
Para front desk officer pun menjawabnya dengan gugup, "Emm anu Pak, emm bukan eh anu Pak ...."
"Anu, anu apa ?" selidik Khalis dengan mengerutkan keningnya.
"Nggak papa, Pak Bos ! Selamat pagi dan selamat bekerja, Pak!" sahut salah satu dari mereka.
"Terima kasih, selamat bekerja juga. Semangat !" ucap Khalis sambil mengepalkan tangannya ke arah atas sambil tersenyum, lalu ia pun segera menuju ruangannya.
Para karyawannya pun saling berpandangan bahkan ada yang menepuk-nepuk pipinya.
"Ini beneran? Bukan mimpi, serius itu Pak Bos Kulkas yang senyum ?"
"Kalau ini mimpi, artinya kita mimpi berjama'ah."
"Ini sungguh fatamorgana yang terindah selama Pak Bos menjadi pimpinan di sini," sahut yang lainnya.
Ketika para front desk officers sedang dalam tahap menelaah apa yang baru saja terjadi, Khalis telah berada di dalam ruang kerjanya dan sedang membaca berkas-berkas laporan pekan yang lalu, sebelum ia menandatanganinya.
Tak lama kemudian, Dimas pun tiba dan segera menuju ke ruang manajer, tetapi langkahnya terhenti akan keseruan perbincangan di front office.
"Ada yang seru ?" tanya Dimas.
"Eh Pak Dimas, iya Pak ada. Masa' tadi pak bos tiba-tiba nyapa kita ? Udah gitu, pakai ngomong gini, selamat bekerja juga, semangat !"
"Ini kan aneh, Pak. Ada apa sama Pak Bos ya ? Kok bisa begitu ?"
Dimas pun mengernyitkan dahinya, lalu memiringkan kepalanya sambil memutar bola matanya ke atas. Lalu tanpa berkata apapun, ia berjalan menuju ruangan manajer, sambil berfikir, Ada apa ? Iya ada apa ? Kok bisa, semangat, gitu ? Pak Bos, really?
Lalu, Dimas segera memasuki ruangan kerja Khalis, setelah ia mengetuk pintunya.
"Assalamualaikum, pagi Pak," sapa Dimas.
"Wa'alaikumsalam, selamat pagi. Duduk," ucap Khalis.
Dimas pun menarik kursi di sampingnya.
Tanpa basa-basi, Khalis langsung mengutarakan rencananya pagi itu.
"Dim, jam setengah sepuluh nanti, saya mau keluar. Saya akan kembali setelah istirahat makan siang. Semua berkas yang perlu saya tanda tangani sudah selesai, sekarang kamu lanjutkan prosesnya," ucap Khalis kepada Dimas.
"Baik, Pak."
"Oiya, saya mau cuti satu pekan, dari tanggal dua belas sampai sembilan belas. Tolong, kamu atur ulang semua jadwal rapat, sebelum atau sesudah saya cuti. Oiya, satu lagi, tolong order CRV hitam, matic. Kalau bisa, ready tanggal sembilan," pinta Khalis.
"Bapak mau ganti mobil ?" tanya Dimas.
"Iya, saya butuh yang lebih besar. Nggak enak kalau saya pinjam mobil kantor bolak-balik, seperti sekarang, sewaktu keluarga dari Jakarta datang," jawab Khalis.
"Hari ini juga saya bayar mobilnya," lanjut Khalis.
"Cash atau...?"
"Cash."
"Baik, Pak," jawab Dimas.
"Oiya Pak, mau pakai promo kaca filmnya ?" tanya Dimas.
"Boleh, oiya yang depan tingkat kegelapan 40%, yang belakang 60%," ucap Khalis.
"Baik, Pak."
"Eh Pak, maaf boleh bertanya ?" tanya Dimas.
"Mau tanya, ya tinggal tanya saja," jawab Khalis tanpa melihat ke arah Dimas karena matanya tengah menatap ke arah komputer di depannya.
"Hmm, Pak ada apa tadi di lobby ? Katanya bapak nyapa front officer, pakai senyum dan semangat !?" tanya Dimas lengkap dengan menirukan gerakan tangan semangat.
Khalis pun tersenyum lalu ia menghadapkan kursi kerjanya ke arah Dimas, sambil berucap, "Hmm I'm happy, that's the reason why."
"Alhamdulillah, Bapak bisa senang juga !"
"Ya bisa, dong ! dan akan lebih senang lagi, jika kerjaan ini cepat selesai sebelum saya keluar," jawab Khalis dengan penekanan dan pandangan mata yang tajam.
"Oh baik, Pak ! Siap, laksanakan !" ucap Dimas yang kemudian bersegera ke ruangannya.
Khalis pun segera melanjutkan pekerjaannya, sebelum ia menuju tempat resepsi pernikahannya diadakan nanti. Lalu, ditengah-tengah kesibukannya itu, notifikasi di handphone-nya pun berbunyi. Tertulis nama Dona pada asal pengirim pesan, membuat senyum Khalis kembali merekah.
Mas, saya otw ke hotel, tulis pesan WA Dona kepada Khalis.
Membaca awal kata dari pesan tersebut membuat Khalis salah tingkah, ia pun berulangkali membacanya karena ia tidak ingin salah mengira.
"Wait, Mas...she wrote it Mas ? For me, really ?!" lirihnya sambil terus menatap handphone-nya.
Hatinya pun berbunga-bunga, hingga ia merasakan dunia yang tiba-tiba sangat indah di depannya. Ia memutar-mutar kursi kerjanya bagaikan anak kecil yang mendapatkan hadiah es krim.
Lalu, setelah ia dapat mengontrol emosinya, ia segera membalasnya, Oke, saya sebentar lagi kesana, masih ada urusan sedikit di kantor.
Dona pun segera membaca balasan dari pesannya, lalu ia memberitahukan kepada kedua orang tuanya.
"Mas Khalis masih di kantor, sebentar lagi ke hotelnya," ucap Dona kepada kedua orang tuanya.
"Eh sudah ganti manggilnya," goda ibu Dona yang membuat Dona tersipu.
"Ya sudah, kalau begitu kita duluan aja," ucap ayah Dona.
Ketiganya pun segera menuju Hotel Ambarukno dan sesampainya disana, mereka menunggu kedatangan Khalis di Lobby Utama. Tak lama menunggu, nampak Khalis dan orangtuanya tiba dan berjalan menghampiri Dona.
"Assalamualaikum," sapa Khalis dan orangtuanya.
__ADS_1
Dona dan kedua orang tuanya pun menjawabnya, "Wa'alaikumsalam."
"Bagaimana kalau kita langsung saja," ajak Khalis.
Tanpa menjawabnya, Dona pun memberi kode agar Khalis berjalan terlebih dahulu dan kemudian ia mengikutinya dari belakang, menuju kantor wedding organizer Royal Ambarukno. Sesampainya di sana, mereka disambut oleh seorang wanita muda.
"Selamat pagi, saya Anindhita konsultan WO, ada yang bisa saya bantu ?"
"Saya Khalis Ghiban dan ini calon istri saya, Dona Aqeela," jawab Khalis.
"Oh Pak Khalis dengan ibu Dona. Hmm kemarin sudah kami catat untuk booking tanggal sembilan di jam sepuluh pagi dengan, di ruang Grand Ballroom dengan kapasitas 1000 undangan."
"Iya, benar. Tetapi, ada hari atau jam lain yang kosong, tidak ?" tanya Khalis.
"Hmm, maaf Pak semua weekend sudah full booked hingga tiga bulan ke depan. Alhamdulillah masih ada jadwal yang kosong karena pemesanan Anda cukup mendadak," jawab Anindhita.
"Oh baiklah, kalau begitu," ucap Khalis.
"Kira-kira tema apa yang akan diusung untuk resepsinya ? Kami mempunyai contoh-contoh tema yang dapat digunakan pada acara resepsi pernikahan Anda," ucap Anindhita sambil memperlihatkan album foto yang berisi contoh-contoh tema pernikahan.
Tanpa melihatnya terlebih dahulu, Dona segera menjawabnya dengan cepat, "Internasional wedding."
"Baik," jawab Anindhita sambil mencentang daftar pada kertas kerjanya.
"Untuk warnanya?" tanya Anindhita lagi sambil menunjukkan foto-fotonya.
"Putih," jawab Khalis.
"Dongker untuk aksennya," tambah Dona.
Dona dan Khalis saling bergantian memutuskan perihal acara resepsi pernikahan mereka, tanpa berdiskusi dengan kedua orang tua mereka, hal ini membuat para orang tua yang mendampingi merasa tidak dibutuhkan.
"Trus kita diajak ke sini buat apa ya?" tanya ibu Dona kepada ibu Khalis.
"Buat ngeliat mereka berdua, galakan yang mana," jawab ibu Khalis sambil menggelengkan kepalanya menyaksikan anak dan calon mantunya ini.
"Pernikahan mereka nanti seperti apa yaa? Dua-duanya sama-sama galak," tanya ibu Dona.
"Paling tidak, ada satu yang merangkap sebagai pelawak," canda ibu Khalis yang membuat keduanya tertawa.
Lalu di tengah diskusinya, tiba-tiba Dona menginginkan lokasi akad yang berbeda.
"Mbak, kalau untuk tempat akad nikah, bisa tidak di ruang yang beda, biar nuansanya beda?"
"Sebentar," jawab Anindhita sambil membuka-buka buku catatannya.
"Semuanya full, tapi ada satu tempat outdoor, di taman samping, itu juga biasa dijadikan untuk tempat akad nikah atau garden party," jawab Anindhita sambil menunjukkan foto-foto pernikahan outdoor.
"Untuk kapasitas garden party, maksimal dua ratus undangan," jelas Anindhita.
Dona pun melihat foto-fotonya satu persatu dan ia pun memutuskan untuk membuat acara akad nikah dengan tema garden party dan di saat Dona sedang mempertimbangkan lokasi dan waktu prosesi akad nikahnya, tiba-tiba suara telepon WO berdering.
"Maaf, saya terima telepon ini dulu," ucap Anindhita.
"Silahkan."
Beberapa menit kemudian, Anindhita telah menyelesaikan pembicaraan di telepon dan membawa berita baik untuk Khalis dan Dona.
"Alhamdulillah, deal," jawab mereka berdua.
"Untuk akad di Sabtu pagi atau tetap Jum'at?" tanya Anindhita.
"Akad tetap di hari Jum'at pagi, jam sembilan. Untuk akad saya minta untuk 300 undangan," jawab Khalis.
"Kalau hanya untuk tiga ratus undangan, bisa outdoor, garden party. Kami tetap sediakan tenda dengan AC dan kipas angin," jelas Anindhita.
"Oke, akad jum'at pagi jam sembilan sampai sebelas, garden party," ucap Khalis memutuskan.
Duo ibu dan ayah hanya dapat memandangi kedua anak mereka ini dari belakang.
"Ternyata kita tidak dibutuhkan," ucap ayah Khalis.
"Sepertinya begitu," ayah Dona pun berpendapat sama.
Khalis kemudian memperlihatkan foto dekorasi pernikahan yang ia kirim ke Dona, pada saat lamaran kemarin.
"Mbak, untuk dekorasinya yang model seperti ini, bisa?"
"In syaa Allah bisa, Pak."
"Oiya, untuk tamu laki-laki dan perempuan, kami minta dipisah atau diberikan pembatas," pinta Khalis.
"Baik Pak, biasanya kami menggunakan tanaman hias sebagai partisi, seperti ini," ucap Anindhita sambil menunjukkan foto-foto aneka model partisi dekorasi. Khalis dan Dona pun sepakat memilih partisi bergaya Jepang dengan aksen lukisan pohon sakura.
"Lalu, apakah ada permintaan khusus untuk dekorasi lainnya, seperti bunga, spot foto atau yang lainnya ?"
"Saya minta bunga yang digunakan bernuansa putih, 75% putih, sisanya pink dan biru," jawab Dona.
"Hmm, spot foto itu yang seperti apa , ya ?" tanya Khalis.
Anindhita pun menunjukkan contoh-contoh dekorasi studio mini yang diperuntukkan bagi para tamu undangan dan keluarga untuk mengabadikan momen mereka.
"Spot foto ini biasanya kami pasang di dekat meja penerima tamu atau di luar area resepsi, agar tidak menggangu jalannya acara," jelas Anindhita.
"Oh, the spot for narsis people, nggak usah Mbak," tolak Dona.
"Tapi spot foto ini banyak di cari dan..."
"Nggak perlu, Mbak. Biarkan para tamu yang mencari tempat foto-fotonya sendiri, nggak perlu diberikan tempatnya," potong Dona.
"Baik, jadi tidak ada spot foto, ya. Lalu, untuk busana pengantin apakah sudah ada?"
Khalis lalu memperlihatkan foto busana pengantin yang telah Dona pilih.
"Belum ada, tapi kami ingin yang seperti ini."
"Kami bekerja sama dengan beberapa desainer, ini ada beberapa contoh busana pengantin muslim," ucap Anindhita sambil menunjukkan foto-foto pengantin muslim.
Setelah melihat-lihat, keduanya memutuskan akan memakai jas koko panjang berwarna putih gading untuk Khalis dan gaun berbahan lace dengan warna yang senada untuk Dona.
"Ini mau sewa atau bikin baru?" tanya Anindhita.
__ADS_1
"Sewa saja, kalau bikin nanti mubadzir, kan nggak kepake lagi," jawab Dona.
"Hmm, sebetulnya kami memiliki model terbaru, tetapi masih dalam proses pengerjaan, lusa baru selesai. Bagaimana kalau lusa siang, pukul 13.00, Anda berdua fitting langsung disini. Untuk orang tua mempelai juga kami sediakan."
"Kami nggak perlu, yang mau nikah saja," ucap ibu Dona.
"Trus, nanti bapak ibu pakai baju apa?" tanya Dona.
"Ada pokoknya, kamu santai aja," jawab ibu Dona.
Setelah hampir dua jam berdiskusi, akhirnya semua keperluan akan acara akad dan resepsi janda dan duda inipun selesai sudah.
"Baiklah, seperti sudah semua. Nanti jika ada kekurangan atau perubahan, bisa menghubungi saya di nomor ini,' ucap Anindhita sambil menyerahkan kartu namanya.
"Baik, terima kasih," jawab Khalis dan Dona.
Khalis dan Dona pun beranjak dari kantor WO, dengan diikuti oleh kedua pasang orang tuanya.
"Trus Bapak sama Ibu disini buat apa? nontonin kalian berdua?" protes ayah Khalis.
"Nggak papa Pak. Oiya, tadi ibu sudah videoin kalian berdua," ucap ibu Khalis.
"Videoin apa Bu?" tanya Khalis.
"Nanti ibu kirim di grup."
"Grup apa?" tanya Khalis yang merasa tidak memiliki grup chat dengan kedua orang tuanya.
"Ooo nggak ada yaa. Ya sudah, kamu bikin grup WA, isinya bapak-ibu, Khansa, Dzaky sama Dona. Nanti ibu kirim videonya disitu."
"Baik, Bu."
"Eh, makan siang dulu, di Amplaz aja, sekalian," usul ibu Khalis.
"Sedelapan, aku laper!" seru Dona.
"Kok sedelapan?" tanya ibu Khalis.
"Delapan dan lebih banyak dari tujuh, setujuh," jawab Dona santai.
"Bu, jauhin Dona dari aku Bu! Aku langsung ke kantor aja, aku makan siang di kantor !" bisik Khalis.
"Lho kenapa, memangnya ada apa?" tanya ibu Khalis tidak mengerti.
Dengan berbisik kembali, Khalis pun menjawab, "Kalau Dona sudah mulai ngelawak, aku nggak bisa dekat-dekat, rasanya pingin aku halalin segera, makanya daripada nambah dosa, mendingan aku balik ke kantor."
"Maaf, saya harus kembali ke kantor. Assalamu'alaikum," pamit Khalis yang segera berlalu menuju parkiran.
"Wa'alaikumsalam."
Setelah Khalis berlalu, Dona baru menyahutinya, "Laaa ngantor dia, bukannya ini sudah jam istirahat ? Apa dia kembali ke mode freezer, nggak jadi melted ?"
Ibu Khalis pun terkekeh mendengar pertanyaan Dona, lalu dengan merangkul pundaknya, ia berucap, "Don, kamu harus hati-hati kalau sama Khalis."
"Hati-hati? Hati-hati kenapa, Bu ?" tanya Dona.
"Hmm Khalis juga punya kelemahan dan kelemahannya ada disini, jadi seperti Superman bertemu krypton, dia akan melemah. Sama halnya dengan Khalis ketika bertemu dengan penyebab kelemahannya, ia menjadi tidak dapat berpikir dengan jernih dan bisa lepas kontrol jika tidak dikendalikan, makanya dia memilih untuk kembali ke kantor, yang merupakan wilayah netral untuknya," jelas ibu Khalis.
"Hmm baiklah, walaupun aku nggak ngerti apa yang ibu omongin, tapi dengan adanya Superman, aku berusaha untuk memahaminya," ucap Dona kemudian.
Lalu terdengar suara adzan dzuhur bersahutan, ayah Dona pun mengajak untuk menunaikan ibadah shalat Dzuhur terlebih dahulu.
"Lebih baik kita shalat dzuhur berjama'ah di masjid dulu, setelah itu kita makan siang," ucap ayah Dona.
Sementara itu, setelah shalat berjamaah di masjid dekat kantornya, Khalis segera kembali ke ruangannya.
"Lho Pak, Bapak nggak makan siang?" tanya Dimas.
"Nanti setelah saya periksa berkas-berkas ini. Kamu makan aja, nggak usah nunggu saya," jawab Khalis tanpa sedikitpun melihat ke arah Dimas.
"Mau saya pesankan apa, Pak ?" tanya Dimas.
"Hmmm apa aja... "
Lalu, notifikasi di HP Khalis berbunyi, tercantum nama Dona pada pesan baru yang ia terima.
Aku beliin makan siang, otw ke kantor via ojol.
Syukron, jawab Khalis.
"Nggak usah Dim, sebentar lagi makan siang saya sampai. Kamu makan aja dulu."
"Baik Pak, terimakasih, saya permisi," ucap Dimas yang kemudian meninggalkan ruang kerja Khalis.
Sambil menunggu kiriman makan siangnya, Khalis membuat grup WA seperti yang ibunya minta.
Tak lama setelah itu, ibunya membagikan video dirinya dan Dona disaat rapat dengan pihak WP tadi, dengan caption, Pasangan yang sama-sama galak, sama-sama bos dalam pekerjaannya, nggak ada basa-basi, langsung ke inti masalah. Semoga juga langsung ber'bayi'.
Khalis pun membuka video tersebut, ia pun tertawa menyaksikan dirinya dan Dona yang tidak tampak seperti pasangan yang akan menikah, tetapi lebih seperti sedang membahas pekerjaan.
Tak lama, Khansa berkomentar, Wadau Mas ! ini mau nikah atau rapat koordinasi di kantor ya ? Anda berdua terlihat galak ! senyum, mana senyum ? ciyusan mau nikah ?! apakah keseharian kalian akan diisi dengan rapat pleno ?!
Mbak Dona, tunjukkan errormu ! tambah Khansa.
Dona pun berkomentar, Ada apa? ada apa ini yaa? kok saya ada disini? saya diculik! kenapa?! kenapa saya berada disini? jelaskan!
Ibu Khalis yang duduk di samping Dona, segera membalas komentar Dona.
Karena kamu error, makanya ibu lakukan penculikan, yang dibantu oleh calon suamimu.
Oo tidak kusangka, kalian bersekongkol menculik ku !
Tetapi kemudian, Nunsewu Bu, maturnuwun nggih atas penculikannya, tambah Dona.
Oh video itu? apakah diriku begitu memukau hingga ibu mengabadikan momen tersebut?
Khalis pun membacanya dengan tawa tanpa henti. Lalu ia pun membalasnya, Don, ngelawaknya tolong ditunda sampai selesai akad dong ! Please!
Hmmm berarti sebelas hari dari sekarang. Baiklah mode menghitung mundur untuk kembali jadi pelawak, diaktifkan! sementara ini saya akan mengikuti permintaan Pak Bos Kulkas, untuk menjadi kulkas seperti dirinya, ketik Dona.
Eh, malah ngelawak lagi ! protes Khalis.
__ADS_1
Ya maaf Pak, eh Mas, eh siapa aja deh. Oiya, aku belum nonton diriku, ntar ya Bu, buat tontonan menjelang tidur nanti malam, jawab Dona.